Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (73)


__ADS_3

Fariz akhirnya sampai di taman yang Aurel sebutkan. Fariz memarkir mobilnya di tepi jalan dan mencari Aurel di sekitar taman. Setelah berkeliling hampir disetiap sudut taman, Fariz menemukan Aurel sedang memberi makan ikan mas di kolam yang berada di tengah taman. Fariz menghampirinya dengan napas terengah-engah setelah berlari. Kemeja putih yang ia kenakan juga basah oleh keringat. 


"Aurel," panggil Fariz di belakang Aurel. 


Aurel menoleh dan langsung berlari ke arah Fariz. Aurel langsung memeluk Fariz dan menangis. Fariz membelai punggung dan rambut Aurel. 


"Maaf, Kakak tidak tahu kalau kamu ke kantor. Kamu tidak apa-apa, kan, sayang?" tanya Fariz. 


"Tidak apa-apa. Aurel cuma kesal karena Aurel diusir pulang keluar," ucap Aurel mengadukan perlakuan resepsionis yang tadi mengusirnya dengan kasar. 


"Apa? Beraninya dia mengusir kamu. Ayo ikut Kakak! Kakak harus memberi dia pelajaran," ucap Fariz. 


Fariz menarik tangan Aurel dan mengajak Aurel kembali ke kantor. Fariz akan menghukum siapapun yang sudah berani mengganggu Aurel. Apalagi resepsionis itu mengusir Aurel, Fariz menjadi benar-benar sangat murka. Mobil melaju cepat menuju kantor. Sampai di kantor, Fariz menyuruh satpam mengumumkan lewat intercom, agar semua karyawan dan para staf kantor berkumpul di lobby. 


Fariz menunggu sepuluh menit agar semuanya berkumpul. Mereka yang sudah berkumpul itu saling berbisik. Mereka gugup dan juga takut karena wajah Fariz yang biasa tersenyum menyapa mereka kini berubah. Wajah Fariz bagaikan singa yang hendak mencabik mangsanya. Sepuluh menit kemudian, Fariz mulai bicara.


"Perhatikan baik-baik wajah wanita ini! Kalian lihat dan dengar apa yang saya katakan. Wanita ini, istri sah saya. Jadi, siapapun yang sudah berani mengganggu istri saya, saya akan buat perhitungan dengannya. Siapa yang tadi mengusirnya? Maju!" ucap Fariz. 


Resepsionis itu perlahan melangkah maju. Tubuhnya gemetar ketakutan. Semua mata memandang ke arah resepsionis itu.


"Berani sekali dia mengusir Nyonya Presdir," bisik salah seorang staf pada teman disampingnya. 


"Siapa namamu?" tanya Fariz. 


"Syakila, Presdir," jawab resepsionis yang bernama Syakila itu dengan wajah tertunduk. 


"Kamu saya pecat!" Fariz memecat Syakila di hadapan semua orang.


"Jangan pecat saya, Presdir. Saya mohon. Nyonya, saya minta maaf. Saya sangat butuh pekerjaan ini, hiks hiks." Syakila terisak sedih. 


Aurel memperhatikan wajah Syakila. Ia merasa kasihan pada Syakila. 

__ADS_1


"Kak, tolong jangan pecat dia. Aurel tidak apa-apa, Kak. Tidak perlu sampai memecatnya," ucap Aurel. Ia memohon pada Fariz agar tidak memecat Syakila.


"Tapi, sayang, kamu sedang hamil dan di berani membuat kamu sedih.  Kakak tidak mau ada yang membuatmu bersedih," jawab Fariz. 


Aurel menatap mata Fariz dengan tajam, seolah mata itu berbicara dan mengatakan 'turuti aku' pada Fariz. Fariz mengalah.


"Jika bukan karena permintaan istriku yang sedang hamil, aku tidak akan memaafkanmu. Kamu saya beri SP1, jika berani mengganggu lagi, tidak ada SP2, mengerti!" Fariz memberikan surat peringatan untuk Syakila. 


"Terima kasih, Nyonya. Saya tidak akan melakukannya lagi," ucap Syakila.


"Kembali bekerja!" ucap Fariz. Mereka bubar dan kembali mengerjakan pekerjaan masing-masing. Fariz menggandeng tangan Aurel ke ruangannya. 


"Kak Fariz bukankah harus kuliah?" tanya Aurel. 


"Libur. Kita makan di sini saja," ucap Fariz sambil meletakkan kotak bekal makan siang yang Aurel bawa. Fariz dan Aurel makan bersama di sofa. Aurel menyuapi Fariz begitupun sebaliknya. 


***


"Kenapa Ibu menolak USG? Padahal banyak orang yang sangat ingin melakukannya. Juga, dengan USG, kita bisa melihat dengan jelas keadaan bayi dalam kandungan Ibu," ucap Dokter itu.


Triana hanya tersenyum menanggapi ucapan Dokter. Lanzi juga bingung, kenapa Triana tidak mau melakukan USG. Yang penting bagi Triana adalah bayi dalam kandungannya sehat. Lanzi bersyukur bayi mereka sehat dan baik-baik saja, padahal Triana jarang makan. Mereka keluar dari ruangan Dokter setelah mendapatkan resep obat.


Lanzi menyimpan resep obat di apotek rumah sakit. Hari ini lumayan banyak orang yang mengantri. Lanzi menyuruh Triana duduk menunggu di dalam mobil saja. Triana menurut, ia pun pergi ke parkiran dan masuk ke dalam mobil. Karena merasa lelah, Triana duduk di kursi belakang dan berbaring di sana. Dinginnya suhu AC di dalam mobil membuat Triana mengantuk dan ia pun tertidur. Tak lama kemudian mobil bergerak dan melaju meninggalkan parkiran. 


Lanzi akhirnya mendapatkan obatnya setelah menunggu antrian yang panjang. Ia pergi ke parkiran. Lanzi mengintip ke dalam mobil tetapi Triana tidak ada. Lanzi jadi heran, kemana Triana pergi. Mobil Lanzi masih terkunci dan kuncinya dipegang oleh Triana. 


"Mungkinkah dia sedang ke toilet?" Lanzi bertanya pada diri sendiri. Ia menunggu sampai sepuluh menit di dalam mobil. Namun Triana sama sekali belum terlihat. Lanzi memutuskan untuk mencarinya. Lanzi masuk ke dalam rumah sakit dan memeriksa setiap lantai. Lanzi meminta tolong pihak keamanan rumah sakit untuk memeriksa rekaman CCTV. 


Ternyata Triana salah masuk kedalam mobil yang lain, karena mobil itu sama persis seperti milik Lanzi dan kebetulan mobilnya tidak terkunci. Triana membawa kunci mobil Lanzi dan Triana pikir  ia membuka kunci mobil Lanzi. Lanzi meminta untuk memperjelas nomor plat mobil tersebut. Setelah mendapatkan nomor plat mobil itu, Lanzi mencari alamat pemilik mobil dengan bantuan Tom. Pengawal Lanzi melacak alamat pemilik mobil dan memberitahukannya pada Lanzi. Setelah mendapatkan alamatnya, Lanzi menyusul Triana dengan taksi. 


Setengah perjalanan, Triana terbangun. Pemilik mobil terkejut saat melihat ada orang yang tiba-tiba duduk di kursi belakang. 

__ADS_1


"Siapa kamu? Kenapa ada di dalam mobilku?" tanya sopir yang segera menepi dan berhenti.


"Kamu, kenapa kamu yang bawa mobil suamiku? Kamu mau menculikku, ya? Tolong!" Triana segera berteriak histeris. 


"Hei, berisik! Jangan berteriak! Aku bisa dikeroyok warga nanti," ucap sang sopir. Ia membekap mulut Triana. Triana membelalak ketakutan. Apa yang akan terjadi dengannya, Triana tidak sanggup untuk membayangkan. 


_____________________________


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir juga di sini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


-Aunty Opposite Door I Love You 


Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘


Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.

__ADS_1


Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏


__ADS_2