
*Kriing Kriing Kriing.
Pesawat telepon berbunyi, Fitri yang sedang duduk di ruang keluarga, bangun dan mengangkat telepon itu. Telepon itu datang dari kantor polisi yang mengatakan bahwa mereka sudah mengetahui lokasi Daren. Setelah menginterogasi Aditya, polisi segera menelepon Lanzi dan Fitri yang menerima telepon itu. Karena Lanzi masih di kamarnya. Triana sudah mandi dan mengganti bajunya. Sedangkan Lanzi masih di kamar mandi. Triana turun dan menghampiri Fitri yang sedang menerima telepon. Setelah Fitri menutup telepon, barulah Triana bertanya.
"Telepon dari siapa, Ma?" tanya Triana.
"Dari kantor polisi, sayang. Mereka bilang, Daren sudah ditemukan," jawab Fitri dengan senyum sumringah penuh kebahagiaan.
"Benarkah?" tanya Triana tak percaya. Ia tersenyum bahagia, tapi senyumnya mendadak berganti dengan raut wajah sedih.
"Kenapa? Kok malah sedih?" tanya Fitri.
"Wajah Tri sudah berubah, Ma. Apa mungkin Daren bisa menerima dan mengenali Tri, hiks," ucap Triana terisak.
Lanzi keluar dari kamarnya dengan pakaian santai, ia segera berlari saat mendengar tangisan Triana. Lanzi melihat Triana sedang dipeluk Fitri dan menangis dalam pelukan ibunya. Fitri mengusap punggung Tri dan menghiburnya.
"Sudah, sudah. Jangan menangis! Mama yakin kalau ikatan seorang ibu dan anak itu lebih kuat. Daren pasti mengenali kamu, sayang," ucap Fitri menghibur.
"Ada apa? Kenapa menangis, sayang?" tanya Lanzi.
"Ini, Lan, polisi baru saja menelepon. Katanya Daren sudah ditemukan dan Tri takut jika Daren tidak mengenali Tri," jawab Fitri.
Kini Lanzi tahu, apa yang membuat Triana menangis. Lanzi juga memiliki kekhawatiran yang sama dengan Triana. Tetapi Lanzi tidak boleh menambah kekhawatiran Triana, jadi Lanzi mencoba tenang dan berharap Daren tetap mengenali Triana.
"Kalau begitu, kita ke sana sekarang, ayo!" ucap Lanzi.
__ADS_1
Fitri, Lanzi dan Triana pergi ke tempat Daren. Ternyata Aditya menitipkan Daren di 'Panti Asuhan Cinta Kasih' dan mereka bertiga sedang menuju ke tempat itu. Lanzi menyetir mobilnya sendiri dan melaju dengan kecepatan sedang.
Tiba-tiba Triana teringat mobilnya yang ia tinggalkan di taman bermain saat ia kecelakaan. Sejak datang ke rumah, Triana tidak melihat mobilnya di garasi. Triana pun bertanya pada Lanzi.
"Mas, mobilku kemana? Kenapa tidak ada di garasi? Apa masih ada di parkiran taman bermain itu?" tanya Triana penasaran.
"Mobil itu sudah aku jual. Melihat mobil itu membuatku terus teringat padamu, karena kupikir kamu sudah meninggal. Nanti Mas belikan mobil baru yang lebih mahal juga tidak masalah," ucap Lanzi.
"Ish... pemborosan. Jangan menghambur-hamburkan uang seperti itu hanya untuk sebuah mobil. Belikan saja mobil sederhana," jawab Triana.
"Bu, putri Ibu benar-benar istri terbaik. Istri kolega dan teman-teman Lanzi semuanya bertolak belakang dengan Tri. Mereka itu malah inginnya berbelanja sesuatu yang mahal yang mewah tapi Tri lebih suka sesuatu yang sederhana. Lanzi makin cinta sma anak Ibu," ucap Lanzi.
Fitri tersenyum mendengar ucapan Lanzi. Triana memang tidak suka tampil berlebihan dengan baju mahal dan barang-barang mewah. Meskipun baju yang Tri pakai bukan baju murah juga, tetapi Triana tidak pernah pergi ke luar negeri hanya untuk berburu barang branded terkecuali pergi ke luar negeri untuk liburan bersama keluarga.
***
Lanzi tiba di halaman panti asuhan. Dua orang polisi menghampiri Lanzi saat Lanzi keluar dari mobilnya.
"Selamat siang Pak Lanzi. Putra Anda, Daren, ada di dalam. Kami sudah mengorek keterangan dari kepala panti, mereka tidak tahu menahu soal Pak Aditya. Pak Aditya menitipkan Daren sementara waktu dan ia berkata pada kepala panti bahwa Daren adalah keponakannya. Apakah Pak Lanzi tetap akan menuntut panti ini?" tanya polisi.
Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam panti dengan menggandeng anak laki-laki berusia tiga tahunan. Ya, anak itu adalah Daren, putra Lanzi dan Triana. Daren segera berlari memeluk Triana.
"Mama," ucap Daren.
Lanzi tersenyum karena Daren langsung mengenali ibunya. Triana menangis dan menciumi wajah putranya dengan penuh kerinduan. Fitri juga juga tersenyum melihatnya. Kekhawatiran Lanzi dan Triana terbukti salah. Meskipun wajah Triana berubah, tetapi hati mereka tetap terpaut. Daren langsung digendong oleh Triana.
__ADS_1
"Bapak, Ibu, saya mohon, jangan penjarakan saya. Bagaimana nasib anak-anak panti yang lain jika saya di penjara. Saya sungguh tidak tahu, saat Pak Aditya menitipkan Daren, sama sekali tidak mencurigakan. Jadi, saya percaya bahwa Daren adalah keponakannya. Saya tidak menyangka ternyata dia menculik Daren dari kalian," ucap kepala panti memohon pada Lanzi.
Lanzi tidak menyalahkan panti asuhan yang merawat Daren. Lanzi bersyukur karena Aditya hanya menitipkan di panti asuhan. Lanzi tidak dapat bayangkan jika Aditya sampai melukai atau menjual Daren. Jadi Lanzi, tidak akan menuntut panti itu.
"Ibu tidak usah khawatir, saya tidak akan melakukan itu. Saya sudah sangat bersyukur bisa menemukan kembali Daren. Anggap saja hal ini tidak pernah terjadi. Saya akan membawa Daren pulang sekarang," ucap Lanzi.
"Terima kasih," ucap kepala panti. Ia bernapas lega karena Lanzi tidak menuntut mereka.
Mobil Lanzi dan mobil polisi keluar dari halaman panti dan berlalu meninggalkan panti asuhan itu.
***
Di rumah Aditya.
Aurel berbaring di ranjang dalam kamar yang Tri pakai saat tinggal di rumah itu. Aurel sangat menyayangi Tri. Walaupun hanya dua minggu mereka bersama, tapi kasih sayang tulus yang Tri berikan pada Aurel sungguh membuat Aurel bahagia.
"Maafkan Aurel, Bu. Aurel terpaksa berkata kasar pada ibu. Kalau tidak, ibu pasti akan memaksa Aurel untuk ikut bersama ibu. Aurel tidak mau masuk ke dalam keluarga ibu, setelah apa yang Papa lakukan pada keluarga ibu. Tapi... Aurel sungguh sayang ibu," gumam Aurel lirih.
Kini Aurel hanya tinggal berdua bersama pembantunya, bi Onah. Bi Onah menatap iba pada Aurel yang berbaring meringkuk di ranjang bekas Triana. Aurel menerima takdirnya kehilangan seorang ibu karena bunuh diri dan kehilangan ayahnya karena di penjara. Untungnya, Aurel adalah gadis yang tegar dan mandiri. Ia bisa tabah meski harus menjalani hidupnya di masa depan, hanya bersama pembantunya.
----------------------------------
sampai jumpa di episode selanjutnya ya readers.
buat yg vote n like novel ini, makasih sebanyak-banyaknya author ucapkan.
__ADS_1
tetap stay sm mereka ya😘