Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (18)


__ADS_3

Triana berlari memeluk Lanzi.


Fitri terbelalak tak percaya, Lanzi memukuli suami dari wanita yang ia peluk. Fitri benar-benar kecewa pada Lanzi.


"Tanah kuburan Triana masih basah, dan kamu sudah merebut istri orang? Dasar kurang ajar," ucap Fitri. Ia berdiri di tengah pintu dengan marah. Fitri menghampiri Lanzi, menarik Triana menjauh dan menampar Lanzi.


*Plakk.


"Ibu kecewa sama kamu. Tega-teganya kamu berbuat seperti ini. Kamu memukuli suami dari wanita yang peluk tadi, kamu masih waras kan, Lan?" tanya Fitri dengan tatapan kecewa.


"Bu, dengarkan penjelasan Mas Lanzi dulu!" ucap Triana.


"Diam kamu! Apa kau tidak memikirkan putrimu? Kau selingkuh dengan Lanzi dan meminta Lanzi memukuli suamimu. Kau benar-benar ibu yang buruk," ucap Fitri.


"Bu, dia adalah Triana. Orang yang sedang Ibu maki adalah putri Ibu, Triana." Lanzi memotong ucapan Fitri.


Fitri terbelalak menatap Lanzi, Fitri pikir bahwa Lanzi menjadi gila setelah kehilangan putrinya, Triana. Fitri merasa iba pada Lanzi, dan menggeleng pelan.


"Bu, percayalah pada Lanzi, Bu. Lanzi akan ceritakan semuanya nanti.


*Tap tap tap tap.


Suara derap langkah beberapa orang yang masuk ke dalam rumah. Mereka adalah polisi yang Tom telepon saat mereka di jalan tadi. Para Polisi itu sengaja tidak membunyikan sirine, karena khawatir, target mereka melarikan diri.


"Saudara Aditya Adidjaya, Anda kami tahan, atas tuduhan pencurian mayat, tabrak lari, dan penyekapan Nyonya Triana dan putranya Daren," ucap Polisi yang menunjukkan surat penangkapan Aditya.


"Jangan Pak Polisi! Jangan bawa Papa Aurel, Aurel cuma punya Papa, tolong jangan tangkap Papa," ucap Aurel menghiba pada polisi. Akan tetapi, mereka tidak bisa melepaskan Aditya karena kejahatannya begitu berat. Polisi itu pun tetap membawa Aditya.


"Tunggu! Pak Polisi. Dia belum mengatakan dimana putraku," ucap Lanzi.


"Kami akan menginterogasi Pak Aditya, segera setelah kami mendapat jawabannya, kami akan segera menghubungi Pak Lanzi," jawab polisi.


"Baiklah, terima kasih, Pak." Lanzi menghela napas lega. Satu masalah sudah selesai, sekarang waktunya menyelesaikan masalah kesalah pahaman Fitri pada Lanzi dan Triana.


Fitri menatap bingung, saat Lanzi membicarakan Daren bersama polisi. Polisi itu pergi membawa Aditya beserta anak buahnya. Di rumah itu hanya Aurel dan pembantunya yang tidak ditangkap. Triana merasa sedih melihat Aurel menangis pilu menatap kepergian ayahnya. Triana menghampiri Aurel dan memeluknya.

__ADS_1


"Lanzi, sekarang ceritakan pada Ibu, apa maksudnya semua ini? Kenapa kamu mengungkit Daren bersama polisi tadi?" tanya Fitri dengan rasa penasaran.


"Pak Tom, tolong ceritakan semuanya pada Ibu!" ucap Lanzi.


Tom menceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Fitri menutup mulutnya, ia menganga terkejut bercampur senang karena ternyata putri dan cucunya masih hidup. Fitri mengalihkan pandangannya ke arah Triana yang sedang memeluk Triana dan Aurel.


"Aurel, sayang. Jangan sedih, Papa Aurel memang harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Perbuatannya itu salah," ucap Lanzi sambil mengusap rambut Aurel.


Aurel melepaskan pelukan Triana dan Lanzi. Aurel mendorong mereka sambil berteriak histeris.


"Papa sudah bertanggung jawab atas perbuatannya, sekarang Aurel minta kalian semua pergi! PERGII!" ucap Aurel berteriak di sela tangisannya.


"Aurel, kalau Aurel kesepian di sini, Aurel bisa ikut Ibu. Aurel ikut Ibu saja, Aurel sendirian di sini," ucap Triana.


"Tidak! Aurel minta semuanya pergi!" Aurel terus saja berteriak.


Lanzi mengusap pundak Triana dan mengajaknya pergi meninggalkan rumah itu. Mobil Lanzi pulang ke rumah Leonard. Sedangkan enam mobil pengawal Lanzi pulang ke rumah lama Lanzi.


Sepanjang perjalanan, Fitri mendekap putrinya, Triana. Fitri duduk di kursi belakang bersama Lanzi dan Triana.


"Mama tidak percaya kamu masih hidup, sayang," ucap Fitri sambil memeluk erat Triana.


"Bicara apa sih, Mama senang kamu masih hidup. Bagaimana dengan Daren? Kalian sudah tahu dimana dia?" tanya Fitri.


"Kita tunggu kabar dari polisi, Ma," jawab Lanzi.


Merekapun tiba di rumah. Fitri tahu, pasti Lanzi begitu merindukan Triana, jadi Fitri menyuruh Triana beristirahat.


"Istirahatlah! Ibu akan menyiapkan makan siang," ucap Fitri.


Setelah Fitri berlalu dari pandangan mereka, Lanzi segera memeluk Triana dari belakang. Namun Lanzi segera melepaskannya kembali.


"Ekhem, Tuan muda, kalau begitu saya permisi. Saya pikir Tuan perlu banyak waktu untuk berbicara dengan Nyonya muda, jadi urusan kantor biar saya yang handle." Tom pergi meninggalkan Lanzi yang wajahnya memerah karena malu.


Lanzi lupa jika di sana masih ada Tom. Karena terlalu bahagia, Lanzi sampai tidak dapat menahan diri. Triana tersenyum melihat Lanzi yang salah tingkah. Triana melangkah masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Sayang, tunggu!" ucap Lanzi mengikuti Triana masuk ke dalam kamar.


Triana dan Lanzi masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Lanzi menarik Triana dan menggendongnya menuju ranjang. Lanzi membaringkan Triana di tengah ranjang.


"Sayang," panggil Lanzi.


"Hem," jawab Triana.


"Apa dia menyentuhmu? Jangan marah, aku hanya ingin bertanya saja," ucap Lanzi.


"Tidak, Mas. Dia tidak melakukan apapun padaku. Aku belum pernah disentuh oleh Aditya," ucap Triana.


"Belum? Apa itu artinya kau berharap disentuh?" tanya Lanzi dengan marah.


"Ya, aku sangat berharap disentuh, tapi sama kamu, Mas." Triana menarik Lanzi yang berdiri di tepi ranjang hingga jatuh diatas tubuhnya.


"Dasar istri nakal," ucap Lanzi mencubit hidung Triana.


"Aw, sakit. Nanti kalau hidungku jadi panjang, bagaimana?" Triana mengusap hidungnya.


Lanzi tidak tahan melihat bibir Triana yang sengaja dibuat cemberut. Lanzi segera mencium bibir tipis Triana. Lanzi terbuai oleh ciuman mereka berdua dan berakhir saling memberi kepuasan di atas ranjang. Triana dan Lanzi saling melepaskan rindu, setelah dua minggu mereka terpisah.


***


Triana dan Lanzi terlelap dengan posisi berpelukan di ranjang. Mereka tertidur setelah kelelahan bertempur beberapa ronde. Rasanya semua sendi-sendi tubuh Triana seperti terpisah. Ia kelelahan menghadapi kebuasan Lanzi yang hampir tidak memberinya waktu untuk beristirahat.


Maklum saja, selama dua minggu ini Lanzi libur dengan kegiatan ranjang. Ia jadi berkali-kali lipat ganasnya. Triana membuka mata dan mengecup bibir Lanzi sekilas. Lanzi masih menutup mata, dan Triana pikir, Lanzi masih tidur.


"Masih kurang?" tanya Lanzi sambil membuka mata.


"Hah?" Triana menganga, menatap senyum mesum suaminya.


"Baru bangun tidur sudah memancing hasratku lagi. Bukankah tadi kamu menyerah dan meminta ampun?" tanya Lanzi dengan senyum menggoda.


"Siapa yang bilang aku memancing hasratmu? Aku hanya mengecup bibir kamu, Mas," ucap Triana gugup.

__ADS_1


Triana bangun dan duduk di ranjang. Lanzi ikut duduk dan menarik Triana ke dalam pelukannya. Lanzi memeluk Triana dari belakang dan mengecup pundak Tri yang polos tanpa memakai baju. Triana menutupi tubuhnya dengan seprei, ia bersandar di dada bidang Lanzi.


------------------------------


__ADS_2