
Aurel kebingungan, karena di hari senin dirinya harus berangkat kesekolah lebih awal. Aurel mencari ide, dan ia memilih untuk membuat sandwich saja, agar bisa selesai tepat waktu. Aurel terus melirik jam dinding, setelah selesai menyiapkan sarapan, Aurel berlari ke kamarnya.
"Astaga!" Aurel terkejut. Ia pikir Fariz sudah keluar dari kamarnya, tapi ternyata Fariz duduk di tepi ranjang Aurel.
" Kenapa masih di sini? Keluar!" Aurel mengusir Fariz dari kamarnya.
Fariz tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Aurel menjadi kesal, ia tidak peduli dengan Fariz, mau keluar atau tidak. Aurel mengambil baju seragam sekolahnya, membawanya ke dalam kamar mandi dan berganti baju di sana. Saat Aurel keluar, Fariz masih di tempatnya. Aurel segera mengambil tasnya dan pergi tanpa mempedulikan Fariz. Baru saja satu langkah keluar dari pintu, Fariz memanggilnya.
"Aurel, tunggu!" Fariz bangun dan melangkah mendekati Aurel yang berdiri di depan pintu kamar.
"Ada apa? Cepat katakan! Aku harus segera berangkat ke sekolah," ucap Aurel.
"Izinkan aku membuktikan ucapanku, aku serius, aku menyukaimu. Mari kita dari berteman, dan saling mengenal. Setelah satu bulan, aku akan menyatakan cintaku kembali padamu. Saat itu, kau harus memberi jawaban 'Ya atau Tidak'," ucap Fariz sambil menatap lekat kedua mata indah milik Aurel.
"Baiklah! Sudah, kan, bicaranya? Aku berangkat," ucap Aurel. Aurel segera mengambil sepeda dan mengayuh dengan cepat. Semua harta Aditya jatuh kepada Edi, dengan cara memalsukan tanda tangan Aditya. Namun mereka tidak tahu, bahwa Aditya sudah menyiapkan tabungan masa depan untuk Aurel.
***
SMA Dewi Sartika.
Aurel memarkir sepedanya dan segera berlari ke kelas untuk menaruh tasnya. Kemudian ia berlari ke lapangan, berbaris dan bersiap mengikuti upacara. Di sekolah, Aurel tidak punya teman karena mereka tidak mau punya teman seperti Aurel. Mereka selalu mengolok-olok Aurel yang seorang anak narapidana.
Namun, semua itu justru menguntungkan bagi Aurel. Ia tidak perlu pusing mencari alasan jika teman sekolahnya mengajak jalan. Karena kehidupan Aurel cukup sibuk, pulang sekolah, Aurel harus memasak makan siang untuk paman dan bibinya. Setelah itu, ia pergi bekerja paruh waktu untuk mencukupi kebutuhannya, seperti perlengkapan sekolah dan iuran sekolah. Edi tidak pernah memberikan uang sepeserpun untuk Aurel.
Aurel masih merasa beruntung, karena ia tetap diperbolehkan sekolah. Meskipun pamannya tidak memberi uang untuk sekolah, tapi Aurel sudah bisa menghasilkan uang sendiri dengan bekerja paruh waktu. Hanya saja, Aurel seringkali di kunci di luar rumah jika terlambat pulang.
***
Di rumah Aurel.
__ADS_1
Olivia sudah selesai mandi dan memanggil Fariz untuk sarapan bersama. Edi sudah berangkat ke kantor tanpa sarapan. Fariz sarapan di meja makan hanya berdua bersama Olivia. Fariz mencoba mengorek informasi tentang Aurel, gadis yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Tante, Aurel itu seperti apa?" tanya Fariz.
"Dia itu seperti parasit, mengganggu pokoknya. Jadi, jauhi dia!" Jawab Olivia.
"Sepertinya dia gadis yang baik, Tante. Jujur, Fariz suka sama Aurel," ucap Fariz.
"Yah, terserah kamu. Tante tidak mengatur perasaanmu. Oh, ya. Kapan kamu mulai berangkat kuliah?" tanya Olivia.
"Dua minggu lagi, Tante," jawab Fariz.
Olivia selesai sarapan dan menenteng tasnya lalu pergi setelah berpamitan pada Fariz. Sejak ia dan suaminya, Edi, menguasai harta kekayaan Aditya, mereka terus berfoya-foya. Edi saja tidak pernah masuk ke kantor, situasi di kantor semacam apapun dia tidak peduli. Ia mempunyai selingkuhan di belakang Olivia.
Olivia selalu pulang larut malam, entah apa yang dia kerjakan di luar sana. Olivia bahkan tidak menyadari bahwa suaminya punya banyak kekasih gelap. Ia hanya tahu, belanja dan berkumpul dengan teman-temannya. Selebihnya, Olivia selalu berdiam diri di sebuah rumah kost, tetapi dengan siapa dirinya di sana, tidak ada yang tahu.
***
Semua staf berkumpul karena perusahaan Aditya mengalami penurunan harga saham, sejak Aditya dipenjara sampai akhirnya Aditya meninggal. Edi sama sekali tidak pernah mengurus perusahaan, ia hanya datang sebentar dan pergi ke tempat para wanita simpanannya. Satu persatu perusahaan minuman herbal milik Aditya dinyatakan bangkrut, sejak dua tahun yang lalu. Kini hanya tersisa satu pabrik minuman dan gedung kantor pusat yang mengurusi keuangan.
"Bagaimana ini? Kita mana bisa terus seperti ini," ucap salah satu staf kantor.
"Ya, aku lebih baik mengundurkan diri, sebelum perusahaan ini benar-benar bangkrut dan kita kehilangan uang pesangon kita," sahut yang lainnya.
Mereka pun beramai-ramai menulis surat pengunduran diri serentak dan menyerahkannya pada kepala HRD.
*Brakk.
Kepala HRD menggebrak meja karena seorang satpam mengantarkan surat dari para staf kantor yang sudah pulang.
__ADS_1
"Apa-apaan ini? Kenapa mereka seenaknya saja pulang tanpa ijin?" tanya Gusti, Kepala HRD yang sangat dipercaya oleh Aditya. Umurnya masih muda, dia baru saja merayakan hari ulang tahunnya kemarin. Usianya kini 24 tahun. Karena kejujurannya, Aditya langsung mengangkat Gusti dari seorang asisten personalia menjadi kepala HRD.
"Mereka takut jika perusahaan tidak bisa membayar upah mereka, Pak. Jadi, mereka semua mengundurkan diri," jawab satpam paruh baya itu.
"Huffhh." Gusti hanya bisa menghela napas. Memang keadaan perusahaan saat ini diambang kebangkrutan. Gusti menerima semua surat itu dan menyuruh satpam kembali ke posnya.
"Aku harus bicara dengan Pak Edi, bagaimanapun juga, dialah yang memegang semua kendali perusahaan saat ini," gumam Gusti. Ia sangat merasa kasihan pada Aurel, perusahaan yang dirintis dari bawah oleh ayahnya itu, semuanya bangkrut.
Semakin lama, alat pembuat minuman herbal diet itu semakin lemah dan rusak satu persatu. Wakil Direktur, Opi, sudah menyarankan pada Edi untuk membeli atau minimal memperbaiki mesin itu. Karena semakin sedikit mesin yang beroperasi, pengiriman minuman itu terlambat karena terkendala proses pembuatan. Satu persatu klien mereka memutuskan kerja sama dan berpindah ke perusahaan yang lain.
Seharusnya perusahaan itu akan Aditya wariskan kepada putri semata wayangnya, Aurel. Namun, semuanya berubah saat istrinya meninggal dan ia menjadi depresi, yang akhirnya melakukan tindakan kriminal terhadap Triana dan dipenjara. Bukan hanya kasihan karena semua warisan ayahnya hilang, tetapi Aurel juga diperlakukan seperti pembantu dan harus banting tulang untuk kebutuhannya sendiri.
***
Pulang Sekolah.
Aurel selesai merapikan semua peralatan sekolahnya ke dalam tas. Tiba-tiba di hadapannya ada yang menyimpan minuman susu kotak rasa coklat. Aurel mendongak melihat siapa yang menaruh susu itu.
"Kak Bian," ucap Aurel.
" Minumlah! Setelah pulang sekolah, pasti kamu akan bekerja lagi, kan?" tanya Bian.
"Kak Bian, tahu?" tanya Aurel sambil menatap sekeliling.
"Mereka semua sudah pulang. Aku antar kamu pulang, ayo!" Bian menarik tangan Aurel tapi Aurel menepisnya dengan halus.
"Tidak perlu, terima kasih," ucap Aurel lalu pergi meninggalkan Bian di ruang kelas.
Bian adalah ketua kelas 12D, kelas tempat Aurel belajar. Ia terkenal dingin oleh sebagian siswi di kelasnya. Hari ini untuk pertama kalinya, Bian menyapa wanita dan wanita pertama yang ia sapa adalah Aurel. Bian menoleh ke arah meja Aurel.
__ADS_1
"Hem, susunya tidak diterima, orangnya juga ditolak," ucap Bian sambil tersenyum geli. Bian sering melewati resto tempat Aurel bekerja. Diam-diam, Bian sering memperhatikan saat Aurel melayani pelanggan dengan senyum manis. Bian tertarik dengan ketegaran Aurel. Bian tahu, keluarga Aurel sudah bangkrut, tetapi Aurel masih bisa tersenyum melayani pelanggan.