Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (4)


__ADS_3

Mereka turun dari komedi putar lalu pergi mencari makanan. Hari sudah petang, tapi mereka masih asyik berkeliling di taman bermain. Daren sama sekali tidak mau diajak pulang. Tetapi Triana sudah sangat lelah. Mereka akhirnya memutuskan pulang.


"Kita pulang terpisah?" tanya Lanzi.


"Ya, mau bagaimana lagi? Masa mau ditinggal mobilnya," ucap Tri.


"Ya, sudah. Kamu hati-hati bawa mobilnya. Daren mau ikut papa atau ikut mama?" tanya Lanzi.


"Mama," jawab Daren singkat.


"Ya, sudah. Papa ada seminar di kampus, jadi kalian pulang lebih dulu. Hati-hati," ucap Lanzi. Ia kemudian masuk ke dalam mobil. Entah mengapa? Lanzi rasanya berat melepas mereka pulang terpisah dengannya. Namun Lanzi akhirnya tetap pergi. Lambaian tangan Triana dan Daren, serta senyum manis dari kedua orang yang Lanzi sayang. Senyuman itu seperti sebuah kata perpisahan untuk Lanzi.


Triana dan Daren melangkah menuju parkiran. Sebuah mobil yang mengalami rem blong, melaju dengan cepat ke arah Triana dan Daren. Saat Triana melihat sedan hitam melaju cepat ke arahnya dengan tak terkendali, Tri segera mendorong Daren. Daren terjatuh dan pingsan karena membentur pohon di tepi jalan.


Bruk.


Sedan itu berhenti setelah menabrak Tri, hingga tubuhnya terpelanting jauh. Suasana parkiran yang sepi, membuat si penabrak segera membawa ibu dan anak itu ke dalam mobilnya. Kondisi Triana begitu parah, kepalanya tak henti mengeluarkan darah, wajahnya juga rusak, napasnya pun sudah mulai melemah. Di dalam mobil itu, Triana dan Daren terkulai.


Entah apa yang akan dilakukan oleh dua orang yang tidak sengaja menabrak Tri dan Daren. Entah apakah Tri dan Daren masih bisa diselamatkan atau tidak? Entah penabrak itu akan membuang atau membawa Ibu dan anak itu ke rumah sakit atau tidak? Hanya mereka yang tahu, apa yang ada dipikiran mereka.


***

__ADS_1


Prang.


"Astaga!" ucap Fitri, ia terkejut karena foto keluarga Leonard tiba-tiba terjatuh. Di dalam foto itu terdiri dari empat orang, Leonard, Lanzi, Triana, dan Daren ketika masih berumur satu tahun. Daren duduk di pangkuan Leonard, sedangkan Leonard duduk di sofa kecil. Triana dan Lanzi berdiri di belakangnya. Fitri seketika cemas.


"Ada apa ini? Kenapa hatiku jadi tidak tenang begini?" Fitri bertanya-tanya sambil melirik jam dinding. Jam delapan malam, dan Tri masih belum pulang.


Leonard keluar dari kamarnya, ia melihat Fitri yang berdiri melamun sambil memegang bingkai foto yang kacanya retak.


"Fit, sedang apa?" tanya Leonard.


"Ini, Pak, bingkai ini tiba-tiba terjatuh dan saya jadi cemas dengan Tri dan Daren. Ini sudah malam, tapi mereka belum pulang dari taman," jawab Fitri khawatir.


"Tenang saja dulu, barangkali Daren tidak mau pulang. Kamu tahu sendiri kalau Daren sudah diajak main ke taman bermain," ucap Leonard mencoba menenangkan Fitri, padahal Leonard juga sedikit cemas.


***


"Halo, Lan. Tri menghubungimu tidak?" tanya Fitri saat ia mendengar suara Lanzi dari seberang telepon.


"Bukannya Tri sudah pulang dari sore?" tanya Lanzi khawatir.


"Tri belum pulang, dan entah kenapa? Mama sangat mencemaskan mereka," jawab Fitri.

__ADS_1


"Tadi sore Lanzi menyusul mereka ke taman bermain dan harusnya mereka sudah pulang, dua jam yang lalu." Lanzi mulai tegang, ia benar-benar cemas. Apalagi jika ia mengingat senyuman Tri dan Daren tadi sore.


"Bagaimana ini? Kemana sebenarnya mereka?" tanya Fitri.


"Ya, sudah. Mama jangan cemas dulu, Lanzi cari mereka sekarang," ucap Lanzi. Ia menutup telepon. Lalu ia menelepon Tom.


"Pak Tom, siapkan beberapa orang untuk berpencar mencari Tri!" ucap Lanzi memberi perintah.


"Baiklah, Tuan muda," jawab Tom.


Lanzi bergegas pergi ke taman bermain, tempat terakhir ia bertemu Tri dan Daren. Tiba di taman bermain, Lanzi tercengang. Mobil Triana masih terparkir rapi di area parkiran taman bermain itu. Lanzi juga melihat bekas darah yang berceceran.


Deg.


Jantung Lanzi bagai berhenti berdetak, napasnya terasa sesak. Ia menepis keras dugaannya.


"Itu bukan mereka. Itu ... bukan mereka. Tidak," gumam Lanzi.


Ia segera berlari ke pos keamanan dan mencari informasi. Menurut pihak keamanan itu, memang terjadi tabrakan sore tadi dan korban di larikan ke rumah sakit terdekat. Lanzi segera mencari ke setiap rumah sakit, yang terletak tidak jauh dari taman bermain, hingga sampai di rumah sakit yang sudah jauh dari taman bermain itu. Nihil, ia tidak mendapatkan informasi apapun.


Hingga salah seorang dari anak buahnya mengabari, ada dua jenazah di tepi pantai. Di sekitar jenazah itu terdapat tas, di dalamnya adalah dompet, ponsel serta sebuah foto. Lanzi segera melaju ke pantai di wahana bermain 'TIJA'. Sampai di sana, Lanzi langsung terjatuh bersimpuh dengan kedua lututnya. Baju, tas, yang dipakai wanita itu benar-benar milik Triana. Lanzi tak kuasa menahan tangis, tatkala ia membuka koran yang menutup wajah ibu dan anak itu. Wajah mereka hancur, bahkan tidak bisa di kenali.

__ADS_1


"TIDAAKKK!" Lanzi berteriak histeris.


"Tuan muda, kemungkinan, wajah Nyonya dan Tuan muda Daren terbentur karang hingga hancur," ucap anak buah Lanzi. Polisi menyerahkan tas dan barang-barang lainnya pada Lanzi. Lanzi membawa jenazah itu pulang. Fitri langsung terkulai pingsan, dan Leonard terkena serangan jantung. Lanzi menyuruh Tom mengurus Fitri di rumah, sementara Lanzi segera membawa Leonard ke rumah sakit.


__ADS_2