Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (27)


__ADS_3

Aurel pergi ke parkiran sekolah dan mengambil sepedanya. Saat Aurel naik dan hendak mengayuhnya, Bian menahan dengan memegangi salah satu stang sepeda.


"Kak Bian, aku mau pulang. Tolong minggir!" Aurel mengusir Bian dengan halus.


"Ambil dulu ini! Dan aku akan pergi," ucap Bian sambil menyodorkan susu yang ditinggalkannya di meja kelas. 


Aurel tidak mau membuang banyak waktu, Aurel segera mengambil susu dari tangan Bian dan pergi mengayuh sepedanya menuju ke rumah.


***


Di rumah Aurel. 


Fariz sedang memasak makan siang, ia membuat tumis buncis, ikan gurame asam manis, dan ia juga membuat jus jambu. Fariz membuat masakan untuk empat porsi. Selesai memasak, Fariz pergi ke kamarnya untuk mandi. Fariz mencium bajunya, semuanya berbau masakan. Ia tidak mau tubuhnya tercium tidak sedap oleh Aurel. 


Aurel sampai di halaman dan segera berlari ke dapur untuk memasak makan siang. Tiba di dapur, Aurel tertegun menatap meja makan. Di meja itu sudah tersaji masakan yang ditaruh dalam mangkuk kaca, tertutup dengan  rapi. Aurel mendekat dan membukanya, aroma dari makanan itu begitu menusuk hidungnya.


"Siapa yang masak? Bibi, tidak mungkin. Paman, apa lagi. Kak Fariz, sepertinya cuma dia yang mungkin memasak ini semua. Senangnya. Aku jadi tidak perlu masak, aku tinggal mandi dan pergi bekerja," ucap Aurel. Ia mengeluarkan buku dan bolpoin dari dalam tasnya. Ia menuliskan sesuatu di tengah halaman lalu menyobeknya, kemudian Aurel meletakkannya di meja makan, di tengah-tengah meja diantara mangkuk.


Aurel kemudian pergi ke kamarnya, mandi dan berganti baju, lalu pergi bekerja menggunakan sepedanya. Baginya bersepeda itu selain menyehatkan juga membuatnya terhindar dari kemacetan.


Setelah Aurel pergi, Fariz keluar dari kamar setelah selesai mandi dan berganti baju. Fariz celingukkan mencari Aurel. 


"Sudah jam segini, kok belum pulang ya?" Fariz bertanya pada diri sendiri sambil menatap jam dinding dengan heran. Fariz kemudian pergi ke ruang makan untuk melihat apakah agar-agar yang ia masak tadi sudah mengeras atau belum. Saat melewati meja makan, Fariz melihat secarik kertas diantara mangkuk yang ia taruh di meja makan. Ia membuka kertas itu dan membacanya.


"Terima kasih sudah membantuku, kurasa Kak Fariz sudah mendapat satu poin dalam daftar calon kekasih." Fariz tersenyum membaca isi surat itu. Fariz kemudian menyadari sesuatu. 


"Dia tidak sarapan tadi pagi, dan sekarang pergi tanpa makan siang," gumam Fariz. Fariz mencari ke dalam kamar Aurel tetapi tidak ada. Fariz menghela napas kecewa, karena Aurel tidak menyentuh masakannya sedikitpun.


Setiap pulang sekolah, Aurel memasak makan siang untuk paman dan bibinya. Meskipun mereka jarang pulang untuk makan siang, tetapi terkadang tiba-tiba mereka pulang dan mengamuk karena tidak ada makanan di meja. Untuk menghindari amukan paman dan bibinya, Aurel tetap memasak makan siang sebelum pergi bekerja.

__ADS_1


***


Di sebuah kamar hotel bintang lima. Edi sedang bercumbu mesra bersama asisten pribadinya, Dinar. Mereka keluar dengan alasan urusan kantor, tetapi mereka sama sekali tidak mengerjakan apapun selain bercinta. Setelah Edi dan Dinar puas bercinta, mereka duduk di sofa dengan hanya menggunakan baju dalam.


"Mas, kapan kita kembali ke kantor? Ini sudah jam dua siang," tanya Dinar sambil menggelayut manja.


"Tenang saja, sayang. Aku ini bos perusahaan itu, memangnya siapa yang berani menggangguku. Oh, ya, mobil yang kamu minta, sudah aku kirim tadi. Seharusnya sudah sampai saat kamu pulang kerja nanti," ucap Edi. 


"Wah, makasih ya, Mas," ucap Dinar dengan manja.


*Drrttt drrttt. 


Ponsel Edi bergetar di meja kecil di samping sofa.


"Halo, ngapain kamu telepon saya?" tanya Edi kesal.


"Memangnya kenapa? Kalau mereka mau berhenti ya berhentikan saja, kenapa kau harus melaporkan hal ini padaku, hah!" Edi membentak Gusti lalu menutup telepon itu.


"Kenapa, Mas?" tanya Dinar. 


"Itu, Gusti bilang, semua staf kantor mengundurkan diri hari ini. Memang aku peduli apa." Edi mendumal kesal.


Dinar diam dan berpikir dalam hati, "Jika semua staf mengundurkan diri, itu artinya perusahaan sudah diambang kehancuran. Aku harus segera meninggalkan bandot tua ini." Dinar segera memunguti bajunya dan melangkah masuk ke kamar mandi. 


Setelah mandi dan memakai kembali pakaian kantornya, Dinar berpamitan pada Edi. Edi mengernyit heran. 


"Kamu mau kemana, sayang?" tanya Edi. 


"Aku lupa memesan sesuatu di rumah, takutnya paketnya sudah datang. Oh, ya, Mas. Aku minta uang jajan dong," ucap Dinar sambil duduk di pangkuan Edi. 

__ADS_1


"50 juta cukup?" tanya Edi. 


"Cukup, Mas." Dinar bersorak dalam hati.


"Nih, sudah aku transfer. Mana hadiahnya?" Edi mengerlingkan sebelah matanya. Dinar mengerti dan mengecup pipi dan bibir Edi lalu segera bangun dari atas pangkuan Edi. Dinar pun pergi meninggalkan kamar hotel itu. 


Dinar pergi dengan senyuman lebar. Ia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Rumah, mobil, uang dan semua pakaian bermerk. Dinar mendekati Edi karena tahu bahwa perusahaan itu sudah kolaps, ia ingin mendapatkan uang dari Edi sebelum ia mengundurkan diri. Dinar juga tahu rencana beberapa orang yang ingin mengundurkan diri, tapi dia tidak menyangka jika semua staf akan mengundurkan diri. 


***


Olivia berjalan-jalan di dalam rumah dengan hanya menggunakan kimono. Itu bukanlah rumah Aditya, melainkan rumah kost yang biasa dikunjungi setiap hari. Di dalam rumah itu juga ada seorang pria muda yang sedang tertidur pulas di dalam kamar dalam keadaan polos dan hanya bagian bawah ditutupi selimut. 


*Drrttt drrttt. 


Olivia masuk ke dalam kamar dan hendak memakai baju, karena sudah sore dan dia sudah ada janji dengan teman-temannya. Olivia melihat ponsel pemuda itu menyala dan bergeser karena getaran dari panggilan di ponsel itu. Olivia mendekat dan melihat ID pemanggil.


"Apa ini? 'Sayang' ID pemanggil ini dinamai sayang oleh James, kurang ajar!" Olivia marah dan menarik selimut yang menutup bagian bawah pemuda yang sedang tertidur itu.


"Hei, kamu kenapa sih, sayang? Aku masih lelah, masih mau lagi?" tanya pemuda itu dengan manja. 


"Mau lagi? Mau aku potong milikmu itu, hah? Katakan! Berapa, sayang yang kamu pelihara di luar sana?" tanya Olivia. 


"Heh, aku ini lelaki bayaran. Kalau aku punya banyak wanita di luar sana, itu wajar bukan? Kenapa kau marah-marah?" tanya pemuda itu dengan nada yang meninggi.


"Kau … aku sudah bilang padamu, jangan menerima tawaran dari wanita lain lagi. Aku sudah memberikan banyak uang untukmu, memangnya masih kurang?" Olivia meradang, karena pemuda itu pernah berkata, bahwa dia mencintai Olivia. Karena itulah Olivia memberikan setiap sen uang yang ia dapat dari suaminya, pada pemuda itu.


"Berisik! Lebih baik kau pergi sekarang juga! Aku muak denganmu, lagipula kau itu sudah bangkrut. Aku tidak lagi membutuhkanmu, haha," ucap pemuda itu sambil tertawa terbahak dan mendorong Olivia keluar dari rumahnya. Olivia menggedor-gedor pintu rumah kost itu, karena ia hanya memakai handuk mandi. Namun pemuda bayaran itu tidak mau membuka pintu, dan Olivia menjadi tontonan orang yang melintas di depan rumah itu.


Olivia masih beruntung karena tas dan ponselnya ikut dilempar keluar. Ia mengambil tas dan ponselnya. Ponsel itu rusak dan pecah, sedangkan di dalam tasnya hanya disisakan uang satu lembar pecahan seratus ribu. Pria itu mengambil semua uang tunai dan ATM milik Olivia. Sialnya lagi, Olivia sudah memberitahu nomor pinnya. Jika saja ponselnya tidak hancur, Olivia pasti sudah menelepon Bank agar memblokir kartu itu. Jika Olivia ke Bank hanya memakai handuk mandi, sudah pasti, Olivia dikira tidak waras. Jalan satu-satunya hanya pulang ke rumah. Uang itu memang sangat pas-pasan untuk ongkos taksi dari rumah kost itu ke rumah Aurel. 

__ADS_1


__ADS_2