Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (35)


__ADS_3

Seminggu berlalu, setelah kejadian di taman, Aurel selalu menjaga jarak dari Fariz. Aurel tidak mau jika Fariz mendengar debaran jantungnya yang selalu berdetak kencang saat berada di dekat Fariz. Fariz sudah mulai kuliah sejak kemarin. Mereka mulai jarang bertemu, karena terkadang Aurel sudah tidur saat Fariz pulang. Jauhnya jarak yang Fariz tempuh untuk kuliah, membuatnya mengambil kelas siang, agar tidak terlambat.


Pagi hari, Fariz sudah terbiasa memasak sarapan pagi untuk Aurel. Meskipun Aurel sudah melarangnya, tetapi Fariz tidak peduli dan tetap memasak saat pagi dan siang sebelum berangkat kuliah. Hari sabtu Fariz libur kuliah, dan hanya diam di rumah. Mereka sarapan pagi bersama.


"Rel, ada acara tidak nanti malam?" tanya Fariz.


"Nanti malam, ya? Aku kurang tahu, Kak. Soalnya sedang latihan drama untuk pentas di pesta kelulusan nanti. Memangnya ada apa?" tanya Aurel sambil menaruh piring kotor ke meja dapur.


"Nonton, yuk!" ajak Fariz.


"Nonton?"


"Ya, Nonton."


"Aurel kabari nanti, soalnya harus lihat jadwal di sekolah dulu. Jam berapa bisa pulang ke rumah, nanti Aurel chat Kaka. Aurel berangkat sekolah dulu, dah, Kak," ucap Aurel sambil menenteng tasnya. Aurel pergi ke sekolah. setelah berpamitan dengan Fariz.


***


Di Sekolah.


Bian berdiri di parkiran, menunggu kedatangan Aurel. Hari ini Bian tidak memakai sepeda, tetapi membawa mobil sendiri. Setelah cukup lama menunggu, Aurel pun datang. Ia langsung menyapa Bian.


"Selamat pagi, Kak Bian," ucap Aurel.


"Rel, nanti malam aku ingin mengajakmu nonton, mau, kan?" tanya Bian.


"Hah? Nonton?" tanya Aurel kebingungan.


"Ya, nanti malam, kan, malam minggu. Suntuk kalau hanya diam di rumah. Bagaimana?" tanya Bian.


Aurel tidak bisa menjawab. Aurel tidak bisa menolak jika seseorang meminta sesuatu darinya. Selama permintaan itu dalam batas wajar tentunya. Namun, Aurel jadi bingung, kenapa semuanya harus hari ini. Selain Bian dan Fariz, ternyata semalam, Gusti juga menelponnya dan mengajak Aurel menonton juga.


"Lihat nanti saja, ya, Kak." Aurel melangkah meninggalkan Bian yang berjalan di belakangnya.


***


Di Resto Aurelia.


Gusti bekerja sebagai manager resto atas rekomendasi Aurel. Siang ini, Gusti bekerja dengan sangat gembira. Serasa pekerjaan itu lebih ringan dari biasanya. Malam nanti, Aurel sudah setuju untuk menonton bersamanya. Gusti berencana mengatakan isi hatinya pada Aurel nanti malam. Dia sudah memesan setangkai mawar merah untuk melengkapi pernyataan cintanya.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" ucap Gusti.


Bimo masuk ke dalam ruangan Gusti. Gusti bangun dan menyambut kedatangan Bimo.


"Pak Bimo, mari silakan duduk!" ucap Gusti mengajak Bimo duduk di sofa.

__ADS_1


"Bagaimana, betah bekerja disini?" tanya Bimo.


"Lumayan, Pak," jawab Gusti.


"Aurel sudah melaksanakan ujian sekolahnya. Setelah pesta kelulusan dan mendapatkan ijazah, Aurel akan mulai bekerja disini. Om, ingin menitipkan Aurel, ajari dan jaga dia dengan baik. Aurel itu sudah seperti anak Om. Jadi ... Om titip dia," ucap Bimo.


"Gusti, pasti menjaga Aurel dengan baik, Om," jawab Gusti mantap.


"Baiklah, Om pamit. Om hanyaingin mampir karena sekalian lewat. Lanjutkan pekerjaanmu!" Bimo keluar dari ruangan Gusti. Awalnya Gusti ingin mengantar Bimo keluar dari ruangannya tapi Bimo melarangnya.


***


Di Sekolah.


Aurel sedang kebingungan untuk menjawab Fariz dan Bian. Ia duduk diatas kloset, di dalam toilet sekolah.


"Sekali-sekali kalau aku jadi nakal sepertinya seru. Mari kita buat acara seru, hihi," ucap Aurel pelan sambil terkekeh geli.


Aurel mengirim pesan pada Fariz, kemudian keluar dari toilet. Aurel mencari Bian ke kelasnya. Aurel menghampiri Bian dan mengiyakan ajakan Bian. Bian tersenyum senang saat mendengar Aurel menerima ajakannya.


Jam dua siang, semua siswa siswi diperbolehkan pulang. Aurel tidak langsung pulang tetapi menitipkan sepedanya di depan restonya. Ia menitipkannya pada satpam. Aurel tidak mau menemui Gusti dulu, atau ia akan ditahan dan tidak bisa pergi berbelanja. Aurel pergi ke mall untuk membeli baju. Aurel ingin menjadi putri diantara tiga pangeran.


Setelah berbelanja, Aurel menata rambutnya menjadi keriting curly, Aurel kembali ke resto untuk mengambil sepedanya. Aurel masuk ke dalam resto untuk mencari Gusti. Di dalam resto ia menjadi pusat perhatian pengunjung. Mereka terpesona dengan kecantikan Aurel dengan gaya rambut yang baru saja ditata curly. Aurel merasa canggung menjadi pusat perhatian.


"Mba Aurel, model rambut baru ya? Cantik," sapa salah seorang pelayan.


"Yang melihat Mba, semuanya laki-laki. Karena Mba terlalu cantik, lihat saja!" ucap pelayannya.


Aurel menatap sekelilingnya, benar saja, hampir semua yang menatapnya adalah pria. Aurel tersenyum geli karena ada pria yang sampai dijewer oleh pasangannya karena menatap Aurel.


"Ya, sudah kamu lanjutkan pekerjaanmu!" ucap Aurel. Aurel mengetuk pintu ruangan Gusti dan masuk ke dalam setelah mendapat ijin.


"Hai. Masuk! Ada yang beda sepertinya, apa ya?" Gusti pura-pura bertanya dan meledek Aurel.


"Hem, Kak Gusti meledek terus, Aurel pulang lagi, nih," ancam Aurel.


"Ngambeknya imut banget sih," goda Gusti.


"Jangan lupa, nanti malam beli tiketnya satu saja. Aurel sudah punya tiket sendiri, Aurel pulang sekarang, mau siap-siap." Aurel keluar dari ruangan Gusti dan mengambil sepedanya di parkiran. Aurel pun pulang ke rumah.


***


Di rumah.


Aurel tidak melihat keberadaan Fariz.


"Em ... Kak Fariz kemana ya? Hari ini libur kuliah kan?" Aurel berkeliling mencari Fariz dan tidak menemukannya di manapun. Aurel tidak peduli dan memilih pergi ke kamarnya. Saat membuka pintu kamarnya, Aurel seketika terkejut melihat kamarnya. Kantung belanja yang ia pegang terjatuh semua ke lantai.

__ADS_1


"Kau suka?" tanya Fariz sambil memeluk Aurel dari belakang.


Deg!


Tubuh Aurel menegang kaku. Dengan tiba-tiba, Fariz memeluk Aurel seperti itu. Aurel tidak dapat menahan detakan jantungnya, yang berdetak semakin kencang. Aurel menarik kedua tangan Fariz yang memeluknya. Namun, bukannya melepas, justru Fariz semakin erat memeluk Aurel.


"Rel, aku mencintaimu," ucap Fariz ditelinga Aurel. Fariz membalik tubuh Aurel dan menatap kedua manik mata Aurel dengan intens. Fariz membelai pipi Aurel dan menyelipkan rambut Aurel ke belakang telinga. Fariz menarik tengkuk Aurel dan memajukan wajahnya.


Debaran di dadanya semakin tidak terkendali, wajah Aurel memerah seketika. Aurel menatap kedua mata Fariz tanpa berkedip. Tangan Aurel terkepal kuat, membayangkan apa yang akan Fariz lakukan padanya.


------------------------------------------------------


Hy readers


Tingglkan jejak kalian ya.


Author mo promo jg nih,


Cinta Ada Karena Terbiasa season 3 dah up.


Mohon dukungannya ya😍


Kasih like n bintang


Jangan lupa favoritkan juga.


Semoga kalian suka


Mampir juga di novel author yg lain juga. 


Pengasuh Cantik Sang Putri CEO


Cinta Ada Karena Terbiasa


Kupilih Hatimu


Status Gantung Miss CEO


Putri Yang Tergadai


Dll


Yuk! Mampir😚😚🙂


Makasih buat yang sudah dukung novel ini. Makasih jg dh vote novel author. Love you readers😘


Dkung terus ya dengan cara like, vote dan selalu krisannya Author tampung.

__ADS_1


__ADS_2