Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (10)


__ADS_3

Keesokan pagi.


Pagi-pagi sekali Aditya mengetuk pintu kamar Triana. Triana membukanya, Aditya tertegun sejenak melihat Triana. Ya, karena wajah yang ia lihat adalah wajah Felicia, Almarhum istrinya.


"Ada apa?" tanya Triana ketus.


"Baca kertas ini dengan teliti, aku menunggu sampai kau selesai membaca," ucap Aditya, ia duduk di sofa kamar yang Tri pakai.


Triana membacanya di dalam hati, "mengubah namaku menjadi Felicia, dan harus bekerja menggantikannya mengurus kerja sama bersama PT. Leonard Entertainment. Apa sebenarnya yang Aditya mau? Kenapa dia menyuruh aku bertemu Lanzi? Tidakkah dia takut, jika aku mengatakan semua kebenarannya, saat aku bertemu Lanzi?" Triana tidak mengerti, apa sebenarnya rencana Aditya.


"Aku tahu isi pikiran kamu, tapi percayalah, kau tidak akan punya kesempatan memberi tahu Lanzi. Aku mengawasi gerak-gerikmu, satu kata saja yang keluar dari mulutmu, kau akan menyesalinya. Selamanya kau tidak akan bisa bertemu dengan ketiganya, putramu, Lanzi, dan ibumu, Fitri." Aditya merampas kertas di tangan Tri.


"Pria ini gila. Bukan putrinya yang depresi, tetapi dialah yang depresi karena kematian istrinya. Semoga saja, Aurel bisa secepatnya menemukan tempat Daren di sekap." Triana bergumam dalam hati.


"Ganti bajumu, hari ini kita akan menemui suamimu, dan kau harus mengenalkan diri sebagai istriku di depan Lanzi," ancam Aditya. Aditya lalu keluar dan berdiri diluar pintu kamar, menunggu Triana selesai bersiap dan berganti baju.


***


Di rumah Lanzi.


Lanzi sudah rapi, ia berdiri di teras menunggu Tom. Tom terjebak macet dan tiba di rumah Lanzi satu jam kemudian. Biasanya jam tujuh pagi, Tom sudah tiba di rumah Lanzi. Hari ini, Tom terjebak macet karena di jalan yang biasa ia lewati sedang ada perbaikan jalan. Tiba di rumah Lanzi, Tom segera memarkir mobilnya di garasi.


Tom membuka pintu mobil Lanzi yang sudah menunggunya bersama supir. Lanzi naik di belakang dan Tom duduk di samping supir.


"Ada apa, Pak Tom? Tumben sekali, kau terlambat?" tanya Lanzi.


"Maaf, Tuan muda, ada perbaikan jalan, jadi saya terjebak macet," jawab Tom.


"Ya, sudah. Apa jadwalku hari ini?" tanya Lanzi.


"Jam sembilan nanti, Pak Aditya dan istrinya akan berkunjung dan melihat proses syuting iklan minuman herbal diet milik mereka," jawab Tom. Lanzi mengangguk mengerti. Mobil Lanzi melaju membelah jalanan yang sedang padat.


***

__ADS_1


Triana keluar dari kamar dan pergi ke perusahaan iklan milik Lanzi.


Setelah mobil Aditya pergi, Aurel masuk ke dalam ruang baca Aditya. Kedua pengawal Aditya hanya ditugaskan untuk menjaga pintu depan dan pintu belakang. Di dalam rumah, Aurel bebas pergi ke ruang manapun, ketika Aditya tidak ada tentunya. Aurel mencoba membuka laptop Aditya. Aurel berharap, ia bisa mendapatkan petunjuk tentang Daren.


Aurel menyerah setelah beberapa kali mencoba membuka kata sandi di laptop Aditya. Aurel takut jika ia ketahuan mencoba membuka laptop Aditya, karena itu setelah beberapa kali tidak berhasil, Aurel memilih mencari petunjuk di tempat lain. Namun, usaha Aurel tidak membuahkan hasil. Aurel pun keluar dari ruang baca Aditya.


***


Di kantor.


Lanzi dan Tom duduk di ruangan khusus untuk menerima tamu. Ruang khusus itu Lanzi gunakan untuk menerima tamu di luar rapat. Lanzi melirik jam tangannya dengan kesal.


"Pak Tom, ini sudah jam sembilan, kapan Pak Aditya akan datang?" tanya Lanzi pada Tom.


Tok tok tok.


"Nah, itu sepertinya mereka," ucap Tom. Tom menghampiri pintu dan membukanya. Saat pintu terbuka, Lanzi berdiri menghampiri Aditya dan Triana, tapi Lanzi tidak dapat mengenali Triana karena wajahnya sudah berubah.


Deg.


"Kenapa menangis? Ingin berlari ke arahnya? Silakan, asal kau sanggup menerima konsekuensinya," ucap Aditya berbisik di telinga Triana.


"Selamat pagi, Pak Aditya. Selamat pagi, Nyonya Aditya," ucap Lanzi menyapa, ia berdiri dengan jarak satu langkah dari Aditya. Lanzi mengulurkan tangan, menjabat tangan Aditya, lalu beralih. Lanzi mengulurkan tangan pada Triana. Triana mengulurkan tangan perlahan dengan gemetar, sekuat hati menekan perasaannya yang sangat ingin berkata, bahwa itu dirinya, istrinya.


"Ekhem, sayang, ini Pak Lanzi Leonard. Dan ini istri saya Pak Lanzi, Felicia," ucap Aditya memperkenalkan. Aditya seolah memperingatkan Triana dengan ucapan kata 'sayang' yang ditekan. Triana menjabat tangan Lanzi dengan erat.


"Tangan ini, mengapa begitu hangat? Sehangat tangan Tri saat menyentuh kulitku. Kenapa Nyonya Felicia menjabat tanganku begitu erat, dan tidak mau segera dilepas. Bahaya, bisa salah paham Pak Aditya,"


Pikiran Lanzi dipenuhi tanda tanya yang tak terjawab. Lanzi menarik tangannya, ia khawatir jika Aditya cemburu dan salah paham padanya.


"Silakan duduk, Pak Adit dan Nyonya Adit," ucap Lanzi mempersilakan mereka duduk.


Tom pergi ke bagian dapur, lalu ia kembali membawa tiga cangkir teh hijau. Tom kemudian permisi kembali ke ruangannya. Karena itu bukanlah rapat, jadi Tom memberikan privasi pada mereka bertiga.

__ADS_1


"Silakan diminum!" ucap Lanzi.


"Terima kasih," ucap Tri dan Aditya bersamaan.


Deg.


"Suara Felicia, kenapa suara Felicia begitu sama persis dengan suara Triana? Ada apa ini sebenarnya? Apakah karena aku terlalu merindukan Tri?"


Lanzi tertegun mendengar suara Felicia yang tentu saja sama dengan Tri, karena dia memang Triana.


"Pak Lanzi, saya dengar, istri Anda meninggal dua minggu yang lalu. Apakah berita itu benar?" tanya Aditya.


"Meninggal? Jadi, Mas Lanzi pikir, aku sudah meninggal? Mas jangan percaya, Mas. Aku masih hidup, ini aku, Mas,"


Triana terus tertunduk menahan sedih. Jika saja Triana sudah berhasil menemukan Daren, Triana akan dengan lantang mengaku bahwa ia adalah Tri. Saat ini, tujuan Tri hanya ingin mencari Daren dulu. Triana akan memikirkan langkah selanjutnya, jika putranya sudah di tangannya.


"Bukan hanya istri, Pak Adit, tapi juga putra dan kakek saya, meninggal di hari yang sama.


"Kakek ... maksud saya, Tuan Leonard meninggal?" tanya Triana terkejut.


Lanzi terus menatap Triana saat ia bicara. Lanzi benar-benar merasa seolah Triana yang sedang berbicara.


"Benar, Nyonya Adit," jawab Lanzi tersenyum getir.


"Pak Lanzi, panggil saja istri saya Felis, karena terlalu panjang jika terus menerus menambahkan kata Nyonya," ucap Aditya dengan tatapan dingin mengarah langsung ke wajah Tri.


"Baiklah, saya hanya ingin menjaga kesopanan saja," jawab Lanzi.


Triana menangis dalam hati. Triana menyesal karena tidak melihat Leonard untuk yang terakhir kalinya.


"Sayang, kamu mau ikut melihat syuting iklan minuman herbal diet milik perusahaan kita, bukan? Kalau begitu, kamu ikut dengan Pak Lanzi, aku ada rapat." Aditya berdiri dan berpamitan pada Lanzi.


"Pak Lanzi, tolong kerja samanya. Saya serahkan tugas saya, pada istri saya, Felis. Saya permisi," ucap Aditya.

__ADS_1


Lanzi mengantar Aditya keluar dari ruang tamu kantor. Setelah mengantar Aditya keluar dari ruangan itu, Lanzi menyuruh sekertaris mengantar Aditya keluar sampai di lobby.


Di dalam mobil, Aditya menelepon Triana. Aditya sudah membuang semua barang-barang Triana. Ia mengganti ponsel Triana dan memasukkannya ke dalam tas, yang Triana pakai hari ini. Semua barang dan pakaian yang Triana pakai adalah pakaian Almarhumah Felicia. Dalam panggilan telepon itu, Aditya mengancam Triana agar jangan pernah mengungkapkan identitas aslinya, karena Aditya mengawasinya serta menyuruh seorang anak buah untuk mengikutinya.


__ADS_2