
Setelah membersihkan diri, Fariz memakai piyama tidurnya dan berbaring di samping Aurel. Aurel tidur membelakangi Fariz, dengan setengah sadar Aurel berbalik dan memluk Fariz. Fariz tersenyum dan membalas pelukan Aurel. Perlahan rasa ngantuk menyerang Fariz dan matanya mulai berat. Tidak lama kemudian Fariz pun tertidur pulas sampai pagi dengan memeluk Aurel.
***
Keesokan pagi.
Triana terbangun dari tidurnya, ia menatap sekeliling.
"Ini … di kamar, bukankah aku tidur di ruang keluarga? Aku malas tidur di kamar karena itulah aku tidur di sofa. Kenapa jadi tidur disini?" Triana turun dari ranjang dan keluar dari kamar. Ia melangkah ke ruang makan lalu berkeliling rumah mencari Lanzi. Triana bertemu dengan ibunya di taman depan rumah.
"Tri, sudah bangun. Oh, ya. Tadi, Lanzi berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Dia tidak membangunkan kamu, kasihan katanya," ucap Fitri.
"Oh," ucap Triana pelan. Triana kembali ke dalam dan duduk di sofa ruang tamu.
"Kasihan? Heh. Dia hanya tidak berani menemuiku. Aku tidak peduli, lebih baik aku pergi dari sini jika aku ingin tenang tanpa melihat wajahnya yang menyebalkan. Tapi … kemana aku harus pergi? Hiks hiks," gumam Triana dengan terisak pelan.
"Mama, menangis lagi?" Daren menghampiri dan naik ke pangkuan Triana.
"Siapa yang bilang Mama menangis? Mama tidak menangis, ini tadi cuma kelilipan debu. Daren sudah sarapan?" tanya Triana sambil mengusap Air matanya.
"Daren baru bangun bobo, mau mandi dulu," jawab Daren.
"Ya, sudah, Mama mandiin Daren yuk," ucap Triana sambil bangun menggendong Daren. Belum sempat Triana melangkah, ia sudah terduduk kembali di sofa. Kepalanya pusing dan berkunang-kunang.
"Mama, sakit lagi, ya? Daren panggil Nenek," ucap Daren. Daren turun dari pangkuan Triana lalu pergi mencari neneknya. Daren sudah tahu jadwal Fitri, jam segini Fitri pasti sedang menyiram tanaman. Daren langsung pergi ke taman dan memanggil Fitri.
"Nenek! Nenek!"
"Eh, sayang. Jangan berlari nanti jatuh! Kenapa teriak-teriak?" tanya Fitri.
"Mama sakit, Nek," ucap Daren.
Fitri mematikan kran air dan berjalan cepat menghampiri Triana. Fitri memapah Triana ke dalam kamar. Triana berbaring kembali di ranjangnya.
"Mama ambilkan sarapan, setelah sarapan minumlah obatnya." Fitri keluar dari kamar dan mengambil segelas susu serta bubur untuk Triana.
***
__ADS_1
Di kantor.
Lanzi tertidur di kursi kerjanya di dalam ruang kantornya.
*Flashback*
Tengah malam Lanzi memutuskan pulang ke rumah untuk mengambil beberapa setel baju untuk ganti. Saat tiba di rumahnya, Lanzi melihat Triana tertidur di sofa ruang keluarga. Lanzi mendekatinya perlahan. Triana terlihat lemah dan pucat. Lanzi menggendong Triana, membawanya ke kamar lalu membaringkannya di ranjang perlahan-lahan agar tidak membangunkan Triana. Setelah menyelimuti Triana, Lanzi berbalik ingin mengambil baju, tetapi mendengar Triana menggumam dalam tidurnya membuat Lanzi berhenti melangkah. Lanzi berbalik menatap wajah Triana yang terisak dalam tidur.
"Aku tidak bisa tidur, kalau tidak memeluk kamu, Mas, hiks hiks." Lanzi meneteskan airmata, ia merasa sangat bersalah, membuat Triana begitu tertekan. Bahkan dalam tidurnya, Triana sampai menangis. Lanzi jelas tahu jika Triana tidak bisa tidur tanpa memeluk dirinya. Lanzi naik ke ranjang dan berbaring perlahan lalu memeluk Triana. Triana tersenyum dalam tidur.
Lanzi terjaga sepanjang malam dan pagi-pagi sekali ia mengemasi beberapa baju dan pergi ke kantor. Di ruang keluarga, Lanzi berpapasan dengan Fitri yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Lanzi, mau kemana?" tanya Fitri.
"Lanzi sedang banyak pekerjaan, Ma. Jadi, Lanzi mengambil beberapa baju dan akan tinggal di kantor sementara waktu. Lanzi tidak pamit pada Tri karena ia sangat lelah sepertinya, kasihan." Lanzi segera pergi setelah menjawab pertanyaan dari Fitri.
*Flashback off*
Lanzi memijat pelipisnya. Ia mengantuk sekali, ia menutup pintu kantornya dan tidur di sofa. Tom datang ke kantor, ia ingin mengetuk tetapi tidak jadi. Tom melihat Lanzi berbaring di sofa sambil menutupi matanya dengan lengan kanan. Tom sangat mengenal Lanzi. Jika Lanzi tidur dengan posisi seperti itu di kantor, pasti Lanzi sedang ada masalah.
Tom masuk ke dalam kantornya, ia duduk dan berpikir.
***
Di rumah Aurel.
Fariz sudah bangun dan memasak sarapan. Setelah sarapannya siap, Fariz membawanya ke kamar. Fariz meletakkan segelas susu dan dua potong sandwhich di atas nakas. Ia kemudian mengecup kening Aurel lalu membangunkan Aurel.
"Bangun, sayang!" Fariz memanggil Aurel pelan tetapi Aurel masih belum bangun. Fariz memanggilnya sekali lagi dengan suara yang lebih keras, tapi Aurel tetap belum bangun. Namun Fariz melihat mata Aurel bergerak-gerak, Fariz sadar jika Aurel sudah bangun tapi berpura-pura masih tidur. Fariz punya ide untuk membangunkan Aurel.
"Sayang, semalam kamu hot banget, aku jadi ingin mengulanginya lagi. Berhubung kamu belum mau bangun, bagaimana jika kita melakukan sekali lagi, sekarang."
Aurel ketakutan dan langsun bangun terfuduk di ranjang.
"Aku sudah bangun, aku tidak mau melakukannya lagi," jawab Aurel dengan cepat. Ia malu untuk menatap wajah Fariz karena kejadian semalam.
Fariz malah tersenyum melihat Aurel yang masih malu-malu. Fariz mengacak rambut Aurel, membuat Aurel cemberut dan menggerutu.
__ADS_1
"Kak Fariz, tambah acak-acakan rambut Aurel," ucap Aurel.
"Habisnya, kamu gemesin banget. Kenapa menunduk terus? Malu? Kenapa harus malu-malu, lagipula kedepannya kita akan sering melakukannya. Kita sudah sah sebagai suami istri?" Fariz berbicara dengan pandangan menggoda, saat Fariz mengatakan itu, wajah Aurel memerah.
"Kak Fariz, tidak perlu mengatakannya. Aurel juga tahu, tapi tetap saja Aurel malu," ucap Aurel tertunduk.
"Ok, istri kecilku yang polos. Tapi tidak polos juga sih, soalnya sudah Kakak warnai hidup kamu dengan …." Perkataan Fariz dipotong oleh Aurel.
"Stop! Kakak ini nyebelin," ucap Aurel sambil menutup telinga.
"Ya. Kakak tahu, Kakak nyebelin tapi ngangenin, kan. Sekarang mandi sana atau mau main lagi, hum," goda Fariz.
Aurel segera masuk ke dalam kamar mandi. Aurel tidak menyangka jika sifat asli Fariz semesum itu. Aurel tersenyum malu membayangkan kejadian malam pertama mereka semalam. Ternyata niat untuk tidur terpisah mereka gagal total. Di malam kedua mereka menjadi sepasang suami istri, mereka sudah melakukan malam pertama mereka.
----------------------------------------------
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
__ADS_1
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏