
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Tom sudah berada di rumah Lanzi. Semalaman, Tom dan anak buahnya mencari info tentang Aditya dan kecelakaan Triana. Karena Tom curiga, kenapa Aditya membawa orang yang kecelakaan dan menjadikannya sebagai istri. Tom sudah menunggu Lanzi di ruang baca. Lanzi baru saja selesai membersihkan diri dan berganti baju. Lanzi keluar dari kamar dan mencari Fitri yang sedang menyiram bunga di halaman.
"Selamat pagi, Bu," sapa Lanzi.
"Pagi, Lan." Fitri menjawab sambil memperhatikan pakaian Lanzi. Hari ini Lanzi memakai jaket jeans berwarna coklat dengan lapisan dalam memakai t-shirt hitam dan celana jeans hitam. Fitri menatap heran karena tidak biasanya Lanzi menggunakan pakaian seperti itu. Di mata Fitri, Lanzi seperti kepala geng mafia, dan Fitri tidak tahu, kemana Lanzi akan pergi. Karena tidak memakai setelan jas seperti biasanya.
"Apa Pak Tom sudah datang, Bu?" tanya Lanzi.
"Ya, Ibu suruh Pak Tom menunggu di ruang baca," jawab Fitri.
"Terima kasih, Bu. Lanzi temui Pak Tom dulu," pamit Lanzi.
Lanzi melangkah pergi ke ruang baca. Hari ini Lanzi akan menjemput Triana dari rumah Aditya. Bagai Sri Rama yang akan menyelamatkan Dewi Shinta dari tangan Rahwana. Hari ini Lanzi akan membawa cintanya kembali, cinta yang selama dua minggu diambil darinya oleh Aditya.
"Selamat pagi, Pak Tom," ucap Lanzi saat masuk ke ruang baca.
"Selamat pagi, Tuan muda," jawab Tom. Mereka kemudian duduk di sofa ruang baca.
"Bagaimana?"
"Ini berkas laporan yang saya terima, pagi ini," ucap Tom sambil menyodorkan dua lembar kertas pada Lanzi.
Lanzi membaca berkas laporan itu. Seketika emosinya naik, Lanzi bersemu merah menahan amarah. Bagaimana tidak? Saat Lanzi membaca laporan kecelakaan yang menimpa Triana, ternyata orang yang menabrak Triana adalah Aditya. Aditya juga mencuri mayat dari rumah sakit, memakaikan pakaian Triana dan Daren pada dua orang mayat yang ia buang ke laut.
"Gila, dia benar-benar gila. Dia memang merencanakannya dengan rapi, tapi bangkai tetaplah bangkai. Serapi apapun kau menyimpannya, baunya tetap akan tercium. Aku akan membuatnya membusuk di penjara." Lanzi berdiri dan mengajak Tom ke rumah pribadi Lanzi, yang dia pakai untuk tempat tinggal para pengawalnya. Di halaman, mereka dihadang Fitri.
"Kalian mau kemana? Kenapa kelihatannya begitu tegang? Apa ada masalah?" tanya Fitri.
"Hanya masalah kampus saja, Bu. Lanzi pergi dulu," ucap Lanzi sambil membuka pintu mobil. Lanzi dan Tom pergi meninggalkan halaman rumah Leonard.
Fitri jadi khawatir, kenapa Lanzi tidak mau berterus terang. Jelas terlihat oleh Fitri, wajah tegang, khawatir dan amarah yang Lanzi pancarkan dari sorot matanya. Karena khawatir pada Lanzi, Fitri memutuskan mengikuti Lanzi dengan menggunakan taksi.
__ADS_1
***
Di rumah Aditya.
Mereka bertiga sedang sarapan pagi seperti biasa. Namun, Tri tidak berselera untuk makan. Aurel mencolek pinggang Triana, terkejut dan menjatuhkan sendok yang dipegangnya.
*Praang.
"Mama, antar Aurel jalan-jalan di taman, ya?" pinta Aurel.
"Tidak! Papa tidak mengijinkan kalian pergi. Lebih baik di taman belakang rumah saja," ucap Aditya.
Aurel menghembuskan napas dengan berat, padahal ia ingin mengajak Triana bicara. Karena jika di rumah, resiko ketahuan sang ayah lebih besar. Aurel tidak bisa berbuat banyak, ia hanya melirik ke arah Triana. Triana tersenyum dan mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja.
***
Di rumah lama milik Lanzi.
Lanzi tiba di halaman, mereka disambut para pengawal yang sudah berbaris rapi di halaman. Ada sekitar tiga puluh orang yang berdiri tegak di halaman, menunggu perintah dari Lanzi.
"Selamat pagi, hari ini kita akan melakukan aksi penyelamatan untuk membawa istriku keluar dari rumah Aditya. Kalian urus para pengawal Aditya tapi ingat, jangan melukai mereka! Ayo kita pergi!" ucap Lanzi.
Lanzi masuk kembali ke dalam mobil. Sedangkan tiga puluh orang pengawal Lanzi, mereka masuk ke dalam enam mobil yang terparkir di garasi. Mobil Lanzi berjalan di barisan paling depan, disusul enam mobil pengawal di belakangnya.
Di dalam mobil, Lanzi menyuruh Tom menelpon polisi. Karena Lanzi tidak bisa, memaafkan orang yang sudah merusak kedamaian keluarganya dengan sengaja.
Di belakang mobil pengawal itu, Fitri terus mengikuti. Karena berdiri agak jauh dari gerbang rumah Lanzi, Fitri sama sekali tidak mendengar apa yang Lanzi ucapkan. Namun Fitri yakin bahwa ada sesuatu yang serius. Jika tidak, mana mungkin Lanzi mengerahkan semua anak buahnya. Jika hanya untuk mengawal Lanzi saat pergi ke luar kota, biasanya hanya tiga atau dua orang pengawal saja.
***
Di rumah Aditya.
__ADS_1
Aditya duduk di teras belakang, memperhatikan Triana dan Aurel yang sedang duduk di bawah pohon mangga. Mereka memetik bunga dan duduk di rumput sambil merangkai bunga. Aditya tersenyum, ia teringat saat Felicia masih hidup. Mereka selalu merangkai bunga di halaman belakang rumah.
"Kenapa dia mirip sekali dengan Felicia. Andai saja aku bisa mendapatkan hatinya, maka keluarga kami akan kembali lengkap. Aku harus melenyapkan Lanzi, jika aku ingin memiliki Triana," gumam Aditya.
*Tok tok tok.
Sebuah suara ketukan pintu membuyarkan khayalan Aditya, ia berdiri dan mencari pembantunya untuk membukakan pintu. Saat pintu terbuka, Aditya terkejut karena Lanzi tiba-tiba datang bersama puluhan anak buahnya.
"Selamat pagi, Pak Lanzi. Kenapa Anda membuat keributan di rumahku pagi-pagi begini?" tanya Aditya dengan tenang.
Dari luar Aditya memang terlihat tenang, tapi hatinya begitu resah. Apalagi jika Aditya melihat sorot mata Lanzi yang penuh kemarahan. Aditya sudah ketakutan karena sepertinya Lanzi sudah tahu tentang Triana yang ia tahan di rumah itu.
Lanzi maju dan segera mencengkram kerah baju Aditya, dengan marah, Lanzi bertanya, " Dimana istri dan anakku? Jawab!"
"Pak Lanzi, kenapa kau menanyakan istrimu padaku? Bukankah istrimu sudah meninggal," jawab Aditya.
Jawaban Aditya membuat Lanzi murka dan menghajar Aditya hingga terjatuh.
"Cari istriku dan bawa kemari!" perintah Lanzi pada anak buahnya.
Beberapa orang pengawal Aditya muncul dari samping rumah, dan segera maju hendak melawan Lanzi. Namun mereka serentak mundur, saat melihat puluhan orang yang berbaris di belakang Lanzi. Mereka kalah jumlah, dengan pengawal Lanzi. Pengawal Aditya hanyalah lima orang, sedangkan pengawal Lanzi tiga puluh orang. sepuluh orang berkeliling mencari Triana, yang lainnya menahan Aditya dan anak buahnya.
***
Di halaman belakang, Aurel mendengar keributan dari dalam rumah. Aurel segera berlari masuk, meninggalkan Triana yang kebingungan karena Aurel tiba-tiba berlari ke dalam rumah. Salah satu anak buah Lanzi menemukan Triana sedang duduk di bawah pohon mangga. Pengawal Lanzi itu menghampiri Triana dan mengajaknya masuk, menemui Lanzi.
"Nyonya muda, mari ikut saya! Tuan muda Lanzi menunggu Anda di dalam," ucap pengawal itu.
Triana tersenyum lebar. Rasa putus asa yang Triana alami kemarin, kini berubah menjadi harapan saat mendengar Lanzi datang menjemputnya.
"Mas Lanzi? Benarkah?" tanya Triana tak percaya. Pengawal itu mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Triana segera berlari masuk ke dalam rumah. Sampai di dalam, Triana tercengang melihat Aditya yang tergeletak penuh luka memar. Aurel terisak memeluk ayahnya. Triana menatap ke arah Lanzi, Triana ingin memeluk dan menenangkan Aurel. Namun Triana takut terjadi kesalah pahaman antara dirinya dan Lanzi.
Di depan pintu, Fitri berdiri menguping pembicaraan di dalam rumah. Fitri tidak menyangka, Lanzi pergi pagi-pagi buta bersama puluhan pengawal hanya untuk memukuli orang lain. Fitri belum tahu masalah Triana, jadi ia agak kecewa pada Lanzi. Fitri baru melihat sisi gelap Lanzi yang lain. Yang tidak Fitri ketahui, Lanzi hanya bersikap kasar saat keluarganya terusik.