Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (9)


__ADS_3

Fitri sampai di rumah sakit, ia menemani Surya di depan ruang bersalin. Surya sangat cemas mendengar teriakan Cassy yang sedang berjuang melahirkan. Fitri menenangkan Surya.


"Nak, jangan khawatir, Cassy pasti bisa. Cassy akan baik-baik saja," ucap Fitri.


"Oeekk ... oeekk." Suara tangisan bayi terdengar dari luar ruangan bersalin. Fitri dan Surya menarik napas lega. Surya tersenyum mendengar suara tangis bayi yang begitu nyaring.


Setengah jam kemudian, dokter keluar, bersama seorang suster yang menggendong bayi perempuan.


"Selamat, Pak Surya. Bayi Anda perempuan. Kami akan membawanya ke ruang perawatan bayi, jika ingin menemui istri Anda, silahkan." Dokter dan suster pergi membawa putri pertama Surya ke ruang perawatan bayi.


"Ayo, Bu, kita ke dalam." Surya membuka pintu dan membiarkan Fitri yang lebih dulu masuk. Cassy tersenyum melihat mereka.


"Kak Lanzi, tidak datang?" tanya Cassy.


"Lanzi, tadi bilang sama ibu akan menyusul, setelah dari kampus nanti," jawab Fitri.


"Oh," ucap Cassy singkat.


"Permisi, kami harus memindahkan Ibu Casandra ke ruang rawat inap." Seorang suster dan satu orang petugas pria masuk ke ruang bersalin. Mereka lalu mendorong Cassy yang terbaring, dengan ranjang dorong. Cassy diantar oleh Fitri, sedangkan Surya pergi ke ruang perawatan bayi. Melihat putrinya dari kaca di luar ruangan itu.


***


Seminggu kemudian.


Cassy sudah pulang ke rumah bersama Surya dan Fitri. Cassy harus di rawat selama seminggu karena kakinya yang cidera saat terjatuh di kamar mandi. Cassy sudah berbaring di ranjangnya. Fitri menemani Surya di rumah sakit selama seminggu ini. Namun, Lanzi sama sekali tidak menjenguk Cassy, sampai Cassy pulang ke rumah.


"Bu, kenapa Kak Lanzi tidak mau menjenguk Cassy?" tanya Cassy.


"Sepertinya, Lanzi sedih karena kehilangan Daren. Mungkin, melihat bayimu mengingatkan Lanzi pada Daren. Ibu minta, kalian memakluminya," ucap Fitri.


Cassy merasa sedih karena disaat putrinya lahir, Lanzi sedang terpuruk dan tidak bisa menimang putrinya.

__ADS_1


*Flashback*


"Kak Lanzi, jika nanti anakku lahir. Laki-kaki pertama yang menggendongnya, harus Kak Lanzi lebih dulu! Kalau Kak Lanzi belum menggendong anakku, maka ayahnya juga tidak boleh menggendongnya," ancam Cassy.


"Ya, bawel." Lanzi mencubit hidung Cassy karena gemas.


"Pa, Daren mau gendong dedek juga," ucap Daren.


"Ya, tentu saja. Nanti kalau Daren sudah besar, kalau sekarang belum boleh," jawab Lanzi.


*Flashback off*


Bukan hanya Cassy yang mengingat momen itu. Di rumahnya, Lanzi juga sedang melamun, mengingat ucapan Daren yang ingin menggendong bayi Cassy.


"Bayi Tante Cassy sudah lahir, sayang. Daren ingin menggendong dedek bayi, kan? Kenapa Daren malah pergi ninggalin Papa," gumam Lanzi lirih. Ia duduk termenung di ruang kantor dengan pikiran yang terus tertuju pada istri dan anaknya.


Tom yang berjalan melewati ruangan Lanzi, berhenti sejenak. Memandang Lanzi dari luar pintu kaca. Tom merasa kasihan pada Lanzi, tapi Tom tidak bisa berbuat apa-apa. Tom menghela napas berat kemudian pergi ke ruangannya. Ruangan Tom di sebelah ruangan Lanzi.


***


Di rumah Aditya.


"Mama ...." Aurel terisak dalam pelukan Triana.


"Eh, kok anak Mama nangis," ucap Triana. Tri mengusap punggung Aurel dengan penuh kasih sayang.


Aditya melangkah perlahan mendekati Triana. Tangan Aditya terulur mencoba menyentuh wajah Triana. Triana segera menepis tangan Aditya sebelum menyentuh wajah Triana.


"Jangan sentuh aku!" Ucap Triana. Semua mata memandang ke arah Triana dan Aditya. Aurel, Dokter Bin, serta seorang pelayan pria di rumah Aditya.


"Pa, jangan ganggu Mama! Mama pasti masih marah pada Papa. Aurel saja, yang temenin temenin Mama," ucap Aurel. Aurel mendorong ayahnya keluar. Dokter dan pelayan itu juga keluar. Aurel lalu menutup pintu dan menguncinya.

__ADS_1


Aurel membantu Tri yang sudah bisa bangun tetapi belum bisa berjalan tegap. Aurel menuntun Triana ke kamar mandi. Semua kegiatan mereka di kamar itu selalu dipantau oleh Aditya dari ruang baca. Hanya kamar mandi saja yang lolos dari pengawasan Aditya.


Triana menatap wajahnya di cermin kamar mandi. Triana menangis saat melihat wajahnya.


"Kenapa wajahku seperti ini? Aku tidak mau wajah ini, tidak!" Triana menampar wajahnya sendiri, berulang-ulang. Aurel tidak tega melihatnya.


"Bu, sudah! Jangan menampar wajah Ibu lagi, Aurel mohon. " Aurel memegangi kedua tangan Tri. Aurel tidak mau jika Triana sampai kesakitan.


"Ini bukan wajahku, bagaimana bisa keluargaku mengenali aku, jika wajahku berubah. Aku tidak tahu, wajah siapa ini?" Triana terus terisak sedih.


"Ini adalah wajah Mama. Ini... wajah Mama Felicia, mamanya Aurel," jawab Aurel. Triana sejenak terpaku, saat tahu bahwa wajahnya yang hancur dirubah menjadi wajah ibunya Aurel. Aurel menunduk dan meneteskan air matanya. Triana memeluk Aurel, dan mereka sama-sama menangis dengan alasan yang berbeda. Triana menangis karena wajahnya dioperasi dan dirubah menjadi wajah orang lain. Sedang Aurel menangis karena teringat ibunya saat dia melihat wajah ibunya di wajah Triana.


***


Di rumah Lanzi.


Fitri baru saja tiba, setelah seharian membantu Surya menyiapkan kamar untuk putri mereka. Lanzi duduk di kursi taman belakang. Fitri mencari Lanzi ke taman, karena tempat Lanzi di saat ingin menyendiri hanyalah di kamar dan di taman belakang. Fitri duduk di kursi yang lainnya di taman itu.


"Lan, Ibu tahu, berat untukmu melupakan Tri dan Daren. Tapi, Lan, tidakkah kamu kasihan pada Surya? Dia sama sekali belum menyentuh putrinya sejak seminggu yang lalu putrinya lahir. Ibu mohon, pergilah! Temui dan gendong putri Cassy, agar ayahnya diijinkan menggendong," ucap Fitri.


"Ya, Bu. Besok Lanzi ke sana," jawab Lanzi.


Fitri bangun dan mengusap pundak Lanzi sebelum pergi meninggalkan Lanzi, dan masuk ke kamarnya. Lanzi menatap bintang di langit. Langit malam hari ini begitu cerah, dihiasi bintang yang berkilauan, berkelap-kerlip, beraneka warna. Namun wajah Lanzi tidak secerah langit, wajahnya mendung seolah hujan akan turun begitu lebat.


***


Di rumah Aditya.


Aurel mengusap air matanya, ia juga mengusap airmata Triana.


"Ibu tidak boleh lemah! Kita belum menemukan tempat anak ibu disembunyikan. Kita harus tetap berpura-pura bahagia, kita harus mengikuti rencana papa," ucap Aurel. Triana membasuh wajahnya, agar tidak terlihat mencurigakan. Triana bertekad mencari Daren, dimanapun Daren di sembunyikan, Triana harus mencarinya.

__ADS_1


Sementara waktu, Triana harus tetap berakting di depan Aditya. Triana tidak bisa memberi tahu siapapun identitas aslinya. Karena selain ia menyembunyikan Daren, Aditya juga mengancam akan melukai ibunya, Fitri.


__ADS_2