
Tom datang ke rumah Lanzi dengan wajah muram. Ia mengetuk pintu beberapa kali sampai Fitri membukakan pintu untuknya. Fitri sedikit heran, untuk apa Tom datang tengah malam seperti ini ke rumah Lanzi. Karena tidak biasanya, Tom datang berkunjung malam-malam kecuali jika Lanzi di rumah dan memanggilnya. Sedangkan sekarang Lanzi tidak ada di rumah, lalu untuk apa Tom datang malam-malam.
"Nyonya Fitri, bisa saya bicara dengan Anda?" tanya Tom.
"Tentu. Silakan masuk!" Fitri mengajak Tom duduk di ruang tamu.
Ternyata tujuan Tom datang ke rumah Lanzi adalah karena misi untuk mendamaikan Triana dan Lanzi. Ia menceritakan kejadian sebenarnya pada Fitri, dan Fitri mau memaafkan Lanzi jika memang Lanzi sudah berpisah dengan wanita itu. Fitri juga setuju membantu Tom dengan rencananya. Masalah Triana memaafkan Lanzi atau tidak itu hak Triana. Mereka hanya mencoba mendekatkan mereka agar bicara dengan damai dan pikiran tenang. Tidak seperti sebelumnya yang berbicara karena amarah masing-masing.
Tok Tok Tok.
"Masuk!" jawab Triana.
"Tri ...." Fitri berdiri bersama Tom di tengah pintu. Keduanya memasang tampang murung, membuat Triana menjadi sangat penasaran. Apalagi melihat Tom yang juga ada di rumahnya malam ini. Sedikit hal yang tidak biasa tanpa Lanzi, biasanya Tom hanya datang malam hari karena panggilan dari Lanzi.
"Ada apa, Ma, Pak Tom?" tanya Triana.
"Nyonya muda, Tuan muda Lanzi, dia kritis. Dokter bilang kondisinya semakin parah dan kita harus bersiap untuk situasi yang buruk. Entah apakah malam ini bisa Tuan muda lalui atau tidak," ucap Tom.
"Tri, sebaiknya kamu kesana, sayang. Lanzi menunggu kamu, maafkan dia," ucap Fitri.
Triana berpaling menatap jendela kamarnya. Ia bingung, haruskah ia memaafkannya? Tetapi Triana juga tidak tega mendengarnya. Tidak mungkin dia membiarkan Lanzi pergi darinya tanpa pamit. Triana mengalihkan pandangannya ke arah Fitri dan Tom. Ia beranjak turun dari ranjang. Fitri segera menghampiri dan membantu Triana berjalan.
"Pak Tom, antar saya kesana!" Triana dipapah Fitri turun kebawah dan menunggu Tom yang sedang memarkir mobilnya. Tom memarkir mobilnya sampai di depan teras lalu membuka pintu mobil.
"Ma, titip Daren, Tri pergi dulu." Triana masuk dan duduk di kursi belakang.
Tom segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Selama dalam perjalanan Triana hanya diam menatap jalanan yang sepi dan lengang di tengah malam. Triana terlihat tenang dari luar, tetapi di dalam hatinya segala pikiran berkecamuk.
Tak lama mereka tiba di rumah sakit. Tom akan mengambil kursi roda tetapi Triana melarangnya. Triana memilih jalan kaki saja pelan-pelan. Tom mengantar Triana ke ruangan Lanzi lalu meninggalkan mereka berdua. Triana duduk di kursi samping ranjang. Setelah Tom pergi, Triana mulai bicara.
"Bangunlah! Aku tahu rencana kamu dan Tom," ucap Triana.
Lanzi yang sudah berpura-pura kritis pun kembali bangun dan duduk bersandar di ranjangnya. Triana menatap Lanzi lalu menunduk.
"Kau pikir, aku akan menjadi orang bodoh untuk yang kedua kalinya. Aku menguping pembicaraan Tom dan Mama, karena itu aku tahu kau ... hanya berpura-pura. Katakan ada apa?" tanya Triana dengan dingin.
"Tri, Cintya sudah pergi. Dia juga sudah berjanji tidak akan pernah muncul lagi di depan kita. Di dalam rumah tangga kita, jadi aku mohon, kita baikan lagi, ya?" Lanzi memandang raut wajah Triana dengan mata berkaca-kaca. Betapa rindunya hati Lanzi melihat senyum bahagia di wajah Triana. Namun senyum itu sulit sekali Lanzi lihat sekarang. Yang ada di wajah Triana saat ini hanya sebuah raut wajah muram yang penuh kekecewaan.
"Dia pergi meninggalkanmu juga rumah tangga kita. Bukan berarti rasa kecewa di hatiku juga bisa pergi begitu saja. Tidak semudah itu, Mas," ucap Triana.
"Aku tahu. Baiklah! Pulanglah, tidak baik untuk berlama-lama di rumah sakit. Tom!" Lanzi memanggil Tom setelah selesai berbicara dengan Triana.
__ADS_1
Tom masuk ke dalam saat Lanzi memanggilnya. Tom mendengar semua pembicaraan mereka dari depan ruangan. Dia pun mengantarkan Triana kembali ke rumah. Dalam perjalanan, Tom memberanikan diri bertanya pada Triana.
"Nyonya, Tuan muda tidak mencintai Cintya. Dia hanya menunaikan tanggung jawabnya dan itu sudah berlalu. Tidakkah Nyonya kasihan melihat Tuan tertekan hingga ia depresi dan sakit?" tanya Tom.
"Aku tahu, tapi rasanya tidak adil jika aku tidak menghukumnya. Aku sudah memaafkannya tapi biarkan dia benar-benar menyesali semuanya karena telah membohongiku. Dia bisa saja mendiskusikannya padaku. Kenapa harus membohongiku. Dasar pria jahat," ucap Triana.
Tom tersenyum, ternyata Triana sudah memaafkan Lanzi dan hanya ingin mengerjainya.
"Kapan Nyonya akan menyudahi hukumannya?"
"Seminggu lagi Lanzi berulang tahun. Pak Tom bawa dia pulang minggu depan. Untuk sekarang, biarkan saja dia bersedih dan merasakan sedih yang sama seperti yang saya rasakan kemarin," ucap Triana pada Tom. Tom mengangguk dan setuju dengan ucapan Triana.
***
Aurel terbangun di tengah malam karena bermimpi buruk.
"Kenapa, sayang?" tanya Fariz yang terbangun karena teriakan Aurel.
"Aurel memimpikan Mama," jawab Aurel dengan napas terengah-engah seperti habis berlari. Fariz memeluk Aurel dan menghiburnya.
"Itu cuma mimpi, tenanglah! Ada Kakak disini, tidak perlu takut," ucap Fariz. Dia mengajak Aurel kembali berbaring dan tidur dalam dekapannya hingga pagi.
***
Tugas pertama sebelum resto buka adalah bersih-bersih dan mereka melakukannya bersama. Mereka menyapu, mengepel dan mengelap kaca serta meja. Aurel memperhatikan satu persatu diantara mereka, mereka semua baik dan ramah. Saling membantu dan setia kawan, setidaknya itulah kesan pertama yang Aurel rasakan dari mereka. Sedangkan bagian dapur yaitu Chef dan para staf dapur, Aurel belum mengenal mereka.
"Hei, karyawan baru yang mana?" tanya Corry. Dia adalah asisten Chef utama, Dwiyan.
Merasa ada yang mencari, Aurel maju dan menjawab.
"Saya, Mba. Ada apa, ya?" tanya Aurel.
"Ikut saya ke dapur!" Corry berbalik kembali ke dapur setelah memanggil Aurel.
"Rel, hati-hati, ya. Dia itu paling suka menindas karyawan baru, banyak yang tidak kuat bekerja disini gara-gara dia selalu menindasnya," ucap Affan.
Yang lain juga mengangguk seolah sedang bersimpati pada Aurel. Mereka takut jika Aurel tidak kuat bekerja karena Corry. Andai mereka tahu bahwa Aurel pemilik resto, mereka pasti malah akan bersimpati pada Corry karena bisa saja Aurel memecatnya. Diantara mereka berlima hanya Erin yang tahu identitas Aurel, tetapi ia sudah dilarang mengatakan apapun tentang Aurel pada yang lain. Aurel pun melangkah masuk ke dalam dapur.
"Sini!" panggil Corry.
"Ya, Mba." Aurel mendekat.
__ADS_1
"Dapur ini akan dipakai, tapi aku lupa merapikan perabotan kemarin. Kamu beresin semua, setengah jam harus sudah beres, mengerti!" Corry membentak Aurel dan staff yang dapur yang lain tidak berani mendekati Corry atau membantu Aurel.
"Tapi, Mba, ini tugas staff dapur. Bukankah ada staff bagian cuci piring dan beres-beres di sini. Kenapa harus pelayan bagian depan yang mengurus," ucap Aurel sambil tersenyum.
"Berani melawan?" tanya Corry.
"Corry, jangan keterlaluan! Dan kalian semua, kerjakan tugas kalian. Kamu, karyawan baru, kan? Kembalilah ke depan," ucap Dwiyan, Chef utama mereka, yang baru saja datang.
Dwiyan ini sepertinya orang yang ditakuti oleh Corry. Aurel tersenyum dan pamit kembali ke depan. Aurel baru mengenal dua orang staf dapur, ia akan mencari tahu yang lainnya dari Erin. Aurel kembali bekerja dan resto pun dibuka jam delapan. Gusti baru saja tiba dan memanggil Aurel ke ruangannya. Aurel pergi ke ruangan Gusti dan para pelayan mulai bergosip.
"Aurel sepertinya dekat sekali dengan Pak Gusti. Apa jangan-jangan Aurel itu pacarnya Pak Gusti?" tanya El.
"Ya, bisa jadi? Karena sebelum bekerja disini, aku sering melihat dia masuk ke dalam ruangan Pak Gusti," jawab Lila.
"Sudahlah, kalian jangan mengatakan sesuatu yang belum jelas. Waktunya bekerja," ucap Affan.
Mereka sudah disibukkan dengan pelanggan yang mulai berdatangan, tetapi seperti biasanya, Ane, kasir resto, selalu datang terlambat. Entah apa yang dia lakukan di rumah karena selalu terlambat, padahal rumahnya tidak terlalu jauh dari resto. Rumah Ane hanya berjarak sepuluh menit dari resto.
-----------------------------------------------------
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
__ADS_1
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏