Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (40)


__ADS_3

Wanita paruh baya itu terlihat elegan dan angkuh. Tatapannya seakan-akan menguliti tubuh Aurel. Pakaiannya sangat modis dan berkelas, dia juga menenteng sebuah koper berwarna pink. Sungguh membuat Aurel ketakutan melihat wajah wanita itu. Namun saat wanita itu mulai bicara, semua berubah.


"Hai, sayang. Fariz ada disini kan? Perkenalkan, Melly, mamanya Fariz," ucap Melly dengan ramah.


"Oh. Maaf, Tante, silakan masuk! Kak Fariz mungkin sedang tidur siang." Aurel mengantar Melly ke ruang tamu.


Aurel naik ke lantai atas dan memanggil Fariz. Aurel mengetuk pintu kamar Fariz. Karena tidk ada jawaban, Aurel memutar gagang pintu dan masuk ke dalam kamar Fariz. Fariz ternyata memang sedang tidur. Aurel memperhatikan wajah tampan Fariz dari dekat.


POV Aurel


Alis yang tebal dan bulu mata yang panjang, dia adalah mahkluk Tuhan yang sangat sempurna dimataku. Wajahnya saat tidur begitu damai dan tenang seolah tidak pernah ada beban berat dalam hidupnya. Kulit wajahnya begitu bersih, hidungnya juga lumayan mancung dan bibirnya .... Bibirnya berwarna merah seperti memakai lipstik, tapi aku yakin dia tidak memakainya.


Pertama kalinya dalam hidupku, merasakan sebuah kecupan dari seorang pria dan pria inilah yang melakukannya padaku.


Aku menatap ke sekeliling kamar yang begitu rapi. Jarang sekali melihat kamar seorang laki-laki bisa serapi ini. Dalam hidupku aku hanya pernah masuk dan melihat kamar laki-laki hanya tiga buah kamar, kamar Papa, kamar Kak Fariz, dan kamar mantan pacar yang tidak ingin kuingat namanya. Tanpa sadar, aku terus melamun menatap Kak Fariz, sampai aku lupa bahwa ada seseorang yang mencarinya.


POV author


Aurel sadar dari lamunannya dan mencoba memanggil Fariz untuk bangun. Namun tidak ada reaksi dari Fariz. Dengan ragu-ragu, Aurel mencoba membangunkan Fariz dengan menepuk-nepuk pipi Fariz.


"Kak, Kak Fariz. Bangun kak! Ada yang mencari Kakak," ucap Aurel sambil terus menepuk pipi Fariz dengan pelan.


Di luar dugaan Aurel, ternyata Fariz sebenarnya sudah bangun sejak Aurel melamun mengagumi wajahnya. Fariz menarik tangan Aurel dan membuatnya terbaring di ranjang Fariz. Fariz mengunci kedua tangan Aurel diatas kepala dan berbisik.


"Apa kamu tidak tahu? Berbahaya jika masuk ke dalam kamar laki-laki." Fariz tersenyum melihat Aurel yang terkejut. Wajah Aurel menegang seketika.


"Kak Fariz, lepasin Aurel!"


"Tidak."


"Lepasin, Kak! Aurel kesini mau kasih tahu Kak Fariz kalau dibawah ...."

__ADS_1


"FARIZ!" Melly tiba-tiba datang dan berteriak, melihat posisi Fariz yang menimpa tubuh Aurel dan di mata Melly terlihat seperti sedang berbuat sesuatu yang tidak pantas.


"Mama!" Fariz memanggil Melly dengan terkejut. Fariz segera bangun dan melepaskan Aurel. Aurel pun sama, ia segera bangun dari ranjang dan berdiri dengan menundukkan wajahnya karena ketakutan.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Melly.


"Mama, kenapa Mama ada disini?" tanya Fariz.


"Jangan mengalihkan pertanyaan Mama. Jawab Mama! Apa yang kalian lakukan?" tanya Melly kembali dengan nada yang lebih tinggi.


"Aurel sama Kak Fariz tidak melakukan apa-apa, Tante," ucap Aurel.


"Mama tidak mau tahu, sekarang turun! Ikut Mama," ucap Melly.


Melly keluar dari kamar Fariz dan pergi ke ruang tamu. Fariz dan Aurel menyusul di belakang Melly.


"Kak Fariz, sih. Aurel sudah bilang ada yang mencari Kakak. Kakak malah bercanda, terus sekarang bagaimana?" tanya Aurel berbisik di belakang Melly.


Di ruang tamu, Melly berdiri menatap mereka berdua. Bagaimanapun juga, Melly sedang bertamu, karena itu ia tidak bisa duduk sebelum pemilik rumah mempersilakan.


"Tante, duduk dulu, dan kita bicarakan ini baik-baik," ucap Aurel.


Mereka bertiga pun duduk. Fariz terlihat santai dan biasa saja, tetapi berbeda dengan Aurel yang sangat tegang dan cemas. Melly menatap mereka bergantian lalu mulai menginterogasi.


"Fariz jelaskan sama Mama!" ucap Melly.


"Seperti yang Mama lihat," jawab Fariz santai.


"Apa? Kak Fariz! Tante bukan ... bukan seperti itu Tante. Itu tidak seperti yang Tante lihat," ucap Aurel gugup, Aurel melirik ke arah Fariz agar mau menjelaskan pada Melly.


Fariz berpura-pura tidak melihat dan masa bodoh. Aurel gemas melihat Fariz yang mengacuhkannya, Aurel mencubit lengan Fariz.

__ADS_1


"Aw, sakit, sayang." Fariz malah sengaja memanggil Aurel dengan kata sayang.


"Sayang? Aduh, Mama pusing. Mama tidak mau tahu kalian harus segera menikah!" ucap Melly.


"Hah!" ucap Aurel dan Fariz bersamaan.


"Tidak, Tante. Maaf, Aurel masih sekolah," ucap Aurel mencari alasan.


"Dia sudah lulus, Ma. Fariz setuju saja, Ma. Lagipula, Fariz akan memimpin perusahaan Papa, jadi Fariz pasti bisa menafkahi Aurel." Fariz tersenyum melihat Aurel.


"Kak Fariz, jangan bercanda. Tante lagi mikir kita berbuat macam-macam, dengan Kakak ngomong seperti itu, itu seperti membenarkan tuduhan Tante," ucap Aurel kesal.


"Sudah, sudah! Mama akan panggil paman dan bibimu kesini, kalian akan menikah minggu depan," ucap Melly.


"Tante, Aurel ...." Aurel tidak melanjutkan ucapannya dan hanya bisa menghela napas berat.


Aurel permisi ke kamarnya. Fariz mengajak Melly ke kamarnya. Aurel menahan langkah Fariz.


"Kak Fariz, Tante tidur di kamar Papa saja," ucap Aurel sebelum masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.


Fariz mengangkat koper Melly dan membawanya ke kamar Aditya. Setelah Melly di dalam kamar, Fariz pamit.


"Mama istirahat disini saja dulu, Mama pasti capek," ucap Fariz sambil menutup pintu kamar.


Setelah pintu tertutup, Melly berjingkrak kegirangan. Ternyata Melly hanya berpura-pura marah terhadap mereka.


"Yes! Mimpiku untuk punya menantu segera terwujud. Sebenarnya kasihan melihat Aurel sepertinya stress, tapi mereka juga saling suka. Kalau dinikahkan sekarang juga tidak masalah, meskipun aku tahu mereka tidak melakukan apa-apa," ucap Melly sambil tersenyum sendiri.


Melly memang sangat ingin mempunyai menantu saat usianya belum terlalu tua. Karena iri dengan teman-temannya yang sudah menjadi nenek dan mendapat julukan hot grandma. Melly juga ingin seperti mereka, mempunyai menantu dan menimang cucunya untuk dipamerkan pada teman-temannya.


Fariz masih berdiri di depan pintu dan menguping apa yang Melly ucapkan. Fariz jelas tahu, apa yang ibunya inginkan. Karena itulah dia membuat drama di depan ibunya. Diantara mereka bertiga, sepertinya hanya Aurel yang sedang kebingungan sementara yang lain sangat antusias dan bahagia dengan rencana pernikahan Aurel dan Fariz. Aurel bingung untuk menanggapi ucapan Melly yang ingin mereka untuk segera menikah. Aurel memang suka dengan Fariz, tapi Aurel belum siap jika harus menikah muda. Juga, Aurel dan Fariz belum benar-benar resmi berpacaran, tetapi mereka harus segera menikah.

__ADS_1


__ADS_2