Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (49)


__ADS_3

Aurel segera turun dari mobil setelah mereka sampai di rumah. Aurel masuk ke dalam kamarnya dan segera membuka gaunnya. Aurel merasa seluruh tubuhnya kepanasan, ia menurunkan retsleting gaun yang ia pakai. Aurel lupa mengunci pintu dan saat gaun itu lolos dari tubuhnya, Fariz masuk kedalam kamar.


"Akh ...!" Aurel berteriak dan segera menyambar selimut untuk menutupi tubuhnya, yang hanya tertutup kain penutup dada dan bagian bawahnya.


Fariz tertegun menatap pundak dan dada Aurel yang terbuka. Aurel salah tingkah kepergok setengah polos di hadapan Fariz. Aurel menundukkan wajahnya. Fariz melngkah mendekati Aurel. Jantung Aurel berdetak kencang saat berada dalam kamarnya dengan keadaan ia seperti itu.


Fariz berdiri di hadapan Aurel dan menarik perlahan selimut yang Aurel pakai untuk menutupi tubuhnya. Selimut itu turun kebawah dengan mulus dan Aurel yang masih malu-malu, menunduk tidak berani memandang suaminya.


"Kak Fariz, ma-u a-pa?" tanya Aurel dengan gugup.


"Tidak ada. Kakak hanya ingin melihat istri Kakak kalau tidak pakai baju seperti apa, hahaha," ledek Fariz. Aurel seketika mengangkat wajahnya dan memukuli Fariz yang malah mengajaknya bercanda.


Aurel memukuli Fariz dan lupa jika dirinya hanya memakai penutup dada dan penutup bagian bawahnya. Aurel dan Fariz saling berkejaran sampai akhirnya mereka jatuh ke ranjang dengan posisi Aurel dibawah Fariz.


Fariz sengaja mengajak Aurel bercanda untuk meringankan ketegangan di hati Aurel. Fariz menempelkan telunjuknya di kening Aurel, lalu telunjuknya turun menyusuri hidung, mulut, dagu, leher dan terus bergerak hingga ke bagian dada. Aurel memejamkan matanya, hasrat yang tertunda itu kini kembali bergelora.


Fariz pun sama, ia kembali merasakan napsu birahinya kembali naik. Fariz mengecup kening Aurel lalu hidung dan berakhir mengecup bibir tipis Aurel. Bibir itu terasa hangat, lembut bak kapas dan manis seperti gulali. Aurel membalas kecupan Fariz dan kini bibir mereka saling berpagut mesra.


Fariz menurunkan kecupannya ke leher jenjang Aurel. Bibir Fariz menyapu bersih setiap inchi leher Aurel tanpa henti, hingga Aurel melenguh saat Fariz menggigit kecil-kecil leher Aurel. Gigitan kecil yang semakin membuat Aurel merasakan sensasi liar yang luar biasa. Secara naluriah tangan Aurel bergerak melepaskan jas hitam yang masih menempel rapi di tubuh Fariz dan melemparkannya sembarangan ke lantai.


Fariz makin bersemangat melihat Aurel yang sepertinya sudah terbakar birahi. Aurel melepaskan satu persatu kancing kemeja putih Fariz, hingga dada Fariz kini polos tanpa penutup. Fariz menurunkan kembali kecupannya ke daerah dada dan memainkan lidahnya disana dengan satu tangan bermain diatas bukit kembar yang menjulang tegak. Fariz membuka kain penutup dada itu dan melemparnya ke lantai.


Perasaan gugup dan canggung yang Aurel rasakan kini berubah menjadi perasaan menuntut. Tubuh Aurel menuntut Fariz untuk melakukan hal yang lain, melakukan hal yang bisa menuntaskan rasa nikmat atas sentuhan sentuhan Fariz di sekujur tubuhnya. Menyirami hutan yang gersang dan tandus milik Aurel.


Entah sejak kapan kain yang menutup tubuh mereka terlepas, kini kedua tubuh berlainan jenis itu sama-sama polos. Fariz sudah siap dengan posisi menembaknya, tetapi Fariz sudah berjanji tidak akan melakukannya tanpa ijin dari Aurel. Fariz mengecup kening Aurel lalu meminta ijin.


"Sayang, bolehkah?" tanya Fariz dengan napas memburu yang sarat dengan napsu.

__ADS_1


Aurel tersenyum malu menatap wajah Fariz. Ia pun mengangguk dengan malu-malu. Malam itu merekapun melakukan malam pertama mereka, dengan beberapa kali Fariz mencoba menjebol pintu gua yang masih terlindungi dengan baik. Aurel meringis saat sesuatu yang ia jaga selama ini, terasa robek, sakit, perih seperti tersayat silet.


Fariz memberikan waktu pada Aurel untuk meredakan sedikit rasa sakitnya, membiarkan Aurel terbiasa dengan miliknya yang masih berdiam di gua Aurel. Perlahan rasa sakit itu sedikit menghilang, Aurel tidak terlalu kesakitan dan Fariz pun melanjutkan aksinya, mengebor dalam-dalam gua itu agar terbuka lebar.


Setelah beberapa menit Aurel merasakan hal yang aneh, seperti ingin buang air kecil tetapi juga merasakan sensasi geli, dan juga nikmat. Puncak birahi Aurel yang pertama telah diraihnya, ia mencengkram punggung Fariz dengan kuat untuk melampiaskan perasaan aneh yang membuatnya menggelinjang liar bak cacing kepanasan.


Fariz tersenyum melihat Aurel telah mencapai pendakiannya, beberapa menit kemudian Fariz menyusul menuju puncak yang sama dengan Aurel. Ia membenamkan miliknya sedalam-dalamnya dan ambruk di atas tubuh Aurel. Fariz dan Aurel kembali berciuman, lalu Fariz mengakhirinya dengan sebuah kecupan hangat di kening Aurel lalu menggulingkan tubuhnya ke samping Aurel.


"Terima kasih, sayang," ucap Fariz sambil menatap lekat kedua mata indah milik Aurel. Fariz menarik selimut dan menutupi tubuh polos mereka yang penuh dengan keringat. Fariz lalu menarik Aurel kedalam pelukannya. Berkali-kali Fariz mengecup kening Aurel, hingga Aurel tersenyum. Mereka berpelukan melepas lelah, menunggu rasa lelah mereka sedikit berkurang.


"Kak, lengket. Aurel mau mandi duluan," ucap Aurel.


"Hem, mandilah!" ucap Fariz.


Aurel menurunkan kakinya dan bangun, saat hendak berjalan ia merasakan perih dan ngilu yang menusuk di bagian bawahnya. Aurel kembali terduduk dan meringis menahan sakit.


"Em ... sakit," ucap Aurel.


Fariz mengerti apa yang Aurel ucapkan. Fariz mengambil celananya dan memakainya, lalu menggendong tubuh polos Aurel ke dalam kamar mandi dan mendudukkannya diatas kloset yang tertutup. Fariz mengatur suhu air untuk mengisi bak mandi dan menemani Aurel hingga airnya penuh. Setelah airnya penuh, Fariz menggendong Aurel kembali dan menurunkannya di dalam bak mandi.


"Terima kasih," ucap Aurel sambil tersenyum. Fariz mengecup puncak kepala Aurel.


"Mandilah, nanti kalau sudah selesai, panggil saja. Setelah kamu mandi, baru Kakak mandi," ucap Fariz. Aurel tersenyum lalu mengangguk. Fariz keluar dan meninggalkan Aurel yang sedang berendam.


Air hangat memang paling ampuh untuk membantu mengusir lelah. Tubuh Aurel terasa lebih segar dan rasa sakit di area bawahnya juga sedikit berkurang. Aurel keluar dari kamar mandi memakai handuk kimono.


"Sayang, kok, tidak panggil Kakak?" tanya Fariz khawatir.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Sudah tidak begitu sakit," jawab Aurel. Fariz bangun dan memunguti pakaian yang berserakan di lantai lalu membawanya ke kamar mandi. Fariz menaruh cuciannya di dalam keranjang kemudian menyalakan kran shower dengan suhu hangat. Fariz tersenyum bahagia, kini mereka sudah tidak perlu tidur terpisah seperti perjanjian awal.


---------------------------------------


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘


Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.


Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏

__ADS_1


__ADS_2