
Aurel masuk ke ruang operasi. Setengah jam kemudian, Dokter yang menangani Aurel, keluar dari ruang UGD.
"Maaf, apakah Bapak ini suaminya pasien?" tanya Dokter.
Erin dan Gusti saling melirik, meskipun tidak tahu apa yang ingin Dokter katakan, Gusti mengiyakan pertanyaan Dokter.
"Ya, Dok."
"Pasien sedang hamil, apa Anda tahu?" tanya Dokter.
Gusti dan Erin terperangah mendengar ucapan Dokter. Darah Gusti seketika bergejolak, ia tahu kemungkinan terbesar, siapa ayah bayi dalam kandungan Aurel. Gusti marah karena tidak tahu jika Aurel dan Fariz sudah menikah tiga setengah bulan yang lalu.
"Saya tidak tahu, Dokter. Bagaimana keadaan ibu dan dan bayi dalam kandungannya?" tanya Gusti khawatir.
"Pasien pendarahan cukup banyak, untungnya ... meskipun pasien masih muda tetapi kandungannya kuat. Pasien tidak sampai keguguran. Ke depannya, jangan sampai pasien terjatuh kembali atau akan berakibat fatal," ucap Dokter.
"Syukurlah, terima kasih, Dokter." Gusti mengantar Aurel yang dibawa di brankar untuk di pindah ke ruang rawat inap. Erin juga mengikuti dari belakang. Setelah Aurel di pindahkan ke ranjang rawat, Gusti menitipkan Aurel agar dijaga oleh Erin.
"Erin, aku pergi sebentar. Jaga Aurel!" Gusti segera pergi dengan mobilnya. Lantai belakang mobil itu masih berbau amis karena darah Aurel masih tertinggal disana. Tempat yang Gusti tuju adalah rumah Aurel, ia tahu, Aurel tinggal serumah dengan Fariz.
Gusti memacu kendaraannya dengan penuh kemarahan. Ia sudah sangat ingin menghajar orang yang sudah membuat Aurel hamil. Berkali-kali Gusti mengutuk Fariz.
"Pria kurang ajar, perusak, akan kuhajar kau habis-habisan! Lihat saja!" ancam Gusti.
Gusti sampai di depan rumah Aurel, ia turun dan masuk ke dalam gerbang. Gusti menggedor-gedor pintu rumah Aurel dengan sekuat tenaga, membuat Alea yang sudah mulai tertidur pun, bangun dan keluar dari kamar. Fariz melangkah menuju pintu depan, saat ia membuka pintu.
Bug!
"Kurang ajar, akan kuhabisi kau!" Gusti langsung memberikan bogem mentah ke pipi Fariz.
Alea mendengar keributan dan segera berlari turun ke arah pintu depan. Betapa terkejutnya Alea melihat kakaknya sedang dihajar oleh Gusti. Alea segera berlari dan memisahkan mereka.
"Apa yang kau lakukan pada kakakku? Lepaskan!" Alea menarik tangan yang sedang mencengkram kerah baju Fariz.
"Minggir! Aku harus memberinya pelajaran!" Gusti mendorong Alea hingga terjengkang.
__ADS_1
"Alea!" Fariz terkejut bercampur marah melihat Alea terjatuh. Fariz gantian mencengkram kerah baju Gusti.
"Aku tidak tahu, kenapa kau datang-datang menghajarku? Aku diam karena menunggumu tenang dan bicara baik-baik. Satu yang membuatku marah saat ini, karena kau menyakiti adikku. Ada apa denganmu?" tanya Fariz sambil menatap tajam ke arah Gusti dengan amarah yang memuncak.
"Kau pantas mendapatkannya. Kau sudah menghancurkan mada depan Aurel. Harusnya aku membunuhmu, pria kurang ajar," ucap Gusti dengan pandangan tidak kalah tajam.
Alea bangun dan menahan tangan Fariz agar tidak melanjutkan pertengkaran mereka.
"Kalian bisa membicarakannya dengan baik-baik, kalian ini sudah dewasa," ucap Alea.
"Itu pantas kakakmu dapatkan. Dia sudah membuat Aurel hamil, dia harus bertanggungjawab!" Gusti melepaskan tangan Fariz darinya.
"Aurel hamil?" tanya Fariz tidak percaya.
"Ya, dia hamil dan hampir saja keguguran. Sekarang dia sedang dirawat di rumah sakit. Kenapa, kaget? Ch," Gusti mendecih.
"Kakak ipar hamil? Ada apa dengannya? Kenapa sampai ada di rumah sakit?" tanya Alea khawatir.
Gusti mengernyit heran mendengar Alea mengatakan Aurel kakak iparnya. Gusti menatap ke arah Fariz dan bertanya.
"Kakak ipar?"
***
Di rumah sakit.
Aurel sadar dan menatap sekeliling, ia sadar dirinya pasti di rumah sakit. Erin mendekat dan duduk di samping ranjang rawat Aurel.
"Bagaimana keadaanmu? Apa masih sakit?" tanya Erin.
"Sudah lebih baik, terima kasih, Rin. Apa yang terjadi denganku? Bukankah aku hanya jatuh?" tanya Aurel sambil mencoba bangun. Erin bangun dan membantu Aurel untuk duduk bersandar.
"Kamu hampir saja keguguran, apa kamu tidak sadar jika kamu sedang hamil?" tanya Erin.
"Hamil?" Aurel mengulang perkataan Erin.
__ADS_1
"Ya, dan Kak Gusti sepertinya tahu siapa pria yang menghamili kamu. Dia pasti sedang menghajarnya sekarang," ucap Erin.
"Hah!" Aurel terkejut dan khawatir pada Fariz. Gusti sudah salah paham dan Aurel tidak bisa menghentikannya, karena ponsel dan tas Aurel masih di loker resto.
"Rin, boleh pinjam ponselmu?" tanya Aurel. Ia harus segera memberitahu Fariz. Aurel menelpon ponsel Fariz, tidak ada jawaban, ia pun menelpon ponsel Alea tetapi sama saja tidak ada jawaban. Aurel pun menelpon ke nomor telpon rumah. Tidak ada satupun yang bisa dihubungi. Aurel tidak bisa berbuat banyak, ia hanya berdoa supaya Fariz baik-baik saja. Aurel mengembalikan ponsel Erin.
Aurel dan Erin terkejut saat pintu terbuka dengan keras. Fariz segera mendekati Aurel dan memeluknya.
"Kamu tidak apa-apa, kan, sayang?" tanya Fariz dengan cemas.
"Tidak, Kak."
Alea dan Gusti masuk belakangan. Erin sedikit cemburu melihat Gusti masuk ke dalam bersama seorang gadis. Rupanya Erin menyimpan perasaan pada Gusti selama ini.
----------------------------------------------
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
__ADS_1
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏