
Aurel duduk di depan meja kerja Gusti.
"Bagaimana? Sudah menyerah jadi pelayan?" tanya Gusti.
"Yang benar saja? Aku sudah pernah menjadi seorang pelayan selama dua tahun, ini baru dua jam. Mana mungkin aku langsung menyerah," ucap Aurel.
"Kalau ada yang kurang ajar, bilang saja padaku!" ucap Gusti.
"Aurel kerja lagi, jika lama-lama pasti akan timbul gosip kalau Aurel pacarnya Kak Gusti," canda Aurel.
"Memangnya tidak mau dipertimbangkan lagi?" goda Gusti.
"Tidak. Terima kasih," ucap Aurel sambil berlalu keluar dari ruangan Gusti.
"Ck, ditolak tanpa pertimbangan sama sekali," gumam Gusti sambil tersenyum.
Aurel mulai sibuk melayani tamu, meskipun Aurel adalah pemilik resto tetapi ia tidak bersantai dan tetap bekerja dengan rajin seperti yang lain. Corry di dapur bermuka masam seharian karena Dwiyan, Chef yang selama ini menjadi incarannya justru terus tersenyum menatap Aurel. Jam istirahat tiba, pelayan istirahat bergantian di dapur untuk makan siang. Ada ruangan khusus di dalam dapur untuk istirahat para karyawan resto.
"Rel, kamu sama Lila istirahat duluan! Nanti giliran aku sama bunga," ucap Erin.
"Oh, ok. Ayo Rel!" Lila mengajak Aurel ke tempat istirahat.
Saat melewati Corry, Corry sengaja menjegal kaki Aurel. Hampir saja Aurel terjatuh jika Dwiyan tidak menahan lengan Aurel. Corry semakin kesal melihat Aurel malah semakin dekat dengan Dwiyan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Dwiyan.
"Tidak. Terima kasih, Kak," ucap Aurel.
"Heh, sembarangan saja kamu memanggil dia Kakak, panggil dia Chef mengerti!" bentak Corry.
"Maaf, Chef. Terima kasih, saya permisi," ucap Aurel sambil menarik lengan Lila dan masuk ke ruang istirahat.
Dwiyan tidak henti tersenyum menatap kepergian Aurel.
"Aku sudah lama menyukaimu, Dwiyan. Kamu tidak pernah melirik sedikitpun. Kenapa sekarang kamu malah tertarik dengan anak ingusan itu?" Corry mengepalkan tangannya sambil menatap punggung Aurel.
Aurel duduk dan beristirahat sambil menenggak segelas air es dari dalam freezer. Lila mengambil makanan dari dalam freezer yang disediakan khusus untuk para karyawan. Lila memanaskan makanan itu di dalam oven selama lima belas menit. Lila memberikan satu porsi untuk Aurel dan satu porsi untuknya.
"Aurel, aku bawakan makanan untukmu. Makanlah!" ucap Dwiyan sambil menyodorkan sepiring cap cay untuk Aurel. Dwiyan duduk di depan Aurel dan Lila.
"Terima kasih, Chef." Aurel tersenyum tetapi hatinya merasa risih. Aurel paham apa yang terjadi, sepertinya Dwiyan menaruh hati pada Aurel. Namun Aurel tidak ingin mengakui statusnya saat ini. Status sebagai pemilik resto juga status sebagai istri Fariz, keduanya belum ingin Aurel akui. Bahkan Gusti saja tidak tahu, jika Aurel sudah menikah dengan Fariz.
__ADS_1
Aurel segera menyudahi makannya dan menaruh piring kotor ke meja dapur. Aurel keluar dari ruang istirahat dan segera kembali bekerja. Aurel menggantikan Ane di meja kasir.
"Kak Ane, istirahatlah! Aurel gantikan Kakak disini," ucap Aurel.
"Terima kasih, aku istirahat. Tapi ... jika aku agak lama, aku minta maaf," ucap Ane. Kemudian ia pergi keluar.
Aurel memperhatikan wajah lelah Ane dan juga heran, kenapa Ane bukan pergi ke dapur tapi keluar dari resto dan menyetop taksi. Aurel penasaran, kenapa ia begitu terburu-buru pulang. Tadi pagi, Ane juga datang terakhir disaat resto sudah sibuk melayani tamu.
***
Seminggu kemudian, ulang tahun Lanzi pun datang. Lanzi tinggal di kantor setelah tiga hari yang lalu keluar dari rumah sakit. Tom sengaja tidak memberitahu Lanzi jika Triana sedang menyiapkan pesta ulang tahun kecil-kecilan. Karena Tom sudah berjanji pada Triana untuk tidak membocorkan rencana Triana menghukumnya.
Tok Tok Tok.
Tom masuk ke dalam ruangan Lanzi. Situasi kantor sudah sepi, karena jam kantor Lanzi hanya sampai jam lima sore. Lanzi menyuruh Tom duduk dan mereka membicarakan kontrak iklan dengan perusahaan elektronik.
"Modelnya kamu cari ibu rumah tangga biasa saja, agar terlihat lebih natural. Jangan pakai model terkenal," ucap Lanzi.
"Baiklah. Tapi ... ngomong-ngomong ... apa kau tidak akan pulang? Bukankah ini adalah hari ulang tahunmu?" tanya Tom.
"Tidak ada yang menungguku di rumah. Apa aku diperbolehkan untuk pulang?" Lanzi menyandarkan punggungnya dan pikirannya menerawang. Seminggu lamanya ia tidak bertemu dengan Triana dan Daren. Lanzi sangat merindukan mereka.
"Mau kuantar pulang?" tanya Tom.
"Ayo!" ajak Lanzi. Ia menyambar jasnya dan pulang bersama Tom. Lanzi tersenyum sepanjang perjalanan. Namun saat tiba di depan rumah, Lanzi mengernyit heran. Karena rumahnya itu gelap gulita. Satpam penjaga gerbang saja tidak ada. Tom membuka pintu gerbang sendiri.
"Tuan muda masuklah terlebih dulu, saya parkir mobil dulu." Tom masuk kembali ke dalam mobil, sedangkan Lanzi melangkah perlahan dengan menggunakan cahaya senter dari ponselnya. Lanzi masuk ke dalam rumah dan mencari lokasi sakelar lampu. Saat lampu menyala, Triana, Daren, Fitri, satpam dan pelayan datang dari dapur dan Triana membawa kue ulang tahun dengan lilin angka 32.
Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun
Semoga panjang umur
Tiup lilinnya
Tiup lilinnya
Tiup lilinnya, sekarang juga
__ADS_1
Sekarang juga, sekarang juga
"Selamat ulang tahun, Tuan," ucap bi Aen dan Tarjo, satpam penjaga gerbang.
"Terima kasih." Lanzi menjawab mereka tetapi pandangannya terus tertuju ke arah Triana.
"Selamat ulang tahun, Lan." Fitri juga tersenyum mengucapkan selamat untuk Lanzi.
"Selamat ulang tahun, Papa," ucap Daren sambil menghampiri sang ayah. Lanzi menggendong Daren, ia memeluk dan mencium Daren dengan penuh kerinduan. Kemudian ia menghampiri Triana dan berhenti di depannya. Lanzi terus menatap lekat kedua mata Triana.
"Sebelum tiup lilin, berdoa dulu!" Triana menyuruh Lanzi meniup lilin ulang tahunnya.
Lanzi menurut, ia memejamkan mata dan berdoa. Doa Lanzi sederhana, ia hanya ingin agar keluarganya tetap seperti saat ini. Ia berharap tidak ada lagi badai yang menerpa rumah tangga mereka. Lanzi membuka mata dan meniup lilin.
Daren mengecup pipi Lanzi, dan berkata pada Triana, "Mama, cium Papa juga!"
Triana mengecup pipi Lanzi. Lanzi tidak bisa melukiskan perasaan bahagianya saat ini. Andai ia bisa menghentikan waktu, Lanzi ingin menghentikan waktu saat ini. Lanzi melirik ke arah Tom yang tersenyum. Lanzi menyadari sesuatu, pantas saja Tom memaksanya untuk pulang. Tom pasti sudah ikut merencanakan kejutan ulang tahun untuknya.
-----------------------------------------
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
__ADS_1
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏