Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (47)


__ADS_3

Fariz menarik tangan Aurel agr menjauh dari Bian.


"Jangan dekat-dekat dengan is ... calon istriku," ucap Fariz. Hampir saja Fariz keceplosan mengatakan Aurel adalah istrinya.


"Ya, Kak. Saya tahu Aurel calon istri Kakak, tapi semoga sebelum jadu istri Kakak, Aurel berpindah mencintaiku," ucap Bian sengaja menggoda Fariz yang sedang cemburu.


Aurel dan Bian malah tertawa melihat Fariz. Fariz menarik tangan Aurel dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.


"Kak Fariz, boleh Aurel tanya?"


"Boleh," jawab Fariz.


"Memangnya kemarin kita belah duren ya? Seingat Aurel kita tidak membeli duren," ucap Aurel.


"Hahaha ...." Fariz tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya dengan sebelah tangan.


"Kak, kok malah tertawa sih? Memangnya lucu?" tanya Aurel cemberut.


"Lucu sekali, hahaha. Kamu benar tidak tahu artinya?"


"Kalau aku tahu, mana mungkin aku bertanya," ucap Aurel merengut.


"Jangan kaget kalau Kakak kasih tahu! Belah duren itu, malam pertama," ucap Fariz serius.


Wajah Aurel memerah seketika. Ia langsung berpaling ke arah jendela. Aurel tidak tahu jika yang ibu mertuanya maksud adalah malam pertama.


"Kenapa? Langsung diam." Fariz melirik kearah Aurel.


"Kak, Mama tadi menelepon Aurel dan berpamitan. Apa Mama juga menelepon Kakak?"


"Tidak," jawab Fariz singkat.


"Oh. Kak Fariz datang ke acara pesta kelulusan Aurel, kan?"


"Ya, nanti malam Kakak antar kamu sekaligus lihat drama yang kamu tampilkan," ucap Fariz sambil mengelus pipi Aurel. Aurel tersenyum malu.


***

__ADS_1


Di rumah sakit.


Triana merasa bosan dan ingin duduk bersandar. Lanzi hendak membantu Triana bangun tetapi tangannya ditepis.


"Aku bisa sendiri, jangan sentuh aku!"ucap Triana.


Lanzi kembali duduk di sofa, memandang Triana yang memainkan ponselnya. Lanzi pikir Triana sedang bermain permainan online di ponsel seperti biasanya. Namum ternyata Triana mengirim pesan pada Tom untuk menjemputnya dari rumah sakit.


Setengah jam kemudian Tom datang dan sudah membereskan urusan administrasi rumah sakit. Setelah dari bagian administrasi barulah Tom pergi ke ruang rawat Triana. Lanzi heran saat melihat Tom datang ke rumah sakit.


"Tuan muda, Nyonya muda, saya sudah membereskan administrasi. Kita akan pulang sekarang atau nanti?" tanya Tom.


"Saya tidak menyuruh Pak Tom untuk ke sini," ucap Lanzi.


"Aku yang menghubunginya, aku bosan di rumah sakit dan ingin istirahat di rumah. Bantu saya merapikan barang-barang saya, kita pulang sekarang!" ucap Triana.


Lanzi tidak mengatakan apapun lagi. Dia tidak mau Triana bertambah emosi. Lanzi pikir tadi Triana sudah sedikit mereda amarahnya. Triana pulang bersama Tom. Awalnya Tom hanya berdiri, tetapi Lanzi menyuruh Tom untuk mengantar Triana. Lanzi pergi ke ruang perawatan bayi dan melihat bayi Cintya tidak ada di tempatnya.


Lanzi pergi ke ruang rawat Cintya, ternyata dia juga tidak ada disana. Di ruangan itu hanya ada seorang perawat yang sedang merapikan ranjang rawat.


"Sudah pulang bersama bayinya, Pak. Ini ... saya menemukan ini di meja, mungkin untuk Bapak," ucap perawat itu.


Lanzi mengambil surat itu. Ia membuka dan membaca isi di dalam surat itu.


Mas Lanzi, terima kasih atas kebaikan yang kamu berikan. Aku pamit, maaf tidak menemui terlebih dulu. Ada sebuah hadiah kecil untukmu dariku. Aku menitipkannya pada Triana. Aku yakin dia tidak akan menyerahkannya padamu. Selamat tinggal, Terima kasih.


Lanzi pergi meninggalkan ruangan itu dan memilih untuk pulang ke kantornya. Lanzi tidak mau membuat Triana tertekan dengan kehadirannya. Lanzi memilih mengalah dan tinggal di kantor sementara waktu. Lanzi berbaring di sofa. Pikirannya menerawang sambil menatap langit-langit.


Lanzi tidak menyangka akan ada masalah seperti ini dalam rumah tangganya. Rumah tangga yang begitu harmonis dan bahagia, kini hancur karena dirinya. Lanzi sadar ia memang salah. Meskipun niatnya hanya ingin bertanggungjawab tetapi pernikahan memang bukan sesuatu yang bisa dipermainkan.


Ia telah mempermainkan pernikahannya bersama Triana. Andai waktu bisa diputar ke masa lalu, ia tidak akan melakukan perjalanan bisnis bersama Cintya agar peristiwa pemerkosaan Cintya tidak pernah terjadi. Lanzi juga tidak perlu merasa bersalah dan bertanggungjawab atas musibah yang menimpa Cintya.


Namun, masa lalu tidak bisa dirubah. Lanzi hanya bisa menyesali semuanya tanpa bisa mengubah kenyataan. Kenyataan bahwa ia telah menggoreskan luka yang amat dalam dihati Triana, dihati orang terkasihnya.


***


Malam hari.

__ADS_1


Aurel sudah berdandan rapi ala putri snow white, ia akan memainkan drama putri salju bersama siswa 12G yang lain. Fariz juga sudah rapi dengan setelan jas hitam. Saat Aurel keluar dari kamarnya, Fariz terpesona. Aurel melangkah dengan perlahan menuruni anak tangga. Fariz menunggunya di ujung tangga dengan tangan kanan yang terulur menanti tangan Aurel menyambutnya.


"Ayo kita berangkat my princess," ucap Fariz setelah Aurel tiba dihadapannya dan menggenggam tangannya.


"Kak Fariz, apa-apaan sih, Aurel kan malu." Aurel menunduk tersipu malu.


"Kenapa malu? Aurel sangat cantik hari ini. Awas kalau macam-macam sama Bian!" ancam Fariz.


"Tapi ... ada adegan kiss-nya loh," ucap Aurel sengaja membuat Fariz cemburu. Rencana Aurel berhasil dan wajah Fariz cemberut. Aurel mengecup bibir Fariz sekilas dan Fariz sontak menjadi sumringah.


"Jangan berciuman dengannya atau aku akan benar-benar marah," ucap Fariz. Aurel mengangguk dan Fariz tersenyum lalu merekapun pergi menuju sekolah Aurel.


------------------------------------------


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘


Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.


Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏

__ADS_1


__ADS_2