Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
Ekstra part 2


__ADS_3

 


**Aurelia Adidjaya & Al Fariz Subrata**


Aurel pergi menjenguk ibu angkatnya di rumah sakit saat mendapat kabar. Sepulang dari rumah sakit, Aurel hanya tiduran di sofa dalam ruang kerjanya. Perutnya yang sudah membesar membuat Aurel cepat lelah. Tadi pagi sebelum pergi ke resto, Aurel menyempatkan mampir menjenguk Triana di rumah sakit. Usia kandungan Aurel menginjak usia lima bulan, perutnya sudah terlihat buncit. Aurel sering sekali mengusap perutnya. Kehamilan pertamanya ini membuat Aurel merasa seluruh penderitaannya telah diganti dengan sejuta kebahagiaan.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!"


Gusti masuk ke dalam ruangan Aurel dan berkacak pinggang menatap Aurel yang berbaring miring di sofa.


"Mentang-mentang owner resto, kerjanya tiduran saja di kantor. Bangun! Dilarang tidur pagi-pagi kalau sedang hamil."


"Kak Gusti, Aurel capek. Kak Gusti kenapa jadi cerewet banget sih? Kan yang hamil itu aku bukan istri Kak Gusti." Aurel bangun dan duduk bersandar di sofa sambil mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


"Kamu itu kan adiknya Kak Gusti, meski adik ketemu gede tapi kan wajar kalau kakak memperhatikan adiknya." 


"Ya, ya. Aurel tidak tidur kok. Cuma rebahan," ucap Aurel. Ia kemudian melangkah ke meja kerjanya. "Ada apa Kak? Pasti ada sesuatu yang membuat Kak Gusti mencari Aurel. Bukan cuma iseng mau ngomel sama Aurel saja, kan?"


"Ya. Aku mau memberikan undangan pesta. Ini," ucap Gusti sambil menyerahkan sebuah kartu undangan.


"Undangan siapa?"


"Baca makanya, dasar malas."


Aurel mendecih dan tersenyum diejek Gusti. Ia kemudian membuka kartu undangan itu dan sontak matanya membelalak lebar. 


"Corry sama Dwiyan!" Aurel berseru kaget. Aurel tidak mengerti, ia telah melewatkan apa saja selama dua bulan ini. 

__ADS_1


"Kenapa? Kaget? Sama, hahaha. Ternyata sebenarnya Dwiyan suka pada Corry, tapi karena sifat Corry yang sombong, Dwiyan sengaja selalu mengacuhkannya meskipun Dwiyan tahu bahwa Corry mencintainya. Setelah kejadian dia mencelakai kamu, Dwiyan memarahi Corry. Corry jadi lebih pendiam dan berubah sedikit demi sedikit. Dan … ya, selanjutnya seperti sekarang itu. Mereka  akan menikah minggu depan."


"Pantas saja, Kak Gusti meliburkan resto minggu depan. Kalau mereka berdua tidak ada, siapa yang akan memasak, haha. Aurel turut senang mendengarnya. Semoga mereka bisa bersama selamanya."


***


Di kantornya, Fariz merasa mual dan ingin memakan sesuatu yang masam. Sepertinya sang jabang bayi yang berada di rahim Aurel memindahkan ngidamnya pada Fariz. Sejak sebulan yang lalu, Fariz terlihat aneh seperti orang mengidam. Di jam makan siang, Fariz selalu merasa mual dan tidak mau makan siang. Yang ia pinta pada OG pasti rujak buah mangga muda. Hari ini juga sama, jam makan siang Fariz menyuruh OB-nya membelikan rujak buah. Dan saat ini dengan lahap ia memakan rujaknya. Asistennya Naya hanya senyum-senyum sendiri melihat Fariz.


"Kenapa rujaknya rasanya beda, Nay?" tanya Fariz.


"Oh, kata OB-nya yang biasa jualan di depan kantor tidak berjualan hari ini. Jadi beli di tempat lain. Tapi, Presdir, Anda tetap menghabiskannya," goda Naya. Usia Naya yang sebaya dengan Fariz, membuat Naya dan Fariz cocok menjadi teman.


"Berani mengejekku?" 


"Haha, berani. Ini jam istirahat, jadi satu jam kedepan Anda tidak bisa mengomeli saya. Karena saya sedang tidak bekerja." Naya tertawa menjawab pertanyaan Fariz.


"Dasar nenek sihir jahat. Pergi sana!"


***


4 bulan kemudian.


Aurel berbaring di ranjang operasi. Ia akan melahirkan dengan proses caesar. Bukan karena Aurel tidak mau melahirkan dengan normal, tetapi kebetulan dua hari sebelum waktunya melahirkan, Aurel jatuh sakit. Kondisi Aurel yang belum pulih itu tidak memungkinkannya untuk melahirkan dengan normal dan akhirnya Dokter mengambil jalan caesar.


Fariz, Gusti dan Erin menunggu dengan cemas di depan ruang operasi. Alea, Melly dan Subrata yang sudah tiba di Jakarta sejak dua hari lalu juga turut menunggu Aurel di depan ruang operasi. Melly segera terbang bersama Alea dan Subrata saat Fariz memberitahu kalau Aurel sakit. Melly sangat cemas mendengar kabar itu, apalagi Aurel sedang hamil. Dengan kondisi hamil dan sedang sakit, Melly tentunya sangat khawatir pada menantu dan calon cucu pertamanya.


Setengah jam kemudian terdengar suara tangisan bayi. Mereka yang berada di depan ruang operasi pun mengucap syukur. Suara tangisan bayi itu terdengar samar karena terhalang pintu ruangan operasi. Tetapi mereka yakin itu adalah bayi Aurel.


Tiga jam kemudian, Aurel sudah berada di ruang rawat inap. Aurel melalui operasinya dengan aman meskipun keadaannya kurang sehat. Aurel masih tertidur dalam pengaruh obat bius. Fariz dengan setia menemani di samping ranjang rawat Aurel. Ia duduk sambil menggenggam tangan Aurel.

__ADS_1


"Selamat, sayang. Kamu sudah menjadi seorang ibu sekarang dan aku menjadi seorang ayah. Bayi kita laki-laki, tapi entah kenapa wajahnya mirip denganmu. Aku jadi iri, sayang."


"Dasar lebay. Masih mending bayinya mirip Kak Aurel. Coba kalau bayinya mirip Kim So Hyun, kan aneh, haha." Alea sangat senang menggoda kakaknya.


"Dasar bocil, nyahut aja."


Dan mereka pun tertawa melihat Fariz kesal. Riuh suara tawa di ruangan itu membangunkan Aurel  yang sudah tiga jam berbaring dalam pengaruh obat.


"Sayang, sudah sadar. Selamat, bayi kita laki-laki. Apa kamu perlu sesuatu, katakan padaku kalau butuh apa-apa," ucap Fariz.


Aurel tersenyum menatap semua orang yang berkumpul di ruangan itu. Satu persatu dari mereka mengucapkan selamat untuk Aurel atas kelahiran putra pertamanya. Aurel masih lemah dan hanya menjawab dengan senyuman. Lega sudah perasaan Aurel yang sempat cemas karena kondisi tubuhnya sedang tidak baik. Kini, ia bisa tersenyum dengan tenang setelah putranya lahir ke dunia.


Tok! Tok! Tok!


Alea menghampiri pintu dan mempersilakan tamu Aurel masuk. Triana dan Lanzi menjenguk Aurel. Triana membawakan buah-buahan dan bunga. Alea menerima bungkusan buah-buahan dan menaruhnya di nakas.


"Selamat, sayang." Triana memberikan bunganya dan memberi ucapan pada Aurel. 


"Terima kasih, Bu. Mana Daren dan Alika?"


"Daren dan Alika sedang tidur siang. Jadi Ibu titipkan sama Bi Iyah."


 Mereka mengobrol dan bercanda. Menciptakan riuh tawa bahagia. Aurel menatap satu persatu wajah orang-orang yang ia sayangi. Aurel tersenyum menapaki jejak perjalanan hidupnya saat pertama bertemu dengan Triana hingga menjadi anak angkat Triana. Aurel juga masih mengingat dengan jelas pertemuan pertamanya dengan Fariz yang sekarang telah menjadi pendamping hidupnya. Tersenyum menatap sosok Gusti yang sudah seperti kakak kandungnya dan sahabatnya Erin yang begitu baik. Kemalangan Aurel telah Tuhan ganti dengan sejuta kebahagiaan dari orang-orang yang menyayangi Aurel. 


--------------------------------


Ok readers, sampai disini kisah mereka.


Dan mereka pun hidup bahagia. Semua sudah mendapatkan kebahagiaannya masing-masing.

__ADS_1


Terima kasih buat kalian yg telah mendukung karyaku. Say goodbye buat mereka semua.


i love you readers ♥️♥️♥️


__ADS_2