
Tok! Tok! Tok!
Fariz mengetuk pintu kamar Aurel.
"Sebentar!" Aurel menghampiri pintu dan memutar kunci.
"Kak Fariz, ada apa?" tanya Aurel. Aurel tidak mempersilakan Fariz masuk dan menahan pintunya.
"Kita bicara di luar ... jika kamu tidak merasa nyaman," ucap Fariz. Fariz mengajak Aurel berjalan-jalan ke taman di belakang komplek. Sampai di taman, mereka duduk di salah satu bangku taman.
"Apa yang ingin Kakak bicarakan?" tanya Aurel.
"Soal pernikahan," ucap Fariz. Fariz sedikit ragu untuk membicarakannya bersama Aurel. Namun, ia harus tetap membicarakannya.
"Itu ... Aurel rasa terlalu cepat. Kakak harus membicarakannya lagi dengan Tante Melly," ucap Aurel sambil menunduk. Ia menatap kedua kakinya karena ia tidak berani menatap Fariz. Aurel takut jika ucapannya itu membuat Fariz sakit hati atau tersinggung dan marah. Fariz adalah satu-satunya yang memberikan arti cinta selain keluarga. Fariz adalah orang yang kini ia cintai, ia tidak mau menyakiti hatinya.
"Kita menikah sesuai keinginan mama. Kakak tidak bisa melawan keinginan orang tua. Kita minta saja pada mamaku untuk menikahkan kita secara agama saja. Tidak perlu publikasi atau pesta, nanti saja kita beritahukan pada masyarakat luas setelah kamu yakin," ucap Fariz memberi ide.
"Tapi ... Aurel takut, Kak. Aurel belum siap untuk menikah. Aurel minta maaf," ucap Aurel tertunduk. Aurel menghela napas berat.
__ADS_1
"Aku akan membuat Mama segera pulang ke Malang. Tetapi setelah kita menikah. Dan kita bisa tetap seperti ini, tinggal seperti biasanya. Di kamar masing-masing seperti sekarang. Aurel mau, kan, menikah dengan Kakak?" tanya Fariz. Fariz memandang lekat wajah Aurel dengan penuh harap. Fariz ingin selalu berada di samping Aurel, menemaninya di saat ia bersedih dan tertawa.
Fariz ingin dirinya bisa selalu melindungi Aurel, dari segala sesuatu yang bisa membuatnya terluka. Fariz tidak ingin jauh dari Aurel sedetik pun juga.
Aurel masih bingung dan tidak bisa menjawab. Perasaan Aurel terhadap Fariz belum sedalam itu, meski Aurel sadar dia memang mencintai Fariz tetapi mereka bahkan belum berpacaran. Lalu, bagaimana mereka menikah secepat itu dan nantinya mereka berpisah karena belum mengenal lebih jauh akan diri masing-masing. Namun Aurel mencoba untuk menjalaninya.
"Kak Fariz, Aurel tahu, pernikahan bukanlah sebuah percobaan. Tapi ... bisakah jika kita mencoba menjalaninya seperti itu? Itu terasa seperti, kita ... mempermainkan pernikahan," ucap Aurel.
"Tak apa, aku tidak akan menyentuhmu sebelum kamu merasa yakin tentang pernikahan kita. Aku juga akan menghormati keputusanmu jika nanti kita harus berpisah. Aku hanya tidak bisa mengecewakan Mama. Tapi, jika kamu tidak mau, tidak apa-apa. Aku dan Mama akan pergi besok," ucap Fariz.
Fariz bangun dan melangkah pergi meninggalkan Aurel. Setelah beberapa langkah, Fariz berhenti. Ia berhenti karena ucapan Aurel.
Fariz tersenyum, sandiwaranya berhasil membuat Aurel setuju untuk menikah. Aurel sampai tidak bisa melihat jika Fariz hanya sedang berpura-pura. Jika Fariz menjadi seorang aktor, maka ia akan menjadi pemenang nominasi akting terbaik dan juga aktor terbaik. Sebelum berbalik, Fariz berhenti tersenyum dan memasang wajah serius lagi.
"Benarkah? Kamu serius, mau menikah denganku?" tanya Fariz.
"Ya, mari kita menikah. Dan berpacaran setelahnya, agar kita bisa saling mengenal lebih jauh. Ingat janji Kakak! Jangan ... melakukan ...." Aurel tidak bisa mengucapkan kata yang selanjutnya.
"Melakukan apa?" tanya Fariz sambil menahan senyumnya.
__ADS_1
"Melakukan ... melakukan ... gak tahu, ah. Aurel mau pulang," ucap Aurel sambil berjalan melewati Fariz. Saat melewati Fariz, tangan Aurel dicekal oleh Fariz.
"Kamu bisa pegang janjiku, aku tidak akan melakukannya tanpa seijinmu," ucap Fariz.
Aurel tersenyum dan mendekat ke arah Fariz. Ia memberanikan diri memeluk Fariz.
"Terima kasih," ucap Aurel dalam pelukan Fariz.
Fariz membalas pelukan Aurel dengan erat. Keduanya tersenyum bahagia. Aurel melepaskan pelukannya dan mundur selangkah. Namun Fariz menarik pinggang Aurel dan memegang tengkuknya. Kemudian Fariz mengecup bibir tipis Aurel dengan lembut. Aurel sempat mendorong Fariz tetapi kemudian Aurel diam. Ia memejamkan mata dan membalas pagutan mesra dari bibir merah Fariz. Tidak tercium bau rokok dari bibir Fariz.
Aurel menjauhkan wajahnya dan menyudahi ciuman mereka. Aurel menundukkan wajahnya, wajahnya memerah. Fariz tersenyum melihat Aurel yang bersemu merah setelah mereka berciuman. Fariz mengecup kening Aurel lalu kembali memeluknya.
"Lumayan," ucap Fariz.
"Apanya?" tanya Aurel dalam dekapan Fariz.
"Ciumannya. Lumayan membuatku bergairah," ucap Fariz tersenyum menggoda Aurel. Fariz berhasil mendapatkan hadiah cubitan di pinggangnya.
"Aw, galak banget sih, sayang. Kalau sudah menikah, ini bisa masuk kategori KDRT loh," ucap Fariz.
__ADS_1
"Biarin, habisnya Kak Fariz nakal, huh," ucap Aurel sambil berlari meninggalkan Fariz yang masih tersenyum melihat Aurel. Fariz melangkah pergi menyusul Aurel yang sudah jauh berlari menuju ke rumah.