
Aurel menjalani kehidupan barunya tanpa paman dan bibinya. Aurel juga belajar dengan gembira hari ini, hingga waktu pun tidak terasa dengan cepat berganti. Baru tadi pagi Aurel masuk ke dalam kelas, tidak terasa sudah tengah hari dan sudah bersiap-siap untuk pulang ke rumah.
"Rel, aku antar kamu pulang, ya?" tanya Bian.
"Tapi, aku pakai sepeda," ucap Aurel.
"Aku juga bawa sepeda, tuh lihat!" Bian menunjuk sepeda miliknya.
Aurel tersenyum dan menyetujui permintaan Bian. Namun ternyata, hari ini bukanlah hari keberuntungan Bian. Setelah ia mendapat persetujuan dari Aurel, ada penghalang yang membuat Bian tidak jadi pulang bersama Aurel. Karena di pintu gerbang sudah ada seseorang yang menunggu Aurel. Aurel menghampiri pria yang ia kenal sebagai anak buah kepercayaan Aditya.
"Kak Gusti, nunggu siapa?" tanya Aurel.
"Menunggu kamu lah," ucap Gusti.
"Menunggu Aurel? Tapi Aurel sudah janji untuk pulang bersama Kak Bian. Bagaimana, dong?" Aurel menoleh ke sampingnya, dimana Bian berdiri sambil memegangi sepedanya.
"Kamu bisa pulang bareng teman kamu, tapi besok saja. Ada hal penting yang perlu Kakak bicarakan, tentang perusahaan papamu dan juga pesan dari Pak Bimo," ucap Gusti.
Aurel menatap Bian dengan tidak enak hati. Tetapi Bian melepaskan senyum dan mengangguk. Aurel pun melipat sepedanya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil, milik Bian yang terparkir rapi di depan gerbang sekolah. Aurel pun pulang bersama Gusti. Bian hanya bisa menghela napas kecewa.
Bian sengaja berangkat ke sekolah memakai sepeda agar ia bisa pulang bersama Aurel. Ternyata rencananya gagal untuk pulang bersama Aurel karena kedatangan Gusti.
***
Di rumah Aurel.
Fariz merapikan kembali barang-barang miliknya ke dalam koper. Fariz berniat mencari kost-kostan yang tidak terlalu jauh dari kampusnya. Selesai merapikan barangnya, Fariz memasak makan siang untuk Aurel dan dirinya sendiri. Tiba-tiba ia mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah.
Fariz mengintip dari gorden ruang tamu. Dari dalam mobil, Aurel keluar bersama Gusti sambil tersenyum, kemudian mereka menurunkan sepeda Aurel dari bagasi mobil. Aurel mengajak Gusti masuk ke dalam rumah.
"Silakan masuk, Kak! Mau bicara di sini atau di ruang baca?" tanya Aurel.
Fariz menghampiri mereka yang sedang berdiri di tengah rumah. Gusti memperhatikan Fariz dari atas sampai ke bawah, karena Fariz masih memakai celemek. Aurel kebingungan untuk menjelaskan pada Gusti tentang siapa Fariz. Aurel memiliki ide dan tersenyum lalu memperkenalkan mereka.
"Kak kenalin, ini koki disini. Kak Fariz, ini Kak Gusti orang kepercayaan almarhum papa." Aurel merasa tidak enak hati juga pada Fariz karena Aurel mengatakan Fariz koki.
__ADS_1
"Koki?" Gusti tidak percaya. Ia menatap tidak suka pada Fariz. Fariz malas meladeni dan kembali ke dapur. Sedangkan Gusti mengikuti langkah Aurel menuju ruang baca. Aurel duduk di sofa bersama Gusti.
"Jadi … bagaimana keadaan perusahaan sekarang, Kak?" tanya Aurel.
"Hari ini, sudah diumumkan ke semua media massa dan elektronik, bahwa perusahaan ditutup," jawab Gusti.
"Bagaimana dengan para karyawan yang di-PHK?"
"Untungnya, mereka semua masih bisa mendapatkan uang pesangon mereka. Ternyata, Om Aditya sudah memperkirakan semua ini. Karena itu, Om Aditya sudah menyiapkan dana yang disimpan di rekening Om Bimo," ucap Gusti.
"Syukurlah, lalu, ada pesan apa dari Om Bimo?"
"Karena aku sekarang seorang pengangguran, jadi … Om Bimo menyuruhku meminta pekerjaan padamu sebagai asisten pribadimu," ucap Gusti tersenyum.
Aurel tertawa mendengarnya. Aurel bahkan belum lulus sekolah, tapi sudah ada yang melamar pekerjaan padanya.
"Kok, ketawa?" Gusti mengelitiki Aurel dan tawanya semakin nyaring.
"Ampun, ampun, Kak. Ya, Aurel berhenti tertawa, hahaha." Aurel merapikan rambutnya dan berhenti tertawa.
***
Di rumah Lanzi.
"Mama, mama," pqnggil Daren.
Triana yang baru selesai makan siang kini sedang mencuci piring bersama ibunya. Karena panggilan Daren, Triana berhenti membantu ibunya dan menghampiri Daren.
"Ada apa, sayang? Jangan lari, nanti jatuh," ucap Triana sambil menggendong Daren.
"Kata Nenek, Daren mau punya dedek bayi," ucap Daren.
"Ya, sayang. Daren nanti punya adek bayi dan menjadi Kakak Daren," ucap Triana sambil mengusap pipi Daren.
"Yeeyyy, Daren jadi kakak, Daren bakal punya adek." Daren bersorak kegirangan mendengar ucapan Triana.
__ADS_1
Daren memang sangat ingin mempunyai adik. Saat Cassy hamil, Daren sering sekali mengusap perut Cassy jika kebetulan mereka bertemu. Sekarang ia akan mempunyai adik sendiri, dan ia terus bersorak gembira.
----------------------------------------------
Hy readers
Tingglkan jejak kalian ya.
Author mo promo jg nih,
Cinta Ada Karena Terbiasa season 3 dah up.
Mohon dukungannya ya😍
Kasih like n bintang
Jangan lupa favoritkan juga.
Semoga kalian suka
Mampir juga di novel author yg lain juga.
Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
Cinta Ada Karena Terbiasa
Kupilih Hatimu
Status Gantung Miss CEO
Putri Yang Tergadai
Dll
Yuk! Mampir😚😚🙂
__ADS_1
makasih buat yang udh vote, like dn favoritkan novel ini 😘😘