
Bian sampai di parkiran sekolah dan turun dengan baju pangeran. Saat hendak masuk ke dalam aula sekolah, Bian melihat mobil Fariz. Fariz keluar dan membuka pintu untuk Aurel. Bian menghampiri Aurel dan Fariz.
"Selamat malam, princess-ku," sapa Bian.
"Selamat malam, Kak," sahut Aurel.
"Jangan sembarangan memanggil istriku dengan panggilan seperti itu!" ucap Fariz sambil memeluk Aurel.
"Istri? Baru calon saja sudah banyak mengatur. Rel, nikahnya sama aku saja," goda Bian.
"Apa bedanya, sama saja. Calon juga nanti tetap akan jadi istri," ucap Fariz.
"Sudah, sudah! Kalian ini seperti kucing dan tikus kalau bertemu. Ayo kita masuk!" Aurel menarik lengan Fariz. Mereka masuk ke aula sekolah.
Aurel mengajak Fariz duduk di bangku sesuai nomor undangan. Aurel datang tepat waktu, setelah mereka duduk, acara segera dibuka dengan pidato dari Kepala Sekolah. Fariz berbisik pada Aurel.
"Ingat! Jangan berciuman dengan Bian. Aku akan menghukum kamu jika kamu tidak menurut," ucap Fariz mengancam Aurel.
"Ya, bawel!" gerutu Aurel kesal.
Bukan sekali dua kali Fariz mengatakan itu. Sepanjang jalan saja Fariz terus mengulang-ulang ucapan yang sama. Aurel lama-lama menjadi kesal. Mereka duduk menikmati tarian dan drama yang ditampilkan oleh kelas lain. Penampilan pentas seni diatur berurutan dari kelas 12A sampai kelas 12H.
***
Di rumah Lanzi.
Triana tidur sendiri di kamarnya. Setiap jam ia melihat pintu kamarnya, berharap Lanzi akan datang. Namun Lanzi tidak kunjung datang hingga tengah malam. Triana tidak bisa tidur, ia sudah terbiasa tidur dengan pelukan Lanzi sepanjang malam sejak ia hamil. Sepertinya bawaan bayi dalam kandungannya. Meskipun Triana tidak ingin melihat wajah Lanzi tetapi hatinya tetap ingin tidur dalam pelukan Lanzi.
Triana bangun, dengan tubuh lemah Triana berjalan ke kamar Daren yang tidur di kamarnya. Triana masuk dan tidur disamping Daren. Daren terbangun karena gerakan Triana yang menarik selimut.
"Mama, Mama menangis, kenapa?" tanya Daren polos.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Mama sedang menatap Daren, ternyata sudah besar. Tidurlah lagi! Mama juga ingin tidur," ucap Triana.
Daren kembali berbaring. Triana tidak jadi tidur bersama Daren, Daren sensitif dengan gerakan. Triana takut mengganggu tidur Daren. Setelah menyelimuti Daren, Triana keluar dan duduk di ruang keluarga. Ia memutar video drama Korea yang belum sempat ia tonton sampai selesai. Triana tertidur di sofa.
***
Malam semakin larut, sudah jam sebelas malam. Kini giliran Aurel yang tampil di panggung. Aurel keluar dari balik tirai yang perlahan naik. Cahaya spotlighs menyinari kaki Aurel dan dengan perlahan cahaya lampu itu perlahan naik dan menyorot wajah Aurel yang begitu cantik. Drama dimulai, Fariz menatap istrinya dengan serius. Adegan demi adegan drama dimainkan dengan baik oleh Aurel dan Bian juga para pemain pendukung, yang terdiri dari teman sekelas mereka.
Tibalah mereka pada adegan kiss, Fariz menegang kaku, tangannya mencengkeram kuat pembatas kursi. Fariz penasaran karena posisi mereka membelakangi penonton. Entah mereka benar-benar berciuman atau tidak.
"Awas saja jika dia berani mencium istriku! Akan kuhabisi kau!"
Fariz menatap tajam ke arah panggung. Pertunjukan selesai, putri salju sudah sadar dan menikah dengan pangeran. Mereka berbaris dan membungkukkan badan bersamaan. Drama selesai dan mereka mendapatkan tepuk tangan yang begitu meriah. Aurel turun dari belakang panggung dan kembali duduk di samping Fariz. Fariz tidak mau menatap Aurel, membuat Aurel heran. Aurel sadar, pasti Fariz cemburu.
"Kak Fariz cemburu, ya?" tanya Aurel berbisik di telinga Fariz.
"Sudah selesai, kan? Kamu sudah tampil. Kita pulang sekarang!" Fariz melangkah pergi meninggalkan aula sekolah. Aurel mau tidak mau akhirnya menyusul Fariz.
"Kak, kenapa? Marah sama Aurel?" tanya Aurel.
"Siapapun akan marah kalau istrinya dicium lelaki lain," ucap Fariz dengan pandangan lurus dan tidak mau melihat Aurel.
Aurel menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Fariz. Ia menangkup kedua pipi Fariz dan menarik pelan agar Fariz mau menatap matanya. Aurel menatap lembut ke dalam bola mata Fariz tanpa berkedip.
"Aurel tidak sungguhan dicium Kak Bian. Kak Fariz adalah pria pertama dan satu-satunya yang pernah mencium Aurel. Apa Kakak masih meragukan kejujuran Aurel?" tanya Aurel sambil mengusap pipi Fariz dengan pelan dan penuh kelembutan.
"Aku percaya padamu, sayang. Tidak dengan orang lain," ucap Fariz. Aurel tersenyum lalu menarik dasi Fariz dan mencium bibir Fariz dengan lembut. Fariz memperdalam pagutan bibirnya, Aurel membuka mulutnya dan membiarkan lidah Fariz menjelajah setiap celah rongga mulut Aurel. Fariz merasakan gelora napsu kelelakiannya mulai bangkit. Fariz mendorong Aurel hingga setengah terbaring, kepala Aurel bersandar di jendela mobil.
Fariz mengecup setiap jengkal leher jenjang Aurel. Aurel tidak melawan, ia merasa seolah sedang terbang ke langit ke tujuh. Kedua tangan Aurel mencengkeram bahu Fariz. Bibir Aurel mengeluarkan lenguhan yang menandakan dirinya juga sedang terbakar birahi. Fariz menurunkan retsleting gaun biru muda yang Aurel pakai. Aurel tersadar dan menahan tangan Fariz.
"Kak, jangan ...." Aurel tidak melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Maaf, Kakak tidak bisa menahan napsu Kakak saat menyentuhmu. Menyentuhmu sama seperti sebuah candu. Kakak tidak bisa berhenti dan ingin terus menyentuh kamu, sayang," ucap Fariz sambil mengusap bibir Aurel dengan jari telunjuknya.
"Kita pulang," ucap Aurel.
"Hem." Fariz menjawab dengan gumaman pelan. Fariz duduk tegak kembali di belakang setir. Aurel menaikkan retsleting gaunnya. Fariz menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan parkiran sekolah.
-------------------------------------------------
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏
__ADS_1