Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (21)


__ADS_3

Aurel pergi ke kantor polisi untuk bertemu ayahnya. Sebenarnya itu bukanlah jam besuk tahanan, tetapi polisi yang bertugas malam itu merasa kasihan pada Aurel, jadi polisi itu mengijinkan Aurel bicara. Tetapi bukan Aditya yang dibawa keluar, melainkan Aurel yang dibawa masuk ke dalam sel. Aurel berdiri di depan sel tempat Aditya ditahan. Aurel melihat didalam sel itu, terdapat beberapa orang tahanan.


"Kenapa kamu kesini malam-malam begini, sayang?" tanya Aditya.


"Pa, kenapa Papa mengalihkan perusahaan dan semua harta Papa pada Paman Edi. Papa tahu kan, sejak dulu Paman Edi ingin merebut semua milik Papa?" tanya Aurel.


"Papa tidak melakukan itu, sayang. Papa juga tidak tahu kenapa bisa begitu," ucap Aditya.


"Jadi... mereka menipu Papa. Papa tenang saja kalau begitu, Aurel akan berusaha mengambil kertas itu dan melaporkannya pada polisi. Aurel pulang dulu, Papa jaga kesehatan," ucap Aurel. Ia kemudian pulang ke rumah.


***


2 Tahun kemudian.


"Aurel!" panggil Olivia dari ruang tamu.


"Ya, Bi," jawab Aurel dari dapur. Aurel berlari menghampiri Olivia di ruang tamu.


"Buatkan teh hijau untuk tamuku. Dia ini anak teman bibi, dan dia akan tinggal di sini sementara waktu. Jadi, kamu pindahkan barang-barang kamu ke kamar sebelah! Lalu rapikan barang-barang Fariz, mengerti?" tanya Olivia.


"Ya, Bi," jawab Aurel patuh.


"Sudah sana!" ucap Olivia.


Fariz menatap kepergian Aurel dengan senyuman. Fariz terpesona dengan kecantikan Aurel, tanpa sadar Fariz bergumam.


"Cantik."


"Terima kasih," jawab Olivia. Dia pikir, Fariz sedang memujinya.


Fariz tersenyum geli melihat Olivia yang salah paham. Fariz, pemuda berumur sembilan belas tahun yang baru saja mendaftar kuliah di salah satu universitas swasta. Awalnya Fariz kuliah di Malang, karena Fariz adalah murid yang pintar, akhirnya ia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Jakarta. Karena tidak punya tempat tinggal, orang tua Fariz menitipkan Fariz pada Olivia.

__ADS_1


"Tante, boleh Fariz lihat halaman belakang?" tanya Fariz.


"Boleh dong, sayang. Kamu istirahat saja dulu di rumah, Tante ada janji makan siang dengan om di kantor. Kalau mau makan, kamu minta Aurel buatkan," ucap Olivia.


"Ya, Tan."


Olivia pergi dengan mobil sedan hitam. Fariz pergi ke dapur untuk mencari Aurel. Fariz ingin berkenalan dengan Aurel.


Aurel selesai menyeduh teh dan berbalik hendak membawanya ke ruang tamu, tapi Fariz yang tiba-tiba datang, membuat Aurel terkejut dan menabrak tubuh Fariz.


*Brukk.


Aurel menabrak Fariz dan teh yang dibawanya, terjatuh dan air teh itu menyiram dada bidang Fariz.


"Aduh! panas... panas," ucap Fariz mengibaskan kaos hitam yang dipakainya.


"Maaf, saya gak sengaja. Maaf ...." Aurel mengambil kain lap dan mengelap baju Fariz.


Fariz menatap wajah Aurel yang sedang serius mengelap baju Fariz yang basah, terkena tumpahan air teh. Aurel mengangkat wajahnya dan pandangan mata mereka beradu. Fariz terpesona menatap kedua mata indah dan bibir tipis berwarna pink alami. Aurel merasa risih dengan tatapan Fariz, ia pun mundur dan kembali meminta maaf.


Aurel memindahkan semua barang-barang miliknya, ke kamar yang dia pakai untuk menyimpan barang-barang Aditya. Aurel akan tidur bersama barang-barang yang menumpuk di kamar itu, sedangkan kamar bekas Triana yang ia tempati akan dipakai oleh Fariz.


***


Di rumah Lanzi.


Hari minggu adalah hari yang biasa Tri pakai untuk berolahraga, bersama Daren yang sudah berusia lima tahun dan Lanzi. Tetapi hari ini, sejak bangun, Triana terus muntah-muntah. Lanzi mengajak Triana ke dokter tetapi Triana tidak mau.


"Sayang, kamu dengar gak sih? Aku bilang, ayo kita ke dokter!" ucap Lanzi.


"Gak mau, Mas. Jangan paksa aku!" ucap Triana sedikit membentak Lanzi.

__ADS_1


"Aku cuma khawatir sama kamu, karena kamu terus muntah-muntah," jawab Lanzi yang kesal karena Triana malah membentaknya. Lanzi pergi meninggalkan Triana di dalam kamar, Lanzi pergi lari pagi sendiri tanpa Triana dan Daren.


***


Di rumah Aditya.


Aurel selesai membereskan kamar untuk Fariz, saat hendak keluar dari kamar, Fariz menghadangnya di tengah pintu. Aurel menatap Fariz dengan kesal.


"Kenapa semua pekerjaan rumah kamu yang kerjakan?" tanya Fariz.


"Karena tidak ada pembantu," jawab Aurel singkat. Aurel hendak keluar tapi Fariz malah menahannya.


"Jutek banget. Kenalan dong, aku Fariz. Namamu Aurel kan?" tanya Fariz.


"Kalau sudah tahu, kenapa masih bertanya? Minggir! Aku banyak pekerjaan," ucap Aurel sambil mendorong tubuh Fariz agar menyingkir dari pintu.


"Aku suka cewek galak," ucap Fariz sambil tersenyum.


"Aku gak peduli!" Aurel pergi meninggalkan rumah. Aurel biasa berbelanja di hari minggu. Aurel belanja kebutuhan dapur untuk seminggu.


Sejak Aditya dipenjara dan divonis sepuluh tahun penjara, Edi, pamannya mengambil alih semua harta kekayaan Aditya. Olivia memecat Bi Onah karena selalu membantu Aurel. Akhirnya Aurel yang menjadi pembantu di rumahnya sendiri. Aurel mencoba mencari surat kuasa yang dulu pernah ditunjukkan oleh pamannya, tetapi sampai dua tahun, Aurel tidak menemukannya.


Aurel hanya bisa pasrah dan bersabar menunggu ayahnya keluar dari penjara dan mengambil kembali rumah mereka. Aurel tidak peduli dengan perusahaan dan harta yang lain, tetapi rumah yang mereka tempati adalah rumah yang penuh dengan kenangan akan Felicia, ibunya Aurel. Aurel sampai kapanpun akan bertahan demi rumah itu.


Aurel pergi ke pasar modern dengan menaiki sepeda lamanya. Di jalan, ia berpapasan dengan Lanzi. Lanzi mengenal gadis yang lewat itu dan memanggilnya.


"Aurel," panggil Lanzi.


Aurel menghentikan sepedanya dan menoleh ke arah belakang lalu tersenyum.


"Om," ucap Aurel. Aurel menghampiri Lanzi. Mereka saling menyapa dan menanyakan kabar. Aurel menyembunyikan keadaannya di rumah. Aurel khawatir jika Lanzi memberitahukan pada Triana.

__ADS_1


Setelah cukup lama berbincang, Aurel pamit pada Lanzi dan Lanzi melanjutkan lari paginya. Dari kejauhan ada tetangga Lanzi yang melihatnya, ia salah paham tentang Lanzi dan Aurel. Tetangganya itu memotret Lanzi yang sedang berbincang dengan Aurel tadi. Wanita seusia dengan Triana itu tinggal di samping rumah Leonard.


"Hem, Bu Triana begitu bangga karena punya suami setia. Setia apanya? Masa setia seperti itu. Merayu gadis muda berumur belasan tahun. Pasti karena bosan dengan yang di rumah, kan. Ck... sayang sekali yang ceweknya tidak terlihat," gumam wanita tetangga Lanzi itu sambil melihat foto Lanzi dan Aurel. Aurel hanya terlihat bagian belakangnya saja, wajahnya tidak terlihat di foto itu. Wanita itu melanjutkan langkahnya menuju pasar modern yang sama, dengan yang Aurel tuju.


__ADS_2