
Aurel mendorong Fariz agar menjauh.
"Kak, jangan!" ucap Aurel menolak dengan halus.
Aurel mundur dan berbalik membelakangi Fariz.
"Maaf, Aurel belum bisa melakukannya. Jujur Aurel masih ragu dengan perasaan Aurel. Bisakah Kakak bersabar, menunggu Aurel benar-benar bisa membuka hati Aurel," ucap Aurel.
"Bisa. Kakak bisa menunggu Aurel sampai kapanpun," ucap Fariz.
Aurel tersenyum menatap lekat wajah Fariz. Kemudian Aurel menatap sekelilingnya, kamarnya telah kembali seperti dulu. Bahkan lebih bagus dan lebih nyaman dari sebelumnya.
"Kak Fariz yang membereskan kamarku? Barang-barang Papa ...." Aurel tidak melanjutkan ucapannya, ia yakin jika Fariz mengerti maksudnya.
"Kakak pindahkan kembali ke kamar utama. Dan ... barang-barang paman dan bibi, Kakak pindahkan ke gudang," jawab Fariz.
"Terima kasih, Aurel memang berencana membereskannya besok saat libur. Karena sudah dilakukan oleh Kakak, Aurel cuma bisa berterima kasih. Terima kasih, Kakak sudah merapikan kamarku dan mengganti wallpaper- nya, indah sekali. Aurel suka," ucap Aurel.
Fariz tersenyum puas karena Aurel menyukai wallpaper pilihannya. Aurel melihat jam dinding dan menyuruh Fariz bersiap-siap, mereka akan pergi ke bioskop. Fariz masuk ke dalam kamarnya dan berganti baju.
Sementara Aurel yang baru pulang berkeliling, ingin membasuh tubuhnya terlebih dulu. Selesai mandi dan berganti pakaian, Aurel keluar dari kamar. Menghampiri Fariz yang menunggunya di ruang tamu. Fariz mengenakan setelan jas berwarna biru, dengan kemeja putih yang dibuka dua buah kancingnya. Fariz terpesona melihat Aurel yang tampil beda dari biasanya.
Hari ini Aurel memakai make-up meskipun hanya tipis, tetapi terlihat sangat cantik. Aurel memakai dress putih yang ia beli di mall tadi siang. Dress tanpa lengan dengan leher V yang tidak terlalu rendah belahan dadanya. Aurel mengusap tengkuknya karena canggung ditatap seintens itu oleh Fariz.
"Jelek, ya?"
"Tidak. Cantik, kamu cantik sekali," ucap Fariz memuji penampilan natural Aurel.
"Terima kasih. Ayo berangkat!" ucap Aurel.
Mereka berangkat bersama menuju gedung bioskop. Tiba disana, Aurel duduk menunggu Bian dan Gusti. Fariz duduk di samping Aurel dan menatap berkeliling.
"Rel, tidak masuk sekarang?" tanya Fariz yang heran melihat Aurel seperti menunggu seseorang.
"Aurel menunggu teman yang lain, Kak." Aurel memperhatikan setiap mobil yang datang dan orang yang keluar dari dalam mobil.
"Kita ... tidak nonton berdua saja? Kamu bawa teman?" tanya Fariz kecewa. Padahal Fariz hanya ingin menonton film berdua dengan Aurel.
Bian dan Gusti datang bersamaan. Bian belum pernah bertemu dengan Gusti, tetapi Fariz langsung menoleh ke arah Aurel yang tersenyum ke arahnya.
"Tidak apa-apa, kan? Aurel tidak bisa menolak mereka. Mereka mengajak nonton di waktu yang sama, jadi ... Aurel pikir lebih baik kita nonton berempat," ucap Aurel tersenyum canggung.
__ADS_1
"Berempat?" tanya Fariz.
"Ya, sama Kak Bian juga," ucap Aurel.
Mereka berkumpul di depan Aurel. Fariz, Bian, dan Gusti ketiganya menatap tajam ke arah Aurel. Ketiganya bersedekap, menunggu penjelasan Aurel.
"Kamu mempermainkan Kakak?" tanya Fariz.
"Apa maksudnya ini, Aurel?" tanya Gusti.
"Ya. Jawab!" Bian menambahkan.
"Kalian, kan, semuanya mengajak Aurel menonton film. Jadi kita nonton barengan, memangnya salah ya? Hehe," ucap Aurel sambil menyembunyikan kedua tangannya dibelakang. Aurel memejamkan matanya sambil tertunduk. Dia sudah bersiap-siap mendapatkan amukan ketiga pangeran tampan itu.
"Huffh ... karena kita semua sudah disini. Kita nonton saja berempat, memangnya kenapa dengan nonton berempat," ucap Gusti.
"Benar, kita nonton saja kalau begitu. Tapi ... Aurel harus mendapatkan hukuman, karena sudah mengerjai kita, bagaimana?" tanya Fariz pada Bian dan Gusti.
"Hah! Kalian tidak akan menghukumku yang aneh-aneh kan?" tanya Aurel waspada. Dan hukumannya adalah, Bian dan Gusti menjewer telinga kiri dan kanannya. Sedangkan Faris mencubit hidungnya.
"Aw ... kalian beneran menghukum Aurel?" tanya Aurel sambil mengusap hidungnya.
"Ya, karena kamu nakal," ucap Fariz.
"Karena filmnya akan segera mulai, kita masuk dan nonton saja dulu. Setelah itu, kamu, harus memberikan penjelasan pada kami!" Fariz melangkah masuk ke dalam gedung bioskop bersama Gusti, dan Bian. Sedangkan Aurel masih berdiri di belakang mereka.
"Bodoh, bodoh, bodoh banget. Kenapa aku harus mengerjai mereka seperti ini? Apa yang harus aku lakukan. Aurel, Aurel, kamu bakal habis di interogasi." Aurel bergumam pelan dengan penuh kebingungan. Aurel sudah punya seseorang yang ia sukai. Ia yakin, hatinya sudah mencintai salah satu diantara mereka.
Mereka nonton berempat dengan canggung. Waktu dua jam pemutaran film itu terasa bagaikan dua tahun. Aurel pergi ke toilet sendiri tanpa mereka. Tetapi Aurel tidak tahu kalau mereka mengikutinya. Saat keluar dari toilet, Aurel terkejut.
"Astaga!" Aurel berjingkat melihat mereka yang menghadang di luar pintu.
"Hei, gadis nakal, kurasa kamu harus menjelaskan semuanya sekarang!" ucap Gusti. Ia menarik tangan Aurel agar ikut dengannya, tetapi tangan Fariz menahan tangan Gusti.
"Jangan menariknya seperti itu!" ucap Fariz. Gusti melepaskan tangan Aurel. Dan kini mereka berkumpul di taman yang berada tidak jauh dari parkiran gedung bioskop.
"Aurel minta maaf, Aurel hanya tidak ingin kehilangan Kakak dan teman yang Aurel punya. Kak Gusti, Aurel sudah lama menganggap Kakak sebagai kakak Aurel. Dan Kak Bian, adalah teman pertama Aurel. Aurel tidak mau menolak dan membuat kalian menjauhi Aurel. Aurel tidak mau memilih diantara kalian. Kalian bertiga, memiliki tempat masing-masing di hati Aurel. Aurel minta maaf," ucap Aurel tertunduk sedih.
POV Bian.
Jadi, kau hanya menganggapku teman. Menyakitkan, tetapi aku bisa terima alasan yang kamu berikan. Kenapa tidak menolak saja saat aku mengajakmu nonton. Aku sebenarnya juga sudah tahu, siapa orang yang Aurel sukai, tetapi aku tetap ingin berusaha mendapatkan dia. Sekarang rasanya, sudah berakhir. Harapanku sudah pupus untuk mendapatkanmu.
__ADS_1
POV Gusti.
Aurel ini sebenarnya masih sangat polos tentang memahami perasaan lawan jenis. Dia tidak salah jika dia berbuat seperti saat ini. Mengumpulkan tiga orang pria yang menyukainya dalam satu waktu. Dasar bodoh, kau menyukai Fariz tapi mengumpulkan kami semua. Sepertinya memang hanya dia yang kau sukai.
POV Fariz.
Aurel, kau sudah keterlaluan. Bagaimana bisa kau melakukan hal konyol seperti ini? Bagaimana dengan perasaan kami bertiga, sepertinya kamu tidak memikirkan hal itu sama sekali. Tetapi anehnya, aku tidak bisa membencimu.
-------------------------------------------------
Hy readers
Tingglkan jejak kalian ya.
Author mo promo jg nih,
Cinta Ada Karena Terbiasa season 3 dah up.
Mohon dukungannya ya😍
Kasih like n bintang
Jangan lupa favoritkan juga.
Semoga kalian suka
Mampir juga di novel author yg lain juga.
Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
Cinta Ada Karena Terbiasa
Kupilih Hatimu
Status Gantung Miss CEO
Putri Yang Tergadai
Dll
Yuk! Mampir😚😚🙂
__ADS_1
Makasih buat yang sudah dukung novel ini.
Dkung terus ya dengan cara like, vote dan selalu krisannya Author tampung.