Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (12)


__ADS_3

Tom pulang ke rumah Leonard tanpa Lanzi. Fitri menunggu Lanzi di teras seperti biasanya. Saat melihat hanya Tom dan supir yang keluar dari dalam mobil, Fitri segera menanyakannya pada Tom.


"Pak Tom, Lanzi tidak pulang? Kemana dia?" tanya Fitri.


"Tuan muda, pergi ke rumah Non Cassy," jawab Tom.


"Oh, ya sudah. Terima kasih, Pak Tom."


"Sama-sama, Nyonya. Saya permisi," ucap Tom, mengundurkan diri dan pergi meninggalkan rumah Lanzi.


***


Di rumah Surya.


Lanzi turun dari taksi, setelah membayar, Lanzi membuka gerbang dan masuk ke dalam halaman rumah Surya. Ia menekan bel pintu.


*Ting tong ting tong.


Ceklek*. Terdengar suara kunci diputar dan pintu itupun dibuka dari dalam. Cassy yang membuka pintu sambil menggendong bayi perempuannya.


"Kak Lanzi, masuklah!" ucap Cassy.


"Mana sini, biar kakak gendong, keponakan kakak." Lanzi meraih bayi dalam gendongan Cassy.


Cassy meneteskan airmata, ia tidak bermaksud memaksa Lanzi. Cassy tahu, meskipun bibir Lanzi tersenyum, tetapi hatinya menangis. Lanzi menatap Cassy yang menangis.


"Kenapa kamu menangis? Dasar cengeng, kakak sudah datang. Kenapa kamu masih menangis?" tanya Lanzi sambil tersenyum menciumi bayi dalam gendongannya.


"Sebel sama Kak Lanzi," jawab Cassy mengalihkan perhatian.


"Ya, aku juga kesal sama kamu, Lan," ucap Surya yang baru datang dari kantor. Surya pulang ke rumah untuk makan siang. Sejak menikah, Surya tidak pernah makan siang diluar.


"Jadi, kalian ingin mengeroyokku? Agh ... menyesal aku datang," ucap Lanzi berpura-pura kecewa. Lalu sedetik kemudian, mereka tertawa bersama.

__ADS_1


Lanzi menggendong putri Surya dan Cassy, sampai kedua orang tua bayi mungil itu selesai makan siang. Cassy mengambil putrinya dari gendongan Lanzi dan menyerahkan pada Surya.


"Akhirnya, papa bisa menggendongmu. Gara-gara pamanmu yang jelek itu, baru sekarang papa boleh menggendongmu," ledek Surya. Lanzi hanya tersenyum mendengar ledekkan Surya.


"Selamat atas kelahiran putri pertama kalian. Maaf, karena baru bisa datang menjenguk. Andaikan Daren masih hidup, dia akan sangat senang melihat bayi kalian," ucap Lanzi sambil menarik bibirnya untuk tersenyum dengan terpaksa.


Cassy dan Surya hanya terdiam mendengar ucapan Lanzi. Karena mereka juga tidak tahu, bagaimana caranya untuk menghibur Lanzi. Cassy menghela napas, ia bingung harus berkata apa.


"Menurut kalian apakah mungkin, jika ada orang, yang suara dan tingkah lakunya mirip Triana?" tanya Lanzi.


Cassy dan Surya saling pandang. Cassy tidak mengerti arah pembicaraan Lanzi.


"Maksud, Kak Lanzi, ada seseorang yang seperti itu?" Cassy bertanya balik.


"Lan, suara dan tingkah laku seseorang di dunia ini selalu ada yang mirip. Kamu jangan berpikir berlebihan," ucap Surya. Cassy mengangguk membenarkan ucapan Surya.


Lanzi juga sebenarnya merasa yang Surya katakan itu benar. Suara orang bisa saja sama, bahkan ada beberapa orang yang bisa menirukan suara orang lain. Lanzi sadar, mungkin dirinya terlalu berpikir berlebihan.


***


Triana datang disambut Aurel. Aurel tidak pernah mau jauh dengan Triana. Tujuan Aurel, agar ayahnya tidak selalu mengganggu Triana.


"Mama, sudah pulang?" tanya Aurel dalam dekapan Triana.


Di kursi teras, Aditya mengawasi gerak gerik Triana yang masih berdiri di depan gerbang. Aditya tersenyum melihat Aurel begitu akrab dan terlihat bahagia. Aditya pikir, Aurel tidak tahu jika Triana bukanlah ibunya.


"Bu, tadi Aurel sudah mencari petunjuk di sekitar rumah, tapi Aurel belum menemukan apapun. Maaf, Bu," bisik Aurel dalam pelukan Triana.


"Tidak apa-apa, ibu akan mencari cara lain untuk mencari Daren," bisik Triana.


"Hei! Aurel, sayang. Masuk! Panas, kenapa kalian berdiri saja di sana?" tanya Aditya.


Triana segera melangkah masuk ke dalam rumah, atau Aditya akan curiga. Triana segera masuk ke dalam kamar. Triana mengambil handuk dan baju ganti, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Triana mondar-mandir di dalam kamar mandi, ia sedang mencari cara untuk membicarakan tentang Daren pada Lanzi.

__ADS_1


"Anak buah Aditya selalu mengikutiku, tapi saat Mas Lanzi menarikku ke dalam kamar mandi, aku tidak melihat dia. Sepertinya, hanya kamar mandi yang bebas dari pantauan anak buah Aditya. Aku harus punya cara untuk memanggil Lanzi, agar mau bicara denganku di kamar mandi." Triana segera membasuh tubuhnya karena ia sudah lama di kamar mandi. Aditya akan curiga jika Triana terlalu lama di kamar mandi.


Triana terkejut saat membuka pintu kamar mandi, Aditya segera mendorong dan mengunci tubuh Triana di dinding samping kamar mandi.


"Lepaskan aku!" teriak Triana.


"Apa yang kau katakan pada Lanzi di kamar mandi?" tanya Aditya sambil mencekik leher Triana hingga Triana terbatuk karena sesak napas.


"Tidak, uhuukk uhuukk ... tidak bicara apapun. Uhuukk uhuukk ... Lanzi curiga jika aku adalah mata-mata dari perusahaan lain. Kau lihat saja tanganku, jika kau tidak percaya!" ucap Triana.


Aditya melihat pergelangan tangan Triana memerah seperti bekas cengkeraman. Aditya percaya ucapan Triana.


"Awas, jika kau berani bermain tak tik di belakangku!" ancam Aditya. Aditya melepaskan tangan yang mencekik leher Triana.


Triana menarik napas dengan cepat untuk mengisi rongga dadanya yang terasa sesak. Aditya keluar setelah mengancam Triana.


"Dasar laki-kaki gila, pantas saja istrinya mengakhiri hidupnya sendiri." Triana melangkah ke pintu dan menguncinya. Triana lalu merebahkan tubuhnya di ranjang. Untung saja Aditya percaya, Triana jadi masih ada kesempatan memberitahu Lanzi. Besok ia berencana pergi ke kantor Lanzi. Triana yakin, Lanzi bisa menemukan Daren.


***


Makan malam.


Tok tok tok.


"Ma, ayo kita makan malam," ucap Aurel dari luar kamar Triana.


Triana tidur dari siang sampai jam tujuh malam. Tubuhnya baru saja sembuh dari sakit, setelah berkeliling di kantor Lanzi, Triana merasa sangat lelah. Triana menggeliat di balik selimut. Samar-samar telinga Triana menangkap suara seseorang yang memanggilnya. Triana membuka mata perlahan, lalu melirik jam dinding.


"Ma, ini Aurel. Makan malam dulu," ucap Aurel yang masih menunggu di depan pintu.


"Aku jadi terbiasa dipanggil Mama oleh Aurel," gumam Triana. Triana turun dari ranjang dan membuka pintu, meski sebenarnya ia malas untuk makan satu meja dengan Aditya. Namun Triana harus tetap berakting di depan Aditya.


"Mama, baru bangun tidur. Mau mandi dulu, Aurel dan Papa duluan saja," ucap Triana.

__ADS_1


"Papa tidak mau, sedari tadi tidak mau makan dan hanya ingin menunggu Mama," ucap Aurel.


"Ya, sudah. Mama cuci muka saja. Aurel tunggu sebentar." Triana pergi ke kamar mandi dan mencuci muka, lalu pergi ke ruang makan bersama Aurel. Aditya tersenyum melihat Aurel dan Triana datang. Mereka makan bertiga di ruang makan. Triana meminta ijin untuk datang kembali ke kantor Lanzi. Aditya mengijinkan.Triana ingin mengatakan semua kebenarannya pada Lanzi.


__ADS_2