
KPH (16)
Mata Lanzi terbelalak melihat tanda berwarna coklat di punggung Felicia. Tanda yang letaknya sama persis dengan yang ada di punggung Triana. Lanzi maju perlahan mendekati Triana, ia menyentuh tanda itu dengan jemarinya.
***
Di luar kamar mandi, Tom merasakan Lanzi sudah tidak menarik handle pintu. Tom melepaskan tangan yang menahan handle pintu dengan perlahan. Tom takut jika Lanzi kabur. Setelah yakin Lanzi tidak keluar dari kamar mandi, Tom pergi meninggalkan ruangan Lanzi dan mengunci pintu dari luar, agar tidak ada yang masuk ke dalam ruangan Lanzi. Tom pun pergi dan masuk ke ruangannya. Menunggu hasil dari pembicaraan Lanzi dan Triana.
***
Di Mall.
Aurel berbelanja pernak pernik untuk menghias kamarnya, Aurel merasa ia sudah terlalu lama dan takut pengawalnya keburu melapor kepda ayahnya. Aurel membayar barang yang dibelinya lalu mengajak pengawal kembali ke kantor Lanzi.
***
Di kantor Lanzi.
Lanzi mengusap tanda di punggung Felicia. Antara percaya dan tidak percaya, mata Lanzi berkaca-kaca.
"Benarkah? Benarkah ini?" Lanzi bergumam pelan.
"Ini aku, Mas. Tri, istri kamu." Triana menaikkan kembali gaunnya dan berbalik menghadap Lanzi.
Lanzi memandang Triana dengan penuh kerinduan.
__ADS_1
"Kau menikah lagi dengan orang lain? Kenapa Tri?" tanya Lanzi, sedih.
"Mas, waktuku tidak banyak, aku harus segera kembali ke ruang tunggu, atau semua rencanaku akan gagal. Aku sudah menceritakan semuanya pada Tom. Mas, bicaralah dengan Tom!" ucap Triana. Triana membuka pintu kamar mandi, saat hendak melangkah keluar, Lanzi menarik Triana kembali masuk ke dalam kamar mandi. Lanzi menutup pintu dan mengecup bibir Triana.
Triana memejamkan mata, menikmati kecupan penuh kerinduan dari sang suami, Lanzi. Triana membuka mata dan pergi meninggalkan Lanzi yang masih kebingungan dengan apa yang terjadi. Lanzi menyusul Triana keluar dari kamar mandi dan ternyata Triana belum keluar dari ruangannya.
"Bukannya bilang buru-buru tadi? Kenapa masih berdiri di situ?" tanya Lanzi karena melihat Triana masih berdiri di pintu.
"Sepertinya Pak Tom mengunci pintunya," jawab Triana dengan cemas.
Lanzi melihat jelas kecemasan di wajah Triana. Namun Lanzi tidak bisa membuang waktu dengan bertanya. Lanzi segera menelpon Tom dan menyuruhnya membuka pintu. Lima menit kemudian, Tom membukakan pintu dan Triana segera berlari ke ruang tamu.
***
Aurel sudah tiba bersama pengawalnya di lobby gedung kantor Lanzi. Sedangkan Triana masih berlari menuju ruang tamu kantor. Aurel melangkah masuk dan melihat Triana baru saja masuk ke dalam ruang tamu. Aurel menghela nafas lega, untung saja pengawalnya itu sedang melihat ke arah lain. Bisa dikatakan bahwa misi mereka berhasil.
Pengawal itu hanya mengangguk. Aurel pun menyetop taksi, di perjalanan Aurel menyuruh pengawalnya membelikan es krim untuk memperlambat waktu. Pengawal hanya berharap, tidak ada apapun yang terjadi atau dia akan mendapatkan hukuman dari Aditya. Aurel mengambil belanjaannya, karena pengawal itu harus menjaga jarak, agar tidak diketahui Triana.
***
Triana menghirup udara dengan dalam, untuk menetralkan kembali nafasnya setelah ia berlari. Aurel masuk dan menggelayut manja di pundak Triana.
Pengawal itu merekam setiap kali Aurel dan Triana bermanja-manja, di sana, di rumahnya, Aditya tersenyum.
Aurel menggelayut di pundak Triana karena ingin bertanya.
__ADS_1
"Bagaimana Bu? Berhasil?" tanya Aurel berbisik.
"Ibu tidak tahu? Semoga saja, Mas Lanzi percaya, kalau ibu adalah istrinya," jawab Triana lesu.
Aurel lalu duduk di samping Triana, ia mengeluarkan satu mangkuk es krim yang ia beli di jalan dan membukanya. Aurel menyuapi Triana dan tersenyum bahagia. Mereka saling menyuapi eskrim sambil menunggu Lanzi.
***
Di ruangannya, Lanzi sedang mendengarkan semua cerita yang Tom tahu dari Triana. Terlihat jelas sebuah kemarahan di wajah Lanzi. Lanzi mengepalkan tangan, mencoba meredam emosinya. Lanzi harus menyusun rencana penyelamatan untuk istri dan anaknya. Ia harus bisa mengontrol emosinya. Tom selesai bercerita.
"Jadi … pria bernama Aditya Adidjaya itu, bukan hanya menyekap istriku tapi juga menyembunyikan Daren?" Tanya Lanzi menegaskan pendengarannya.
"Benar, jadi, apa yang akan kita lakukan, Tuan muda?" tanya Tom.
"Kita bicarakan di rumah saja, aku khawatir jika dia menyimpan sesuatu di kantor ini, untuk mengawasi kita," jawab Lanzi. Tom mengerti dan kembali ke ruangannya untuk membereskan berkas-berkas pekerjaannya.
Lanzi juga merapikan mejanya dan kembali ke ruang tamu. Saat Lanzi masuk ke dalam ruang tamu, Lanzi melihat Triana yang sedang saling menyuapi es krim.
"Ekhem, Nyonya Felicia, sebaiknya Anda pulang sekarang. Karena saya harus pergi ke kampus, tidak bisa menemani Anda berkeliling. Saya permisi," ucap Lanzi. Lanzi keluar dan pergi dengan berpura-pura acuh terhadap Triana.
Aurel mengusap punggung Triana dan menghiburnya.
"Sudahlah, kita pulang. Kita cari kesempatan yang lain. Aurel akan membantu Ibu sampai akhir," ucap Aurel berbisik di telinga Triana. Aurel mengajak Triana pulang ke rumah.
Triana menatap jalanan dengan putus asa.
__ADS_1
"Kupikir dia percaya padaku, karena dia menciumku. Ternyata, aku terlalu berharap. Apa yang harus kulakukan lagi? Aku tidak punya cara lain untuk mencari Daren," gumam hati Triana.
Aurel menatap iba pada Triana, ia merasakan keputusasaan Triana. Namun, Aurel juga tidak tahu harus bagaimana membantu Triana. Aurel akan mencoba bicara dengan ayahnya, Aditya. Sepertinya hanya itulah cara yang ada di pikiran Aurel. Aurel akan berusaha sekeras hati untuk menyadarkan sang ayah. Aurel tidak mau jika ayahnya sampai terjerumus semakin dalam. Terjerumus dalam kesalahan yang akan membuatnya menderita.