
Triana turun dari ranjang dan keluar dari kamar. Lanzi melihat Triana berjalan kearah ruang keluarga, ia bangun dan menyusul Triana lalu membantu memapah Triana.
"Aurel sudah pulang?" tanya Triana.
"Sudah. Bagaimana keadaan kamu, sayang?" tanya Lanzi.
"Sudah ... mendingan. Daren, sayang, sedang main apa?" tanya Triana sambil duduk di sofa. Daren menunjukkan mobil-mobilan.
"Ini, mobil-mobilan, Daren, bagus, Ma," ucap Daren.
"Oh, ya. Mama baru lihat," ucap Triana.
"Kemarin, Papa yang beliin," ucap Daren.
Triana tersenyum melihat putranya asyik bermain mobil-mobilan di lantai. Kehamilannya kali ini, membuatnya lemas dan sulit untuk terlalu banyak bergerak. Triana hanya bisa berjalan sebentar, karena takut terjatuh. Tubuhnya tidak sekuat biasanya.
*Flashback*
Enam tahun lalu saat Triana mengandung putra pertamanya, Daren.
"Sayang, kamu tidak mau makan, kenapa?" tanya Lanzi.
"Aku cuma mau makan bubur yang Surya belikan, kalau tidak, tidak mau makan," ucap Triana.
Triana selalu sarapan bubur kacang hijau dan bubur ayam yang Surya belikan untuknya. Jika tidak, ia tidak akan makan. Saat usia kandungannya berumur tiga bulan, Surya dan Cassy menikah, setelah menikah, mereka pergi berbulan madu ke pulau Bali selama seminggu. Selama seminggu itu, Triana tidak mau makan.
"Sayang, Surya sedang berbulan madu, baru kemarin berangkat. Mereka akan pergi selama seminggu, kalau seminggu tidak makan, bagaimana?" tanya Lanzi khawatir.
"Cerewet, aku masih bisa minum susu, tapi jangan kamu yang buatin!" ucap Triana mengancam.
Selama seminggu, Triana hanya meminum susu khusus ibu hamil. Pernah suatu malam, Triana merasa lapar dan meminta Lanzi menyuruh pembantunya membuat susu. Karena tidak enak membangunkan pembantunya tengah malam, Lanzi membuatnya sendiri dan memberikannya pada Triana tanpa mengatakan siapa yang membuatnya.
__ADS_1
"Ini, minumlah!" ucap Lanzi.
"Terima kasih." Triana menerima gelas itu dan meminum susunya.
"Huweekk ...." Triana merasa mual, Triana segera bangun dan muntah di kamar mandi. Lanzi membantu memijat tengkuk Triana. Setelah mualnya sedikit berkurang, Triana kembali ke ranjangnya.
"Sudah baikkan?" tanya Lanzi.
"Hem. Kamu yang membuat susunya?" tanya Triana. Lanzi tersenyum.
"Kan, sudah aku bilang, jangan kamu yang buatkan," ucap Triana.
"Apakah calon anak kita begitu membenciku? Padahal susunya sama, aku juga tidak bilang, siapa yang membuatnya. Tapi calon anak kita bisa tahu," ucap Lanzi menunduk sedih.
"Dia, bukan membenci kamu tapi tidak mau merepotkan ayahnya karena sayang dengan ayahnya. Ayahnya sudah bekerja seharian di kantor, jadi dia ingin kamu beristirahat di rumah," ucap Triana menghibur Lanzi.
"Benarkah?" tanya Lanzi berubah senang. Wajahnya berbinar dihibur oleh Triana. Triana menjawabnya dengan anggukkan pelan sambil tersenyum.
*Flashback off*
Kehamilan Triana kini, berbanding terbalik dengan kehamilan pertamanya. Triana tidak bisa kemana-mana, hanya bisa berjalan-jalan sesekali ke ruang tengah dan melihat Daren bermain di sana. Pernah suatu kali, Daren, ingin bermain di taman yang ada di ujung komplek dan Triana pingsan di jalan. Karena itu, Lanzi melarang Triana untuk pergi keluar rumah. Lanzi khawatir kejadian itu terulang lagi.
"Sayang, kapan jadwal cek kandungan kamu?" tanya Lanzi.
"Lusa, Mas," jawab Triana.
"Ya, sudah. Lusa, Mas, antar kamu ke sana," ucap Lanzi.
***
Di rumah Cassandra.
__ADS_1
"Sayang, tolong jaga Lea sebentar, aku mau ke toilet," ucap Cassy.
"Ya. Sini Alea, anak papa," ucap Surya melambai, memanggil Alea agar berjalan ke arahnya. Alea berusia dua tahun, begitu pintar bernyanyi meski nada bicaranya masih cadel. Alea berlari lincah menghampiri Surya yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
"Papa, main ke lumah kak Dalen," ucap Alea dengan logat yang masih cadel.
"Tante Tri sedang sakit, kalau Lea main sama kak Daren, terus lari-larian, nanti ganggu Tante. Nanti saja kalau Tante sudah baikan," ucap Surya. Alea merengut kecewa, tapi Lea tidak memaksa ayahnya.
Alea anak yang penurut, tidak pernah protes jika Surya atau Cassy mengatakan sesuatu. Cassy keluar dari toilet dan bergabung bersama Alea dan Surya. Mereka duduk di sofa sambil melihat film animasi lucu.
"Alea bobo dulu, ya. Sudah jam dua siang, Alea harus bobo siang," ucap Cassy sambil menggendong Alea dan membawanya ke kamar.
***
Tok tok tok.
Aurel yang sedang tidur siang merasa seperti mimpi. Samar-samar ia mendengar suara bel rumah. Aurel pikir itu adalah mimpi, tetapi itu terlalu nyata. Aurel membuka mata dan menajamkan pendengarannya.
"Aku kira mimpi, ternyata memang berbunyi belnya," gumam Aurel.
Ia merapikan rambutnya dan mencuci muka. Setelah selesai mengelap wajahnya, Aurel pergi membuka pintu depan. Saat pintu terbuka, Aurel tertegun melihat seorang wanita yang berdiri di depan pintu. Aurel mengernyit heran melihat wanita itu, karena Aurel merasa tidak mengenalinya.
-----------------------------------------------------
yo, siapakah wanita itu?
simak lanjutannya di next chapter.
jngn lupa jempolnya mampir bntar buat like😘
buat kalian yg dh vote n like ma acih ya
__ADS_1
author sayang kalian😍😍😍see you.