
Fariz pulang ke rumah di jam istirahat kantor. Ia selalu menyempatkan diri untuk makan siang bersama Aurel. Setelah makan siang, Fariz biasanya langsung berangkat ke kampus. Hari ini juga sama, Fariz pulang di jam makan siang.
Tok! Tok! Tok!
"Nyonya, Tuan pulang," ucap Nuni. Nuni membangunkan Aurel yang sedang tidur siang di kamarnya.
"Ya, Bi. Terima kasih," jawab Aurel dari dalam kamar. Aurel sebenarnya tidak tidur, ia hanya duduk di ranjang sambil melihat album foto lama. Ia mengelus foto ibunya, Felicia.
Setelah mendengar jawaban Aurel, Nuni pergi ke ruang makan dan melapor pada Fariz.
"Nyonya sudah bangun, Tuan," ucap Nuni.
"Terima kasih, Bi." Fariz menunggu Aurel sambil melihat jadwalnya dari ponsel. Fari melirik jam tangannya, sudah lima belas menit berlalu, tapi Aurel masih belum turun. Fariz pergi menghampiri Aurel di kamar, karena khawatir.
Di kamar, Aurel masih menatap foto ibunya. Ia berbicara lirih pada foto ibunya.
"Ma, seperti inikah dulu saat Mama mengandung Aurel? Mama kesepian di rumah karena Papa sibuk bekerja. Aurel yakin, Mama adalah orang yang kuat. Mama bisa menahannya selama itu, tapi kenapa, Ma? Kenapa saat Aurel sudah tumbuh remaja, Mama mempunyai teman, Mama justru tidak bisa menahannya dan meninggalkan Aurel. Andai Mama ada saat ini, Aurel akan mempunyai teman di rumah. Aurel tidak akan merasa terlalu jenuh," gumam Aurel lirih.
Fariz yang berdiri di depan pintu, mendengar gumaman Aurel yang pelan tapi masih bisa terdengar dari luar. Fariz terenyuh mendengar keluhan Aurel. Aurel tidak pernah mengeluh di depannya, rupanya kini Fariz tahu jika istrinya merasa kesepian. Fariz tidak tega mendengarnya. Fariz mengetuk pintu dan memanggil Aurel. Fariz berpura-pura tidak mendengar ucapan Aurel.
Tok! Tok! Tok!
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Fariz.
Aurel segera turun dari ranjang dan memoles wajahnya sedikit dengan bedak. Aurel tidak mau jika sampai Fariz melihat wajah kusutnya. Setelah selesai, Aurel segera memasang senyum dan membuka pintu.
"Sudah. Maaf, Kakak lama menunggu," ucap Aurel sambil tersenyum.
"Makan siang dulu, jangan tidur terus," goda Fariz sambil membelai pipi Aurel. Aurel tersenyum di depan Fariz. Fariz pikir, Aurel tidak masalah dengan kesibukannya akhir-akhir ini yang mulai kuliah sambil bekerja. Rupanya Aurel hanya menyembunyikan rasa kesepiannya di belakang Fariz. Fariz jadi merasa bersalah juga khawatir. Fariz khawatir jika kesedihan Aurel mempengaruhi calon bayi mereka.
__ADS_1
Aurel menggamit lengan Fariz dan menariknya melangkah ke meja makan. Aurel tahu Fariz masih harus pergi kuliah setelah makan siang. Aurel tidak mau menghambat kegiatan Fariz. Mereka makan bersama sambil mengobrol.
"Sayang, kamu mau pergi bekerja, kan?" tanya Fariz.
"Ya, bolehkah?" tanya Aurel berharap. Aurel ingin pergi bekerja agar ia tidak merasa jenuh. Jika Aurel bekerja, setidaknya ia punya banyak teman di resto. Meski Aurel tidak yakin mereka akan sama seperti dulu. Setelah tahu jika Aurel adalah pemilik resto, apa mereka akan memperlakukan Aurel seperti biasanya, Aurel juga tidak yakin.
"Boleh. Pergilah bekerja jika kamu mau, dengan syarat," ucap Fariz.
"Apa syaratnya?" tanya Aurel dengan semangat.
"Jangan terlalu capek. Usia kandungan kamu baru empat minggu, masih rentan. Jadi, bekerjalah yang ringan saja, ok!" ucap Fariz.
"Ya. Aurel janji. Lagipula Aurel tidak bekerja sebagai pelayan lagi, jadi tidak akan capek." Aurel menyuap makanannya dengan senyuman lebar.
Fariz senang melihat Aurel bahagia. Fariz akan melakukan apapun untuk membuat Aurel selalu bahagia dan tersenyum.
"Kapan mulai bekerja? Biar Kakak antar jemput kamu, jangan pakai taksi," ucap Fariz.
"Ya, kenapa?"
"Tidak. Aurel cuma nanya," ucap Aurel sambil tersenyum.
Setelah makanannya habis, Fariz pergi ke kamar dan mengganti bajunya dengan baju biasa. Fariz menaruh setelan jasnya di atas ranjang. Aurel membantunya menyimpan jas Fariz ke keranjang cucian. Fariz berpamitan pada Aurel.
"Kakak pergi dulu, hati-hati di rumah," ucap Fariz. Ia mengecup kening Aurel lalu mengecup perut Aurel yang masih rata. Aurel tersenyum geli.
"Kakak yang mau pergi, kenapa aku yang di rumah disuruh hati-hati, haha. Kakak yang harus hati-hati di jalan," jawab Aurel.
Fariz menarik pinggang Aurel lalu mengecup bibir tipis Aurel dengan lembut, dalam dan penuh perasaan. Aurel melingkarkan tangannya di leher Fariz dan membalas kecupan lembut Fariz dengan mata terpejam. Beberapa saat kemudian Fariz menyudahi kecupannya.
__ADS_1
"Kakak jadi malas pergi," goda Fariz sambil mencubit pelan hidung Aurel.
"Kakak harus pergi, ayo!" ucap Aurel sambil menggandeng tangan Fariz. Aurel mengantar Fariz sampai masuk ke dalam mobil. Fariz melambaikan tangan lalu melaju pergi menaiki mobil hitamnya. Aurel masuk kembali ke dalam rumah.
___________________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir juga di sini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
__ADS_1
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏