Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (75)


__ADS_3

Lanzi menyetop taksi, ia berniat pulang ke rumah setelah tahu bahwa Yuliman sudah mengantar Triana pulang. Ponsel Lanzi bergetar di saku jasnya. Lanzi menerima panggilan dari Surya.


"Halo," jawab Lanzi saat menerima panggilan.


[Halo. Aku dengar kalau Pak Tom akan menikahi Bu Fitri, apa itu benar?]


"Hei, apa kau seorang wanita? Kenapa langsung menanyakan berita seperti wartawan infotainment. Bukannya menanyakan kabar terlebih dulu, dasar kau."


[Haha, maaf. Bagaimana kabar kalian?]


"Sur, jarak rumahku dan rumahmu, tidak sampai setengah hari perjalanan. Hanya butuh setengah jam, tapi kalian tidak pernah berkunjung. Apa kalian sudah tidak menganggap kami?" 


[Tidak begitu, tapi …. Kami sedang ada di luar kota. Sudah dua bulan, kesehatan Cassy bermasalah. Menurut Dokter, paru-paru Cassy terkena infeksi, Dokter menganjurkan untuk membawa Cassy ke tempat yang udaranya bersih. Kami ada Puncak sekarang.]


"Semoga Cassy cepat sembuh. Kenapa kalian tidak membicarakannya dengan kami? Bu Fitri dan Pak Tom akan menikah minggu depan. Fokus saja pada pengobatan Cassy," ucap Lanzi. Ia lalu menutup teleponnya dan memperhatikan jalanan yang padat. Taksi yang ditumpangi Lanzi melaju membelah jalanan Ibukota yang sedang padat. 


***


Di rumah, Triana sedang duduk di teras menanti Lanzi pulang. Sudah hampir waktunya makan malam, tapi Lanzi masih belum pulang.


"Tri, masuklah! Di luar sudah mulai gelap." Fitri mengajak Triana masuk. Triana berdiri tetapi berat untuk melangkah. Ia masih ingin menunggu Lanzi. Fitri menarik tangan Triana agar segera masuk karena cuaca diluar sudah mulai dingin. Saat kaki Triana terangkat dan siap untuk melangkah, suara mobil terdengar mendekat. Triana menoleh dan melihat satpam mereka sedang membuka pintu gerbang. Triana tersenyum.


"Mama masuk lebih dulu," ucap Fitri.


Lanzi segera turun dari taksi dan menghampiri Triana. Lanzi langsung memeluk Triana dengan erat. Ia sudah sangat ketakutan jika Triana kembali dibawa pria lain seperti dulu, dan dipisahkan darinya. Ia sangat bersyukur karena Triana sudah kembali dengan selamat ke rumah. Saking eratnya pelukan Lanzi, Triana akhirnya memarahinya.


"Kasihan bayi kita, Mas. Kamu peluk terlalu erat," ucap Triana.


Lanzi sadar dengan perut Triana yang tertekan. Ia segera melepaskan pelukannya dan mengusap perut Triana lalu mengecupnya.


"Maafin, Papa. Papa terlalu senang karena Mamamu tidak diambil orang lain lagi," ucap Lanzi.


"Ya, sangat beruntung karena aku masuk ke dalam mobil Yuliman kalau tidak …." Triana tidak melanjutkan ucapannya. 


"Sudahlah, ayo masuk!" Lanzi merangkul pundak Triana dan mengajaknya masuk ke rumah. Mereka langsung menuju ke ruang makan karena Fitri dan Daren sudah menunggu mereka di sana.


"Papa, kok lama, Daren sama Nenek nungguin Mama dan Papa." Daren cemberut memandang Lanzi.


"Maaf, sayang. Papa terjebak macet, ayo sekarang Daren makan yang banyak biar sehat dan cepat tumbuh besar," ucap Lanzi. Ia mengusap rambut Daren lalu duduk di sampingnya.


Setelah makan, Lanzi dan Triana juga Fitri duduk di ruang tengah sambil meminum teh. Mereka menemani Daren yang sedang bermain kereta-keretaan. 

__ADS_1


"Em, Tri, Lan, Pak Tom memajukan hari pernikahan. Rencananya besok pagi kami akan menikah, asal sah saja. Kami sudah tua, jadi tidak perlu mendaftar ke KUA," ucap Fitri. 


"Ya sudah, semua terserah Mama. Tri setuju saja, bagaimana menurut Mas?" tanya Triana. 


"Ok. Mas juga tidak ada rapat besok, jadi kita bisa menghadiri pernikahan Mama," jawab Lanzi.


Malam merangkak semakin larut. Daren tertidur di permadani setelah kelelahan bermain. Lanzi menggendong Daren dan membawanya ke kamar. Sejak Leonard meninggal, Daren tidur sendiri di kamar bekas almarhum Leonard. Setelah membaringkan Daren, Lanzi pergi ke kamarnya. Fitri juga sudah masuk ke dalam kamarnya.


Triana menutup panggilan telepon saat Lanzi masuk ke dalam kamar.


"Kenapa ditutup? Jangan-jangan habis menelepon selingkuhanmu ya?" Lanzi menggoda Triana.


"Ya. Aku habis menelepon orang yang paling aku sayang, selain di rumah ini. Aku sangat merindukannya, jadi aku meneleponnya," jawab Triana dengan senyum berbinar.


"Kamu tidak boleh punya selingkuhan, awas kalau berani macam-macam!" ancam Lanzi dengan tatapan menyeringai dan melangkah perlahan mendekati Triana.


Triana yang sedang duduk di tepi ranjang sampai tersudut dan terbaring. Lanzi merangkak di atas tubuh Triana. Triana tersenyum melihat tingkah suaminya.


"Siapa selingkuhan kamu itu? Aku akan mencincang bajunya lalu kubakar habis," ucap Lanzi.


"Haha. Mas cemburu?" 


"Tentu saja, aku ingin melabraknya sekarang juga."


Lanzi menggulingkan tubuhnya dan berbaring di samping Triana. 


"Kenapa harus di rumah Pak Tom? Padahal kalau Mama tinggal di rumah dengan Pak Tom juga tidak masalah," ucap Lanzi.


Triana tidak menjawab, ia memiringkan tubuhnya dan menatap Lanzi di sampingnya. Lanzi mengikuti Triana berbaring miring dan saling berhadapan. Triana menyusuri wajah Lanzi dengan jari telunjuknya. Triana tersenyum mengingat awal pernikahan mereka. Triana menikah dengan Lanzi tanpa saling mengetahui wajah masing-masing. 


Tetapi takdir dari jodoh mereka tetap mempertemukan. Triana kuliah di kampus dimana Lanzi menjadi dosen pengganti dan mereka saling jatuh cinta dan tergoda dengan sentuhan fisik yang mereka lakukan. Triana terus tersenyum, membuat Lanzi penasaran. 


"Kenapa senyum-senyum seperti itu? Kamu mengkhayal yang tidak-tidak ya?" 


"Ya. Aku sedang membayangkan kembali pertemuan kita, Mas. Awalnya aku takut untuk mengakui bahwa aku mencintaimu. Karena aku sudah menjadi istri sah dari seorang pria yang tidak kuketahui seperti apa rupanya. Ternyata, dosen mesum yang selalu menyentuhku dan membuatku terbuai dengan sentuhannya adalah suamiku sendiri. Lucu sekali," ucap Triana sambil mengusap bibir Lanzi dengan jemari lentiknya.


"Jika seandainya dulu, aku bukanlah suamimu, apa kau akan tetap berlari padaku?" tanya Lanzi sambil meraih jemari Triana yang bermain di bibirnya lalu menggenggam dan mengecupnya dengan lembut.


"Entahlah. Karena aku tidak tahu, jika seandainya dulu kamu bukan suamiku. Aku hampir saja pergi sejauh mungkin, karena hatiku dilema. Di satu sisi, aku mulai jatuh cinta padamu. Di sisi lain, aku adalah seorang istri," ucap Triana. 


"Sudah malam. Cukup sekian cerita masa lalunya, kau harus tidur. Ayo berbaring yang benar dan beristirahat," ucap Lanzi. Ia menaikan kaki Triana yang menjuntai ke lantai. Lanzi menyelimuti Triana dan mengecup keningnya. Lanzi mengambil piyama tidurnya dan membawanya ke kamar mandi. Ia membasuh tubuhnya di bawah kran shower air hangat sebelum tidur. Ia lelah setelah terjebak macet cukup lama. Seusai mandi, ia memakai piyamanya dan menyusul Triana ke tempat tidur, lalu Lanzi berbaring memeluk Triana dan terlelap tidak lama kemudian. 

__ADS_1


***


Keesokan harinya, pagi-pagi Lanzi menyuruh Pak Sam untuk mengambil mobil Lanzi di parkiran rumah sakit. 


Hari pernikahan Fitri dan Tom di gelar di gereja terdekat dari rumah Tom. Fitri dan Daren sudah menunggu Lanzi dan Triana yang masih berdandan. 


Ting Tong!


Bel rumah berbunyi. Daren berlari membukakan pintu dan tamu mereka adalah Aurel dan Fariz. 


"Tante, Daren kangen." Daren langsung memeluk kaki Aurel.


"Tante juga kangen sama Daren," ucap Aurel. Ia berjongkok lalu menggendong Daren. Namun Fariz segera merebut Daren dari gendongan Aurel.


"Daren digendong sama Om saja, ya? Soalnya di perut Tante Aurel ada dedeknya," ucap Fariz memberikan pengertian pada Daren. 


"Yeyy, Daren mau punya dedek dua." Daren bersorak senang.


 Aurel menyapa Fitri dan duduk menunggu Triana dan Lanzi bersama Fitri. Aurel melihat kegugupan di wajah Fitri. Aurel membatin, "Aku pikir hanya aku yang merasa gugup saat akan menikah. Ternyata Bu Fitri juga sama saja, padahal sudah pernah menikah. Hum, moment pernikahan memang selalu membuat gugup sang pengantin."


Triana dan Lanzi turun dari lantai atas. Triana berjalan perlahan karena tubuhnya semakin berat, karena usia kandungannya sudah masuk hitungan tujuh bulan. Perut yang semakin membesar membuat Triana mulai berat untuk melangkah. Setelah sampai di anak tangga pertama, Triana berdiri sejenak sebelum kembali melangkah.


"Ayo kita berangkat! Aurel, Fariz sudah lama menunggu?" tanya Triana. 


"Belum kok, Bu. Kami baru datang," jawab Aurel.


Mereka kemudian berangkat dengan dua mobil menuju ke gereja yang akan Fitri dan Tom pakai untuk mengucap janji suci pernikahan.


***


Di rumah Tom.


Hidangan sudah tertata rapi di ruang makan. Tom segera pergi ke gereja dan menunggu Fitri dan yang lainnya di sana. Tom duduk di barisan bangku paling depan dan mengisi waktu dengan berbincang. Tom berbincang dengan pendeta yang akan menikahkan Tom dan Fitri hari ini.


"Saya tidak menyangka, saya akan menikahkan Pak Tom kembali," ucap pendeta.


"Benar. Saya juga tidak menyangka jika say bisa menikah lagi. Anda masih sama seperti dulu Pak Willy," ucap Tom.


Tidak lama kemudian, Fitri dan rombongan sudah datang. Mereka segera melangsungkan pemberkatan pernikahan. Janji suci dua sejoli paruh baya itu telah berlangsung dengan lancar dan khidmat. Tom hendak melingkarkan cincin di jari manis Fitri, tetapi di sana masih terselip cincin pernikahan dari ayahnya Triana.


"Bolehkah, jika saya tetap memakainya?" tanya Fitri dengan perasaan tidak enak hati. 

__ADS_1


Tom mengangguk dan tersenyum penuh pengertian. Fitri memindahkan cincin dari ayahnya Triana ke jari manis sebelah kanan, dan Tom memakaikan cincin di jari manis kiri milik Fitri. Tom tidak masalah jika Fitri terus memakainya, toh hanya sebuah cincin. 


__ADS_2