
Olivia keluar dari kamarnya karena merasa haus. Ia melihat jam dinding lalu pergi ke kamar Aurel.
"Belum pulang rupanya, lihat saja! Kau akan kedinginan lagi karena tidur di luar," ucap Olivia.
Fariz yang memang belum tidur itu mendengar pintu kamar Aurel dibuka. Fariz pikir itu adalah Aurel makanya dia keluar dari kamar. Tidak disangka ternyata yang ada di depan pintu kamar Aurel adala Olivia. Fariz juga mendengar ancaman Olivia, tetapi Fariz berpura-pura tidak mendengar.
"Tante, belum tidur?" tanya Fariz.
"Eh, Fariz. Sudah, cuma Tante haus, sekalian ngecek Aurel sudah pulang atau belum. Fariz belum tidur?" tanya Olivia.
"Belum, Tan. Oh, ya, Tan, Fariz ijin keluar cari jajanan, boleh?" tanya Fariz.
"Ini sudah tengah malam, memang mau cari jajanan apa?" tanya Olivia.
"Seadanya yang masih jualan aja, Tan. Fariz ingin makan camilan," ucap Fariz.
"Oh. Ya, sudah sana! Jangan lupa nanti pintunya dikunci," ucap Olivia.
Fariz tersenyum dan keluar dari rumah. Fariz sebenarnya ingin membantu Aurel agar tidak dikunci di luar oleh Olivia. Fariz bersandar di dinding gerbang rumah Aurel. Ia tidak tahu dimana Aurel bekerja, jadi ia hanya bisa menunggu di depan gerbang.
***
Aurel berjalan bersama Bian dengan canggung. Aurel tidak menyangka jika Bian mengikutinya diam-diam.
"Kenapa Kak Bian mengikutiku?" tanya Aurel.
"Aku cuma khawatir terjadi sesuatu padamu di jalan. Bagaimanapun juga, kau seorang gadis. Tidak baik untukmu jika berjalan sendiri di tengah malam," jawab Bian.
"Sejak kapan?" Aurel berhenti dan menatap wajah Bian.
__ADS_1
"Sejak dua tahun lalu," ucap Bian sambil menatap lekat kedua manik mata Aurel.
Aurel terkejut mendengar jawaban Bian. Selama dua tahun, Bian selalu mengantar Aurel pulang secara diam-diam. Aurel cukup terharu, tetapi ada rasa terbebani juga. Aurel secara tidak sadar sudah merepotkan Bian, karena harus mengawalnya pulang. Aurel tidak mau merepotkan Bian.
"Untuk besok dan selanjutnya, tidak perlu lagi seperti ini. Ini sudah malam, seharusnya Kakak sedang tertidur tetapi malah mengikutiku. Itu … membuatku tidak nyaman," ucap Aurel sambil kembali melangkah.
Bian tetap berjalan di samping Aurel dan tetap mengantarnya sampai di depan gerbang rumah. Bian tidak membalas ucapan Aurel. Bian tidak peduli pada penolakan Aurel, ia hanya ingin memastikan Aurel pulang dengan selamat sampai di rumah, agar ia bisa tidur nyenyak tanpa merasa khawatir pada Aurel. Jika Aurel menolak Bian mengantarnya terang-terangan seperti saat ini, maka Bian akan kembali mengantarnya dengan sembunyi-sembunyi.
Merekapun tiba di depan gerbang rumah Aurel. Bian dan Aurel melihat Fariz sedang berdiri sambil bersandar di dinding gerbang. Fariz memakai jaket merah tua dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Aurel dan Bian mendekati Fariz yang menundukkan kepalanya, melihat salah satu kakinya yang ia gerak-gerakkan untuk mengusir dingin.
"Kak Fariz, sedang apa?" tanya Aurel.
Mendengar suara Aurel, Fariz mengangkat wajahnya dengan tersenyum kemudian senyumnya menghilang melihat pria di samping Aurel. Aurel memperkenalkan mereka berdua.
"Oh, ya. Perkenalkan, dia teman sekelasku, Kak Bian. Dan ini, Kak Fariz, kakak sepupuku," ucap Aurel menyebutkan nama mereka.
Mereka berjabat tangan dengan tersenyum. Namun di hati mereka masing-masing, mereka merasakan cemburu. Meskipun Aurel bukan pacar mereka, tetapi mereka tidak rela melihat wanita pujaan mereka dekat dengan pria lain.
"Baiklah, aku pulang. Istirahat dengan baik, semoga malam ini, kamu bermimpi indah. Semoga saja diantara mimpi indahmu itu, ada aku di dalamnya, dadah," ucap Bian sambil berlari pergi meninggalkan rumah Aurel.
Mendengar gombalan Bian, Fariz mengepalkan tangannya. Fariz benar-benar cemburu dibuatnya. Aurel mengajak Fariz masuk tetapi Fariz masih berdiri menatap punggung Bian yang semakin menjauh. Aurel menatap arah pandangan Fariz.
"Apa Kak Fariz cemburu pada Kak Bian? Wajahnya sepertinya kesal sekali melihat Kak Bian," gumam Aurel dalam hati. Aurel tersenyum dan mengulangi ucapannya.
"Kak Fariz, ayo masuk! Di luar dingin tahu," ucap Aurel sambil kembali melangkah menuju garasi dan menyimpan sepedanya. Fariz mengikuti Aurel sampai di depan kamar Aurel.
"Kak, aku tidak perlu diantar sampai ke kamar. Aku tidak akan tersasar menuju kamarku." Aurel meledek Fariz yang terus mengikutinya.
"Kamu sudah makan?" tanya Fariz.
__ADS_1
"Sudah. Aurel tadi makan di tempat kerja. Sudah malam, selamat tidur," ucap Aurel sebelum menutup pintu kamarnya. Aurel sangat lelah sekali hari ini, hingga dia malas untuk mengganti bajunya dengan piyama tidur. Aurel langsung melemparkan tubuhnya ke ranjang. Dengan cepat, Aurel pun tertidur pulas sampai pagi.
***
Pagi hari.
Fariz membuat nasi goreng sosis empat porsi. Ia membawakan nampan berisi sepiring nasi goreng serta susu hangat ke kamar Aurel. Fariz mengetuk pintu beberapa kali, karena tidak ada jawaban, Fariz memutar gagang pintu yang ternyata tidak terkunci. Fariz masuk dan meletakkan nampan itu di nakas. Ia memperhatikan wajah lelah Aurel yang sedang tertidur pulas. Fariz menyingkirkan anak rambut yang menutupi mata Aurel lalu kembali tersenyum.
Alarm di ponsel Aurel berbunyi dan tubuh Aurel pun menggeliat mendengar panggilan untuk bangun dari ponselnya. Aurel membuka matanya perlahan-lahan dan samar-samar ia melihat ayahnya duduk di tepi ranjangnya. Aurel bangun dengan secepat kilat dan memeluk orang yang ia kira sebagai Aditya.
Fariz tertegun saat Aurel memeluknya dengan erat. Dengan canggung, Fariz membalas pelukan Aurel. Aurel merasa ada yang aneh dari pelukan itu. Kemudian Aurel tersadar bahwa ayahnya sudah meninggal dua hari yang lalu. Aurel mendorong pria yang dipeluknya. Kedua mata Aurel melebar sempurna saat melihat siapa yang ia peluk tadi.
Wajah Aurel memerah seketika, antara malu dan terkejut menjadi satu dalam hatinya. Aurel memarahi Fariz yang masuk ke dalam kamarnya tanpa ijin.
"Kakak mau apa masuk ke kamarku tanpa ijin. Mau cari kesempatan dalam kesempitan, kan?" tanya Aurel dengan tatapan tajam.
"Aku sudah mengetuk pintu, dan karena pintunya tidak terkunci, jadi aku masuk. Soal yang pelukan, itu … kamu yang tiba-tiba peluk aku, loh. Jadi, bukan aku yang cari kesempatan dalam kesempitan, tapi kamu," jawab Fariz.
Aurel tidak menyangkal karena memang dialah yang pertama memeluk Fariz, karena ia pikir itu adalah ayahnya. Aurel segera bersembunyi di balik selimut.
"Hahaha." Fariz tertawa dengan tingkah Aurel.
"Kak Fariz keluar sana!" Aurel mengusir Fariz dari kamarnya.
Fariz segera pergi meninggalkan Aurel, atau Aurel akan terus bersembunyi dibalik selimut. Tentunya itu akan membuat Aurel terlambat pergi ke sekolah.
Setelah Fariz keluar dari kamar, Aurel keluar dari balik selimut dan duduk di ranjang sambil tersenyum malu. Ia menoleh ke arah nakas, senyumnya semakin mengembang melihat nasi goreng sosis yang Fariz bawakan untuknya. Aurel merasa bahagia, akhirnya ia bisa sedikit santai karena ada yang membantunya menyiapkan sarapan.
"Em, kemarin, aku tidak sempat mencicipi masakannya. Sepertinya dia pintar memasak. Aku mandi dulu, ah, baru mencicipi nasi goreng spesial ala chef Fariz," ucap Aurel sambil melangkah ke kamar mandi.
__ADS_1
Ternyata Fariz masih berdiri di depan pintu dan mendengar semua ucapan Aurel. Senyum Fariz pun tidak bisa dibendung. Ia bahagia, karena bisa membuat Aurel bahagia.