Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (62)


__ADS_3

Merekapun membubarkan diri dan kembali dan kembali bekerja. Resto mulai dibuka dan para pelanggan setia mereka sudah mulai berdatangan. Hingga tengah hari atau jam istirahat kantor, mereka akan sangat sibuk. Seperti hari-hari sebelumnya, hari ini pun sama ramainya. Saat jam istirahat tiba, Erin dipanggil ke ruangan Gusti.


"Rin, kamu dipanggil Pak Gusti ke ruangannya!" ucap Affan.


Erin mengangguk. Ia melangkah perlahan menuju ruangan Gusti. Erin merasa heran, ada apa? Kenapa tiba-tiba Erin dipanggil ke ruangan Manager? Satu hal yang ada dalam pikiran Erin, mungkin saja, Gusti akan memecatnya. Karena ia sudah tahu siapa Aurel tetapi tidak melindunginya dengan baik. Erin menjadi sedih memikirkannya. Ia sangat membutuhkan pekerjaan ini, bagaimana hidupnya nanti jika ia tidak bekerja. Erin sampai di depan pintu ruangan Gusti. Ia menarik napas dan mengembuskannya sebelum mengetuk pintu.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" Gusti mempersilakan.


Erin membuka pintu dan mendorongnya perlahan. Erin sangat merasa gugup, bahkan melangkah saja sampai gemetar. Gusti tersenyum melihat Erin ketakutan padanya.


"Tidak usah takut! Aku hanya ingin mengajakmu bicara sebentar, bisa, kan?" tanya Gusti.


Erin menjawabnya dengan anggukkan pelan. Gusti duduk di sofa dan menyuruh Erin duduk di sofa, yang berhadapan dengan tempat ia duduk. Erin menuruti perintah Gusti dan duduk di hadapan Gusti dengan menunduk. Erin menanyakan keperluan Gusti, yang tiba-tiba memanggilnya.


"Ada apa, ya, Pak? Kenapa saya dipanggil kesini?" tanya Erin dengan gugup.


"Tidak perlu takut, saya cuma mau bilang, nanti sore kamu ikut saya ke rumah sakit. Aurel ingin bicara denganmu. Em ... apa kau takut padaku?" tanya Gusti.


"Ti-dak, Pak," jawab Erin dengan wajah tertunduk.


"Kenapa tidak berani menatapku?" tanya Gusti sambil menatap Erin dihadapannya.


"Em, saya cuma ... cuma menjaga kesopanan, Pak. Tidak sopan rasanya, jika saya menatap atasan saya saat bicara," jawab Erin.


Gusti tidak bisa berkata apapun lagi pada Erin. Setelah mengatakan maksudnya untuk membawa Erin ke rumah sakit, tidak ada lagi yang bisa ia bicarakan dengan Erin. Gusti menyuruh Erin beristirahat dan pergi makan siang. Erin pun pamit dan keluar dari ruangan Gusti.


Erin bernapas lega setelah menutup pintu ruangan Gusti. Erin tidak dipecat dan ia merasa tenang. Tidak bisa Erin bayangkan, akan seperti apa jadinya jika dia harus dipecat. Erin seorang gadis yang hanya tamatan SMP, dan dia sangat membutuhkan pekerjaan. Jika Erin dipecat dari resto itu, ia tidak yakin dirinya bisa mendapatkan pekerjaan lain.


***


Lanzi duduk di dalam kamar dengan keadaan yang menyedihkan. Bagaimana tidak? Pagi-pagi sekali Triana membangunkan Lanzi dan menyuruhnya mandi. Tetapi bukan karena disuruh mandi pagi oleh Triana yang membuat Lanzi terlihat menyedihkan. Akan tetapi kejadian setelah mandilah yang membuat Lanzi terlihat menyedihkan.

__ADS_1


Triana mendandani Lanzi seperti wanita, lengkap dengan dress tanpa lengan berwarna pink terang.


"Sayang, kamu yakin ini kemauan anak kita?" tanya Lanzi sambil melihat pantulan tubuhnya di depan cermin. Lanzi sudah berganti dress tiga kali dan warna pink adalah warna terakhir yang dipilih Triana.


"Mas, tidak mau menuruti keinginan calon anak kita?" tanya Triana dengan sedih.


"Bukan begitu, sayang. Ini, Mas sudah ikutin kemauan anak kita, jangan sedih, sayang." Lanzi memeluk Triana dan menghiburnya. Lanzi tidak masalah jika Triana ingin mendandaninya seperti apapun, yang menjadi masalah, Triana ingin agar Lanzi memakai baju dan dandanan wanita sepanjang hari di rumah. Bayangan jika ia bertemu ibu mertuanya, membuat Lanzi sudah merasa malu. Hanya membayangkan saja sudah malu, lalu bagaimana sekarang ia akan turun dan sarapan dihadapan ibu mertua, Daren, dan pembantunya.


"Ayo, Mas! Kita sarapan, aku sudah lapar," ucap Triana sambil menarik tangan Lanzi.


Lanzi tidak bisa membantah keinginan Triana, ia hanya mempersiapkan batinnya untuk bertemu sang anak dan juga ibu mertua. Mereka melangkah menuju ruang makan, dan sejenak Lanzi tertegun saat melihat Tom juga sudah duduk di samping Fitri. Habislah sudah harga diri dan wibawa Lanzi di depan Tom.


"Ayo!" Triana menarik Lanzi dan mereka duduk bersama di meja makan.


Triana benar-benar menghias wajah dan tubuh Lanzi bak seorang perempuan. Sampai Tom dan Fitri ternyata tidak mengenalinya. Lanzi juga disuruh memakai stoking oleh Triana, sehingga bulu kaki lebat khas pria juga tidak terlihat.


"Siapa wanita cantik ini, Tri? Mama, kok, tidak tahu jika temanmu datang menginap semalam?" tanya Fitri.


"Apa?" Fitri dan Tom terkejut dan bertanya bersamaan, sedetik kemudian mereka tertawa terpingkal-pingkal melihat Lanzi yang benar-benar dihias mirip wanita.


"Anda cantik sekali hari ini, Non Lanzi," ledek Tom sambil menahan tawa.


"Pak Tom, berani meledek saya ternyata," jawab Lanzi dengan wajah muram.


"Tri, kamu pintar sekali merias wajah Lanzi. Dia benar-benar mirip wanita. Mama pikir, dia temanmu tadi," ucap Fitri sambil tersenyum geli.


Lanzi hanya menunduk malu dengan ledekan Tom dan ibu mertuanya. Lanzi melupakan satu orang lagi, Daren. Tetapi Daren hanyalah seorang bocah berumur lima tahun, tidak mungkin jika Daren juga akan meledeknya, bukan? Namun semuanya kembali tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Daren.


"Tante, temannya Mama Daren, ya?" tanya Daren polos.


"Hahaha, sepertinya bakat seniku benar-benar sangat bagus. Setelah sarapan, temani aku berjalan-jalan pagi ke taman komplek, ok, Mas."


"Hah? Yang benar saja, sayang? Pakai baju seperti ini?" tanya Lanzi.

__ADS_1


"Ya." jawab Triana singkat.


Tom dan Fitri memegangi perut mereka yang sakit akibat tertawa. Lanzi memakan sarapannya dengan lesu. Lanzi berdoa, semoga saja tidak ada yang mengenalinya. Saat Triana mengandung Daren, Triana tidak ngidam hal-hal aneh seperti sekarang. Tetapi Lanzi senang karena Triana sudah bisa beraktifitas setelah melewati trimester pertama kehamilannya.


Perut Triana sudah terlihat membesar. Usia kandungannya kini sudah menginjak lima bulan. Dan trimester kedua ini, tubuh Triana jauh lebih segar, hanya saja ... sering meminta hal aneh. Kemarin tengah malam, Triana menyuruh Lanzi mengajarinya bermain catur, dan sampai pagi Triana bertanding catur dengan Lanzi, sampai Lanzi tertidur di pagi hari.


___________________________


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


-Aunty Opposite Door I Love You 


Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘


Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.


Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏

__ADS_1


__ADS_2