
Lanzi masuk ke dalam kamarnya dan mendengar Triana yang kembali muntah-muntah. Lanzi segera masuk ke dalam kamar mandi.
"Sayang, muntah lagi?" tanya Lanzi.
"Hem," jawab Triana singkat. Ia melangkah dengan lemas. Lanzi membantu memapah Triana ke ranjang.
"Sayang, kamu yakin, tidak perlu ke dokter?" tanya Lanzi sambil menyelimuti Triana yang sudah berbaring di ranjangnya. Triana menggeleng pelan.
"Ya, sudah. Tidurlah! Mas mau mandi dulu," ucap Lanzi sambil membelai pipi Triana.
Lanzi masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh tubuhnya di bawah kran shower. Setelah mandi, dia memakai piyama tidur dan berbaring disamping Triana lalu memeluk Triana dan memejamkan mata. Perlahan tapi pasti, mereka mulai terlelap dan berkelana di alam mimpi.
***
Di rumah Aurel.
Paman dan bibinya Aurel pulang tengah malam dalam keadaan mabuk.
*Tok! Tok! Tok!
Aurel keluar dari kamarnya, dengan masih memakai dress hitam yang tadi siang ia pakai, untuk mengantar jenazah ayahnya ke peristirahatan terakhir. Aurel membuka pintu dan mereka berjalan masuk ke dalam rumah dengan sempoyongan.
"Apa Paman tidak kasihan dengan kakak Paman? Papaku adalah kakak Paman! Tapi Paman tega menelantarkan Papa disaat terakhirnya, Paman kejam!" Bentak Aurel di belakang mereka. Mereka berhenti berjalan dan berbalik menghadap Aurel.
"Siapa bilang Pamanmu ini tidak kasihan pada ayahmu? Pamanmu ini sangat kasihan pada ayahmu, karena itulah Paman bahagia karena dia sudah mati, hahaha," ucap Edi, dia tertawa lebar.
Suara tawa Edi yang nyaring seakan menggetarkan seisi rumah. Hingga Fariz yang sedang tertidur pulas pun ikut terbangun. Mendengar tawa yang begitu keras dari ruang tamu, Fariz bangun dan keluar dari kamarnya. Dari lantai atas, Fariz melihat Aurel yang menangis terisak tanpa suara. Aurel berdiri di tengah pintu, menatap penuh kebencian pada paman dan bibinya.
"Sekarang, kamu tidak akan bisa merebut semua harta kekayaan Aditya. Karena dia sudah mati, jadi surat wasiat itu sudah sah. Dalam surat wasiat itu tertulis semua harta akan diberikan pada suamiku, alias pamanmu, hahaha," ucap Olivia. Ia kemudian mengajak suaminya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Tubuh Aurel merosot dan terduduk di lantai marmer hitam yang dingin. Ia terisak menahan suaranya sekuat tenaga agar tidak ada yang mendengar tangisannya.
Namun tanpa Aurel sadari, Fariz lagi-lagi memergokinya menangis. Fariz turun dari lantai atas dan menghampiri Aurel yang menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia berjongkok dengan satu kaki ditekuk dan lutut kaki yang lain menapak lantai.
"Aurel," panggil Fariz pelan.
Aurel mengangkat wajahnya, melihat wajah Fariz dihadapannya. Aurel berdiri lalu berlari ke dalam kamarnya. Fariz menutup dan mengunci pintu. Ia pergi menyusul Aurel ke kamarnya. Fariz mengetuk pintu beberapa kali, karena tidak ada jawaban, Fariz memutar gagang pintu.
"Tidak dikunci," gumam Fariz dengan suara pelan. Ia kemudian masuk dan melihat Aurel duduk di lantai. Punggungnya bersandar pada tepian ranjang. Aurel menangis tersedu-sedu sambil mendekap erat foto ayah dan ibunya serta dirinya, saat kecil.
"Papa, hiks hiks, kenapa papa juga tinggalin Aurel, pa. Papa tahu, Aurel cuma punya papa," ucap Aurel terisak.
Fariz mendekati Aurel dan duduk di samping Aurel. Fariz duduk bersandar, meluruskan kakinya, mengikuti pose duduk Aurel. Aurel tidak menggubris atau menoleh pada Fariz. Saat Fariz bicara padanya, barulah Aurel menoleh.
"Aku tidak tahu, apa yang terjadi di sini. Yang aku tahu sekarang, kamu butuh tempat untuk bersandar. Kamu bisa meminjam pundakku, atau mungkin dadaku, jika kamu butuh tempat untuk bersandar … aku siap jadi tempat bersandar untukmu," ucap Fariz sambil menatap lekat kedua mata indah milik Aurel. Mata itu begitu sembab dan merah akibat menangis seharian. Namun mata itu tetap terlihat indah di mata Fariz.
"Pergilah! Aku tidak butuh siapapun untuk bersandar. Apalagi kamu … yang baru tinggal dan mengenalku beberapa jam yang lalu. Aku harap kamu menjauhiku, jangan mendekati aku!" Aurel bangun dan menunjuk pintu kamar.
Aurel terkulai tidak sadarkan diri. Untung Fariz sigap dan menangkap tubuh Aurel, jika tidak, pasti tubuh Aurel sudah membentur nakas. Fariz memeluk tubuh Aurel dan bergumam pelan.
"Kasihan sekali kamu, bidadariku. Pasti semua ini sangat berat bagimu. Andai kamu bisa berbagi sedikit penderitaanmu denganku, aku akan sangat bahagia sekali," ucap Fariz sambil membelai lembut punggung Aurel.
Fariz mengangkat dan menggendong tubuh Aurel dan membaringkannya di tengah ranjang. Fariz menyelimuti tubuh Aurel dan ia duduk di lantai dan bersandar di tepi ranjang. Malam telah begitu larut, dan Fariz yang khawatir dengan keadaan Aurel pun, memutuskan untuk menjaganya dan tidur bersandar di tepi ranjang Aurel.
***
Pagi hari.
Triana bangun pagi-pagi sekali untuk tes urine. Ia membawa testpack yang ia beli kemarin, ke kamar mandi. Dengan hati berdebar, Triana mencelupkan testpack itu ke dalam urine yang sudah ditampung dalam tabung kecil. Perlahan-lahan terlihat garis berwarna merah muda samar-samar, semakin lama semakin jelas terlihat dua garis berwarna merah terang.
__ADS_1
"Positif," gumam Triana tersenyum. Triana membuka bajunya hendak mandi. Ia kemudian menggosok gigi, tetapi Triana malah muntah-muntah dan membuat Lanzi terbangun.
"Em … Tri," ucap Lanzi sambil mengucek matanya. Saat mendengar suara Triana yang sedang muntah-muntah, Lanzi segera berlari menghampiri Triana.
"Sayang," panggil Lanzi. Ia memijat tengkuk Triana yang masih terus muntah, tapi tidak ada apapun yang ia keluarkan selain cairan bening. Mata Lanzi kemudian beralih ke arah testpack yang ada di samping wastafel, ia mengambilnya dan tersenyum bahagia.
"Sayang, kamu hamil?" Tanya Lanzi.
"Ya, Mas." Triana lalu berkumur dan mengelap mulutnya. Triana merasa sedikit pusing.
"Wah, selamat ya, sayang. Kita akan punya bayi kembali, dan Daren pasti sangat bahagia karena akan memiliki adik," ucap Lanzi memeluk Triana. Triana tersenyum dalam pelukan Lanzi.
***
Di rumah Aurel.
Aurel terbangun dari tidurnya, ia bangun dan duduk di ranjang. Aurel merapikan rambutnya dan beranjak hendak turun dari ranjang, tapi gerakannya terhenti melihat Fariz yang tidur bersandar di tepi ranjang. Aurel tidak mengerti, kenapa Fariz sampai mau menjaganya hingga tertidur di lantai.
"Apa mungkin, dia menyukaiku? Tidak mungkin, belum genap dua puluh empat jam aku dan dia bertemu?" Aurel bergumam pelan sambil menatap Fariz. Tiba-tiba Fariz bangun dan menoleh ke belakang, menatap lekat wajah Aurel.
"Dua puluh tiga jam, dua puluh menit, empat detik. Itu sudah cukup untuk membuatku menyukaimu. Karena aku sudah jatuh cinta padamu, dua puluh tiga jam, dua puluh menit, empat detik, yang lalu," ucap Fariz sambil menatap jam tangannya.
Deg!
Aurel berdebar-debar mendengar ungkapan cinta Fariz. Ia tertunduk malu, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Ini adalah pertama kalinya, Aurel mendengar pernyataan cinta dari seorang pria. Aurel selalu menjauhi teman sekolah pria saat dia berada di sekolah.
Aurel takut untuk jatuh cinta. Ia takut terluka seperti orang tuanya. Ibunya bunuh diri karena cintanya yang dalam terhadap ayahnya. Aurel takut jika dirinya berakhir kecewa saat jatuh cinta. Namun, untuk pertama kalinya, Aurel merasa jantungnya berdebar kencang karena seorang pria yang baru dikenalnya.
Apakah karena perhatian Fariz padanya, akhirnya membuat Aurel tertarik pada Fariz? Atau karena hatinya yang sedang rapuh karena baru saja kehilangan ayahnya? Aurel tidak tahu apa alasan dibalik debaran jantungnya yang melebihi batas normal.
__ADS_1
"Aurel!" Teriak Olivia yang sudah bangun dari tidurnya.
Aurel segera turun dari ranjang dan berlari meninggalkan Fariz yang masih ada di kamarnya. Aurel menghampiri bibinya di dapur. Olivia menyuruh Aurel membuat sarapan, dan harus sudah matang saat Olivia selesai mandi.