Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (32)


__ADS_3

Aurel mengobrol cukup lama bersama Gusti. Mereka membicarakan masa lalu, saat Aurel masih kecil dan saat Aditya masih hidup. Aurel sampai lupa mengambilkan air minum.


"Uhuuk … uhuukk. Agak kering nih," ucap Gusti menyindir Aurel. 


"Ya, ampun. Maaf, Kak, Aurel lupa kasih minum, sebentar Aurel ambilkan," ucap Aurel lalu pergi ke dapur. Di dapur Aurel melihat Fariz yang duduk di depan meja makan, dengan kepala ditempelkan di meja. Aurel mendekati Fariz dan menegurnya. 


"Kak Fariz, sedang apa?" tanya Aurel. 


Fariz mengangkat wajahnya, menatap lekat wajah Aurel yang berdiri di sampingnya. Fariz tersenyum meski senyumnya terkesan dipaksakan. Karena hati Fariz saat ini sedang muram, semuram langit mendung. Fariz menggelengkan kepala.


"Tidak sedang apa-apa. Tamunya sudah pergi?" tanya Fariz. 


"Belum, ini Aurel mau ambilkan air minum dulu," ucap Aurel sambil mengambil dua buah gelas dan air es jeruk di dalam pouch. Fariz makin sedih melihat Aurel tersenyum gembira dengan kedatangan Gusti. 


"Ya, sudah. Kakak punya sesuatu untuk dibicarakan dengan Aurel. Kakak ke kamar dulu kalau begitu, nanti Kakak bicara kalau tamunya sudah pulang," ucap Fariz. Fariz lalu melangkah pergi ke kamarnya. Meninggalkan Aurel yang kebingungan melihat wajah Fariz yang sepertinya sedang bersedih.


Seakan ada beban berat yang sedang ia pikirkan. Aurel pun menjadi penasaran dan ingin segera mengetahui apa yang ingin Fariz bicarakan dengannya. Aurel kembali ke ruang baca dan duduk kembali di samping Gusti. Mereka kembali mengobrol, tetapi Aurel jadi terlalu banyak bengong. Dan pembicaraan mereka jadi tidak nyambung, tidak seperti sebelumnya. 


"Aurel, kenapa? Tadi baik-baik saja, kenapa sekarang jadi melamun?" tanya Gusti. 


"Itu, Kak, Aurel lupa sedang banyak tugas sekolah. Maklum dua bulan lagi Ujian Nasional. Jadi, Aurel banyak tugas," ucap Aurel. 


"Oh, Kakak pulang kalau gitu. Belajar yang rajin, biar cepat lulus. Kakak pulang, tapi mau minum dulu, boleh?" tanya Gusti. 


"Ya, diminum semua juga tidak apa-apa," ucap Aurel mempersilakan sambil tersenyum meledek. Setelah minum segelas es jeruk yang Aurel berikan, Gusti pun pulang. Aurel mengantar Gusti hingga mobilnya menghilang di tikungan jalan.


Mendengar suara mobil Gusti sudah pergi, Fariz keluar dari kamarnya dengan menenteng sebuah koper. Aurel masuk ke dalam rumah setelah mengunci pintu gerbang. Fariz duduk di sofa ruang tamu, menunggu Aurel masuk. Aurel melihat Fariz sudah menunggunya di ruang tamu.


Aurel tertegun melihat koper di samping sofa. Pikirannya segera menebak apa yang akan Fariz lakukan dengan koper itu. Aurel duduk berhadapan dengan Fariz dengan dipisahkan jarak oleh sebuah meja. Aurel terus menatap koper itu. Fariz mengikuti arah pandangan Aurel. 


"Ini … aku ingin berpamitan. Karena Tante tidak ada di sini, jadi aku juga seharusnya pergi juga dari rumah ini. Karena aku kesini karena Mama menitipkanku pada Tante Olivia. Sekarang aku akan pergi, aku akan mencari kost-kostan yang tidak terlalu jauh dari kampus. Maaf, kalau aku punya salah, aku pamit," ucap Fariz. 


"Pergilah! PERGI sana! Kalian semua memang tidak suka tinggal dan menemaniku. Semuanya pergi meninggalkan aku, Mama, Papa, sekarang Kak Fariz. Kalian semua tidak memikirkan perasaanku, mau pergi? PERGI SAJA!" Aurel berteriak lalu bangun dan berlari ke dalam kamarnya. Aurel mengunci pintunya dan menangis bersandar di pintu.

__ADS_1


Fariz menyusul Aurel dan mencoba menjelaskan maksudnya. Fariz mengetuk pintu kamar Aurel, ia mendengar suara tangisan Aurel. Sungguh, hati Fariz bagai tersayat mendengar suara tangisan Aurel. Ia tidak bisa melihat Aurel bersedih apalagi sampai menangis.


Tok! Tok! Tok!


" Rel, dengarkan dulu alasanku. Aku juga tidak ingin meninggalkan rumah ini. Tapi … bagaimana pandangan orang terhadapmu, jika kamu tinggal serumah bersama seorang pria yang bukan saudaramu, bersama pria asing. Aurel, aku akan datang setiap hari untuk melihatmu. Tapi, ijinkan aku tinggal di rumah terpisah, semua aku lakukan demi kamu," ucap Fariz. 


"Aku tidak mau mendengar ucapan Kakak, pergi!" Aurel tetap mengusir Fariz. 


Fariz menjadi serba salah, ia pun kembali ke kamar. Fariz akan membicarakannya lagi esok hari. Matahari perlahan mulai tenggelam, mengubah warna langit yang berwarna biru menjadi kuning bercampur warna jingga. Fariz menatap langit dari jendela kamarnya yang kebetulan menghadap ke barat. Perlahan warna jingga itu pun berubah menjadi hitam dan kelam. Tak lama kemudian berubah menjadi hitam pekat, dan suasana pun berubah menjadi gelap, menandakan malam yang mulai menyapa bumi.


Aurel masih betah bersandar di pintu kamarnya dalam kegelapan. Ia tidak bangun dan hanya duduk melamun. Aurel membiarkan lampu kamarnya tetap gelap. Tanpa Aurel sadari, ia pun tertidur di lantai hingga pagi menjelang.


***


Pagi hari, Fariz membuat nasi goreng seperti untuk Aurel. Fariz tahu, semalam, Aurel tidak makan malam. Karena itu Fariz membawakan sarapan sepiring nasi goreng serta susu seperti kemarin. 


Tok! Tok! Tok!


Aurel terbangun mendengar suara Fariz. Ia melirik jam dinding dan segera bangun lalu pergi ke kamar mandi. Setelah mandi, Aurel memakai seragam sekolahnya dan membuka pintu kamar. 


Fariz tersenyum melihat Aurel membuka pintu kamar. 


"Sarapan dulu, baru berangkat sekolah. Ini!" Fariz memberikan piring berisi nasi goreng dan memberikan susu coklat hangat juga pada Aurel. Aurel menerimanya, dan Fariz segera pergi meninggalkan Aurel. Namun langkahnya tertahan oleh ucapan Aurel. 


"Bisakah Kakak tidak pergi? Aurel butuh teman. Aurel sendirian di sini. Kita bisa mengatakan pada orang lain jika kita bersaudara. Mereka juga sudah tahu kalau Kakak adalah keponakannya Tanteku. Bisakah Kakak tinggal di rumah ini?" tanya Aurel berharap.


Fariz tersenyum dan berbalik menghadap Aurel. Fariz mendekati Aurel  dan mengusap rambutnya dengan sayang. 


"Baiklah, Kakak tidak akan pergi. Sekarang cepat sarapan atau kamu akan terlambat pergi ke sekolah," ucap Fariz. 


Aurel tersenyum dan mengangguk. Aurel membawa makanan itu ke meja makan, dan Fariz pergi ke kamarnya untuk merapikan kembali pakaiannya ke dalam lemari. Fariz senang, karena ia tidak harus pergi dari rumah itu. Meskipun mereka tinggal bersama, mereka juga tidak akan melakukan hal terlarang. 


Fariz ingin mendapatkan hati Aurel agar dia mau menjadi kekasihnya. Sampai saat ini, Aurel belum menjawab pernyataan cinta yang Fariz ungkapkan tempo hari. Fariz ingin menggunakan kebersamaan mereka di rumah itu, untuk menunjukkan niat tulus Fariz. Cinta tulus Fariz untuk Aurel akan ia buktikan.

__ADS_1


---------------------------------------------------


Hy readers


Tingglkan jejak kalian ya.


Author mo promo jg nih,


Cinta Ada Karena Terbiasa season 3 dah up.


Mohon dukungannya ya😍


Kasih like n bintang


Jangan lupa favoritkan juga.


Semoga kalian suka


Mampir juga di novel author yg lain juga. 


Pengasuh Cantik Sang Putri CEO


Cinta Ada Karena Terbiasa


Kupilih Hatimu


Status Gantung Miss CEO


Putri Yang Tergadai


Dll


Yuk! Mampir😚😚🙂

__ADS_1


__ADS_2