
Gusti mengetuk pintu dan Fariz menyambut mereka.
"Gus, Rin, kalian datang bersama?" tanya Fariz.
"Ya. Bagaimana keadaan Aurel?" tanya Gusti.
"Sudah lebih baik," jawab Fariz.
Gusti masuk ke dalam sambil menggandeng tangan Erin. Erin menarik tangannya tetapi Gusti tidak mau melepaskannya. Erin malu karena Fariz dan Aurel melihat mereka. Aurel tersenyum melihat Gusti menggandeng tangan Erin. Dulu Aurel merasa sangat tidak enak hati karena sudah menolak Gusti. Tapi kini, Aurel bisa merasa tenang karena Gusti sudah mendapatkan pendamping hidup yang baik seperti Erin. Aurel sudah cukup mengenal Erin, selama tiga bulan ia menyamar menjadi pelayan, Erin tidak pernah sedikitpun membongkar rahasia Aurel.
"Kenapa harus malu, Rin? Aku setuju jika kamu memilih Kak Gusti. Dia pria yang baik," ucap Aurel.
"Terima kasih, Mba," ucap Erin.
"Mba? Panggil saja Aurel seperti biasanya," ucap Aurel.
"Tapi, Mba adalah atasan saya. Mba adalah pemilik resto tempat saya bekerja." Erin memanggil Aurel dengan panggilan 'Mbak' karena saat ini semuanya sudah tahu, bahwa Aurel sebenarnya pemilik resto. Akan terasa tidak sopan jika terdengar oleh orang lain.
"Kau adalah kakakku, tidak perlu membedakan posisi dari jabatan. Disini, posisinya kau adalah calon kakak iparku. Karena Kak Gusti sudah kuanggap sebagai kakakku. Panggil saja Aurel, Kak," ucap Aurel.
Gusti bicara berdua dengan Aurel, sedangkan Erin duduk di sofa bersama Fariz dan hanya mendengarkan pembicaraan mereka berdua dengan seksama. Gusti membicarakan Corry yang sudah mencelakai Aurel, apakah Aurel akan memecatnya atau melaporkannya ke polisi karena sudah mencelakai Aurel. Namun jawaban Aurel membuat Erin kagum. Gadis itu, oh bukan, wanita itu begitu baik dan pemaaf di mata Erin. Karena Aurel memaafkan Corry begitu saja, padahal ia hampir saja kehilangan calon bayinya.
"Ya, sudah. Istirahatlah! Saat kau akan kembali ke resto, bilang dulu padaku. Aku akan menyiapkan ruang kantor supaya nyaman," ucap Gusti.
"Terima kasih, Kak," ucap Aurel.
"Kau bilang, aku ini kakakmu. Jadi, sudah seharusnya aku melindungi adikku. Sekarang aku harus mengantar calon kakak iparmu pulang, semoga lekas sembuh," ucap Gusti berpamitan.
"Rel, aku pamit pulang. Semoga lekas sembuh," ucap Erin.
"Terima kasih, Kak. Hati-hati di jalan," ucap Aurel.
Gusti pun pergi meninggalkan ruang rawat Aurel dan berjalan menuju parkiran. Ia kembali menggandeng tangan Erin. Erin membalas dengan menautkan jemari mereka dan tersenyum malu-malu. Gusti pun ikut tersenyum melihat senyuman Erin. Mereka sampai di parkiran, Gusti membukakan pintu untuk Erin. Erin masuk dan duduk di samping kemudi. Gusti memutari mobil dan masuk kedalam mobil, ia menyalakan mesin mobilnya dan mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Erin.
Di dalam ruang rawat, Aurel dan Fariz hanya berdua. Alea, Melly, dan Subrata sedang pulang ke rumah Aurel untuk menaruh koper Melly dan Subrata, juga sekalian mereka ingin mandi dan beristirahat sejenak di rumah.
"Mau makan sesuatu tidak? Kalau kamu menginginkan sesuatu, bilang saja. Kakak tidak mau jika nanti anak kita ileran terus gara-gara ingin sesuatu dan tidak terkabul," ucap Fariz.
"Tidak ada, untuk saat ini. Jika nanti Aurel mau, Aurel akan bilang," ucap Aurel.
__ADS_1
Fariz mengelus rambut Aurel lalu mengecup perut Aurel yang masih rata. Aurel tersenyum geli melihat Fariz mengecup perutnya.
"Masih kempes, sudah diciumi terus," ucap Aurel tersenyum.
"Tidak apa-apa. Karena Kakak sangat bahagia. Oh, ya, soal rencana pesta pernikahan kita nanti bagaimana? Kamu mau pakai konsep apa?" tanya Fariz.
"Kalau aku bilang tidak perlu membuat pesta, apa Mama akan marah?" tanya Aurel. Ia tahu, yang sangat ingin mengadakan pesta adalah Melly, sang ibu mertua. Melly ingin memamerkan jika ia sudah punya menantu. Tapi Aurel malas untuk membuat pesta.
"Kita bicarakan nanti dengan Mama, ya? Kakak tidak berani mengambil keputusan. Tapi, Kakak janji akan ikut memberi pengertian pada Mama," ucap Fariz.
Aurel merasa lelah dan mengantuk. Ia membaringkan tubuhnya. Fariz menarik selimut dan mengecup kening Aurel dengan lembut.
***
Di rumah, Alea dan Melly sedang menghias rumah mereka dengan segala macam hiasan untuk pesta ulang tahun. Alea memompa balon dengan pompa untuk ban. Sementara Melly sedang mencatat bahan-bahan untuk membuat kue.
Lusa adalah hari ulang tahun Fariz bertepatan juga dengan Aurel yang akan pulang. Tadi pagi saat Dokter memeriksa Aurel, Melly sudah menanyakan kapan Aurel bisa pulang. Ternyata kepulangan Aurel dari rumah sakit bertepatan dengan ulang tahun Fariz. Karena itu, Melly sekalian membuat pesta kecil-kecilan untuk menyambut Aurel dan merayakan ulang tahun Fariz.
Subrata yang merangkai balon-balon itu di dinding setelah Alea mengikat balonnya. Melly melihat jam dinding, sudah jam sepuluh malam.
"Sudah malam, kita istirahat. Kita lanjutkan besok lagi," ucap Melly.
Alea pergi ke kamarnya dan Melly tidur di kamar yang kemarin pernah ia tempati. Mereka kelelahan setelah dari tadi sore berbelanja perlengkapan hiasan pesta dan menghias ruang keluarga. Mereka dengan cepat terlelap dan berkelana di alam mimpi.
***
Mobil Gusti sudah berhenti di depan pintu gerbang rumah Erin. Gusti turun dan membuka pintu mobil untuk Erin. Erin keluar dari mobil.
"Bolehkah jika aku mampir?" tanya Gusti.
"Boleh, tapi …."
"Tapi, apa?" tanya Gusti penasaran.
"Tapi, tidak boleh berbuat macam-macam," ucap Erin gugup. Erin takut membuat Gusti tersinggung. Ia tertunduk, tidak berani menatap wajah Gusti.
"Ekhem, i-tu aku tidak bisa berjanji," ucap Gusti. Gusti tersenyum menggoda Erin.
"Apa?" Erin membelalak mendengar ucapan Gusti.
__ADS_1
"Haha, aku bercanda. Rin, aku tidak akan merusakmu sebelum kamu benar-benar menjadi milikku. Kamu bisa pegang janjiku," ucap Gusti. Erin menarik sudut bibirnya. Senyumnya merekah indah bak bunga mawar di pagi hari. Erin membuka pintu dan mempersilakan Gusti masuk.
"Rumahmu sangat nyaman. Kamu sendirian di rumah?" tanya Gusti. Erin membisu dan berlalu masuk ke dalam kamar. Ia menaruh tasnya di meja rias dan mengganti baju karyawan yang masih ia pakai. Karena Gusti sedang menunggu, Erin menunda rencana mandinya.
Erin keluar dan mempersilakan Gusti duduk.
"Duduklah! Aku buatkan kamu teh," ucap Erin sambil melangkah ke arah dapur. Ia membuatkan teh dan memberikannya pada Gusti.
"Minumlah, aku tidak punya camilan untuk menemani tehnya," ucap Erin.
"Terima kasih, sudah merepotkan kamu," ucap Gusti. Mereka duduk berdampingan, saling berdiam diri dan tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Hingga Gusti membicarakan rencananya membawa Erin untuk bertemu ibunya di Yogyakarta. Erin hanya mengangguk dan ikut saja apapun rencana Gusti. Karena waktu yang semakin larut dan hampir tengah malam, Gusti pamit pada Erin. Erin mengantar Gusti keluar dan pergi dengan mobilnya. Setelah mobilnya tidak lagi terlihat, Erin masuk ke dalam rumah dan menguncinya.
_______________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏
__ADS_1