
Daren mengajak ke taman bermain, tapi Triana merasa pusing dan tidak enak bada. Lanzi menyuruh Triana untuk beristirahat dan Lanzi akan mengajak Daren ke taman bermain.
Triana berbaring di ranjangnya ditemani Fitri yang terus memijat kepala Triana yang terasa berdenyut. Triana menyuruh Bi Aen membeli testpack ke apotik.
Setelah lelah bermain game, Fariz pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Fariz mencari-cari keberadaan Aurel, tetapi Fariz tidak menemukannya. Ia mencoba mencari Aurel di kamar. Fariz mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. Fariz memutar gagang pintu dan ternyata tidak terkunci. Fariz masuk dan melihat keadaan di dalam kamar.
Kamar itu sangat sempit karena banyaknya barang yang disimpan di sana. Fariz menatap foto keluarga Aurel. Ia tersenyum melihat foto Aurel yang tersenyum bahagia, tidak seperti sekarang yang terlihat murung dan dingin. Fariz bergumam dalam hati.
"Dia pernah tersenyum seindah ini. Apa yang membuatnya berubah menjadi seperti sekarang? Sungguh aku sangat ingin mengenalmu lebih jauh. Bisakah kau buka hatimu untukku? Aurelia Adidjaya."
Fariz segera keluar dari kamar, khawatir jika Aurel memergokinya masuk ke dalam kamar tanpa izin. Fariz kembali ke kamarnya, ia melirik jam dinding yang menunjukkan jam sebelas siang. Fariz merasa lapar dan ia tidak mau merepotkan Aurel. Ia pun memilih pergi makan siang di luar.
***
Di rumah Lanzi.
Pembantu yang disuruh Triana untuk membeli testpack, sudah kembali. Pembantu itu memberikan barang yang ia beli dan kembali ke dapur. Karena sudah waktunya memasak makan siang.
Triana bangun dan turun dari ranjang, ia berniat membantu memasak di dapur, tapi Fitri melarang Triana.
"Sudah, istirahat saja. Badan kamu lemas gitu, biar Ibu saja yang membantu bibi memasak. Nurut apa kata Ibu," ucap Fitri.
Triana tidak bisa melawan perintah Fitri. Ia kembali berbaring dan menaruh testpack itu fi nakas.
Lanzi dan Daren sudah pulang dari taman bermain. Daren mencari neneknya di dapur dan Lanzi pergi ke kamar untuk melihat keadaan Triana. Lanzi tersenyum melihat Triana sedang tidur pulas. Ia menutup kembali pintu kamar dan pergi menghampiri Daren di dapur.
__ADS_1
***
Di rumah Aditya.
Setengah jam setelah Fariz pergi, sebuah mobil jenazah tiba di halaman rumah Aditya. Aurel turun dari mobil itu, kemudian empat orang petugas polisi dan satu orang sopir mobil jenazah menurunkan sebuah peti mati. Aurel berjalan mengikuti di belakang dengan pandangan kosong. Hanya airmata yang terus menetes di pipinya.
POV Aurel.
"Kenapa takdir begitu kejam padaku. Satu-satunya orang yang aku sayangi telah pergi. Orang yang aku tunggu untuk membebaskanku dari neraka ini, kini pergi. Tidak ada lagi yang bisa aku harapkan. Tidak ada lagi yang aku sayangi di dunia ini, dan tidak akan ada lagi yang menyayangiku. Kenapa aku harus melewati semua ini? Apa salahku Tuhan? Apa salahku…?"
Aurel bersimpuh meratapi nasibnya yang lagi-lagi harus kehilangan orang yang dia sayang. Aurel menangis pilu menatap peti jenazah yang sudah diletakkan di ruang tamu.
*Flashback*
*Drrtt drrttt.
Ucapan dari si penelepon membuat Aurel seketika berlari keluar dari kamar.
"Nona Aurel, kami dari kantor polisi. Tuan Aditya Adidjaya mengalami penganiayaan di dalam sel, nyawanya tidak dapat diselamatkan. Kami mohon, Nona Aurel menjemput jenazah Tuan Aditya Adidjaya dari ruang jenazah rumah sakit. Kami tunggu kedatangan Nona," ucap petugas polisi yang menelepon dari rumah sakit.
Kata-kata itu terngiang di telinga Aurel. Aurel berlari menuju rumah sakit, ia tidak menaiki taksi ataupun kendaraan umum lainnya. Aurel berlari menggunakan sandal rumah yang tipis, dalam perjalanan, sandal itu putus. Aurel tidak mempedulikan itu, ia membuang sandalnya dan terus berlari tanpa alas kaki. Jarak rumah sakit itu sekitar dua puluh menit, jika menggunakan taksi. Namun Aurel menempuhnya dengan setengah jam berlari.
Tiba di rumah sakit, empat orang petugas polisi menatap iba pada Aurel. Rambut yang lusuh dan basah oleh keringat, mata sembab dan merah, juga kaki telanjang yang berdarah karena ia sempat terjatuh di jalan berkubang. Salah satu polisi itu mendekati Aurel.
"Nona Aurel, jenazah Tuan Aditya ada di dalam. Silakan ikut saya!" ucap polisi itu.
__ADS_1
Aurel masuk bersama polisi yang menyapanya, sedangkan tiga petugas polisi lainnya menunggu di depan pintu kamar jenazah. Aurel menghampiri jenazah Aditya yang terbaring kaku di ranjang dorong. Tangisnya pecah takkala melihat ayahnya sudah tak bernyawa.
"PAPAA! Bangun! Papa jangan tinggalin Aurel, Pa, hiks hiks." Aurel memeluk jenazah ayahnya sambil menangis meraung-raung.
Polisi itu sampai meneteskan airmata mendengar ratapan pilu Aurel. Aurel kehilangan satu-satunya harapan. Ia selalu bertahan dengan kelakuan bibinya hanya karena ayahnya. Kini penyemangat hidupnya telah pergi untuk selamanya.
"Nona, Anda harus menandatangani surat-surat persetujuan untuk membawa jenazah ayah Anda, karena Tuan Edi tidak bisa kami hubungi. Dan Nyonya Olivia tidak bisa datang kesini karena sedang berada di luar kota," ucap polisi itu.
Aurel tidak banyak bertanya, ia langsung menandatangani surat-surat itu lalu keluar dan menunggu di depan pintu kamar jenazah. Jenazah Aditya dimandikan dan dimasukkan ke dalam peti. Setelah itu, keempat petugas polisi dibantu dua orang petugas kamar jenazah, menggotong peti itu dan memasukkannya ke dalam mobil jenazah.
*Flashback off*
Aurel hanya seorang diri, menangis terisak di depan peti mati. Ia yang baru berumur enam belas tahun itu tidak tahu, apa yang harus ia lakukan.
Fariz kembali ke rumah setelah makan siang di resto yang tidak jauh dari rumah Aditya. Ia heran melihat pintu gerbang dan juga pintu rumah yang terbuka lebar. Fariz turun dari taksi dan berlari masuk ke dalam rumah. Ia khawatir ada perampok yang masuk ke dalam rumah, ia cemas memikirkan nasib Aurel. Saat tiba di ruang tamu, Fariz berhenti berlari, ia berdiri terpaku menatap Aurel yang sedang menangis sesenggukan di depan peti mati.
Ia melangkah perlahan mendekati Aurel, lalu berjongkok di samping Aurel. Aurel menoleh ke arah Fariz dan sekejap mata mengalihkan kembali pandangannya ke depan. Dengan ragu Fariz memegang kedua pundak Aurel dan menepuk-nepuknya dengan lembut.
Tangis Aurel kembali pecah, kedua bahunya turun naik seiring isakan tangisnya. Aurel sedih karena paman dan bibinya tidak mau mengurus pemakaman ayahnya. Padahal semua harta kekayaan Aditya mereka ambil, tapi tidak ada rasa iba sedikitpun dihati mereka untuk Aditya yang sudah meninggal.
***
Di rumah Lanzi.
Tom menelepon Lanzi dan memberitahukan kabar bahwa Aditya meninggal. Lanzi segera memberitahukan hal itu pada Triana yang baru saja terbangun dari tidur siangnya. Mereka segera bersiap pergi ke rumah Aditya.
__ADS_1
Triana sangat khawatir pada Aurel, sepanjang jalan, Triana terus menyuruh Lanzi mempercepat laju mobilnya. Mereka pergi berdua saja. Sedangkan Daren dititipkan pada neneknya, Fitri. Lanzi melaju dengan kecepatan tinggi, ia berdoa semoga saja tidak terjebak macet.