Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (65)


__ADS_3

Dwiyan mencari es batu di lemari pendingin dan handuk kecil miliknya. Dwiyan selalu membawa handuk kecil untuk mengelap wajahnya saat ia mencuci wajahnya.


"Ini, tempelkan di pipimu! Supaya tidak membengkak parah," ucap Dwiyan.


"Terima kasih, chef," ucap Bunga. Bunga pergi ke ruang istirahat dan duduk di dalam ruangan itu.


Corry masuk ke dapur dan meminta maaf pada Dwiyan.


"Aku minta maaf, Yan. Kalau kamu tidak maju, aku juga tidak akan menampar kamu," ucap Corry.


"Corr, kita memang teman, tapi bukan berarti kelakuan kamu yang salah harus selalu aku dukung. Kamu sudah keterlaluan dengan mencelakakan Aurel, lalu sekarang membuat keributan dengan Bunga. Kamu menampar Bunga, bukannya meminta maaf malah mau kembali menamparnya. Aku sudah tidak bisa diam, terlebih soal Aurel," ucap Dwiyan.


"Aku mencelakai Aurel karena kamu. Aku suka sama kamu, Yan. Sejak dulu, sejak kuliah, aku suka sama kamu. Kamu tidak pernah menatap ke arahku sedikitpun. Saat Aurel pertama masuk bekerja, kamu langsung memberikan perhatian padanya. Bagaimana mungkin aku bisa tahan." Corry melepas celemek yang dia pakai dan masuk ke ruang istirahat untuk mengambil tas.


Dwiyan segera berlari menyusul Corry karena Dwiyan takut, Corry, akan kembali bertengkar dengan Bunga di ruang istirahat. Tetapi Corry hanya Mengambil tasnya lalu keluar dari ruangan itu lalu pulang dengan menggunakan taksi.


***


Erin diam saja tidak bersuara. Gusti melirik dari kaca diatasnya. Erin menatap ke luar jendela. Dia merasa sangat gugup karena hanya berdua dengan Gusti di dalam mobil. Debaran jantungnya terlalu cepat hingga Erin merasa takut jika detakan jantungnya terdengar oleh Gusti.


"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Gusti.


"Ti-dak." Erin menjawab tanpa menoleh.


"Kenapa pucat sekali?"


"Tidak apa-apa, Pak," ucap Erin.


Gusti memarkir mobilnya di basement rumah sakit. Ia membukakan pintu mobil untuk Erin. Erin keluar dari mobil dengan gugup. Setelah Erin keluar, Gusti menutup pintu dan memerangkap Erin hingga punggungnya bersandar di pintu mobil. Erin semakin gugup dan jantungnya berdetak kencang.


"Pak Gusti, mau a-pa?" tanya Erin.


"Aku mau makan kamu," jawab Gusti sambil menatap lekat kedua mata Erin. Pandangan Gusti seolah menusuk dan menyeruak kedalaman rongga dada Erin. Hingga suara Erin tercekat tidak bisa keluar. Namun setelahnya ia kebingungan karena Gusti tiba-tiba tertawa. Gusti menjauhkan tubuhnya dan melepaskan tangan yang menghalangi Erin.

__ADS_1


"Bercanda Bapak kelewatan," ucap Erin sambil mengatur napasnya.


"Habisnya kamu tegang sekali kalau berdua denganku. Kalau suka bilang saja! Kenapa harus gugup dan tegang seperti itu di depanku?" tanya Gusti sambil tersenyum menggoda Erin.


"Si-si-apa yang suka sa-ma Bapak," ucap Erin sambil melangkah, tapi lengan Erin dicekal oleh Gusti dan ditarik kedalam pelukannya. Gusti menangkup dagu Erin lalu mengecup bibir Erin sekilas. Erin bersemu merah dan membisu. Dia tidak bersuara saking terkejutnya.


"Tapi sikapmu menunjukkan hal sebaliknya. Bibirmu mengatakan tidak, tapi hati kamu bilang, ya. Kalau kau suka padaku, bilang saja! Karena aku juga suka padamu," ucap Gusti. Belum sempat Erin bicara, mulutnya kembali dibungkam oleh bibir Gusti. Kali ini Gusti memperdalam kecupannya dan Erin hanya bisa diam hingga saat Gusti membuka pintu mobil dan mendorong Erin masuk kedalam mobil kembali. Gusti menutup pintu dan menguncinya. Gusti kembali mengecup Erin dan menggigit bibir bawah Erin, membuat Erin mau tidak mau akhirnya membuka mulutnya. Erin mencengkram kedua lengan Gusti saat lidah Gusti menjelajah di dalam rongga mulut Erin. Sesekali Gusti juga menghisap lidah Erin.


"Em ...." Erin ingin mengatakan sesuatu tetapi mulutnya terbungkam. Ia hanya bisa menahan lonjakan gairahnya yang tidak seharusnya. Erin pun sekuat tenaga mendorong Gusti. Gusti menjauhkan wajah dan tubuhnya lalu duduk di samping Erin. Gusti merapikan kemeja dan rambutnya.


"Maaf, Pak Gusti. Kita bukan pasangan," ucap Erin.


"Benar. Lalu ... apa kau mau jadi pasanganku?" tanya Gusti.


"Hah! Maksud, Ba-pak?"


"Menikahlah denganku," ucap Gusti sambil tersenyum menatap lekat wajah Erin.


"Bapak bercanda."


"Bapak, serius?"


"Hem, aku serius."


"Tapi, kita baru dekat satu hari yang lalu," ucap Erin.


"Kita bisa lebih dekat kalau sudah menikah," sahut Gusti sambil membelai pipi Erin.


Sebenarnya Gusti sudah lama memperhatikan Erin. Namun Erin terlihat selalu menghindar setiap kali bertemu dan berpapasan dengan Gusti. Tentu saja Erin menghindar, karena ia gugup saat bertemu dengan Gusti. Alasan Gusti bisa melepas Aurel dengan mudah, karena sebenarnya hatinya telah tertambat pada sosok gadis pemalu yang selalu menunduk saat bicara dengannya. Gadis yang selalu menghindar saat berpapasan dengannya.


"Bagaimana perasaanmu padaku, Rin?"


Erin malu untuk menjawab. Tersirat keraguan juga di dalam hati Erin. Erin takut, apa yang Gusti katakan padanya hanyalah fatamorgana yang akan hilang saat Erin menghampiri. Mana mungkin ada sesuatu yang sebaik itu dalam hidup Erin. Sesuatu yang ia impikan, datang menghampirinya sendiri. Pikiran-pikiran itu menggelitik di relung hati Erin. Berkecamuk membelah hati terdalam Erin. Hati yang sedang menimbang untuk menerima atau tidak.

__ADS_1


Namun, Erin juga menyukai Gusti. Haruskah Erin melepaskan kesempatan yang mungkin memang sudah menjadi takdirnya. Takdir untuk menjadi istri Gusti, menjadi pendamping hidup Gusti. Meski ada rasa takut, tapi Erin melawan rasa takut itu. Ia pun memberanikan diri menjawab kedua pertanyaan Gusti sekaligus.


"Saya suka dengan Pak Gusti. Dan saya mau menjadi i-stri Pak Gusti," jawab Erin dengan wajah tertunduk.


"Terima kasih, Rin. Secepatnya kita akan menikah. Aku akan mengajakmu menemui ibuku, segera," ucap Gusti. Gusti mengecup kening Erin, lalu memeluk erat Erin.


"Sekarang, kita jenguk Aurel dulu, pelukannya ditunda, nanti lagi," goda Gusti.


Wajah Erin memerah digoda oleh Gusti. Yang memeluk Erin adalah Gusti, tapi Gusti meledek seolah Erin yang memeluknya dan tidak ingin melepaskannya. Gusti keluar dari mobil dan melangkah bergandengan tangan menuju ruangan tempat Aurel di rawat.


_______________________


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


-Aunty Opposite Door I Love You 


Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘

__ADS_1


Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.


Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏


__ADS_2