Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (51)


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" Gusti mempersilakan dari dalam ruangannya. 


Ternyata Aurel yang mengetuk pintu. Aurel masuk setelah mendapat ijin dari Gusti.


"Kak Gusti, sedang sibuk?" tanya Aurel. 


"Tidak, masuklah!" Aurel yang berdiri di depan pintu pun melangkah masuk dan duduk di depan meja kerja Gusti. 


"Ada apa? Sudah mau mulai bekerja?" tanya Gusti. 


"Ya, Pak. Makanya saya kesini mau melamar," ucap Aurel. 


"Kamu ini meledekku? Ini resto milikmu, bagaimana judulnya kamu malah melamar pekerjaan disini," ledek Gusti. 


"Aurel ingin jadi pelayan disini, dan ingin mencari tahu, seperti apa keinginan para karyawan resto ini. Kak Gusti tolong bilangin sama karyawan yang sudah tahu siapa Aurel untuk tidak membocorkan identitas Aurel."


"Siap. Kapan rencananya kamu mulai bekerja?" tanya Gusti. 


"Besok." Aurel pergi setelah mengatakan niatnya pada Gusti. Aurel pergi ke rumah sakit menggunakan taksi, sampai di rumah sakit, ternyata Triana sudah dibawa pulang. Aurel pergi ke rumah Triana mumpung dirinya masih belum mulai bekerja, karena ia akan sangat sibuk saat bekerja nanti.


Aurel tiba di pintu gerbang rumah Lanzi, Aurel menghampiri pos satpam dan melapor pada satpam di dekat gerbang.


"Pak, saya mau ketemu Ibu, boleh?" tanya Aurel. 


"Non Aurel ini seperti datang bertamu saja. Tentu boleh. Kata Tuan dan Nyonya, Non Aurel harus diijinkan masuk kapanpun Non datang, tengah malam sekalipun pasti boleh masuk. Silakan masuk, Non!" Satpam itu membuka pintu gerbang dan mempersilakan Aurel masuk.


Aurel mengucapkan terima kasih dan melangkah masuk ke dalam. Aurel disambut oleh Daren yang berlari dari ayunan yang ada di depan rumah. 


"Tante Aurel," panggil Daren. 


"Halo, sayang. Sedang apa?" tanya Aurel. 


"Ayunan. Tante cari Mama, ya?" 


"Ya, sayang. Mama sedang bobo tidak?"


"Mama sedang bobo, Mama sakit," ucap Daren. 


Aurel menggendong Daren dan masuk ke dalam rumah, Aurel menuju ke kamar Triana. 


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" Triana bangun dan duduk bersandar.

__ADS_1


Aurel masuk dan tersenyum lalu menurunkan Daren dari gendongannya. Aurel mendekat dan duduk di tepi ranjang. 


"Bagaimana keadaan Ibu?"


"Seperti biasa, cuma lemas saja. Aurel tidak sekolah?" 


"Sudah lulus, Bu. Tinggal menunggu ijazah saja. Besok Aurel mulai bekerja di resto, jadi Aurel ingin menjenguk Ibu dulu." Aurel berbincang panjang lebar sampai sore menjelang. Jam empat sore Aurel pulang ke rumah karena sudah waktunya Fariz pulang kuliah. Aurel tidak mau Fariz khawatir dan mencarinya. 


***


Di kantor Lanzi. 


Tom mengetuk pintu tetapi Lanzi tidak merespon. Tom mencari teknisi untuk membuka pintu ruangan Lanzi. Saat Tom mengecek keadaan Lanzi, Tom terkejut melihat Lanzi basah oleh keringat. Tom menyentuh dahi Lanzi.


"Panas sekali. Laila, cepat suruh sopir siapkan mobil!" Tom membantu Lanzi berjalan ke loby dan membawanya ke rumah sakit. Lanzi di rawat dan diharuskan beristirahat beberapa hari. 


"Pak Tom, jangan beritahu Tri kalau saya disini!" Lanzi terbaring lemah dengan punggung tangan tertempel jarum infus.


"Kenapa? Kalian bertengkar?" tanya Tom.


Lanzi tidak menjawab, ia terlalu lemas untuk bercerita panjang lebar tentang masalah dirinya dan Triana. Lanzi menutup matanya dan Tom keluar dari ruang rawat Lanzi dan menemui Dokter yang merawat Lanzi.


"Lanzi sakit apa, Dok?"


"Hanya kelelahan dan stress, sepertinya pasien sangat tertekan hingga mempengaruhi psikisnya dan sakit seperti ini. Saran saya, buatlah pasien melupakan hal yang membuatnya stress. Apakah itu pekerjaan atau apapun, sebaiknya biarkan dia melupakannya sejenak," ucap Dokter.


Baru kali ini Tom melihat Lanzi sampai sakit hanya karena bertengkar dengan Triana. Tom jadi penasaran, apa sebenarnya yang membuat Lanzi begitu tertekan. Yang Tom tahu, selama ini fisik Lanzi sangat kuat. Meskipun sampai tiga hari tiga malam Lanzi lembur bekerja tanpa tidur, tetapi dia tidak pernah sampai sakit seperti sekarang.


***


Di rumah Aurel.


Aurel tiba di rumahnya dan segera menuju ke dapur. Aurel ingin menyambut sang suami dengan masakan spesial yang ia buat. Aurel melihat ke dalam lemari pendingin.


"Hem ... masak apa ya? Ada buncis sama ... huffh cuma ada buncis sama tempe," gumam Aurel lesu. Aurel menghela napas berat, ia bingung mau masak apa.


Tiba-tiba ada tangan yang melingkar di pinggang Aurel. Aurel berjingkat kaget, lalu berbalik.


"Kenapa kaget begitu, sih? Kamu harus terbiasa, sayang," ucap Fariz.


"Karena Kakak berjalan tanpa suara, aku pikir maling," ucap Aurel tersenyum geli.


"Ya, aku maling. Aku maling hati kamu, ya, kan?" goda Fariz sambil mengecup bibir Aurel sekilas.


"Katakan padaku, kenapa terlihat sangat kebingungan?"

__ADS_1


"Tadinya Aurel mau masak, tapi cuma ada buncis sama tempe," jawab Aurel.


"Ditumis saja, jadi tumis buncis tempe. Biar Kakak yang masak," ucap Fariz.


Aurel menunduk sedih, niatnya mau memasak untuk suaminya tapi lagi-lagi malah Fariz yang memasak untuknya. Aurel ingin membantu tetapi Fariz menuntun Aurel dan menyuruhnya duduk manis di kursi ruang makan. Aurel memperhatikan wajah tampan sang suami yang sedang serius memotong buncis. Aurel memperhatikan Fariz dari atas sampai ke bawah. Aurel senyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana jika sang suaminya itu memasak tanpa busana. Antara geli dan lucu, Aurel pun tertawa terpingkal-pingkal membayangkannya.


"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Fariz yang sudah berdiri di belakang kursi tempat Aurel duduk.


"Tidak ada. Hahaha," jawab Aurel. Ia berkata tidak tetapi terus tertawa membuat Fariz jadi curiga.


"Katakan padaku! Atau akan aku buka semua pakaianmu dan menjadikanmu makan malamku di atas meja!" ancam Fariz dengan tatapan tajam. Aurel menelan saliva mendengar ancaman Fariz.


"Aurel cu-ma ...." Aurel gemetaran menjawab pertanyaan Fariz.


"Cuma apa?" tanya Fariz.


"Aurel cuma membayangkan Kakak masak tanpa memakai baju," ucap Aurel sambil memukul mulutnya sendiri.


"Dasar anak kecil nakal, kamu berani menghayal yang macam-macam sekarang, huh," omel Fariz sambil menjewer telinga Aurel pelan.


"Ampun Kak, gak berani lagi, hihi." Aurel menyatukan tangannya dan berjanji tidak akan melakukannya lagi.


Fariz kembali ke meja dapur dan menyelesaikan pekerjaannya yang sedang mengiris buncis. Tetapi setelah Fariz menjauh, Aurel kembali tersenyum geli. Fariz melirik kearah Aurel dengan tajam, Aurel langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.


-------------------------------------------


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘

__ADS_1


Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.


Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏


__ADS_2