Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (20)


__ADS_3

*Tok! Tok! Tok!


Bi Onah mengetuk pintu kamar karena sudah waktunya makan malam bagi Aurel. Aurel bangun, dengan malas ia membuka pintu kamar.


"Ada apa, Bi?" tanya Aurel.


"Makan malam dulu, Non. Dari tadi siang, Non belum makan," ucap Bi Onah.


"Aurel mandi dulu, ya, Bi." Aurel melangkah ke kamar mandi dan Bi Onah pergi menyiapkan makanan di meja.


*Ting Tong.


Saat Aurel di kamar mandi, ia mendengar bunyi bel pintu meski samar oleh gemericik air.


Bi Onah merasa heran, siapa yang bertamu malam-malam begini. Dengan rasa penasaran, Bi Onah mengintip dari gorden jendela. Bi Onah harus lebih waspada karena saat ini mereka hanya berdua di rumah, tanpa pengawal dan juga Tuannya, Aditya. Bi Onah takut jika yang datang adalah para penjahat yang tahu keadaan di rumah itu. Bi Onah bernapas lega, karena yang datang adalah paman dan bibinya Aurel. Bi Onah membuka pintu.


"Tuan Edi, Nyonya Olivia, silakan masuk!" ucap Bi Onah mempersilakan.


"Dimana Aurel?" tanya Edi.


"Non Aurel sedang mandi, Tuan," jawab Bi Onah.


"Oh, ya, sudah. Kamu bawakan koperku dan istriku, bawa ke kamar tidur utama!" ucap Edi.


Bi Onah melebarkan matanya saat mendengar perintah Edi. Karena sejatinya kamar utama adalah kamar tuannya, Aditya. Bagaimana mungkin dengan mudahnya, Edi mengambil alih kamar itu. Bi Onah masih berdiri dan belum juga beranjak dari tempatnya.


" Kenapa masih berdiri di situ? Cepat kamu pindahkan semua barang-barang Aditya ke kamar tamu dan taruh barang-barang saya di kamar utama!" ucap Edi sedikit membentak karena tidak dapat mengontrol emosinya.


Aurel keluar dari kamar setelah memakai bajunya. Ia melangkah ke ruang tamu karena mendengar keributan.

__ADS_1


"Siapa yang datang, Bi?" tanya Aurel. Aurel melihat paman dan bibinya yang berdiri dengan angkuh di tengah pintu.


"Kenapa Paman dan Bibi membuat keributan di sini?" tanya Aurel menatap tak suka pada paman dan bibinya.


"Ini... Non, Tuan menyuruh saya membawa kopernya ke kamar Papa Non," ucap Bi Onah menjelaskan.


"Apa hak Paman menyuruh Bi Onah seperti itu? Kamar Papa tidak boleh ditempati siapapun, termasuk Paman," ucap Aurel tegas.


"Papamu sudah menandatangani surat pengalihan atas rumah dan perusahaan, semuanya atas namaku. Dan kamu tidak boleh berbicara kasar padaku, bagaimanapun juga, aku adalah pamanmu, mengerti!" bentak Edi pada Aurel.


"Kamu tunggu apa lagi? Cepat rapikan barang-barang Aditya ke gudang, dan simpan barang-barang kami disana! Saat kami kembali nanti, harus sudah selesai. Mengerti kalian." Olivia menarik tangan suaminya dan pergi dari rumah. Olivia ingin berjalan-jalan bersama Edi.


Setelah mereka pergi, Aurel menjatuhkan diri, bersimpuh meratapi nasibnya yang menjadi memilukan seperti itu. Bi Onah menghampiri dan memeluk Aurel dengan iba. Sejak kematian ibunya, Aurel mengalami banyak hal pahit. Saat Triana datang ke rumahnya dan memberikannya perhatian serta kasih sayang, Aurel sejenak merasakan kembali kebahagiaan. Namun, kebahagiaan semu itu telah memudar karena Triana harus kembali pada keluarganya.


"Non, sabar, ya. Sabar," ucap Bi Onah.


"Rapikan barang-barang Papa, tapi jangan ke gudang, ke kamarku saja, Bi!" perintah Aurel.


Bi Onah menuruti perintah Aurel dan membawa semua barang-barang Aditya ke kamar Aurel. Aurel tidak tidur di kamarnya, tapi lebih suka di kamar bekas Triana.


Bi Onah selesai merapikan semuanya. Aurel pamit pergi pada Bi Onah. Aurel ingin bertemu ayahnya dan menanyakan, kenapa semuanya dialihkan kepada pamannya.


***


Di rumah Lanzi.


Fitri, Lanzi, Triana dan Daren sedang makan malam. Daren menanyakan Leonard karena dia biasanya tidur bersamaLeonard.


"Mama, kakek uyut mana?" tanya Daren.

__ADS_1


"Kakek uyut sedang jalan-jalan, jauh sekali jalannya. Jadi, kakek uyut tidak bisa pulang kesini lagi. Mulai sekarang, Daren bobo sama nenek saja, ya?" tanya Lanzi dengan sedih. Lanzi sedih mengingat kakeknya, tapi Lanzi tidak dapat menunjukkan kesedihannya di depan putranya.


"Tidak mau, nenek perempuan dan Daren laki-laki. Daren tidak boleh bobo dengan nenek, karena Daren laki-laki dan laki-laki tidak boleh penakut. Daren bobo di kamar kakek uyut sendirian saja," ucap Daren.


Semua tertawa mendengar ucapan Daren. Untuk anak seusianya, Daren termasuk anak pemberani. Ia memilih tidur sendiri daripada tidur dengan neneknya.


"Ya, Daren boleh bobo sendiri. Jika nanti Daren takut, ketuk saja pintu kamar nenek," ucap Fitri. Mereka menyelesaikan makan malam mereka. Selesai makan malam, Lanzi mengajak Daren bermain di ruang keluarga. Sedangkan Triana membantu Fitri mencuci piring dan pembantunya merapikan dan mengelap meja makan.


Meski memiliki pembantu, tapi Triana dan Fitri selalu ikut mengerjakan pekerjaan rumah. Mereka tidak mau berdiam diri. Menurut mereka, lebih baik banyak bergerak agar tubuh tetap sehat. Selesai mencuci piring, Fitri dan Tri membuat teh dan membawanya ke ruang keluarga. Mereka berkumpul di sana, mengobrol dan bercanda sambil menunggu waktu tidur.


"Sayang, bagaimana kuliah kamu? Lanjutkan di kampus Leonard saja!" ucap Lanzi memberi saran.


"Aku sudah memutuskan, tidak akan lagi melanjutkan kuliahku. Aku ingin di rumah saja," ucap Triana.


"Kenapa?" tanya Lanzi.


"Setiap kali aku kuliah, selalu ada saja penghambat. Saat dulu aku harus bertemu dosen pengganti yang super resek, dan akhirnya berhenti kuliah. Sekarang lebih parah, belum juga mulai kuliah, sudah ada masalah yang mengganggu. Jadi, aku akan jadi ibu rumah tangga biasa saja, seperti Mama," ucap Triana sambil memeluk sang ibu.


"Itu bagus, aku akan dukung apapun keputusan kamu, sayang. Tapi... bisakah hilangkan cerita dosen resek itu, dosen resek itu suami kamu, loh, sayang," ucap Lanzi cemberut. Dan tawapun pecah di ruangan itu. Kebahagiaan mereka telah kembali meski mereka sedih kehilangan Leonard, tetapi hidup haruslah tetap berjalan.


Lanzi bersyukur karena keluarga mereka kembali berkumpul, kembali utuh dan kebahagiaan mereka kembali tercipta. Triana melepaskan impiannya menjadi seorang seniman, ia hanya ingin menikmati momen kebahagiaan keluarga mereka seperti sekarang. Triana menyadari betapa tersiksanya saat ia terpisah dari keluarganya. Itu membuat Triana menyadari, impian terbesarnya adalah hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.


--------------------------------------


tinggalkan jejak kalian reader2 ku tersayang


love you semuanya


Author cinta kalian 😘😘

__ADS_1


__ADS_2