
Triana meminta ijin untuk datang kembali ke kantor Lanzi. Aditya mengijinkan Triana pergi dengan syarat yang sama, tidak boleh mengatakan apapun pada Lanzi. Triana mengangguk, tapi dalam hati ia menyumpahi Aditya.
"Kau lihat saja nanti, saat aku sudah memberitahu Mas Lanzi. Kau pasti akan menyesal dasar pria kurang waras," umpat Triana dalam hati.
Mereka makan dengan tenang di hadapan Aurel, tetapi saat di belakang Aurel. Selalu saja, Aditya mengancam Triana. Triana bahkan sudah tidak lagi merasa takut, saking seringnya Aditya mengatakan ancaman yang sama.
Makanan dalam piring Aurel sudah habis, dengan ragu, Aurel meminta ijin pada Aditya.
"Pa, Aurel boleh tidak, jalan-jalan sama Mama?" tanya Aurel.
Aditya terdiam dan memperhatikan Triana, karena Aditya khawatir jika Triana melarikan diri.
"Papa, bicara sebentar dengan Mama," jawab Aditya. Ia kemudian menarik tangan Triana dan membawanya masuk ke dalam kamar. Aditya mengunci pintu kamar.
"Aurel sudah lama tidak berjalan-jalan malam. Jadi, aku tidak bisa menolaknya. Temani dia pergi, tapi jangan coba-coba untuk kabur!" Ancam Aditya.
"Pengawalmu itu selalu mengikutiku kemanapun aku pergi, apa kau pikir aku punya kesempatan untuk kabur. Saat aku baru lari satu langkah, aku yakin kau sudah lebih dulu mengejarku," jawab Triana ketus.
"Bagus, jika kau sadar. Pergilah!" ucap Aditya.
Triana keluar dari kamar dan ternyata Aurel menunggu di depan pintu. Aditya tertegun, ia menjadi cemas.
"Gawat, Aurel dengar tidak, ya?" Gumam Aditya dalam hati.
"Pa, minta uang. Aurel ingin pergi belanja sama Mama," ucap Aurel.
Aditya bernapas lega, karena Aurel tidak marah. Aditya pikir bahwa Aurel tidak mendengarkan apa yang dia katakan pada Triana. Aditya tersenyum dan mengambil beberapa lembar uang di dompetnya. Aditya menyodorkan uang itu pada Triana. Triana menerimanya dengan berat hati.
"Ini pertama kalinya dalam hidupku, menerima uang dari tangan laki-laki selain Mas Lanzi. Rasanya aku sudah sangat muak bersandiwara, tapi aku harus bisa menahannya. Semoga saja, rencanaku untuk bicara dengan Mas Lanzi, besok, berhasil." Triana membatin.
Triana pergi dengan berjalan kaki, karena Aurel juga ingin berjalan kaki. Pengawal Aditya terus mengikuti dengan jarak sepuluh meter. Aditya tidak mau, jika keberadaan pengawalnya di ketahui oleh Aurel. Yang tidak Aditya tahu adalah, Aurel dan Triana sedang berakting. Seandainya saja Aditya tahu, sudah pasti Aditya merasa jadi orang paling bodoh, karena dia telah tertipu oleh sandiwara Aurel dan Triana.
***
Di rumah Surya
Bayi Cassy sudah tertidur pulas, ia dijaga oleh pengasuh. Lanzi, Surya dan Cassy sedang menyantap makan malam.
__ADS_1
"Setelah ini, aku akan langsung pulang. Ibu pasti khawatir menungguku pulang." Lanzi sudah menghabiskan makanannya, ia segera pamit pada Surya dan Cassy.
"Biar kuantar dengan mobilku," ucap Surya.
"Tidak perlu, aku ingin berjalan-jalan dulu sebelum pulang. Kau jaga saja keponakanku dengan baik!" Lanzi pergi dengan menggunakan taksi. Di perjalanan, dari dalam taksi, Lanzi melihat Felicia sedang berjalan di trotoar bersama seorang gadis remaja. Entah kenapa? Lanzi begitu ingin menghampirinya. Lanzi menyetop taksi dan turun di depan Felicia.
"Nyonya Aditya," panggil Lanzi.
Deg.
Triana mendadak gemetar ketakutan saat Lanzi memanggilnya. Triana takut jika keberadaan Lanzi dilaporkan pada Aditya oleh pengawal. Triana menoleh ke arah Aurel, Aurel memandangi Lanzi lalu beralih ke arah Triana.
"Nyonya Felis tidak mengingat saya?" tanya Lanzi yang heran melihat Felis yang seolah tidak mengenalnya.
"Tuan Lanzi, sedang apa Anda di sini?" tanya Triana canggung.
Bagaimana tidak canggung? Triana harus memanggil suaminya dengan sebutan 'Tuan' agar tidak dicurigai oleh pengawal Aditya.
Lanzi menatap gadis yang digandeng oleh Triana. Triana kemudian sadar dan memperkenalkan Aurel pada Lanzi.
"Ini Aurel, putri saya, Tuan Lanzi," ucap Triana gugup.
"Aurel, Om," ucap Aurel mengulurkan tangan pada Lanzi. Lanzi menyambut uluran tangan Aurel.
"Om, Lanzi, teman bisnis Papa Adit," jawab Lanzi.
"Oh. Om kenal Mama? Baru atau sudah lama?" tanya Aurel.
Aurel tahu dari ekspresi Triana yang gugup dan ketakutan saat Lanzi menyapanya. Aurel merasa bahwa Triana pasti mengenal Lanzi dengan baik, sebelum wajahnya berubah.
"Om, baru kemarin kenalan dengan Mamanya Aurel, dikenalin sama Papa Adit. Ya, sudah, Om pamit," ucap Lanzi. Ia masuk kembali ke dalam taksi, dan pergi meninggalkan Triana dan Aurel yang masih berdiri.
"Om Lanzi, suami Ibu?" tanya Aurel berbisik.
Triana menatap Aurel. Triana tidak menyangka karena Aurel bisa langsung mengetahuinya. Aurel bisa langsung menebaknya dengan tepat. Triana membenarkannya.
"Apa Ibu sudah mengatakannya pada Om Lanzi?" Aurel tetap bicara dengan berbisik. Aurel pikir pengawalnya tidak akan mendengar dari jarak yang lumayan jauh. Aurel mengajak Triana ke sebuah warung bakso favoritnya. Mereka memesan bakso bakar, karena di warung bakso langganan Aurel itu tidak hanya menjual bakso kuah.
__ADS_1
"Disini banyak macam menu baksonya, Ma. Ada bakso bakar dan bakso siomay juga," ucap Aurel. Aurel sengaja bicara dengan nada yang agak keras agar terdengar oleh pengawal Aditya.
Pesanan Aurel sudah siap tersaji di meja, Aurel menyuapi Triana dan tertawa bersama. Walaupun mereka sedang berakting, tapi kasih sayang diantara mereka tulus. Meski Aurel tahu, Triana bukanlah ibunya tapi dia sudah menganggapnya seperti ibunya. Triana juga menyayangi Aurel seperti anaknya.
Triana hanya membenci Aditya, karena Aurel tidak tahu menahu tentang rencana ayahnya. Aurel juga bersedia membantu Triana untuk mencari Daren. Triana tahu Aurel gadis yang baik, hanya sangat disayangkan, Aurel mempunyai ayah yang seperti Aditya.
***
Di dalam taksi.
Lanzi tersenyum getir, ia mengingat wajah Felicia yang seperti tidak ingin berbicara dengannya. Lanzi merasa kecewa saat Felicia mengabaikannya.
"Kenapa rasanya sakit saat Felis mengabaikanku? Kenapa aku harus merasakan hal yang seperti ini, membuatku jadi teringat Triana. Saat aku jatuh cinta pada Triana juga seperti ini. Beruntung Triana bukanlah istri orang lain, sedangkan Felicia … selain istri orang, juga tidak mungkin. Bagaimana aku menghadapi ibu Fitri, dia pasti kecewa karena aku semudah itu jatuh cinta pada Felicia. Ya Tuhan, hilangkan wajah Felis dari pikiranku," gumam Lanzi lirih.
Lanzi sangat tersiksa dengan perasaannya yang selalu tertuju pada Felicia. Lanzi bisa melupakan wajah Triana saat melihat wajah Felicia. Lanzi merasa heran, bagaimana bisa seperti itu.
***
Triana dan Aurel sudah puas berjalan-jalan, Aurel berpura-pura ingin buang air kecil dan menarik Triana ke dalam toilet umum. Triana tahu maksud Aurel pasti ingin mengatakan sesuatu yang penting. Di dalam toilet umum itu, Aurel dan Triana berbicara dengan suara pelan. Mereka takut jika pengawal Aditya di depan pintu toilet.
"Ada apa?" tanya Triana.
"Ibu sudah punya rencana?"
"Rencananya, besok ibu ingin bicara dengan Mas Lanzi. Bisakah Aurel membantu ibu?" Tanya Triana.
"Tentu saja, apa rencana Ibu?"
Triana membisikkan rencananya pada Aurel. Aurel mengangguk mengerti, kemudian mereka segera keluar dari toilet agar pengawal Aditya tidak curiga. Triana dan Aurel pulang ke rumah.
***
Di rumah, Aditya sudah menunggu Triana dengan tidak sabar. Karena pengawalnya sudah melapor saat Triana bertemu Lanzi di jalan. Tak lama, yang Aditya tunggu sudah datang.
"Pa, menunggu Aurel, ya?" tanya Aurel. Aurel tahu, ayahnya itu pasti ingin menginterogasi Triana. Aurel mencoba menjauhkan Aditya dari Triana, tapi usahanya gagal. Aditya tetap menarik Triana dengan kasar.
"Ikut!" ucap Aditya sambil menarik Triana ke kamar. Aditya mengunci pintu dan melempar Triana ke ranjang. Triana memekik karena kakinya terbentur ke tepian ranjang.
__ADS_1
"Kamu, brengsek!" Maki Triana dengan suara tertahan. Triana takut menyinggung Aditya, itu tidak baik untuknya. Mata Aditya berkilat penuh emosi. Triana begitu ketakutan, memikirkan apa yang akan terjadi padanya.