
Lanzi pergi ke rumah sakit untuk cek kehamilan Triana. Triana merasa mual sepanjang jalan, entah apa yang membuatnya mual. Saat pertama ia hamil, ia hanya merasa lemas karena tidak selera makan. Kali ini, Triana baru merasakan yang namanya ngidam. Saat pagi, jika Triana menggosok gigi, ia pasti akan muntah-muntah. Sedangkan jika ia tidak menggosok gigi, dia tidak merasa mual atau muntah.
"Mas, kita jalan saja. Aku gak kuat, Mas. Mual banget," ucap Triana.
"Ya, sudah. Kita turun di depan, ok," jawab Lanzi.
Triana dan Lanzi pergi menggunakan taksi, karena permintaan Triana. Namun di perjalanan, Triana merasa mual dan mengajak berjalan kaki menuju rumah sakit. Untung saja sudah dekat, kalau masih jauh, Lanzi tidak bisa bayangkan lelahnya Triana seperti apa. Apalagi kandungannya masih sangat muda. Triana berjalan santai di trotoar sambil menggelayut manja di lengan Lanzi.
"Sayang, kalau lelah, bilang sama Mas. Biar Mas, bisa gendong kamu," ucap Lanzi. Triana hanya menggeleng dengan tersenyum manis.
Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di depan rumah sakit Ibu dan Anak Artha Medika. Lanzi menyuruh Triana untuk duduk, dan Lanzi pergi ke bagian pendaftaran. Triana tidak merasa mual setelah turun dari taksi. Tak lama, Triana mendapat panggilan untuk masuk ke ruang periksa. Lanzi menemani Triana sampai selesai dan mereka kembali berjalan untuk pulang.
"Sayang, dari sini ke rumah masih jauh, masa harus jalan kaki sampai rumah," ucap Lanzi.
"Mas, kalau Mas mau naik taksi, sana pergi! Biar aku jalan sendiri," ucap Triana marah.
"Sayang, bukan Mas gak mau nemenin kamu, tapi Mas khawatir sama kehamilan kamu," ucap Lanzi dengan sabar.
"Aku gak mau naik taksi, kita istirahat dulu. Aku pengen makan sesuatu yang pedas, sepertinya enak," ucap Triana. Lanzi mengikuti kemauan Triana.
Mereka berjalan sambil sesekali menengok ke kanan dan ke kiri, mencari makanan yang Triana inginkan. Triana menunjuk sebuah resto yang menyediakan kerang kuah asam manis, Triana menarik lengan Lanzi untuk masuk ke dalam. Saat pertama masuk, mereka disambut penerima tamu yang membukakan pintu resto.
"Selamat datang, Nyonya, Tuan. Silahkan, saya antar Anda ke meja Anda," ucap pelayan itu. Pelayan itu mengantar Triana dan Lanzi ke meja kosong di samping jendela. Setelah Lanzi dan Triana duduk, pelayan itu kembali ke depan pintu. Lanzi memanggil pelayan untuk memesan makanan, dan seketika mereka terkejut.
"Anda mau pesan apa Tuan?" tanya Aurel dengan canggung.
"Aurel, sayang, kamu kerja disini? Kenapa kamu bekerja? Jawab Ibu, sayang!" Triana menarik lengan Aurel agar duduk disampingnya.
__ADS_1
"Ini tugas dari sekolah, Bu," ucap Aurel mencari alasan.
"Tugas?" tanya Triana tak percaya. Lanzi juga demikian, ia tidak percaya jika bekerja menjadi tugas dari sekolah.
"Ya, Aurel kan ingin jadi chef, jadi Aurel magang disini. Setelah lulus SMA, Aurel ingin kuliah jurusan kuliner, Bu," ucap Aurel dengan tenang. Aurel tidak mau mereka curiga. Aurel sudah bekerja di resto itu sejak dua tahun yang lalu. Aurel tahu, Triana akan khawatir pada Aurel jika tahu alasan sebenarnya ia bekerja.
Mendengar penuturan Aurel yang begitu tenang, Lanzi dan Triana pun jadi percaya dan tidak membahas lebih jauh. Aurel mencatat pesanan Triana dan Lanzi lalu pergi ke dapur dan kembali bekerja. Aurel selalu tersenyum melayani pelanggan. Triana terus memperhatikan Aurel yang melayani pelanggan dari meja ke meja.
"Dia tersenyum bahagia, tapi kenapa hatiku merasa khawatir ya, Mas," gumam Triana.
"Mas, akan menyuruh pengawal Mas untuk menjaga Aurel. Kamu tidak perlu khawatir," ucap Lanzi. Triana merasa sedikit lega setelah Lanzi menelpon salah satu pengawalnya untuk menjaga Aurel.
Triana mengkhawatirkan keselamatan Aurel saat pulang di malam hari. Meskipun bukan putrinya, Aurel tetap orang yang Triana sayangi. Ia tidak mau melihat orang yang ia sayangi menderita. Triana menghabiskan makanannya, ia ingin berpamitan pada Aurel tetapi Aurel terlihat sangat sibuk. Akhirnya Triana dan Lanzi pergi tanpa berpamitan setelah membayar pesanannya pada pelayan yang lain.
"Kita pulang jalan kaki lagi?" tanya Lanzi.
"Kamu bisa telpon Pak Sam, supaya jemput kita disini, kenapa harus bingung." Lanzi mengacak rambut Triana.
"Mas! Acak-acakan rambutku," ucap Triana cemberut.
Lanzi menelepon sopirnya, Pak Samsuri, agar menjemput mereka. Dua puluh menit kemudian, sopirnya pun tiba. Jarak dari restoran ke rumah Lanzi lumayan jauh jika berjalan kaki, tapi hanya dua puluh menit dengan menggunakan mobil. Mereka pun pulang ke rumah.
***
Malam hari.
Jam sebelas malam, resto baru saja tutup dan Aurel sedang bersiap-siap pulang setelah mengepel lantai.
__ADS_1
"Rel, aku duluan ya," ucap rekan kerja Aurel.
"Ya, Kak Ni," jawab Aurel. Teman kerja Aurel itu bernama Afni, wanita berusia dua puluh dua tahun yang baru saja menikah sebulan yang lalu. Aurel keluar bersama Kiko, pemilik resto yang akan mengunci restonya. Aurel ke parkiran dan mengambil sepedanya.
Dari jarak sepuluh meter di belakang Aurel, ada dua orang yang mengikutinya secara terpisah. Satu orang berjarak enam meter dari Aurel dan yang lainnya sepuluh meter di belakang Aurel. Aurel menatap langit yang begitu cerah, ia ingin menikmati pemandangan malam yang bertabur bintang. Aurel berjalan kaki sambil menuntun sepedanya.
Aurel merasa ada seseorang yang mengikutinya. Ia menoleh ke belakang, tetapi tidak ada siapapun, seketika bulu kuduk Aurel meremang. Aurel mengusap tengkuknya untuk menghilangkan tegang dan berjalan kembali. Baru beberapa langkah, terdengar keributan di belakang Aurel.
"Akh, ampun … ampun," ucap seorang pria yang tangannya sedang dikunci ke belakang punggung.
Aurel menoleh dan melihat dua orang yang sedang berdiri dengan jarak lima meter darinya. Seorang pria memakai setelan jas hitam rapi sedang memiting lengan pria yang memakai jaket hoodie berwarna hitam dengan bawahan memakai celana jeans biru. Aurel mengenal pria yang memakai jaket hoodie itu, Aurel segera berlari menyelamatkan pria itu sambil memanggil namanya.
"Ya, ampun. Kak Bian, lepaskan Kak Bian!" Aurel menarik Bian dari pria berjas itu. Bian memutar-mutar bahunya yang terasa sakit.
"Non Aurel mengenal pemuda ini?" tanya pria berjas itu. Usianya diperkirakan sekitar tiga puluh tahunan.
"Non? Dia pengawal kamu?" tanya Bian.
"Aku tidak punya pengawal. Siapa Bapak sebenarnya?" tanya Aurel.
"Saya ditugaskan oleh Tuan Lanzi untuk menjaga Non Aurel. Pemuda ini terlihat mencurigakan karena mengikuti Non Aurel diam-diam, jadi saya meringkusnya," ucap pengawal itu.
"Aku sama sepertimu, mengikutinya diam-diam untuk memastikan dia pulang dengan selamat," ucap Bian.
Aurel tercengang mendengar pengakuan Bian. Tanpa Aurel sadari ternyata banyak orang yang sangat peduli padanya, mengkhawatirkan dirinya.
"Sekarang Bapak bisa pulang dan sampaikan pada Om Lanzi, terima kasih banyak," ucap Aurel.
__ADS_1
Pengawal itu menunduk mendengar perintah Aurel dan pergi meninggalkan Aurel dan Bian. Aurel pun kembali berjalan ditemani Bian. Karena sudah kepalang ketahuan, jadi Bian berkata jujur jika dia ingin mengantar Aurel sampai di depan rumah.