
hy hy readers
aq mau lanjutin kisah mereka ya
semoga kalian suka
jangan lupa dukung novel ini dengan cara
like, stars, favorit, vote
happy readding
selamat membaca
---------------------------------------
Tiga tahun kemudian.
Tengah malam yang sunyi, di sebuah rumah besar nan megah. Rumah milik Leonard. Semua penghuni rumah itu sudah terlelap, tapi tangisan dari seorang anak laki-laki, membuat dua orang yang sedang tidur itu terbangun. Anak laki-laki berusia tiga tahun, Daren Leonard, putra pertama Lanzi Leonard dan Triana Safitri. Daren, terbangun karena bermimpi buruk.
Daren tidur bersama kakek buyutnya, Leonard. Di kamar, sebelah kamar Leonard, ditempati oleh ibunya Triana. Fitri, ibunya Triana, ikut terbangun dan keluar dari kamarnya. Fitri berdiri di depan kamar Leonard, berjaga-jaga jika cucunya itu keluar dari kamar. Dugaan Fitri terbukti benar. Daren dan Leonard keluar dari kamar. Fitri segera menggendong cucunya itu.
“Cucu nenek, kenapa menangis?” tanya Fitri.
“Nenek, mama mana?” tanya Daren. Daren mencari ibunya, Triana.
“Daren, mau cari mama? Ayo nenek antar.” Fitri menggendong Daren sampai ke depan kamar orang tuanya, diikuti Leonard di belakangnya.
Mereka bertiga sampai di depan pintu kamar Triana dan Lanzi. Namun suara dari dalam kamar membuat Fitri dan Leonard, merasa malu. Fitri segera menutup telinga Daren, karena suara Lanzi dan Tri, tidak pantas didengar oleh anaknya.
“Ya, disitu, sayang. Geli, haha,” ucap Triana sambil menahan tawa.
“Sebelah sini? Buka yang lebar! Aku kesusahan, sayang,” ucap Lanzi.
Leonard dan Fitri, terpaku di depan pintu. Mata mereka membelalak lebar, mendengar ucapan dua sejoli dari dalam kamar. Suara itu terus berlanjut, membuat Leonard dan Fitri tidak nyaman. Sementara Daren, hanya diam dalam gendongan Fitri.
“Aduh, panjang banget sih, sayang. Jadi sakit, perih juga,” ucap Triana.
__ADS_1
“Maaf,” jawab Lanzi singkat.
Di luar kamar, Fitri dan Leonard segera membawa Daren pergi. Agar Daren tidak mendengar perkataan kedua orang tuanya.
“Daren, bobo sama nenek saja, ya,” ucap Fitri.
“Ya, Daren bobo sama nenek. Uyut kembali ke kamar duluan,” ucap Leonard sambil melangkah, pergi ke kamarnya. Sedangkan Fitri membawa Daren ke kamarnya.
Sementara di dalam kamar, Triana dan Lanzi berdebat.
“Lecet, kan, punggungku. Kamu, tidak memotong kuku, Mas? Aku minta tolong digaruk, malah jadi lecet begini. Perih, tahu,” ucap Tri sambil melihat punggungnya, dari kaca lemari baju.
“Habisnya, kamu, naikin bajunya cuma sedikit. Aku kan jadi susah garukinnya. Takut sekali, aku apa-apain ya?” goda Lanzi sambil terkekeh.
“Ya, sudah. Sini, aku oleskan obat,” ucap Lanzi kembali.
"Tidak mau, tambah perih. Sudahlah, lebih baik kita tidur," ucap Tri. Ia lalu merebahkan tubuhnya ke ranjang. Lanzi menyusul dan memeluk Tri dari belakang. Mereka lalu terlelap tidak lama kemudian.
***
Pagi hari.
Cassy dan Surya, sengaja menunda untuk memiliki keturunan. Mereka masih ingin menikmati kebersamaan mereka berdua, setelah dulu sempat berpisah. Cassy sampai di kamarnya, ia melihat suaminya masih tenggelam di alam mimpi. Cassy berdiri di samping ranjang.
"Mas, ayo bangun!" ucap Cassy sambil mencolek hidung Surya.
"Hem," jawab Surya sambil membuka matanya perlahan. Surya bangun dan duduk. kegiatan rutin Surya setelah bangun, mengecup perut sang istri, sebagai sapaan pada calon anak mereka. Cassy pergi, setelah Surya bangun dan pergi ke kamar mandi.
"Bi, nanti siang, kita ke pasar," ucap Cassy sambil menata piring di meja.
"Ya, Mba," jawab Nani sambil mencuci piring. Nani sibuk mencuci peralatan bekas memasak.
***
Di rumah Lanzi.
Leonard dan semua anggota keluarga sedang menyantap sarapan. Lanzi, kini menjabat sebagai Direktur utama 'Universitas Leonard'. Sedangkan Triana, ia melanjutkan kuliahnya di kampus yang lain. Universitas Diva's, adalah kampus yang Triana pilih.
__ADS_1
Fitri, ibunya Triana, tinggal di rumah Leonard untuk membantu menjaga putra mereka, Daren. Lanzi sebenarnya sudah menyuruh Triana, untuk melanjutkan kuliahnya di kampus 'Leonard', tapi Triana menolak. Triana tidak mau, jika nantinya menjadi bahan omongan. Karena dianggap KKN soal nilainya.
"Sayang, ingat, ya, jangan genit di kampus." Lanzi mengancam Triana, dan Triana hanya menjawab dengan senyuman.
"Hari ini, kamu mulai kuliah, Tri?" tanya Leonard.
"Ya, Kek. Triana mulai kuliah, hari ini," jawab Triana.
"Wajahmu, masih seperti gadis baru lulus SMA. Tidak akan ada yang menyangka, jika kamu adalah wanita bersuami dan punya seorang putra. Pasti banyak pria yang mengincarmu, carilah satu, untuk cadangan," ucap Leonard, ia sangat suka menggoda cucunya itu.
"Kek, apakah aku ini benar cucumu? Kenapa Kakek menyuruh istriku mencari pria lain? Kejam sekali," jawab Lanzi cemberut.
Semuanya tertawa melihat Lanzi merajuk. Suara tawa paling keras adalah suara Leonard.
Leonard menatap seluruh anggota keluarga satu persatu. Melihat tawa riang yang keluar dari mereka, Leonard bergumam dalam hati.
Rumah ini kembali ramai, sejak Triana hadir di hidup Lanzi. Awalnya aku khawatir, jika Lanzi akan menghabiskan hidupnya dalam kesendirian. Dari sekian banyak wanita yang kujodohkan dengannya selalu di tolak. Tidak kusangka, dia mendapatkan wanita yang begitu baik, sebagai cucu menantuku. Rasanya aku akan bisa pergi dengan tenang, bahkan jika Tuhan memanggilku, saat ini juga.
***
Di kampus Diva's
Triana diantar Lanzi ke kampus barunya. Lanzi dan Tri sampai di parkiran kampus, tetapi Lanzi tidak segera membuka kunci mobil.
"Mas, buka kuncinya!" Triana menatap tajam dan menyuruh Lanzi membuka pintu mobil.
"Jangan macam-macam di kampus! Ingatlah, kau istriku, hanya milikku. Aku cemburu jika kau bicara dengan laki-laki lain," ucap Lanzi sambil menatap ke depan. Lanzi pria yang sangat pencemburu.
Triana tersenyum geli, melihat wajah cemberut Lanzi. Namun Triana punya jurus ampuh untuk menaklukkan mantan dosennya itu. Triana menggeser duduknya, lalu naik ke atas pangkuan Lanzi. Triana melingkarkan kedua tangannya, di leher Lanzi. Triana perlahan memajukan wajahnya, lalu mengecup bibir Lanzi dengan lembut. Lanzi menarik tengkuk Triana dan memperdalam ciuman mereka. Lanzi menurunkan ciumannya ke leher Tri, Lanzi menggigit kecil leher Tri, meninggalkan tanda merah keunguan di sana.
Ciuman mereka berakhir. Tri turun dari mobil setelah merapikan riasan wajahnya. Lanzi pergi meninggalkan Tri yang melambaikan tangan padanya. Saat Tri berjalan, beberapa mahasiswi memandang Tri dengan pandangan tak suka. Mereka iri dengan kecantikan Tri, yang terlihat seperti seorang model.
------------------------------------------------------
Tinggalkan jejak kalian ya, readers tersayang.
Bagaimana dengan part awal season 2 ini
__ADS_1
kalian suka kan?
Author harap sih suka.