
Ting! Tong!
"Bi, tolong buka pintunya!" ucap Fitri.
"Baik, Nya," jawab pelayan itu. Pelayan itu pergi membuka pintu. Beberapa saat kemudian datang lagi.
"Itu, ada tamu yang ingin bertemu Nyonya Tri, Tuan," ucap pelayan.
"Siapa?" tanya Lanzi.
"Aurel, Tuan."
"Oh, terima kasih, Bi," ucap Lanzi pada pembantunya.
"Ma, Lanzi mau menemui mereka dulu." Lanzi pergi ke ruang tamu dan menyapa Aurel dan Fariz.
"Aurel," sapa Lanzi.
"Ya, Om. Selamat pagi," ucap Aurel.
"Pagi, Om," sapa Fariz.
"Pagi, Aurel, nak Fariz. Silakan duduk! Ada apa nih? Tumben Aurel mau main kesini?" tanya Lanzi.
"Hehe, Aurel kangen sama Ibu. Ibu ... ada, Om?" tanya Aurel.
"Ada, tapi sedang beristirahat di kamar, kurang enak badan," ucap Lanzi.
"Ibu, sakit, Om?" tanya Aurel khawatir.
"Tidak, hanya bawaan bayi," ucap Lanzi.
"Oh, Ibu sedang hamil lagi. Selamat ya, Om," ucap Fariz dan Aurel.
"Terima kasih, ayo, Om antar Aurel," ucap Lanzi. Mereka mengikuti Lanzi ke kamar Triana.
Triana sedang duduk bersandar sambil memegang gelas, ia baru saja meminum obat setelah memakan buburnya. Triana melihat pintu saat terdengar bunyi berderit. Senyum Triana mengembang saat melihat Lanzi membawa Aurel.
__ADS_1
"Aurel, sini, sayang." Triana menunjuk tepi ranjang sambil tersenyum.
"Selamat pagi, Bu." Aurel mendekat dan duduk di tepi ranjang di samping Triana.
Lanzi meninggalkan Aurel bersama Triana dan Fariz. Sedangkan Lanzi, membawa mangkuk dan gelas yang sudah kosong. Aurel dan Triana berpelukan melepas rindu, kemudian mereka mengobrol panjang lebar. Fariz hanya duduk di sofa, mendengarkan obrolan Triana dan Aurel.
Karena merasa tidak enak hati melihat Fariz hanya diam. Aurel pun berpamitan dengan Triana.
"Bu, Aurel pulang dulu. Semoga Ibu cepat sembuh," ucap Aurel.
"Terima kasih, sayang. Hati-hati di jalan. Nak Fariz, Tante titip Aurel, tolong jaga dia," ucap Triana.
"Ya, Tante." Fariz tersenyum menjawab Triana.
Merekapun pulang setelah berpamitan dengan Lanzi dan Fitri di teras depan. Aurel dan Fariz menggunakan mobil Aditya. Aurel tersenyum bahagia dalam perjalanan pulang. Ia bahagia sudah bertemu dengan Triana. Fariz ikut bahagia melihat senyuman Aurel.
"Rel, kapan acara pesta kelulusannya?" tanya Fariz.
"Minggu depan," jawab Aurel.
"Jam berapa?" tanya Fariz kembali.
"Minggu depan, kita makan malam bersama, bisa, kan?"
"Ok," jawab Aurel singkat.
Jadi penasaran, kenapa Kak Faris mengajak makan malam bersama minggu depan. Padahal setiap hari kami sarapan, dan makan malam bersama.
Pikiran Aurel tergelitik untuk menebak apa yang akan Fariz lakukan minggu depan. Aurel dan Fariz berhenti di supermarket yang kebetulan mereka lewati. Memang sudah jadwal mereka belanja mingguan. Banyak yang menyangka jika mereka adalah pasangan pengantin baru. Aurel hanya bisa tertunduk malu dengan mereka yang berbisik di belakang mereka.
"Kamu butuh apa lagi?" tanya Fariz.
"Tidak ada, sudah cepat ke kasir," ucap Aurel berbisik. Aurel malu dengan orang-orang yang memandang mereka dengan tersenyum. Saat mereka mengantri di kasir, kasir menawarkan sesuatu yang kontan membuat Aurel pergi meninggalkan Fariz di depan kasir.
"Mas, sama Mba mau beli paket pengamannya, selain mencegah kehamilan, paket pengaman untuk pria ini sedang mengadakan undian liburan bulan madu," ucap kasir itu menawarkan alat kontrasepsi untuk pria. Meskipun Aurel belum pernah menikah, tetapi dia juga tahu barang itu untuk apa. Aurel segera berlari keluar dari supermarket dan menunggu Fariz di dalam mobil.
"Ya, ampun. Kasir itu apa-apaan? Aku dan Kak Fariz ditawari barang seperti itu. Kenapa harus barang itu yang mengadakan undian liburan," gumam Aurel kesal.
__ADS_1
Fariz datang dan menaruh belanjaan di jok belakang. Fariz tidak banyak omong, karena ia tahu, Aurel pasti sedang merasa canggung dengannya saat ini. Hingga mereka sampai di rumah, mereka hanya saling berdiam. Tiba di rumah, Aurel membantu Fariz membawa kantung belanja itu ke dapur. Aurel merapikannya di lemari pendingin. Setelah selesai, Aurel melangkah hendak pergi ke kamarnya, tetapi kakinya terpeleset dan menabrak tubuh Fariz hingga mereka terjatuh di lantai.
Aurel jatuh tepat diatas tubuh Fariz. Fariz memeluk pinggang Aurel. Aurel menarik tangan Fariz dan mencoba untuk bangun, tetapi Fariz justru membalik posisi mereka. Kini tubuh Aurel terperangkap di bawah tubuh Fariz.
Deg!
Jantung keduanya seolah sedang berlomba adu cepat. Antara Aurel dan Fariz, keduanya sama-sama merasakan debaran jantungnya memompa semakin cepat tanpa terkendali. Fariz menatap dalam kedua bola mata Aurel. Fariz mendekatkan wajahnya dengan wajah Aurel. Sejenak, Fariz merasa ragu tetapi akhirnya, Fariz memberanikan diri mengecup tipis bibir Aurel. Tanpa menghisap ataupun nafsu.
Fariz benar-benar hanya menempelkan sedikit bibirnya ke bibir Aurel. Mata Aurel terpejam, tangannya mengepal kuat. Ini adalah ciuman pertama bagi Aurel, rasa gugup, takut dan malu bercampur dalam hati Aurel. Fariz bangun dan duduk di lantai, lalu membantu Aurel untuk bangun dan duduk.
"Maaf, Kakak ingkar janji," ucap Fariz menyesal.
"Tidak, Kakak tidak ingkar janji. Aurel sudah lulus sekolah, hanya belum menerima ijazah. Jadi kita tidak saling melanggar janji," ucap Aurel sambil bangun dan berdiri.
"Tahu begitu, tadi aku kulum bibir kamu. Sini! Ulangi," ucap Fariz.
"Tidak mau, weekk!" Aurel berlari sambil meledek Fariz dengan menjulurkan lidahnya.
"Chh, dasar anak kecil." Fariz tersenyum melihat kepergian Aurel ke kamarnya. Fariz menyentuh bibirnya yang tadi mengecup bibir tipis Aurel.
"Lembut sekali," ucap Fariz pelan. Fariz kemudian bangun dan masuk ke dalam kamarnya, ia terus tersenyum mengingat wajah Aurel. Aurel di kamarnya juga sedang tersenyum.
-------------------------------------------
Promo lg ni author.
1.Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
2.Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
3.Status Gantung Miss CEO
4.Cinta Ada Karena Terbiasa
Yg lainnya jg ada. Yuk baca dan dukung semua novel author. Caranya LIKE, VOTE, FAVORIT DAN KRISAN tentunya semuanya selalu author tunggu.
Terima kasih buat kalian yg sudah kasih LIKE N VOTE Buat novel ini
__ADS_1
Love you Readersku😘