
KPH 7
Setengah jam kemudian, pria itu masuk kembali ke ruang rawat.
"Perban di wajahmu akan dilepas setelah dua minggu. Jadi, sabar ya, sayang." Pria itu menarik kursi lalu duduk di samping ranjang.
"Siapa sebenarnya kamu? Kenapa terus memanggilku 'sayang'? Aku tidak mengenalmu. Anakku … dimana? Dimana Daren?" Tanya Triana.
Ya, wanita yang terkapar tak berdaya itu, adalah Triana. Ia mencoba bangun untuk mencari Daren, tetapi jawaban pria itu membuat Tri berteriak histeris.
"Putramu, sudah meninggal," jawab pria itu dengan nada bicara yang dingin dan menyeramkan.
"TIDAAKKK! Tidak mungkin, Daren, tidak mungkin meninggal. Aku ingat dengan jelas, mobil itu hanya menabrakku," ucap Tri dengan deraian airmata.
"Dia membentur tembok, saat kamu mendorongnya. Dan wajahmu hancur karena membentur aspal, hingga terseret beberapa meter. Sekarang di mata masyarakat, kau sudah meninggal. Identitas barumu adalah Nyonya Aditya Adidjaya." Wajah pria itu berubah, tidak seperti saat pertama Tri terbangun dari koma pasca operasi.
"Tidak! Aku tidak mau. Aku adalah Nyonya Lanzi Leonard. Bagaimana bisa, aku berubah jadi Nyonya Aditya Adidjaya?" Tanya Triana.
"Kau akan tahu, seminggu kemudian. Operasi di wajahmu baru dilakukan seminggu yang lalu, jadi tunggu satu minggu lagi dan kau akan tahu," ucap Adit dengan senyum menyeringai. Adit kemudian keluar dari ruang rawat Tri.
"Tidak, aku tidak percaya, jika putraku meninggal. Aku harus pergi dari sini dan menemui Mas Lanzi," Triana mencoba bangun, tetapi tubuhnya sngt sulit untuk bergerak. Tri mencari cara lain untuk menghubungi Lanzi. Ia mencoba meraih gagang pesawat telepon di meja. Namun Tri malah terjatuh dari ranjang.
Brukk.
"Aw … sakit se-kali," ucap Triana sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.
Dua orang pria berjas hitam, masuk ke dalam ruang rawat Tri saat mendengar suara. Mereka segera menekan tombol untuk memanggil dokter. Dokter datang tak lama kemudian, dokter itu segera menyuruh kedua pria itu mengangkat tubuh Tri ke ranjang.
"Hati-hati," ucap dokter. Ia kemudian memeriksa Tri dan kembali memasang selang infus yang terlepas dari punggung tangan Tri.
***
Di kantor perusahaan 'Leonard Entertaint' Lanzi dan Tom sedang berdiskusi, di ruang rapat. Hari ini, akan diadakan rapat bersama perusahaan minuman herbal 'Adidjaya Herbadrink'. Lanzi berada di ruangannya sambil menunggu klien mereka datang, Lanzi mengobrol bersama Tom.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" Jawab Lanzi.
Lusi, sekertaris Lanzi, masuk dan memberitahu, jika klien mereka sudah menunggu di ruang rapat. Lanzi dan Tom pun pergi menuju ruang rapat.
"Selamat siang, Pak Adidjaya," ucap Lanzi sambil berjabat tangan.
"Selamat siang, Pak Leonard. Panggil saja, saya, Adit," ucap Aditya.
__ADS_1
"Pak Adit, silahkan duduk! Panggil saya, Lanzi," Ucap Lanzi mempersilakan.
"Jadi, inilah, Lanzi Leonard. Suami dari wanita yang aku bawa ke rumahku. Maaf, Lanzi, istrimu tidak bisa ku kembalikan," ucap Aditya dalam hati.
"Terima kasih, Pak Lanzi," jawab Aditya. Ia kemudian duduk dan rapat pun dimulai. Mereka mendiskusikan tema iklan dan juga model yang akan mereka pakai untuk iklan itu.
"E … Pak Lanzi, karena iklan ini juga hanya untuk iklan minuman herbal diet, Bagaimana jika untuk ke depannya … istri saya yang mengurus?" Tanya Aditya.
"Tidak masalah," jawab Lanzi.
Entah apa yang ada dalam pikiran Aditya, hingga ia mengusulkan Triana yang menggantikannya. Aditya tersenyum misterius dengan tatapan yang lepas dari wajah Lanzi. Rapat selesai, mereka saling menandatangani surat kontrak lalu berjabat tangan.
"Baiklah, Pak Lanzi. Saya harap, Anda bisa berdiskusi dengan baik bersama istri saya," ucap Aditya.
"Saya usahakan, agar bisa membuat Pak Adit puas dengan jasa iklan kami. Tapi … apa Anda tidak akan cemburu?" tanya Lanzi. Ia khawatir jika muncul berita yang tidak benar. Karena status Lanzi saat ini.
"Haha, tidak usah khawatir. Saya percaya pada istri saya," ucap Aditya.
Lanzi tersenyum, setidaknya ia tidak perlu merasa takut, jika nanti timbul gosip tentangnya dan istri Aditya.
Aditya mengundurkan diri, dan ia pun kembali ke rumah sakit.
***
Triana tersadar setelah tadi terjatuh dan pingsan. Ia berusaha meraih kembali gagang pesawat telepon. Namun belum sampai tangannya memegang, pesawat telepon itu dijauhkan oleh Aditya.
"Mau menelepon siapa? Lanzi, atau ibumu, Fitri?" Tanya Aditya.
"Apa yang kau mau? Kenapa kau menahanku?" tanya Triana.
"Aku ingin kau menjadi istriku!" ucap Aditya.
"Mustahi, aku adalah wanita bersuami. Apa kau tidak bisa mencari wanita lain?" tanya Triana.
"Tidak! Kau, dengarkan aku baik-baik! Aku punya seorang putri yang mengalami depresi karena kematian ibunya, tugasmu menjadi istriku dan menjadi ibu untuk putriku. Saat putriku sembuh, aku akan mengijinkanmu kembali kepada suamimu. Jangan berpikir memberitahu Lanzi ataupun kabur dariku, nyawa ibumu ada di tanganku. Kau bisa buktikan ucapanku, jika kau siap kehilangan ibumu!" ucap Aditya dengan tatapan dingin. Tatapannya bagai membekukan semua aliran darah di tubuh Triana. Melumpuhkan semua syaraf di setiap urat nadinya.
***
Sore hari, Lanzi tiba di rumah. Fitri berjalan mondar-mandir, menunggu Lanzi. Saat melihat mobil Lanzi datang, Fitri bernapas lega. Ia menghampiri Lanzi dan bertanya banyak sekali.
"Lanzi, sudah makan? Apa kau lelah? Atau, atau butuh sesuatu? Katakan pada Ibu!" ucap Fitri.
Lanzi tersenyum mendengar ucapan Fitri, ia jadi teringat Triana yang selalu bertanya seperti Fitri saat ini.
__ADS_1
*Flashback*
Lanzi pulang malam, karena harus lembur. Saat sampai di rumah, Lanzi segera masuk ke kamarnya. Ternyata, Triana belum tertidur dan langsung turun dari ranjang ketika melihat Lanzi masuk ke kamar.
"Mas, sudah pulang? Capek, ya? Mau aku pijat? Atau aku buatkan makanan? Atau mungkin minuman?" tanya Triana.
Lanzi menutup mulut Tri dengan sebuah ciuman mesra. Mereka malah saling berpagut mesra hingga gairah mereka membara, dan mereka lanjutkan sampai ke adegan ranjang.
*Flashback off*
"Lanzi, sudah makan, Bu. Lanzi ingin membersihkan diri dan beristirahat," jawab Lanzi tersenyum.
"Ya, sudah. Pergilah beristirahat! Ibu akan memanggil jika sudah waktunya makan malam," ucap Fitri.
"Terima kasih, Bu. Pak Tom, pulang dan beristirahat juga. Jemput saya seperti biasa, besok," ucap Lanzi.
Tom mengundurkan diri dan pergi meninggalkan rumah Lanzi dengan mobil miliknya. Tom selalu memarkir mobilnya di garasi rumah Lanzi dan pergi ke kantor atau ke kampus bersama Lanzi.
Lanzi masuk ke kamar mandi dan berganti baju. Setelah mengganti bajunya, Lanzi merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia membuka galeri di ponselnya, melihat fotonya bersama Fitri dan Daren. Lanzi menatap penuh kerinduan. Sepuluh hari sudah, Lanzi kehilangan mereka. Ia mengecup foto Tri dan Daren.
---------------------------------------------------
jangan lupa tinggalkan jejak lagi😘
makasih ya buat yang sudah like dn vote
krisan ttp Aq terima dengan baik
#writersupport
Hy reader ku
Aq punya teman author yang ceritanya keren
Yuk mampir ke sana sambil nunggu novelku update.
Siapa tahu kalian suka,
Nama authornya 'Amy Larahati' judul novelnya 'Cinta Tuan Sempurna'
Jangan lupa kasih dukungan juga ya
Dengan cara like, vote, krisan juga buat authornya.
__ADS_1