
Aurel mengajak Fariz masuk ke dalam resto tempat Aurel bekerja.
"Kak Fariz, pesan saja! Nanti Aurel yang traktir. Aurel mau ke kantor dulu," ucap Aurel.
Aurel naik ke lantai atas resto itu. Ia menemui pemilik resto untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Selain karena ia ingin fokus belajar untuk ujian, ia juga akan mengelola restonya sendiri selepas lulus sekolah. Aurel menarik napas dan mengembuskan dengan perlahan sebelum mengetuk pintu.
Tok Tok Tok.
"Masuk!" Kiko mempersilakan. Aurel membuka pintu dan masuk ke dalam kantor Kiko.
"Selamat sore, Kak," ucap Aurel menyapa.
"Aurel, ada apa? Kemarin dan sekarang kamu tidak bekerja," ucap Kiko.
"Ya, Kak. Aurel kesini, mau pamit dan mengundurkan diri," ucap Aurel.
"why, honey? Kenapa mengundurkan diri?" tanya Kiko berdiri dan menghampiri Aurel.
"Aurel ingin fokus belajar, Kak," jawab Aurel.
"Kamu, bisa cuti. Kenapa harus mengundurkan diri?" tanya Kiko kembali.
"Itu ... Aurel harus mengurus bisnis Almarhum papa Aurel," ucap Aurel. Aurel merasa tidak enak hati pada Kiko, hingga Aurel tidak berani menatap wajah Kiko. Aurel terus menunduk.
Aurel mengingat dengan jelas, bagaimana ia dulu mengenal Kiko.
*Flashback*
2Tahun yang lalu.
Aurel duduk di taman sendirian terisak pilu. Ayahnya baru saja ditangkap polisi seminggu yang lalu, kemudian paman dan bibinya datang dan mengambil semua fasilitas keuangan milik Aurel. Semua ATM dan kartu kredit serta buku tabungan miliknya diambil bibinya. Aurel tidak diberi uang sedikitpun oleh mereka. Pagi itu, Aurel ditagih uang semester oleh pihak sekolah. Karena Aurel tidak bersekolah di sekolah negeri, tapi di sekolah elite swasta.
Aurel duduk terisak, ia kebingungan. Aurel tidak tahu harus mencari uang kemana. Aurel duduk disana hingga petang berganti malam, Aurel tidak ingin pulang ke rumah. Aurel tidak ingin melihat paman dan bibinya di rumah. Ia duduk di kursi taman yang gelap karena lampunya mati.
Ketika Kiko melewati tempat Aurel, Kiko berteriak ketakutan. Ia pikir Aurel adalah hantu.
"Akhh ... hantu!" teriak Kiko sambil berlari dan terjatuh karena tersandung di jalan berlubang. Kaki Kiko terkilir, ia tidak bisa berdiri. Ia menutup wajahnya agar tidak melihat Aurel yang ia sangka hantu.
Aurel mendekati Kiko dan mengulurkan tangan.
"Tidak ada hantu yang menangis, kenapa ketakutan seperti itu?" tanya Aurel.
Mendengar suara Aurel, Kiko perlahan menurunkan tangannya dan menatap wajah Aurel. Ia tersenyum malu dan meraih uluran tangan Aurel. Aurel membantu Kiko berdiri dan memapahnya agar duduk di kursi taman.
"Siapa yang tidak akan ketakutan, di tempat gelap seperti ini ada yang menangis," gerutu Kiko.
"Kakak ini orang dewasa, dan Kakak ketakutan karena hantu," ucap Aurel menyindir.
"Dasar gadis kecil yang nakal. Kenapa kau menangis disini?" tanya Kiko.
"Apa gunanya bercerita pada orang asing. Huffhh ...." Aurel mengembuskan napas berat. Aurel kembali teringat beban di hidupnya.
__ADS_1
"Perkenalkan, aku Kiko. Kadang jadi Kiki, kadang jadi Koko," ucap Kiko sambil mengulurkan tangan. Ia mengajak Aurel berkenalan.
"Hahaha, kenapa namanya lucu sekali. Mirip merek es, hahaha. Maaf," ucap Aurel tertawa terpingkal-pingkal. Aurel menyambut tangan Kiko dan berjabatan tangan.
"Aurel," ucap Aurel memperkenalkan diri.
"Ya, karena aku seorang gay, bukan wanita bukan juga pria tulen," jawab Kiko serius.
"Maaf," ucap Aurel. Ia merasa bersalah telah menertawakannya. Aurel menceritakan keluh kesahnya pada Kiko, padahal mereka baru saja kenal. Aurel tahu Kiko orang yang baik. Setelah Aurel menceritakan kisahnya, Kiko memberi Aurel uang untuknya.
"Apa ini? Kakak pikir aku pengemis?" tanya Aurel emosi.
"Siapa bilang? Tidak seperti itu. Uang itu aku adalah hutangmu padaku, datanglah bekerja di restoku besok. Kau bayar hutang itu dengan bekerja sepulang sekolah, ini kartu namaku, disitu ada alamat restonya!" Kiko lalu pergi meninggalkan Aurel dengan langkah sedikit pincang.
Sejak perjumpaan itulah, Aurel bekerja bersama Kiko di restonya.
*Flashback off*
"Kamu tidak perlu takut. Aku tahu, kamu bukanlah orang susah. Kehidupanmu hanya sedang terpuruk, dan kini ... kamu sudah bisa bangkit. Aku senang mendengarnya. Aku harap kamu tidak melupakanku, hiks hiks," ucap Kiko menangis.
Aurel memeluk Kiko yang sudah seperti kakaknya selama ini. Aurel ikut menangis karena Kiko menangis. Kiko mengusap punggung Aurel dengan lembut.
"Berbahagialah! hantu Aurel," ledek Kiko sambil melepaskan pelukkannya.
"Aku tidak akan melupakan Kakak. Kakak sudah seperti Kakak Aurel. Aurel menghapus sisa air mata di pipinya. Aurel keluar dari kantor Kiko dan menuruni tangga dengan pikiran kosong. Ia sangat berat meninggalkan resto yang sudah seperti rumah kedua untuk Aurel. Karena melamun, kaki Aurel tergelincir di tangga dan hampir saja terjatuh. Jika Fariz tidak menangkap Aurel tepat waktu, Aurel pasti sudah tersungkur di lantai.
Fariz mendekap pinggang Aurel dan menahan tubuhnya agar tidak terjerembab ke depan. Sialnya, kening Aurel jadi membentur kening Fariz.
Fariz tertegun menatap bibir tipis Aurel yang sedang meniup keningnya. Bibir tipis berwarna merah muda itu begitu menggoda hasrat Fariz. Jika saja bisa, ingin rasanya Fariz mereguk madu di bibir Aurel. Fariz segera menjauhkan Aurel dari tubuhnya, atau dia tidak bisa menahan hasratnya. Bagaimanapun juga, Fariz adalah pria dewasa yang memiliki gairah terhadap lawan jenisnya.
"Sudah, Kakak tidak apa-apa. Bagaimana dengan keningmu? Sakit?" tanya Fariz mengusap kening Aurel.
"Tidak. Kenapa Kakak ada disini? Bukannya tadi duduk disana?" tanya Aurel sambil menunjuk meja mereka.
"Karena kamu terlalu lama, aku khawatir," ucap Fariz.
Aurel tersenyum dan mengajak Fariz melanjutkan acara mereka. Aurel pergi ke kasir dan kasir itu bilang, Fariz sudah membayar tagihannya. Aurel menoleh ke arah Fariz dan Fariz segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Fariz menggandeng tangan Aurel, mengajaknya keluar dari resto. Tujuan mereka selanjutnya adalah pergi ke taman.
"Tidak pegal? Kita naik taksi saja kalau pegal," ucap Fariz.
"Tidak. Aku lebih suka jalan kaki. Kalau naik taksi, bukan jalan-jalan namanya," ucap Aurel sambil tersenyum.
"Terus, namanya apa?" tanya Fariz penasaran.
"Mobil-mobilan, karena naik mobil. Kalau jalan-jalan ya harus jalan, pakai kaki, hahaha," ucap Aurel lalu berlari kecil meninggalkan Fariz.
"Hei, tunggu. Awas, ya, Kakak tangkap kamu!" Fariz mengejar Aurel yang berlari menjauh darinya.
Aurel berbelok ke taman dan bersembunyi di belakang pohon. Aurel mengintip dari balik pohon, ia tersenyum melihat Fariz sedang keliling mencari Aurel. Aurel menyandarkan punggungnya di pohon Alba besar yang rindang. Aurel memejamkan matanya, mengatur kembali napasnya yang terengah setelah berlari.
Saat ia membuka mata, Aurel hampir saja berteriak, terkejut karena ternyata Fariz sudah ada dihadapannya dan memerangkap Aurel diantara pohon dan tubuh Fariz. Fariz menurunkan tangannya dan merapikan anak rambut Aurel ke belakang telinga.
__ADS_1
Deg deg deg deg.
Jantung Aurel berdetak kencang mendapat perlakuan seperti itu dari Fariz. Aurel memalingkan wajahnya ke arah lain, berusaha mengalihkan perhatiannya agar debaran jantungnya bisa kembali normal.
"Kenapa diam? Aku sudah menemukanmu, apa tidak ada hadiah untukku?" goda Fariz.
"Aku tidak menjanjikan hadiah apapun," ucap Aurel. Ia menjawab tanpa menatap Fariz.
Fariz mundur dua langkah dan menarik kembali tangannya. Fariz tersenyum sambil bertolak pinggang. Aurel masih belum bergerak dari tempatnya. Fariz menyentil kening Aurel.
"Mau sampai kapan kamu disitu?" ledek Fariz. Aurel berbalik menatap Fariz dengan kesal.
Aurel yang kesal karena dipermainkan oleh Fariz, melangkah pergi meninggalkan Fariz yang berjalan dibelakangnya. Fariz tidak berhenti tersenyum melihat Aurel. Wajah Aurel memerah seperti tomat cherry, membuat Fariz merasa gemas. Aurel terus berjalan pulang mendahului Fariz. Sampai di rumah, Aurel langsung masuk ke dalam kamarnya. Aurel melemparkan tubuhnya tengkurap ke ranjang, ia membenamkan wajahnya di bantal. Debaran jantungnya masih sama seperti tadi. Aurel tidak mengerti kenapa bisa seperti itu.
--------------------------------------------------
Hy readers
Tingglkan jejak kalian ya.
Author mo promo jg nih,
Cinta Ada Karena Terbiasa season 3 dah up.
Mohon dukungannya ya😍
Kasih like n bintang
Jangan lupa favoritkan juga.
Semoga kalian suka
Mampir juga di novel author yg lain juga.
Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
Cinta Ada Karena Terbiasa
Kupilih Hatimu
Status Gantung Miss CEO
Putri Yang Tergadai
Dll
Yuk! Mampir😚😚🙂
Makasih buat yang sudah dukung novel ini.
Dkung terus ya dengan cara like, vote dan selalu krisannya Author tampung.
__ADS_1