Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (46)


__ADS_3

Aurel selesai bersiap-siap untuk sekolah, Fariz juga sudah rapi dan bersiap mengantar Aurel. Mereka sarapan bertiga bersama Melly.


"Ma, ini sup apa?" tanya Aurel.


"Itu sup penyubur kandungan, biar kamu cepat hamil, sayang," jawab Melly.


"Uhuukk ... uhuukk." Aurel tersedak mendengar jawaban Melly.


"Mama. Mama kenapa sih, ngomongin hamil terus?" tanya Fariz. Fariz mengusap punggung Aurel yang terus batuk-batuk karena tersedak air sup.


"Kenapa? Kaliàn, kan, sudah belah duren semalam," ucap Melly sambil tersenyum.


"Belah duren? Apa?" tanya Aurel tidak mengerti.


"Sudah, sudah. Jangan dengarkan Mama!" ucap Fariz sambil menatap ibunya. Melly hanya tersenyum.


***


Di rumah sakit.


Suster membawakan sarapan dan obat untuk Triana dan juga secarik kertas. Triana tidak mengerti maksud suster itu memberinya kertas. Triana membukanya dan membaca isi di dalam surat itu.


Nyonya Triana, bisakah saya bicara dengan anda tanpa Mas Lanzi? Jika bisa, datanglah ke kamar 347 dua kamar dari kamar anda dirawat *Chintya


Triana merobek kertas itu dan membuatnya menjadi potongan kecil lalu membuangnya ke tempat sampah. Triana tersenyum meremehkan.


"Dia pikir dia siapa? Ingin menemuiku? Untuk meminta ijin atau meminta suamiku," gumam Triana dengan pelan tetapi penuh penekanan di setiap kalimatnya.


Setelah suster itu pergi, Lanzi masuk ke dalam ruang perawatan. Lanzi tersenyum menatap Triana tetapi Triana hanya menatapnya dengan dingin. Lanzi duduk di samping ranjang Triana.


"Bagaimana keadaanmu? Sudah merasa lebih baik?" tanya Lanzi. Ia tetap tersenyum melihat Triana meskipun tanggapan Triana tidak berubah.

__ADS_1


"Aku ingin kamu ambilkan baju untukku di rumah! Harus kamu yang mengambilnya," ucap Triana.


"Baiklah, baju warna apa?" tanya Lanzi lembut.


"Yang manapun sama," ucap Triana sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela kamar rawat itu.


Sama seperti hatiku, seperti apapun kamu mencoba menutupi lukaku, hasilnya tetap sama, aku kecewa padamu, Mas.


Lanzi pergi meninggalkan ruangan Triana dan pulang ke rumah dengan menggunakan taksi. Mobil Lanzi masih berada di bengkel setelah kemarin menabrak trotoar. Setelah Lanzi pergi, Triana memanggil perawat untuk membawanya ke ruang rawat Cintya.


Perawat datang dan membantu Triana duduk di kursi roda dan mendorongnya ke ruangan Cintya. Sebelum masuk, Triana menarik napas dalam-dalam mempersiapkan hatinya untuk bertemu madunya. Triana kemudian menyuruh perawat membawanya masuk setelah Triana merasa sedikit tenang.


"Nyonya Lanzi, ada apa memanggil saya kesini?" tanya Triana dengan dingin.


"Anda-lah Nyonya Lanzi sebenarnya. Saya ingin berbicara dengan anda berdua," ucap Cintya melirik ke arah perawat.


"Sus, bisa tinggalkan kami berdua sebentar. Setelah selesai saya panggil kembali," ucap Triana. Perawat itu mengundurkan diri dan Cintya pun mulai bicara.


"Dia mungkin menikahimu karena rasa tanggung jawab dan rasa bersalah. Tetapi kamu ... mencintainya. Jika tidak, bagaimana kamu bisa begitu akrab memanggil nama Mas Lanzi," ucap Triana.


Cintya tertegun dengan ucapan Triana. Ya, karena tebakan Triana tidak salah. Cintya memang jatuh cinta pada Lanzi. Pria yang lembut, penyayang, penyabar dan setia. Siapa yang tidak akan jatuh cinta? Wajah tampannya menambah nilai sempurna sebagai suami idaman.


"Anda benar. Saya memang jatuh cinta pada Lanzi. Tetapi anda tidak perlu khawatir, dihati Mas Lanzi, hanya ada anda. Saya sudah menyampaikan apa yang ingin saya katakan, terima kasih dan maaf," ucap Cintya.


Triana tidak bisa menjawab apapun. Ada rasa kasihan juga terhadap Cintya. Triana kasihan karena gadis cantik dan ramah ini harus mengalami hal pahit seperti itu. Triana menempatkan dirinya di posisi Cintya dan ia mengerti seperti apa perasaannya saat hal buruk itu terjadi. Triana kagum karena Cintya tetap berlapang dada dan tidak mau membunuh anak dalam kandungannya, meskipun itu adalah benih dari empat orang brengsek yang memperkosanya.


Triana memanggil perawat untuk membawanya ke kembali ke ruang rawatnya. Triana menggenggam surat gugatan cerai yang Cintya berikan padanya. Triana merasa galau, haruskah ia memberikannya pada Lanzi atau tidak. Triana berbaring kembali di ranjangnya. Setengah jam kemudian Lanzi datang membawakan baju yang Triana minta.


"Ini bajunya," ucap Lanzi.


"Taruh saja di sofa," jawab Triana.

__ADS_1


Lanzi sedikit heran karena Triana tidak bersikap sedingin tadi. Triana juga tidak mengusir Lanzi saat Lanzi duduk di sofa. Lanzi bersyukur, dan berharap semoga Triana bisa memaafkannya.


***


Di Sekolah.


Fariz menunggu Aurel di depan gerbang sekolah. Hari ini Aurel pulang lebih awal untuk persiapan pesta kelulusan nanti malam. Aurel keluar dari pintu gerbang bersama Bian, Fariz menghampiri Aurel karena merasa cemburu istrinya yang polos itu berdekatan dengan Bian.


------------------------------------


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘


Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.

__ADS_1


Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏


__ADS_2