Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (45)


__ADS_3

Fariz pergi ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah kran shower untuk meredakan hasratnya yang sedang bergelora. Setelah merasa segar, Fariz keluar dan menyuruh Aurel mandi.


"Mandi dulu sebelum tidur. Kita baru saja pulang dari rumah sakit, itu adalah tempat yang paling banyak virus," ucap Fariz. Fariz mengganti handuknya dengan piyama tidur setelah Aurel masuk ke dalam kamar mandi. Fariz segera berbaring dan mencoba memejamkan matanya. Perlahan mata Fariz mulai berat dan tertidur tak lama kemudian.


***


Di rumah sakit.


Fitri melangkah dengan terburu-buru. Ia baru sempat menjenguk Triana karena menunggu Daren tidur. Fitri tidak mau membawa Daren ke rumah sakit bersamanya. Fitri akhirnya menemukan ruang rawat Triana dan melihat Lanzi yang tertidur di kursi. Fitri tidak ingin mengganggu Lanzi dan memilih langsung masuk ke dalam ruang rawat Triana.


Di dalam kamar ternyata Triana sedang duduk bersandar di ranjangnya. Triana tersenyum melihat ibunya datang. Dengan penuh kekhawatiran, Fitri melihat sekujur tubuh Triana.


"Kenapa kalian tidak hati-hati. Apa yang sakit, sayang?" tanya Fitri.


Triana memeluk ibunya lalu menangis. Lanzi mendengar tangisan Triana lalu bangun dan hendak masuk, tetapi melihat Fitri ada di dalam, Lanzi mengurungkan niatnya dan berdiri di depan pintu.


"Disini, Ma. Disini ... sakit ... sakit sekali," ucap Triana sambil menunjuk dadanya.


"Apa karena terbentur? Pasti benturan itu sangat keras," ucap Fitri yang tidak mengerti arah ucapan Triana.


"Sangat keras, benturannya sangat keras, Ma," jawab Triana tanpa menjelaskan lebih detil.


Di luar ruangan, di depan pintu, Lanzi kembali ke tempat duduknya dan bersandar disana. Lanzi mengenang kembali kejadian sepuluh bulan yang lalu, saat ia dan wanita yang tadi ia bawa ke ruang bersalin pergi ke luar kota. Wanita itu adalah Cintya, dia adalah wakil asistennya di kantor. Karena asistennya, Joe, sedang sakit, akhirnya Cintya menggantikan Joe dan menemani Lanzi meeting bersama klien mereka.


Tempat kliennya mengajak meeting adalah sebuah bar. Kliennya itu suka sekali berfoya-foya dan bersenang-senang jadi ia mengajak Lanzi bertemu disana. Tidak ada sesuatu yang terjadi di bar, tetapi di parkiran bar Lanzi tidak sengaja menyenggol seorang preman yang lewat di parkiran bar tersebut.


Preman itu merasa marah dan tidak terima, meskipun Lanzi sudah meminta maaf. Lanzi yang sudah pusing dan mabuk merasa kesulitan untuk melawan saat preman itu dan ketiga temannya menyeret Lanzi dan Cintya ke sebuah gudang kosong. Mereka mengikat tangan Lanzi dan dua orang dari mereka dengan kejam memperkosa Cintya dihadapannya secara bergiliran.


Antara sadar dan tidak karena pengaruh alkohol, Lanzi mendengar teriakan kesakitan dan minta tolong untuk diselamatkan. Namun Lanzi hanya bisa melihatnya menangis dengan memilukan, dan akhirnya pingsan setelah keempat preman itu bergantian menjaga Lanzi dan memperkosa Cintya hingga wanita malang itu tidak sadarkan diri.


Melihat Cintya tidak sadarkan diri, keempat preman itu segera melarikan diri. Ĺanzi berusaha membuka ikatan tangannya, setelah berhasil ia segera menelpon polisi dan ambulans. Seminggu lamanya Cintya dirawat di rumah sakit. Saat sadar, Lanzi meminta maaf pada Cintya, karena dirinya-lah Cintya harus mengalami hal itu.

__ADS_1


Cintya merasa tidak masalah, dan berkata bahwa semua sudah kehendak Tuhan. Ia bekerja seperti biasa dan mencoba melupakan kejadian pemerkosaan itu. Namun setelah sebulan berlalu, Cintya dinyatakan hamil dan ingin mengakhiri hidupnya. Cintya tidak tega untuk menggugurkannya, karena itu Cintya mencoba bunuh diri. Cintya tidak sanggup memikirkan bagaimana nasib anaknya nanti, yang akan di cap anak haram.


Lanzi yang merasa bersalah atas kejadian tersebut, memutuskan bertanggung jawab agar anak itu tidak menjadi cemoohan orang. Ia menikah siri dengan Cintya disaksikan RT/RW setempat dan juga beberapa orang tetangga dekat Cintya. Tujuannya agar mereka tahu bahwa Cintya mempunyai suami dan anak di dalam kandungan Cintya mempunyai seorang ayah. Cintya dan Lanzi sepakat menikah sampai anak itu lahir dan mempunyai nama, setelah itu mereka akan bercerai.


Lanzi kemudian tersadar dari lamunannya karena sebuah tepukan pelan di pundaknya. Ternyata sang mertua yang menepuk pundaknya.


"Ibu," sapa Lanzi.


"Kenapa tidak tidur di dalam?" tanya Fitri.


"Takut mengganggu Tri, Bu. Maaf tadi Lanzi tidak tahu kalau Ibu datang," ucap Lanzi.


"Ya, Ibu baru bisa pergi kesini. Menunggu Daren tidur dulu, tidak baik jika anak kecil dibawa ke rumah sakit. Ya, sudah. Ibu pamit pulang, takutnya Daren mencari kalian. Jika Ibu juga tidak di rumah, nanti Daren bisa menangis semalaman. Ibu pulang," pamit Fitri. Daren mempersilakan ibu mertuanya untuk pulang.


Lanzi masuk kembali ke dalam ruangan Triana , ia berharap, Triana akan memberinya kesempatan untuk menjelaskan. Tetapi, saat Lanzi masuk ke dalam ruang rawat Triana, ia segera membalikkan badannya dan membelakangi Lanzi. Kali ini Lanzi tetap duduk di samping ranjang rawat Triana dan menjelaskan masalah sebenarnya pada Triana.


Ia menceritakan kejadian sepuluh bulan yang lalu pada Triana. Meskipun Triana tidak menanggapi ucapan Lanzi, tapi setidaknya Lanzi tidak ingin dicap telah mengkhianati Triana.


"Aku tahu, kamu mungkin tidak percaya dan tidak peduli dengan semua yang terjadi padaku. Kenyataannya memang benar, aku telah menikahi wanita lain di belakangmu. Aku hanya ingin kamu tahu, Tri. Aku hanya mencintaimu, aku tidak pernah menyentuh Cintya sedikitpun. Awalnya aku ingin ini semua tetap menjadi rahasia dan berlalu setelah anak dalam kandungan Cintya lahir. Tapi ... sepertinya Tuhan sedang menghukumku atas perbuatanku yang sudah mengkhianati pernikahan kita. Aku minta maaf, Tri. Aku sungguh-sungguh minta maaf," ucap Lanzi. Lanzi kemudian keluar dari ruangan Triana.


"Aku tidak tahu, haruskah aku percaya atau tidak dengan ucapanmu, Mas," gumam Triana dalam hati.


***


Keesokan pagi.


Aurel dan Fariz tidur satu ranjang sambil berpelukan.


Tok!Tok! Tok!


Melly mengetuk pintu kamar mereka karena hari sudah pagi dan Aurel harus pergi sekolah. Melly sudah menyiapkan sarapan pagi di meja makan.

__ADS_1


"Aurel, bangun, sayang," ucap Melly.


Aurel membuka mata saat mendengar suara Melly memanggilnya. Aurel menatap kesampingnya dan terkejut. Ternyata tanpa sadar mereka tidur berpelukan. Aurel segera bangun tetapi Fariz menarik tangannya, membuat Aurel kembali terbaring dalam pelukan Fariz.


"Kemana?" tanya Fariz sambil memeluk Aurel dan mata yang masih terpejam.


"Mandi. Mau se-ko-lah," ucap Aurel gugup.


"Em, baiklah. Mandi sana! Kakak antar kamu ke sekolah nanti," ucap Fariz. Ia melepaskan pelukannya. Aurel pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri sambil senyum-senyum sendiri.


--------------------------------------------


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘

__ADS_1


Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.


Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏


__ADS_2