
"Hoam, jam berapa ini?" gumam Aurel saat terbangun dari tidurnya. Aurel tertidur sore tadi setelah menyiram tanaman. Aurel memijat pundaknya, ia terlalu banyak tidur hari ini. Setelah makan siang dan meminum obat, Aurel tidur. Sore, setelah menyiram tanaman, Aurel kembali tidur.
"Jam tujuh malam," jawab Fariz.
Aurel sedikit terkejut karena seingatnya ia tidur sendiri tadi sore. Aurel tidak sadar, sejak kapan Fariz terbaring di sampingnya. Fariz bangun dan bersandar di kepala ranjang.
"Sejak kapan Kaka disini?" tanya Aurel sambil mengikat rambutnya.
"Sejak sore, Kakak di disampingmu," jawab Fariz.
"Oh. Aurel mandi dulu," ucap Aurel sambil turun dari ranjang.
"Sudah malam. Kakak siapkan air hangat dulu untukmu." Fariz pergi ke kamar mandi dan mengisi bak mandi dengan air hangat. Setelah air mandinya siap, Fariz kembali ke ranjang dan menggendong Aurel ke kamar mandi.
"Mandi lah! Setelah mandi dan ganti baju, kita makan malam." Fariz menutup pintu kamar mandi dan turun ke bawah, berkumpul bersama yang lain.
"Fariz, sini! Ini ada hadiah kecil untukmu dari Papa. Bukalah!" ucap Subrata. Ia menyerahkan sebuah amplop besar berwarna coklat. Fariz menerima amplop itu. Dengan hati penasaran, ia membukanya.
"Ini, apa, Pa? Surat kuasa untuk memimpin perusahaan. Pa, Fariz belum membicarakannya dengan Aurel. Entah Aurel akan setuju atau tidak, jika Fariz pulang ke Malang dan bekerja disana," ucap Fariz dengan suara pelan. Fariz takut suaranya terdengar oleh Aurel.
"Baca dulu dengan teliti!" titah Subrata.
Fariz membaca kembali berkas-berkas surat kuasa itu. Di atas kertas putih itu tertulis jika Subrata membuat kantor cabang di Jakarta dan Presdir yang akan menjabat di kantor cabang di Jakarta adalah Fariz Subrata. Fariz tersenyum melihat Alea, Melly dan Subrata bergantian.
"Terima kasih, Pa," ucap Fariz.
"Perusahaan yang di Malang, biar adikmu Aurel yang membantu. Tapi ingat, perusahaan itu tetaplah tanggung jawabmu. Kamu hanya mengontrolnya dari jauh," ucap Subrata.
"Ya, Pa. Fariz janji akan menjaga perusahaan kita dengan baik," ucap Fariz dengan yakin.
"Besok pagi kita pergi ke kantor cabang yang akan kamu pimpin. Sebelum kamu kuliah. Kalau bisa, kamu ubah jadwal kuliahmu ke sore hari. Jadi kamu bisa pergi ke kantor pagi hari dan kuliah di sore hari. Papa juga sudah menyewa pembantu, agar Aurel tidak terlalu capek dan juga ada orang yang menemani," ucap Subrata kembali.
Mereka makan malam setelah Aurel turun dari kamarnya. Alea, Melly dan Subrata masuk ke kamar masing-masing, sedangkan Aurel dan Fariz menonton drama Korea. Aurel sangat suka melihat drama Korea. Hingga jam sepuluh malam, Aurel kembali merasa lapar dan ingin makan sesuatu. Ia melirik jam, sudah jam sepuluh malam.
Aurel sesekali melirik ke arah Fariz. Antara bicara pada Fariz atau tidak, Aurel menimbang dalam pikirannya. Tetapi ia sangat ingin makanan itu. Aurel duduk dengan gelisah dan tak henti melirik jam setiap lima menit sekali. Fariz menangkap gelagat aneh dari Aurel.
__ADS_1
"Kenapa, sayang? Gelisah sekali," ucap Fariz.
"Tidak ada," jawab Aurel singkat.
"Hei, Kakak tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari Kakak. Ada apa?" tanya Fariz sambil mengusap kepala Aurel.
"Sebenarnya, Aurel lapar. Aurel ingin makan mie goreng seafood, tapi kalau Kakak tidak bisa membelikannya tidak apa-apa. Lagipula ini sudah malam," ucap Aurel. Ia segera meralat ucapannya karena takut Fariz merasa terganggu dan marah.
"Kalau kata orang tua jaman dulu. Kalau istri sedang hamil dan meminta sesuatu, maka harus diberikan. Jadi, Kakak akan pergi, kamu tunggu disini," ucap Fariz.
Aurel tersenyum karena Fariz akan membelikan makanan yang ia mau. Aurel berbaring di sofa sambil menunggu Fariz yang baru saja pergi.
***
"Mas, sudah selesai?" tanya Triana di ruang kerja Lanzi.
"Sedikit lagi, ini hanya tinggal satu berkas lagi yang belum Mas baca dan tandatangani. Kenapa?" tanya Lanzi sambil membaca berkas kerja sama iklan pembersih porselen.
"Aku mau makan mie goreng seafood," ucap Triana.
"Oh. Mas belikan kalau begitu," ucap Lanzi. Ia menutup berkas yang sedang ia baca. Baginya pekerjaan nomor dua. Nomor satu tetaplah keluarga. Lanzi Pergi dengan mobilnya.
***
"Om Lanzi," sapa Fariz.
"Eh, Fariz. Darimana mau kemana?" tanya Lanzi.
"Ini, Aurel ingin makan mie goreng seafood," jawab Fariz.
"Sama. Triana juga meminta mie goreng seafood. Duduklah! Sambil menunggu pesananmu," ucap Lanzi. Fariz menurut dan duduk disamping Lanzi. Pesanan mereka sudah selesai di bungkus, ia berpisah dan masuk ke dalam mobil masing-masing.
Fariz pulang ke rumah setengah jam kemudian. Saat ia datang, Aurel tertidur di sofa. Fariz membawa mie itu ke dapur dan memindahkannya ke dalam piring. Fariz membawanya ke ruang keluarga lagi. Aurel terbangun saat merasakan sentuhan jemari Fariz di pipinya.
"Kak, sudah pulang?" tanya Aurel.
__ADS_1
"Ya. Mie goreng seafood-nya sudah Kakak taruh di piring. Makanlah!" ucap Fariz. Aurel mengangguk dan memakan mie itu dengan lahap.
Aurel tidak mengalami mual muntah seperti Triana di awal kehamilannya. Itulah kenapa, Aurel tidak tahu jika dirinya tengah hamil. Fariz sengaja hanya membeli satu bungkus, karena ia tidak ingin makan mie. Jika Aurel tidak sedang hamil, pasti Fariz juga melarangnya makan mie.
***
Lanzi sudah membawakan mie goreng seafood dalam piring ke kamar. Namun dengan alasan masih panas, Triana tidak segera memakannya. Yang ada Triana kembali menghias wajah Lanzi dengan make up komplit dengan baju tidur sexy.
"Em, apa yang kurang, ya?" Triana menilik tubuh Lanzi dari wajah hingga telapak kaki. Ia berpikir apa kira-kira yang kurang. Dan Triana mengambil sebuah bando dam memakaikannya di kepala Lanzi. Triana tersenyum lalu memakan mie-nya.
Lanzi menghela napas berat. Ia jadi berpikir, apa mungkin calon anak mereka ini adalah anak perempuan? Karena Triana sering sekali mendandani Lanzi seperti wanita. Lanzi bersyukur kali ini hanya di rumah, tidak seperti yang lalu saat Triana mengajak Lanzi jalan-jalan dengan riasan perempuan.
___________________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
__ADS_1
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏