Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (67)


__ADS_3

Dua hari kemudian, Aurel sudah diperbolehkan untuk pulang dan Fariz sudah membereskan barang-barang Aurel. Mereka bersiap-siap pulang.


***


Di rumah, Alea dan Melly sudah menyiapkan makanan spesial dan sebuah kue tart yang mereka buat sendiri. Lebih tepatnya, mereka belajar membuatnya sendiri. Setelah tiga kali percobaan, akhirnya Melly dan Alea berhasil membuatnya. Bentuknya memang tidak menarik, tetapi rasanya cukup lumayan.


"Kak Fariz tidak akan pingsan, kan, Ma?" tanya Alea sambil memandang kue ulang tahun yang diletakkan di tengah meja makan.


"Saat Mama mencoba rasanya tadi, sepertinya, masih bisa dimakan manusia," jawab Melly. 


"Iyuhh, kok, Alea jadi horor lihatnya," ledek Alea.


Melly memukul lengan Alea pelan. Mereka tertawa. Bagaimana bisa di dalam keluarga mereka justru Subrata dan Fariz yang pintar memasak. Subrata yang memasak makan siang dan tugas Melly hanya membuat kue. Namun hasilnya bikin Subrata bergidik ngeri saat melihat bentuk kue itu.


"Oh, ya, Mama lupa menelepon besan," ucap Melly. 


"Besan?" tanya Alea heran.


"Nyonya Triana, dia kan ibu angkatnya Aurel. Jadi, secara teknis dia adalah besan Mama," ucap Melly. 


Melly pergi ke dalam kamar, ia mengambil ponsel dan menelepon Triana agar mau hadir di pesta penyambutan kepulangan Aurel dari rumah sakit. Triana menyanggupi untuk hadir. Melly menutup telepon dan kembali ke ruang makan. Ruang makan di rumah Aurel cukup lebar dan panjang. Mejanya juga lumayan besar dengan kursi yang lumayan banyak. Sehingga saat ada acara makan malam keluarga, Aurel dan almarhum Aditya tidak pernah makan di luar. 


"Jam berapa ini?" tanya Subrata dari dapur. Subrata sedang membuat es buah untuk pelengkap acara makan siang mereka. Melly menjawab sudah jam sepuluh. Aurel diperkirakan datang satu jam lagi. Karena sebelum pulang, Aurel harus menjalani beberapa tes untuk memastikan tubuhnya sudah pulih.


***


Hari ini Lanzi dilarang pergi bekerja oleh Triana. Karena Triana sedang manja dan ingin terus di peluk Lanzi. Lanzi sampai tidak boleh pergi sejengkal pun. Buang air kecil saja, Triana tidak mengizinkan kalau Lanzi tidak membawanya serta ke toilet.


"Siapa yang menelpon, sayang?" tanya Lanzi pada Triana. 


"Itu, Tante Melly, mertuanya Aurel. Mereka mengundang kita untuk hadir di pesta penyambutan Aurel. Aurel sudah diperbolehkan pulang, hari ini. Mereka mengundang kita semua, bersiaplah. Aku akan memberitahu Mama dan Daren." Triana melepas pelukannya dan mencari Fitri dan Daren. 


"Huffh …. Kenapa Triana jadi semanja itu, sampai-sampai aku tidak boleh beranjak meninggalkan dia. Padahal aku kebelet, pergi mandi dulu, deh," gumam Lanzi. Lanzi pergi ke kamar mandi dan menuntaskan hajatnya yang tertunda sejak sejam yang lalu. Sambil menunggu air di bak mandinya penuh.


Triana hanya mengganti baju dan sudah selesai. Triana, Fitri dan Daren sudah menunggu Lanzi di teras. Lanzi selesai memakai baju dan mengambil kunci mobil di laci nakas.Mereka segera berangkat ke rumah Aurel sebelum Aurel mendahului mereka datang ke rumah. 

__ADS_1


Untung saja saat mereka tiba di rumah Aurel, Fariz dan Aurel belum datang. Melly memberikan mereka topi karton berbentuk kerucut untuk memeriahkan penyambutan Aurel dan ulang tahun Fariz. Mereka berkumpul di ruang keluarga dengan Melly yang sudah membawa kue di tangannya.


Terdengar suara deru mesin mobil berhenti di halaman depan rumah. Melly menyalakan lilin diatas kue itu. Lilin angka dua dan satu, sudah menyala. Mereka tidak sabar menunggu Fariz dan Aurel masuk. Tidak ada yang menyambut Aurel dan Fariz di depan pintu. 


***


Fariz membuka pintu mobil untuk Aurel dan menggenggam tangannya agar Aurel bisa melangkah hati-hati. Mereka heran melihat tidak ada satupun yang menyambut di depan pintu. Mereka tidak berharap disambut juga sebenarnya. Mereka hanya heran, apakah tidak ada orang di rumah. Padahal jelas-jelas lima menit yang lalu Fariz menelepon ke nomor telepon rumah, dan ibunya serta Alea ada di rumah.


"Sepi sekali. Apa mereka sedang keluar?" tanya Aurel. 


"Mungkin," ucap Fariz. Fariz menuntut Aurel masuk ke dalam rumah setelah ia membuka pintu yang tidak dikunci. Fariz jadi khawatir ada perampok yang masuk ke dalam rumah. Namun saat Aurel dan Fariz sampai di ruang keluarga. 


"KEJUTAN!" ucap mereka bersamaan.


"Selamat, Aurel, sayang. Semoga kedepannya kamu akan tetap sehat. Selamat ulang tahun Fariz, putra Mama yang sekarang sudah akan menjadi seorang ayah. Semoga panjang umur, sehat selalu," ucap Melly.


Aurel dan Fariz berkaca-kaca penuh haru. Aurel tidak menyangka mereka semua berkumpul. Mereka adalah orang yang sangat Aurel sayangi. Aurel terisak saking bahagianya. Triana menghampiri Aurel dan memeluknya. 


"Sayang, jangan menangis! Tidak baik untukmu dan bayi dalam kandunganmu, kamu baru saja sembuh, tersenyumlah," ucap Triana sambil mengecup kening Aurel.


"Terima kasih, Bu. Terima kasih Mama, Papa, Alea, Om, Daren dan Ibu Fitri, terima kasih banyak," ucap Aurel sambil tersenyum dan menghapus sisa air mata di pipinya.  


"Ya, Ma." Fariz menutup matanya dan memohon agar mereka semua tetap bahagia. Mereka yang sedang berkumpul dengannya saat ini. Fariz membuka mata dan meniup lilinnya.


"Fuuhh." Fariz meniup lilin sampai padam dengan satu tiupan.


Prok! Prok! Prok!


Mereka bergantian mendapatkan suapan kue dari tangan Fariz, tentunya setelah ia menyuapi Aurel untuk yang pertama. Mereka lalu pergi ke ruang makan dan melanjutkan acara mereka yaitu makan siang bersama. Fariz sangat perhatian pada Aurel, ia menawarkan semua makanan yang ada di meja pada Aurel. Mereka semua tersenyum melihat perhatian Fariz.


Triana yang paling bahagia melihat Aurel mendapatkan pendamping yang sangat sayang padanya. Aurel telah melalui banyak penderitaan selama ini, kini saatnya ia untuk bahagia. Dan kebahagiaan itu adalah menjadi istri dari pria yang sangat baik dan menantu dari seorang ibu yang sangat baik pula.


Selesai acara makan siang, Fariz mengajak Aurel ke kamar untuk beristirahat. Setelah meminum obatnya, Aurel berbaring ditemani Fariz yang duduk di tepi ranjang. Karena efek samping dari obat yang diminumnya, Aurel pun tertidur. Setelah Aurel tertidur, barulah Fariz keluar dari kamar dan berkumpul dengan yang lain.


***

__ADS_1


Lanzi, Triana, Fitri dan Daren sudah berpamitan pulang lebih dulu. Karena Daren sudah mengantuk dan ingin tidur siang. Daren tidak bisa tidur jika bukan di kamarnya. Kamar yang dulu ia tempati bersama almarhum kakek buyutnya, Leonard. Triana dan Daren tertidur selama perjalanan. Daren tidur di kursi belakang dengan kepala di pangkuan neneknya, Fitri. Lanzi menoleh ke arah Triana dan Daren bergantian lalu tersenyum.


Mereka tiba di rumah dan Lanzi turun. Ia menggendong Daren terlebih dulu ke kamarnya. Lalu ia kembali ke mobil untuk menggendong Triana, tetapi Triana sudah keluar dari mobil.


"Sudah bangun, sayang. Tadinya mau Mas gendong," ucap Lanzi.


"Perutku sudah mulai membesar, memangnya masih kuat?" tanya Triana sambil tersenyum. 


"Suami kamu ini, mantan atlit angkat beban. Masa kamu meremehkan aku, mau coba, sini!" ucap Lanzi bersiap menggendong Triana. Namun Triana menghindar dan tertawa. 


"Tidak mau, aku mau jalan saja," ucap Triana sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Lanzi mengikuti Triana sampai ke dalam kamar. 


________________________________


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


-Aunty Opposite Door I Love You 


Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘

__ADS_1


Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.


Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏


__ADS_2