
"Halo," ucap Aryan setelah menerima panggilan suara itu.
"Tuan muda, Tuan Leo menyuruh Anda dan Nyonya datang ke rumah hari ini," ucap Tom dari seberang telpon.
"Katakan pada Kakek, aku akan kesana jam 7 nanti malam bersama Triana," jawab Aryan lalu menutup teleponnya, dan menghampiri Tri kembali yang sedang berbaring tengkurap memegangi ponselnya. Aryan merangkak diatas punggung Tri sambil menciumi punggung Tri.
"Mas, dari siapa tadi?" tanya Tri.
"Dari pak Tom," jawab Aryan singkat. Aryan membalikan tubuh Tri, ia melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Pertama kali Aryan melakukannya, Tri kesakitan tetapi hanya sebentar, kemudian rasa sakit itu hilang setelah beberapa lama. Dari kamar itu tidak ada suara lain lagi, selain deru nafas kedua insan yang sedang memadu cinta. Entah berapa lama mereka melakukannya, hingga Tri merasa tak sanggup menahan rasa ngilu di miliknya.
"Mas, capek," ucap Tri berkata ragu ragu. Tri khawatir membuat Aryan kecewa, tapi Tri sudah bisa menahan ngilu di gua miliknya. Aryan yang sudah akan mencapai puncaknya kembali pun, tak ingin egois. Aryan menghentikan cumbuan dan menggulingkan tubuhnya ke samping tubuh Tri.
"Maaf mas," ucap Tri merasa tak enak hati.
"Cupp ... kenapa minta maaf. Mas gak marah sayang, harusnya mas yang minta maaf sama kamu. Mas terlalu egois, saking senangnya bisa miliki kamu seutuhnya. Maafin mas ya, sayang, cup," ucap Aryan sambil mengecup kening dan puncak kepala Tri.
"Pak Tom kenapa menelpon, Mas?" tanya Tri sambil memeluk Aryan.
"Kakek menyuruh kita mengunjunginya hari ini. Mas janji kita akan kesana bersama malam ini," jawab Aryan lalu melirik jam dinding, lalu menoleh ke arah Tri dengan aneh.
"Kenapa, Mas? Tampangnya jadi aneh gitu?" tanya Tri heran menatap wajah Aryan.
"Sepertinya, mas melewatkan janji mas," ucap Aryan cengengesan.
"Memang mas janji jam berapa?" tanya Tri penasaran.
"Jam berapa ya? mas lupa," ucap Aryan.
Ting tong, ting tong.
Aryan dan Tri mendengar suara bel rumah.
"Mas, bukain pintu dulu ya," ucap Aryan memakai handuk mandi lalu mengecup kening Tri. Tri mengangguk dan tersenyum. Aryan keluar dan menghampiri pintu. Sedangkan Tri yang merasa tubuhnya lengket oleh keringat itu, berencana mandi. Saat hendak berjalan ke kamar mandi, Tri merasakan sakit dan ngilu diantara pangkal pahanya.
"Apa mungkin membengkak ya?" pikir Tri sambil tersenyum malu. Tri memaksakan berjalan dengan perlahan ke kamar mandi, seraya melilitkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Aryan sampai didepan pintu dan membukakan pintu. Aryan terkejut melihat kakeknya berdiri di depan pintu, menopang tubuh rentanya dengan tongkat, bersama Tom yang berdiri tak jauh dari kakeknya.
"Kakek? Kenapa kakek kesini?" ucap Aryan cemas.
"Apa tidak boleh? Uuhuukk, uhukk. Kau melarang kakekmu sendiri untuk berkunjung kerumahmu? Dasar anak kurang ajar, uhukk, uhukk," ucap kakek Leonard terbatuk. Kakek Leonard memarahi Aryan karena mengetahui Aryan dan Tri sedang bertengkar. Aryan melirik pada Tom, karena tidak mengerti kenapa kakeknya ini marah.
"Tidak, Kek. Lanzi hanya khawatir dengan kesehatan kakek. Masuklah kek kita duduk dan bicara didalam," ucap Lanzi lalu memapah kakeknya ke ruang tamu dan mendudukan kakeknya disofa.
"Ini sudah malam. Kenapa Kakek keluar malam-malam, ini tidak baik untuk kesehatan Kakek," ucap Lanzi.
"Kakek menunggumu di rumah, dan kamu tidak datang. Kamu janji pada kakek akan datang jam 7 malam bersama Tri. Tapi ini sudah jam 9 dan kamu tidak datang, uhukk, uhuk. Karena itu kakek bertanya pada Tom, dan Tom bilang, jika kalian sedang bertengkar," jawab Leonard. Lanzi melirik ke arah Tom, tapi Tom memalingkan wajahnya menghindari tatapan Lanzi.
"Tidak, Kek. Kakek salah paham. Lanzi lupa punya janji dengan Kakek. Lanzi minta maaf, tapi Lanzi dan Triana bàik-baik saja Kek, kami tidak bertengkar," ucap Lanzi tersenyum pada kakeknya.
Didalam kamar Tri yang sudah selesai mandi dan berganti baju mengernyit karena mendengar suara Leonard.Tri berjalan pelan menuju ke ruang tamu dan melihat Leonard duduk di sofa panjang.Tri menghampiri dan menyapanya
"Kakeekk!"ucap Tri setelah sampai di ruang tamu.Leonard memperhatikan Tri yang berjalan pelan seperti menahan sakit
"Kenapa kamu berjalan seperti itu Triana?Apa cucuku menyiksamu?bilang sama kakek!"ucap Leonard menatap Lanzi
('Kakek kenapa bertanya seperti itu.Masa aku harus jawab jika aku kesakitan karena baru saja diperawani cucumu')gumam Tri dalam hati
__ADS_1
"Tidak kek,mas Aryan tidak menyiksaku"jawab Tri
"Aryan?"tanya kakek heran
"Em maksudnya mas Lanzi kek,Tri salah ucap kek!"Tri meralat ucapannya karena kakek terlihat asing mendengar nama Aryan yang keluar dari mulut Tri
"Karena sudah bertemu cucu mantu kesayangan kakek.Sekarang kakek ingin pulang dan beristirahat"ucap Leonard berdiri dan pamit pada mereka berdua
"Kek.ini kan sudah malam kenapa tidak menginap disini saja!"ucap Tri
"Kalian harus menyelesaikan urusan kalian.Kakek pergi dulu,besok kakek tunggu kalian di rumah!"ucap Leonard
"Iya kek, besok Lanzi akan bawa Triana ke rumah kakek"jawab Lanzi
Tri dan Lanzi mengantar Leonard hingga ke depan pintu.Leonard masuk ke mobil lalu mobil itupun melaju pergi meninggalkan halaman rumah Lanzi.Lanzi dan Tri masuk kembali ke rumah
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
**di dalam mobil Leonard
"Tom..apakah Aryan itu teman pria Triana?"tanya Leonard
"Em itu..anu tuan!"Tom ragu untuk menjawab
"Jauhkan pria bernama Aryan itu dari cucu mantuku.Aku tidak ingin kehilangan cucu mantuku karena pria yang tak jelas sepertinya"ucap Leonard
"Baik tuan"Tom ingin tertawa jika saja tidak ada Leonard disampingnya
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Tri dan Lanzi berbaring di ranjang
"Mas gak mandi dulu sebelum tidur?"tanya Tri
"Emm sebenarnya mas masih pengen lanjut"ucap Lanzi menggoda Tri
"Aakkhh,sakit sayang"Lanzi menjerit kecil karena telinganya ditarik oleh Tri
"Aku bukan anak kecil.Masa kamu jewer sih"ucap Lanzi mencolek hidung Tri.Tri tersenyum
"Besok apa tidak mengajar?"tanya Tri
"Kenapa?apa kau tidak kuliah?"tanya Lanzi heran melihat Tri
"Kuliah! tapi janji kita pada kakek bagaimana?"Tri berpikir bagaimana caranya menepati janji pada Leonard
"Sayang!! kita kan bisa pergi ke rumah kakek setelah mas mengajar dan setelah kamu selesai kuliah"ucap Lanzi
"Oh, iya." Tri tersenyum
"Kenapa aku gak mikir kesitu ya," ucapnya kembali.
"Karena kamu cuma mikirin percintaan kita tadi kan?" Lanzi menggoda Tri dan Tri hanya merengut diledek Lanzi.
"O, iya sayang, mulai sekarang panggil mas Lanzi jangan panggil Aryan lagi. Karena kakek tidak tahu jika mas sedang mengajar dikampus, dengan memakai nama Aryan," ucap Aryan.
"Kenapa Mas bohong sama kakek?" tanya Tri.
__ADS_1
"Mas akan cerita tapi tidak sekarang ya, sayang. Nanti saat sudah waktunya, pasti mas cerita sama kamu. Dan satu hal lagi yang harus mas katakan sama kamu, sayang." Lanzi menggantung kata-katanya.
"Apa itu mas?" tanya Tri penasaran.
"Jaga jarak dengan Surya mulai dari sekarang. Dan berhenti jadi pacar sewaan, bisa kan?" ucap Lanzi. Tri mengangguk.
"Àku akan berhenti jadi pacar sewaan, aku janji sama kamu, Mas," ucap Tri dengan tersenyum manis.
"Mas mandi dulu ya, sayang, cupp." Lanzi mengecup pipi istrinya, lalu bangun dari ranjang.
"Tidurlah lebih dulu, dan istirahatkan dulu tubuhmu, karena mungkin mas akan menyerangmu lagi nanti," ucap Lanzi sambil mengedipkan sebelah matanya. Ia tersenyum geli melihat pipi Tri yang bersemu merah. Lanzi lalu pergi ke kamar mandi, dan Tri tiduran menyamping seraya bernarasi.
"Takdir memang terkadang sangat aneh. Aku menikah dengan Mas Lanzi tanpa melihat wajahnya, karena dia tidak ikut mendaftarkan pernikahan bersamaku. Tapi takdir mempertemukan aku dengan Aryan, yang ternyata adalah Lanzi suamiku. Sekuat tenaga aku mencoba membuang perasaanku pada Aryan, karena aku sadar aku adalah wanita bersuami. Sekarang aku serasa mendapat jackpot. Orang yang sudah membuatku jatuh cinta, adalah suamiku sendiri dan dia juga mencintaiku," gumam Tri. Tri merasakan matanya mulai berat lalu Tri tertidur.
Lanzi pun demikian. Dia berendam dalam bathub dengan air hangat, untuk menyegarkan badannya yang terasa pegal. Lanzi tersenyum mengenang takdir yang terjadi padanya.
"*T*ernyata Tuhan sungguh berbaik hati padaku. Wanita yang membuatku tergila-gila dan selalu membuatku ingin menyentuhnya setiap kali aku melihatnya, kini wanita itu benar-benar menjadi milikku seutuhnya. Dan dia juga menjaga kesuciannya. Tom dan Kakek tidak salah memandang dan menilai Triana. Aku tidak akan melepaskan wanita baik sepertimu, Triana Safitri 'My Lovely Wife'," gumam Lanzi bahagia. Rasa bahagia dihatinya tak dapat terbendung. Lanzi membilas tubuhnya dan menyudahi mandinya, dia keluar memakai handuk mandi, lalu menggantinya dengan piyama tidurnya.
Lanzi naik ke ranjang dengan perlahan, karena takut membuat Tri terbangun. Lanzi memeluk Tri, yang tidur membelakanginya, dan Lanzipun mulai memejamkan matanya. Pertama kalinya Lanzi tidur tidak sendirian, tapi berdua dengan wanita yang menjadi istrinya saat ini.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Plakk.
Tri menjerit memegangi pipinya yang baru saja ditampar oleh ibunya.
"Anak kurang ajar. Kau menjadi wanita ******, dan menjual tubuhmu. Benar-benar gadis nakal. Aku tidak menyangka jika aku akan melahirkan dan membesarkan gadis nakal sepertimu. Kenapa diam saja?" ibunya Tri terus memakinya dan berteriak teriak histeris.
"Apa urusannya dengan ibu? Seperti apa pun aku menjalani hidupku? Itu tidak ada urusannya dengan ibu. Bukankah selama ini ibu sudah menganggap bahwa ibu tak punya anak? Semenjak menikah lagi setelah ayah meninggal, hiks hiks, lalu kenapa sekarang ibu harus menggangguku," balas Tri dengan isak tangis memilukan.
"Oh, begini sekarang caramu bicara pada ibumu. Sepertinya kamu harus diajari kembali, bagaimana cara menghormati orang tua," ucap ibunya Tri, hendak memukuli Tri dengan sapu yang dipegangnya, tapi ayah tirinya mencegahnya.
"Sudah, sudah, istriku sayang. Aku tidak mau kamu sakit karena memarahinya. Pergilah beristirahat. Biar aku yang mengurus Tri," ucap ayah tiri Tri dengan menatap tajam, dan menyeringai ke arah Tri. Tri yang melihat seringai ayah tirinya, bergidik ngeri. Bagaimanapun juga, Tri tahu sifat ayah tirinya.
Ibunya Tri masuk kekamar dan ayah tiri Tri menyeret Tri ke arah kamar Tri.
"Ayo ikutt!!" bentak ayah tirinya sambil mencengkram satu tangan Tri, dan menariknya masuk ke kamar lalu membanting tubuh Tri ke ranjang. Ayah tirinya langsung mencumbu Tri dan berniat memperkosanya.
"Tidak. Lepaskan ... aku!" Tri mendorong tubuh ayah tirinya yang terus mencumbunya.
"TIDAAAKK." Tri berteriak kencang dan bangun terduduk di ranjang. Ternyata yang dialaminya hanyalah mimpi.
"Kenapa, sayang?" Lanzi terbangun saat Tri berteriak. Lanzi lalu memeluk tubuh istrinya yang berkeringat karena mimpi buruk.
"Kamu mimpi buruk?" tanya Lanzi.
"Hikkss hikss hikksss," Tri menangis memeluk Lanzi dengan erat. Lanzi dengan sabar mengusap rambut dan punggung Tri, agar istrinya itu bisa tenang kembali. Tri masih terus terisak ketakutan dengan mimpi buruk yang dialaminya. Setengah jam kemudian tangis Tri mulai mereda, dan Tri melepaskan pelukan Lanzi.
"Maaf, Mas, aku membangunkan tidurmu dan mengganggu istirahatmu," ucap Tri sambil menghapus sisa air matanya.
"Gak, sayang, sekarang bisa bicara sama mas kenapa kamu histeris begitu. Kamu mimpi apa sayang?" tanya Lanzi lembut.
"Tidak ada, Mas. Aku tadi mimpi ketemu hantu serem," ucap Tri berbohong.
"Jadi, istri mas yang galak ini takut pada hantu," Lanzi meledek Tri.
"Sudahlah ini baru jam dua. Tidurlah kembali, jangan takut ada mas disini," ucap Lanzi sambil membaringkan Tri dan menidurkan Tri dalam dekapannya. Mereka kembali memejamkan mata mencoba untuk tidur.
__ADS_1