Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (3)


__ADS_3

Triana sampai di rumah dengan menggunakan taksi. Hari ini ia ingin menghabiskan waktu bersama putranya, Daren. Karena mulai esok, Triana akan mulai sibuk dengan kegiatan di luar rumah. Triana, selain mulai kuliah kembali, ia juga mulai mengurus tempat pemandian yang Lanzi beli dari Ike, sahabat Triana.


Ike tinggal di Bandung bersama suaminya. Ike juga di sana karena ingin menggantikan sang ayah, Mandor Karta, yang sudah tua dan tidak bisa lagi mengurus kebun teh mereka. Biasanya Tri akan mengunjungi Ike, jika mereka berlibur ke villa milik kakeknya Lanzi.


Di rumah, Tri disambut tangisan Daren. Daren berlari, saat melihat Tri turun dari taksi.


"Mama, bibi Rosi nakal, Ma," ucap Daren. Ia mengadukan Rosi pada ibunya. Rosi adalah pelayan di rumah Leonard.


"Kenapa dengan bibi Rosi?" tanya Tri sambil mengangkat Daren dan menggendongnya.


"Bibi nakal, Daren gak boleh makan es krim," ucap Daren.


"Em, coba kita tanya, kenapa bibi Rosi melarang anak mama yang ganteng ini, untuk makan es krim," ucap Tri. Dia pergi ke dapur dan menemui Rosi yang sedang memasukkan belanjaan sayur yang baru dibelinya.


"Ros, kenapa Daren mengadukanmu padaku? Dia bilang, kamu melarang Daren makan es krim, benar?" tanya Tri.


"Ya, Mba. Soalnya Den Daren belum sarapan, saya takut Den Daren sakit perut," jawab Rosi.


"Terima kasih, ya, Ros," ucap Tri.


"Nah, sekarang Daren tahu tidak? Dimana letak kesalahan Daren?" tanya Tri sambil duduk di meja makan dan memangku Daren.


"Ya, Ma. Daren belum makan," jawab Daren dengan lesu.


"Anak mama memang pintar, jadi sekarang, Daren makan dulu, baru makan es ...."


"Krim," Daren melanjutkan ucapan Tri. Tri mengusap kepala Daren, lalu mengambilkan makanan.


"Ros, mama kemana?" Tri melangkah meninggalkan Daren dan menghampiri Rosi.


"Oh, Bu Fitri, tadi pagi berangkat mengantar Tuan ke Rumah Sakit," jawab Rosi.

__ADS_1


Triana baru ingat jika hari ini, Leonard harus kontrol ke Rumah Sakit. Tri kemudian menitipkan Daren yang sedang makan, pada Rosi, sedangkan Tri pergi ke kamar untuk berganti baju. Hari ini Tri ingin mengajak Daren pergi ke taman bermain. Saat Tri selesai berdandan, Daren juga selesai sarapan.


"Mama, es krim. Daren udah makan," ucap Daren. Rosi tersenyum melihat Daren. Karena Daren sangat pintar berbicara, padahal usianya baru 3 tahun.


"Makan es krimnya di luar saja, ya. Mama mau ajak Daren ke taman bermain, Yuk!" Tri menggandeng Daren.


"Horee, ke taman bermain," ucap Daren sambil bersorak kegirangan.


"Ros, kalau ada yang bertanya, saya kemana, bilang saja saya ke taman bersama Daren. Bilang juga sama mas Lanzi, tidak usah jemput soalnya saya bawa mobil," ucap Tri.


"Ya, Mba. Nanti saya sampaikan." Rosi mengangguk sambil menjawab.


Tri kemudian menggendong Daren menuju mobil putih miliknya. Dan mereka pun pergi meninggalkan rumah menuju ke taman bermain.


***


Di rumah sakit.


"Saya ini sudah tua, usia saya juga sudah hampir kepala delapan. Wajar jika saya sakit parah, bahkan jika meninggal juga wajar, benar bukan?" tanya Leonard.


"Jangan berkata seperti itu! Kita tidak tahu usia manusia," jawab Fitri.


"Saya tidak mau membuat mereka cemas, terlebih Lanzi. Sejak kecil dia sudah kehilangan orangtua, dia bisa-bisa stress memikirkanku. Fitri, saya sudah menganggapmu seperti putriku, tolong jaga dan rawat Lanzi. Jika suatu saat nanti, saya toba-tiba meninggal karena penyakit saya," ucap Leo yang sedang duduk menunggu obat di apotek rumah sakit.


"Terima kasih. Saya juga sudah menganggap Pak Leo sebagai pengganti ayah saya. Bapak tidak usah khawatir, saya akan merawat Lanzi dengan baik. Jadi, bapak fokus saja pada kesembuhan bapak," jawab Tri.


"Bapak Leonard, harap menuju ke loket apotek," ucap penjaga apotek.


Fitri maju dan mengambil obat milik Leonard, setelah itu mereka pulang ke rumah.


***

__ADS_1


Di taman bermain.


Tri memarkir mobilnya lalu turun dan pergi membeli tiket lalu masuk ke taman bermain sambil menggandeng Daren. Yang pertama kali Daren minta adalah es krim. Tri mengajak Daren ke salah satu penjual es krim. Triana duduk di salah satu bangku panjang di tama bersama Daren.


Daren sangat suka es krim, hampir setiap hari ia memakan es krim, pernah Tri bertanya kepada Dokter. Dokter itu bilang tidak masalah asal tidak berlebihan. Tri bisa sedikit tenang, karena Daren cukup satu buah es krim berbentuk semangka dalam satu hari.


"Sudah habis, sayang?" tanya Tri saat Daren sudah membuang bungkus es krim itu ke tempat sampah. Daren menjawab lalu duduk kembali di bangku taman. Tri mengusap sisa es krim di bibir dan tangan Daren. Mereka belum tahu, apa yang akan mereka tuju lebih dulu.


"Ma, naik itu," ucap Daren sambil menunjuk kereta mini.


"Oke, ayo kita


naik kereta mini," Tri menunggu di pinggir jalan kereta-keretaan itu. Kereta berhenti dan Daren pun, dinaikkan ke dalam kereta.


"Mama tunggu di sini." Tri berdiri melihat kereta mini itu berjalan berputar. Saat sedang berdiri, tiba-tiba sebuah tangan melingkar ke pinggang Tri. Tri terperanjat dan segera menjauh, lalu Tri melihat pria di belakangnya. Pria yang tadi merangkul pinggangnya.


"Halo, sayang," ucap Lanzi. Ya, pria yang tadi merangkul pinggang Tri adalah Lanzi.


"Mas, kamu bikin aku kaget. Sudah pulang?" ucap Tri sambil melirik jam tangannya. Jam menunjukkan pukul 10:30 WIB. Biasanya, Lanzi pulang ke rumah jam tiga sore.


Lanzi berjalan mendekat ke samping Tri, lalu ia berbisik ditelinga Tri, "Bagaimana aku bisa konsentrasi bekerja? Karena kau, aku jadi ingin cepat pulang dan main kuda-kudaan."


"Mas," ucap Tri pelan. Wajahnya bersemu merah karena ucapan Lanzi. Tri menatap ke sekeliling, ia khawatir ada yang mendengar ucapan mereka.


"Ke hotel Yuk!" goda Lanzi kembali. Alhasil Tri yang kesal dengan sikap nakal Lanzi, mencubit pinggang Lanzi.


Lanzi mengaduh kesakitan, lalu tersenyum dan merangkul pundak Tri. Mereka berdiri menunggu putaran terakhir kereta mini. Lanzi menghampiri Daren saat kereta sudah berhenti.


"Papa," Panggil Daren.


"Hup, anak papa mau naik apa lagi?" tanya Lanzi sambil mengangkat Daren dan memangku Daren di pundaknya. Daren sangat suka saat Lanzi memangku Daren di pundaknya. Daren menunjuk kuda-kudaan dan mereka naik bertiga. Mereka duduk diatas kereta, dan Daren naik di kuda-kudaan di depan kereta, layaknya kusir. Rumah tangga mereka yang harmonis, selalu mereka jaga dengan baik. Namun prahara tak bisa dihindari, tidak ada rumah tangga yang lolos dari masalah. Mereka hanya belum menemui masalah dalam rumah tangga mereka.

__ADS_1


__ADS_2