
Seusai sarapan, Triana berjalan-jalan di sekitar komplek perumahan. Selain berolahraga pagi, Triana juga ingin duduk di taman. Mereka berjalan-jalan bertiga. Lanzi keluar dari rumah dengan tertunduk, karena khawatir ada yang mengenalinya. Daren digendong Lanzi di belakang punggungnya. Beberapa kali mereka berpapasan dengan tetangga sekitar komplek.
Ada sekumpulan pemuda yang sedang lari pagi dan berpapasan dengan Triana. Mereka menyapa sambil melirik genit ke arah Lanzi.
"Selamat pagi, Mba Tri. Jalan-jalan pagi, ya?" tanya salah seorang dari mereka. Kemudian yang lain juga menyapa setelah Triana menjawab sapaan mereka. Mereka menyapa Daren sambil mendekati Lanzi.
"Daren, digendong Tantenya, ya? Kenalin dong Tante cantiknya sama Om," ucap pemuda itu.
"Rasanya aku ingin menghajar bocah ini. Dia berani mendekatiku dan mengira aku wanita," gumam Lanzi dalam hati dengan kesal.
"Haha, maaf Ali, kami harus lanjut berjalan lagi," ucap Triana sambil menarik tangan Lanzi. Triana tersenyum geli karena ada pria yang menyukai Lanzi. Sepertinya mereka benar-benar tidak bisa mengenali Lanzi. Coba saja jika mereka mendengar suara Lanzi, pasti mereka akan lari terbirit-birit. Mereka sampai di taman. Lanzi menurunkan Daren dari gendongan.
"Kamu hebat, sayang. Padahal banyak tetangga yang berpapasan dengan kita, tapi tidak ada satupun yang bisa mengenali aku," ucap Lanzi.
Mereka duduk di salah satu bangku taman, sedangkan Daren langsung berlari ke ayunan dan bermain ayunan. Triana menggelayut manja di pundak Lanzi. Lanzi tersenyum melihatnya. Beberapa orang bergidik saat melihat Lanzi mengecup puncak kepala Triana. Karena dimata mereka Lanzi seorang wanita.
"Mas, ke kantor juga pakai seperti ini, ya!"
"Apa? Sayang, ma-sa sampai ke kantor juga harus pakai ini?" tanya Lanzi gugup. Bukan hanya karena malu, tapi rasanya Lanzi tidak akan diijinkan masuk ke dalam kantornya. Karena itu adalah peraturan yang Lanzi buat setelah beberapa kali ada orang yang masuk ke dalam kantornya dan menaruh bunga serta sepucuk surat cinta.
"Bercanda. Lagipula aku takut kalau Mas pakai baju seperti ini, para pria bakalan memperebutkan Mas," ucap Triana sambil tersenyum geli. Mereka duduk bersandar sambil melihat putra mereka bermain kesana kemari. Daren bermain dengan anak perempuan sebaya dengannya.
Matahari mulai meninggi, jam sudah menunjukkan pukul 09:00 WIB. Lanzi harus bersiap pergi ke kantor entertainment, karena hari ini ada casting untuk model sabun. Lanzi dan beberapa staf produksi akan menyeleksi mereka secara langsung. Lanzi mengajak Triana dan Daren pulang ke rumah. Mereka memanggil Daren, Daren melambai pada teman mainnya lalu berlari ke arah Triana dan Lanzi.
Ponsel Lanzi berdering dalam saku kemeja. Ia mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan itu.
["Halo, Om. Bisa bicara dengan ibu?"]
"Oh, Aurel. Ya, bicaralah! Om akan berikan ponselnya pada ibu," ucap Lanzi. Ia lalu memberikan ponselnya pada Triana. Triana menerima panggilan dari Aurel sambil berjalan pulang ke rumah.
__ADS_1
"Halo, sayang. Bagaimana keadaanmu?"
[" ...."]
"Hem, selamat, sayang. Ibu akan kesana nanti, jaga kesehatan! Dah, sayang," ucap Triana. Ia menutup panggilan telepon dan memberikan ponsel Lanzi kembali. Lanzi penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
"Aurel bicara apa, sayang?"
"Dia bilang, dia sedang dirawat di rumah sakit. Dia juga sedang hamil," jawab Triana.
Mereka sampai di rumah, Lanzi segera masuk ke kamarnya dan mandi. Ia akan menghadiri interview calon model dan ia harus membersihkan riasan wajahnya. Namun ternyata Triana memakaikan lipstik waterproof yang tahan air dan tidak mudah luntur. Lanzi sudah dua kali membersihkannya dengan sabun wajah, hasilnya masih terlihat sama. Ia pun memanggil Triana dengan hanya memakai handuk kimono.
"Tri! Sayang," panggil Lanzi. Triana yang sedang menyuapi Daren es krim di dapur, menyahut dan menyuruh bi Aen menggantikan ia menyuapi Daren.
"Ya, Mas, sebentar! Bi, tolong gantikan saya!" Triana segera naik ke lantai atas dan masuk kedalam kamar.
"Ada apa?" tanya Triana.
"Oh. Sini aku bersihkan!" Triana mengambil micellarwater dan menaruh sedikit cairan itu diatas kapas, lalu ia mengusapkannya pada bibir Lanzi. Perlahan warna pink di bibir Lanzi memudar dan hilang setelah dua kali Triana mengusapkan cairan pembersih make-up.
"Sudah bersih. Aku siapkan bajunya," ucap Triana setelah selesai menghapus lipstik di bibir Lanzi. Triana membuka lemari dan mencarikan setelan jas untuk Lanzi.
"Kamu akan pergi ke rumah sakit?" tanya Lanzi sambil mengancingkan kemeja putih yang Triana pilihkan untuknya. Lanzi juga memakai setelan jas hitamnya. Lanzi sangat menyukai warna netral, putih dan hitam. Hanya dua warna itu saja yang menurut Lanzi gampang untuk di mix dengan warna apapun.
"Ya. Nanti kalau Daren tidur siang. Aku tidak mau membawa Daren ke rumah sakit," ucap Triana sambil memakaikan dasi dileher Lanzi. Dasi berwarna merah maroon menjadi pilihan Triana hari ini. Setelah selesai, Lanzi mengecup kening Triana dengan lembut.
"Baiklah. Hati-hati, dan jangan bawa mobil sendiri. Pakai sopir kita untuk mengantarmu!" perintah Lanzi sebelum ia pergi ke kantor. Lanzi membawa mobilnya sendiri. Hari ini, ia ke kantor tanpa Tom. Tom masih sakit karena usianya yang sudah menginjak kepala tujuh. Tom sudah pensiun, tetapi karena kasus penculikan Triana dua tahun lalu, membuat Tom kembali bekerja menjadi asisten Lanzi.
***
__ADS_1
Melly dan Alea masuk ke dalam ruang rawat Aurel. Mereka berdua pergi ke supermarket untuk membeli buah-buahan. Subrata dan Fariz duduk di sofa menemani Aurel yang sedang tidur di ranjang pasien. Saat Melly dan Alea masuk ke dalam ruang rawat Aurel, Aurel terbangun mendengar ucapan Melly yang begitu antusias membicarakan calon cucunya.
"Pa, tadi Mama dan Lea pergi ke supermarket dan ada seorang anak kecil berusia dua tahun, dia memanggil aku nenek. Senang sekali rasanya, jadi tidak sabar mendengar cucuku memanggilku nenek," ucap Melly. Subrata hanya menanggapi cerita Melly dengan senyuman.
Fariz duduk di samping Aurel, dan mengusap-usap perut Aurel yang masih datar. Aurel tidak menyangka jika dirinya akan menjadi ibu di usia muda. Namun Aurel sangat bahagia mendapatkan suami yang begitu sayang dan perhatian padanya. Adik ipar dan kedua mertuanya juga menerima Aurel dengan baik. Kebahagiaannya bertambah saat ini. Mereka akan mempunyai anggota keluarga baru.
_______________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
__ADS_1
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏